Archive

Archive for the ‘Artikel/Paper’ Category

Isi Waktu Luang Tanpa Banyak Biaya

Amalia Syarafina (110904327)

Mengisi waktu luang untuk lepas dari rutinitas sehari-hari biasa dilakukan orang dengan berbagai cara. Ada yang menghabiskan waktu dengan pergi berkunjung ke tempat-tempat wisata, pusat perbelanjaan, atau menikmati hiburan di rumah saja. Namun saat ini ada kegiatan menarik yang bisa Anda lakukan untuk mengisi waktu luang.

Tak ada yang pernah menduga, melihat pesawat mendarat ataupun take off bisa menjadi hiburan tersendiri. Mengambil jalan ke arah timur dari Bandara Adisutjipto, Anda akan menemui pemandangan yang menarik. Setiap sore, di area timur dan belakang bandara, penduduk di sekitar bandara memanfaatkannya untuk mengisi waktu luang. Di bagian sebelah timur bandara, Anda dapat melihat pesawat-pesawat komersil yang sedang diparkir, baru mendarat, maupun bersiap take off melalui pagar pembatas. Di sepanjang jalan yang terbilang mulus ini sering terdapat pasangan muda-mudi atau keluarga dengan anak-anaknya yang masih kecil menyaksikan pemandangan tersebut.

Mengambil jalan terus ke timur, tepat sebelum menuju Akademi Angkatan Udara (AAU), Anda dapat melihat lebih leluasa pesawat-pesawat yang baru tiba ataupun mengudara. Pagar pembatas antara landasan udara dengan jalan umum tidak setinggi pagar di lokasi sebelumnya. Selain pesawat komersil, pesawat-pesawat latihan milik TNI AU juga sering melintas. Namun Anda perlu berhati-hati karena area tersebut tergolong daerah berbahaya. Bukan tidak mungkin Anda bisa saja tersambar pesawat yang sedang melintas. Walaupun berbahaya, masih saja ada orang-orang yang memanfaatkan pemandangan pesawat mendarat atau lepas landas sebagai latar berfoto ria. Tak bisa dipungkiri, pemandangan seperti itu tidak mudah didapatkan, sehingga orang-orang tetap datang ke lokasi tersebut untuk menyaksikan secara langsung momen proses lepas landas dan mendarat pesawat-pesawat di Bandara Adisutjipto.

Pengunjung yang datang ke kawasan ini, pada umumnya merupakan warga sekitar yang tinggal di desa tepat di belakang bandara. Namun, ada juga pengunjung yang bukan merupakan warga sekitar dan sengaja datang untuk menikmati suasana dan pemandangan di kawasan ini. Pengunjung yang bukan warga sekitar, biasanya memanfaatkan kawasan tersebut sebagai lokasi hunting foto bersama kerabat mereka. Ramai atau tidaknya kawasan ini setiap sore terbilang relatif. Terkadang ada momen-momen tertentu di mana kawasan ini ramai pengunjung, sehingga di sepanjang jalan yang mengarah ke AAU berjejer para pengunjung yang berfoto ria atau sekedar duduk-duduk di trotoar menikmati pemandangan. Tetapi bisa saja ada waktu di mana hanya segelintir pengunjung yang datang.

Seringnya setiap sore kawasan di timur dan belakang bandara ini didatangi pengunjung yang ingim melihat langsung pesawat lepas landas dan mendarat, dimanfaatkan para pedagang mengeruk rezeki. Setiap hari, sejumlah pedagang berjejer menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang sebagian besar remaja dan keluarga dengan anak-anak kecil. Pedagang-pedagang yang berjualan di sana antara lain pedagang mainan, bakso bakar, es krim, es cincau, dan pedagang balon. Tidak hanya para pedagang yang memanfaatkan waktu tersebut mengais rupiah. Kadang-kadang bisa dijumpai juga sejumlah orang yang sedang jogging atau bersepeda di sepanjang jalan menuju AAU tersebut. Kondisi jalan yang mulus dan nyaman memang ‘menggoda’ untuk para penggemar jogging atau olahraga sepeda. Ditambah pemandangan berupa landasan pesawat lengkap dengan armada pesawat yang silih berganti lepas landas dan mendarat, serta pemadangan area persawahan, menambah keseruan saat jogging atau bersepeda. Sayangnya, saat penulis meliput ke sana, sedang tidak ada aktivitas jogging yang biasa dilakukan.

Untuk Anda yang tertarik menghabiskan waktu luang dengan hiburan alternatif, bisa mencoba datang ke kawasan di timur dan belakang Bandara Adisutjipto ini antara pukul 15.00 – 17.30 WIB. Tak perlu khawatir akan dipungut biaya, menikmati pemandangan berupa pesawat lepas landas dan mendarat di sini tidak dikenai biaya sepeser pun. Anda bisa datang dengan keluarga atau rekan untuk bersama-sama menghabiskan waktu luang di sore hari.

Categories: Artikel/Paper

Perhelatan Pencak Malioboro Festival III 2014

Oleh Tika Dian Pratiwi (110904338)

Paseduluran Angkringan Silat dan Tantungan Project kembali menyelenggarakan Pencak Malioboro Festival yang ketiga pada tanggal 31 Mei hingga 1 Juni 2014. Pagelaran seni bagi insan persilatan Indonesia ini mengambil lokasi di Kompleks Pasar Ngasem untuk kegiatan festival koreografi, workshop dan pameran, serta lomba foto.

Pencak Malioboro Festival III 2014

Festival koreografi di Pasar Ngasem (Dok: Fidelis Dhayu)

 

Puncak acara sekaligus penutup diadakan dengan pawai dari 60 perguruan silat dari berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Kalimantan, Madura, dan lain sebagainya di sepanjang Titik Nol Kilometer, Malioboro. Diikuti oleh 5.500 peserta, Pencak Malioboro Festival 2014 bertujuan untuk mengenalkan kembali seni bela diri khas Indonesia. Pasalnya, pencak silat sudah cukup familiar di luar negeri namun kurang dikenal di dalam negeri.

“Melalui Pencak Malioboro Festival ini panitia ingin mengenalkan kembali pencak sebagai salah satu seni budaya bangsa. Jadi, selama ini pencak hanya dikenal sebagai olahraga prestasi. Padahal ini adalah salah satu budaya yang mempunyai ajaran luhur yang dalam sekali, yang selama ini agak terlupakan,” kata Andre Sudjito, selaku Humas Pencak Malioboro Festival III 2014.

Pencak Malioboro Festival III 2014

Andre Sudjito, Humas Pencak Malioboro Festival III 2014

Pawai pada tanggal 1 Juni lalu, juga dimeriahkan dengan tampilnya Paksi Katon Daerah Istimewa Yogyakarta. Paksi Katon yang sehari-hari bertugas menjaga keamanan Kraton dan Puro turut memeriahkan puncak sekaligus penutup Pencak Malioboro Festival dengan seragam hitamnya yang gagah. Tak ketinggalan pula pencak silat Betawi yang berasal dari DKI Jakarta turut hadir dan memeriahkan Pencak Malioboro Festival lengkap dengan pernak-pernik dan pakaian adatnya.

Pencak Malioboro Festival III 2014

Paksi Katon Yogyakarta (Dok: Fidelis Dhayu)

Pencak Malioboro Festival III 2014

Pencak Silat Betawi, DKI Jakarta (Dok: Fidelis Dhayu)

Selain dimeriahkan dengan pawai dari puluhan perguruan silat, kawasan Nol Kilometer Malioboro juga dipadati lautan penonton yang semakin memeriahkan Pencak Malioboro Festival 2014. Acara ini juga menjadi ajang bertemunya puluhan perguruan silat yang dapat mempererat tali persaudaraan.

“Ini event yang sangat bagus untuk pencak silat. Soalnya disinilah kita dari berbagai macam pencak silat bisa berkumpul guyub rukun menampilkan kemampuan masing-masing. Ibaratnya kita di sini semua jadi satu bisa berkumpul bareng-bareng,” kata Wiji Prawira, salah satu anggota pencak silat Merpati Putih.

Pencak Malioboro Festival III 2014

Wiji Prawira, anggota pencak silat Merpati Putih

Selain menyuburkan nilai-nilai luhur melalui pencak silat, pihak panitia melalui diselenggrakannya Pencak Malioboro Festival juga berharap pencak silat semakin dicintai generasi muda Indonesia.

“Harapannya, supaya pencak bisa diterima kembali oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Jadi mereka bisa kenal bahwa ini adalah budaya yang memiliki nilai luhur. Sehingga mereka tidak malu untuk belajar,” tutup Andre Sudjito, selaku Humas Pencak Malioboro Festival III 2014.

Categories: Artikel/Paper

“One Stop Shopping” Coffe Shop

Elisabeth Ratna Christanti Patria (110904307)

 

Cigarettes and coffee: an alcoholic’s best friend! Quote  yang dilontarkan Gerard Wayini menggambarkan sosok Antonius de Paddua Dendron Deltarosi, pemilik coffee shop Kopi Item yang berada di Komplek Ruko BBC Plaza No.5 Jl. Babarsari Raya Yogyakarta. Kopi Item mulai berdiri pada bulan Oktober tahun 2009. Pada awalnya Kopi Item masih berbentuk warung kopi, menggunakan alat tradisional ceret. Satu tahun berlalu, Kopi Item mulai merombak konsep menjadi coffee shop seperti saat ini.

Dimulai dari ide sederhana Don untuk memutar uang dan kecintaannya terhadap kopi yang membuat Kopi Item lahir dan sukses seperti sekarang. Tidak ada alasan khusus mengapa Kopi Item buka di kawasan babarsari. Don hanya menempatkan usahanya dimana tersedia tempat. Namun memang rejeki tidak pernah lari, jika memang sudah jatahnya, maka sekecil apapun usaha tersebut dirintis toh akan sukses juga.

Sebelum memulai karirnya di Kopi Item, Don yang memang pecinta kopi sejak dulu hanya bisa nongkrong di coffee shop lain. Sosok yang terlihat sangat cuek ini kerap berpindah-pindah tempat nongkrong, namun tetap setia pada kopi. Coffee Shop yang kini ia miliki bernama Kopi item. Kenapa? Don menjelaskan dengan sangat singkat, “Ya, supaya mudah diingat saja. Simpel, kopi pasti hitam,” ujarnya sambil tertawa. Pelanggan kebanyakan berprofesi sebagai fotografer atau seorang penulis. Ada beberapa foto yang ia pajang di coffee shopnya adalah hasil jepretan dari pelanggannya. Pernah beberapa kali ia menapilkan pameran di coffee shop tercinta miliknya.

Kopi Item bagi saya sebagai pelanggan memang berbeda. Kopi Item tidak hanya menawarkan kopi dengan racikan yang luar biasa namun suda tersedia makanan berat yang cukup terjangkau bagi mahasiswa. Kebanyakan coffee shop hanya menekankan pada kopinya saja dan tidak memikirkan aspek lain, seperti makanan. Bukan hanya makanan pelengkap minum kopi, tapi makanan berat berbau karbohidrat.

Konsep Kopi Item yang one stop shopping juga yang menurut saya lebih menguntungkan. Saya pribadi sebagai pelanggan pun merasa otomatis, karena tidak perlu pergi ke tempat lain untuk mencari makanan berat. Don tidak tertutup dengan pelanggan, yang ia harapkan memang semua bisa datang ke tempatnya, keluarga, orang tua, anak muda, karyawan, pelajar, semua kalangan. Kopi andalannya adalah kopi-kopi yang berasal dari Nusantara, sangat beragam yang ada di Kopi Item ini.

Sisi lain hampir sama dengan coffee shop lainnya yang menjual biji kopi, baik yangsudah atau yang belum digiling, alat pembuat kopi, dan lain sebagainya. Don sendiri tentu seorang barista beradasarkan pengalaman. Ia mahir membuatdan meracik kopi hanya bermodal kemauan untuk bisa, dengan kata lain Don belajar otodidak menggunakan mesin kopi. Sekian tahun bergelut di dunia kopi, Don punya racikan kopinya sendiri. sengaja tidak ia tampilkan di menu, khusus untuk pelanggan yang ingin atau memerlukan nasihat bagaimana membuka usaha dibidang kopi.

Bagi Don, kopi memiliki makna srawung yang artinya kebersamaan. Obrolan yang asik bermula dari secangkir kopi hangat, pergerakan perubahan pun bermula dari kebersamaan minum kopi. Yang tidak kalah menarik tentang kopi adalah Latte Art. Sama seperti ketika Don belajar meracik kopi, keahlian Latter Art pun ia dapatkan dari belajar sendiri, membaca blog atau melihat video. Kita bisa dengan mudah menjalankan sesuatu yang kita suka, apalagi ditambah dengan ketekunan, saya rasa itu berbuah baik, paling tidak bagi Don, yang terbukti saat ini usahanya sukses.

Don tidak hanya menjual kopi, biji kopi, minuman dengan lukisan di dalamnya, namun fasilitas lain juga ia pikirkan untuk kenyamanan pelanggan. Di tempat yang sekarang ini berdiri saja cukup membuat saya nyaman berbincang lama dengan teman atau mengerjakan tugas kampus. Bagi Anda pecinta kopi, mungkin bisa mendapatkan ilham lain di tempat ini, tidak ada salahnya dicoba.

Categories: Artikel/Paper

Prada Coffee

Fenita (110904322)

 

Pintaka Yuwana yang lahir pada tanggal 3 April 1976 memulai usaha kedai kopi sejak tahun 2003. Bapak yang lebih sering dipanggil Mas Koko ini awalnya hanya mengikuti ajakan kakaknya untuk mengelola kedai kopi milik temannya. Namun, sejak itu Mas Koko memiliki rasa kecintaan tersendiri terhadap kopi.

Tahun 2005, Mas Koko mencoba merintis sendiri kedai kopi ciptaannya. Ia mengakui tidak mudah untuk bertahan ketika kedai kopi mulai banyak bermunculan. Jatuh bangunnya usaha sudah pernah dialami Mas Koko berkali-kali. Pertama kali membuka kedai kopi, kedai tersebut tidak dapat bertahan lama, dan Mas Koko pun menutupnya.

Kemudian, Mas Koko mencoba membuka kedai kopi di Jakarta. Kedai ini terpaksa ditutup karena saingan yang ada seperti Black Canyon dan Bengawan Solo Coffee. Pada tahun 2009, Mas Koko kembali membuka kedai kopi di dua tempat, di Gejayan dan di samping Toko Buku Togamas.

Menjual kopi dengan berkeliling menggunakan mobil VW pun pernah dilakoni Mas berperawakan sangar ini. Tapi, lagi-lagi hal tersebut tidak bisa bertahan lama dikarenakan biaya yang dikeluarkan semakin besar. Sampai saat ini, usaha Mas Koko masih terus berjalan dengan pelanggan yang tetap setia pada kopi buatan Mas Koko.

Prada Coffee adalah kedai kopi Mas Koko yang ada persis di samping Toko Buku Togamas Kota Baru sekarang ini. Di kedai kopi ini ada sekitar 40 menu racikan kopi yang dihasilkan sendiri oleh Mas Koko. Ada tiga menu favorit dari Prada Coffee ini, yaitu Black Coffee, Caramel Machiato, dan juga Kafe Yen.

Mas Koko mengaku ia belajar sendiri bagaimana cara membuat kopi atau dinamakan sebagai ‘Barista’. Kata Barista sendiri berasal dari bahasa Italia, yang memiliki arti pelayan bar. Namun, barista lebih identik dengan seseorang yang pekerjaannya adalah membuat dan menyajikan kopi. Pengetahuan Mas Koko mengenai barista ini didapatkan melalui eksperimen yang selalu ia lakukan.

Ketika saya singgah ke Prada Coffee, Mas Koko sedang menjaga toko kecilnya ini seorang diri. Di kedia kopi ini, kita juga bisa belajar langsung untuk menjadi seorang barista. Ketika itu, saya sempat memperhatikan bagaimana Mas Koko menyajikan kopi untuk konsumennya. Tanpa berat hati, Mas Koko memperbolehkan saya untuk masuk langsung ke dapur kecil miliknya.

Biji kopi yang digunakan Mas Koko adalah jenis kopi robusta Jawa. Tidak ada segmentasi khusus yang dilakukan oleh Prada Coffee. Jika siang hari, pengunjung kebanyakan sudah berusia, namun ketika sore menjelang malam mahasiswa mulai berdatangan. Mas Koko juga tidak melakukan promosi secara besar-besaran, Ia hanya mengandalkan sistem “mulut dari mulut” dari orang-orang yang datang ke kedai kopinya.

Mas Koko mengatakan bahwa tantangan terbesar ada di dalam diri kita sendiri. Tergantung seberapa kuat kita untuk memperjuangkan sesuatu. Jika kekuatan itu tidak ada, kita tidak akan pernah berhasil dalam menjalani sesuatu. Tekanan yang datang akan dengan mudah mematahkan semangat kita untuk mempertahankannya.

Mas Koko berharap melalui kopi, orang yang berada disekelilingnya merasakan kebahagaian dan mulai mencintai kopi buatan Indonesia. Menurut Mas Koko, kopi buatan Indonesia taidak kalah dengan kopi yang berasal dari luar. Hanya saja, kualitas kopi yang kita dapat bukan kualitas terbaik. Kualitas kopi yang terbaik lebih sering dijual ke luar negeri.

Categories: Artikel/Paper

Karya Lokal Yogyakarta Mendunia

Angela Rianita – 100904084

Mendengar kata batik, rasanya seperti hal yang sudah biasa saja. Masyarakat kebanyakan mengetahui batik diproduksi ke dalam bentuk pakaian atau kerajian-kerajinan tangan yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh ketika kita berwisata ke Yogyakarta. Namun, batik yang merupakan warisan kebudayaan asli Indonesia ini kini telah berkembang dengan berbagai macam kreasi. Sumber daya manusia di Indonesia nampaknya sungguh-sungguh telah mengembangkan kemampuannya untuk berkreasi dengan seni yang kerap disebut batik lukis.

Seperti yang ada di Desa Tembi, tepatnya di Jalan Parangtritis kilometer 8,5 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta ini misalnya. Terdapat sebuah bangunan sederhana, minimalis, sejuk, namun penuh dengan goresan-goresan batik lukis karya seniman-seniman lokal Yogyakarta. Ya! Bangunan sederhana ini merupakan sebuah galeri batik, dan biasa dikenal dengan nama Leksa Ganesha. Sepintas memang tidak ada yang berbeda dengan galeri batik yang lain. Namun jangan salah, ketika memasuki galeri, kita akan menemukan banyak sekali batik lukis karya seniman lokal Yogyakarta yang sangat indah.

Leksa Ganesha merupakan galeri batik gagasan Tatang Elmy dan Aprat Koeswadji, yang masih memiliki hubungan darah dengan seniman batik populer Koeswadji dan seniman tari Bagong Koesudiharjo. Lukisan-lukisan batik ini memiliki beberapa tema khas yaitu tarian Bali, bunga, dan abstrak. Dan yang lebih spesial lagi dari Leksa Ganesha ini adalah, semua lukisan yang dibuat di sini tidak dapat ditemukan di sembarang tempat alias limited edition. “Semua batik lukis di sini tidak bisa dicari di sembarang tempat. Misalkan lukisan ini, di Yogyakarta ini hanya bisa ditemui di tiga galeri saja,” tutur Ibnu Sudiro, marketing Leksa Ganesha sembari menunjukkan salah satu karya batik lukis berukuran cukup besar dan dengan warna-warna yang sederhana namun nampak indah.

Batik lukis Leksa Ganesha diproduksi secara tradisional dengan mengunakan “canthing” dan “malam”. Oleh karena itu, membutuhkan waktu cukup lama kurang lebih selama dua minggu untuk menyelesaikan satu buah karya batik lukis. Hal inilah salah satu alasan mengapa batik lukis Leksa Ganesha digemari oleh banyak pecinta lukisan baik lokal bahkan hingga seniman lukis internasional.

“Kami belum melakukan eksport ke luar negeri, tetapi seniman lukis luar negeri yang mencari lukisan di sini cukup banyak, bahkan mereka datang langsung ke tempat ini untuk membeli lukisan kami,” tutur Ibnu lagi. Meskipun Leksa Ganesha belum memperdagangkan batik lukisnya ke luar negeri, tetapi Leksa Ganesha telah dikenal oleh beberapa negara tetangga bahkan negara-negara lintas benua dengan mengikuti ajang pameran seni di Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Malaysia, Singapura, dan Laos.

Beberapa waktu yang lalu, turis asing dari Amerika Serikat tinggal di galeri Leksa Ganesha demi memenuhi keinginannya agar bisa menghasilkan sebuah karya batik lukis. “Belum lama ini ada turis dari Amerika Serikat tinggal di sini sekitar tiga tahun. Dia belajar membuat batik lukis di sini, sampai akhirnya dia bisa membuat batik lukis sendiri,” ujar Ibnu.

Tentu saja ini semakin membuat kita semua patut bangga kepada kearifan lokal negeri sendiri. Orang yang bukan dari negeri sendiri saja bersedia mempelajari seni budaya asli Indonesia, kenapa kita tidak?

Categories: Artikel/Paper

Fenomena Langka di Festival Peh Cun 2013

Alexander A. Ermando (100903981)

Telur yang berdiri di panggung Festival Peh Cun 2013, Parangtritis, Yogyakarta

Telur yang berdiri di panggung Festival Peh Cun 2013, Parangtritis, Yogyakarta

Festival Peh Cun 2013 yang digelar Pantai Parangtritis Baru, Bantul, Yogyakarta pada Rabu (12/6) mampu menarik perhatian para wisatawan yang hadir. Pasalnya, dalam acara tersebut terdapat tradisi mendirikan telur yang unik. Fenomena ini terjadi karena bumi, bulan dan matahari disebutkan berada dalam garis lurus, sehingga menyebabkan anomali gravitasi.

“Pada pukul 12.00 WIB hari ini, bumi, bulan dan matahari sedang berada dalam satu garis lurus. Ini bisa dibuktikan dengan telur yang bisa berdiri tegak tanpa disangga sama sekali,” jelas Ketua Panitia Pelaksana Peh Cun 2013 Muwardi Gunawan pada pihak media yang hadir.

Beberapa orang pun maju ke panggung utama sambil masing-masing membawa sebuah telur yang telah disediakan oleh panitia. Tidak hanya warga setempat, turis asing pun ikut serta dalam atraksi ini. Setelah berjuang beberapa saat, beberapa orang berhasil mendirikan telur, dan tanpa penyangga sama sekali! Para fotografer pun segera mengabadikan momen tersebut.

Acara yang digelar sejak pukul 11.00 WIB tersebut merupakan puncak dari rangkaian Festival Peh Cun sejak 9 Juni kemarin. Selain melakukan tradisi mendirikan telur, acara puncak juga diisi dengan lomba pentas barongsai yang digelar untuk pertama kalinya. Lomba ini diikuti oleh 10 peserta. Sebelumnya juga telah dilakukan doa bersama dan melarung sesaji ke tengah laut.

Berdasarkan pengamatan, para warga yang hadir tampak antusias untuk mengikuti acara ini. Padahal cuaca saat itu sedang amat terik dan berangin ringan. Untungnya, pihak panitia menyediakan tenda serta ratusan tempat duduk yang bisa ditempati warga secara bebas. Para awak media sendiri juga diundang untuk meliput, meskipun dengan berbagai batasan-batasan. Batasan paling umum yang diberikan adalah waktu pengambilan momen atau sekadar mengingatkan area yang diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Tradisi Peh Cun sendiri merupakan bentuk rasa syukur terhadap berkah yang sudah diberikan. Pelaksanaannya jatuh pada tanggal 5 bulan 5 berdasarkan kalender Tionghoa. Salah satu yang khas adalah tradisi makan bakcang bersama.

Wandi (23), warga Bantul mengaku terhibur dengan adanya Festival Peh Cun ini, apalagi dengan dihadirkannya beberapa atraksi menarik.

“Acaranya menarik ya, terutama bagian mendirikan telur. Itu unik sekali. Meskipun cuacanya lagi panas, saya tetap senang,” ungkap pria jangkung ini.

Festival yang juga dihadiri oleh serombongan turis dari Negeri Tirai Bambu ini sebelumnya telah dibuka dengan lomba perahu naga yang digelar di Bendung Tegal, Imogiri pada 9 Juni lalu dan diikuti oleh belasan tim dari berbagai daerah.

 

Categories: Artikel/Paper

Kampung Dolanan : Dusun Unik Penghasil Permainan Tradisional

Oleh : Lusia Febriana ArumingtyasImage

Gambar 1. Tembok Kampung Doalanan yang dilukis oleh Mahasiswa Institut Seni Indonesia

Permainan tradisional, yang biasa kita sebut sebagai ‘dolanan’ sudah jarng sekali terlihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang. Apalagi semenjak pertengahan tahun 1980-an dimana permainan plastik dari Amerika dan China mulai merambah di Indonesia. Kampung Dolanan, keunikan salah satu desa dari keragaman seni kriya yang ada di Yogyakarta, dimana eksistensi dolanan masih bertahan.

“sudah jaman kecil saya membuat permainan ini, dari mulai simbok”, jelas Mbah Atemo sambil membuat sebuah model wayang dari kertas.

Kampung Dolanan secara historis adalah salah satu dusun yang masyarakatnya mayoritas memproduksi dolanan anak-anak berbahan bambu dan kertas.Tradisi ini sudah ada sejak pemerintaha HB VIII atau sekitar abad ke-18.Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung dan kepat menjadi salah satu pilihan dolanan yang ditawarankan dari desa ini.

Letak desa ini 9,2 km dari kota Yogyakarta ke arah selatan, lebih tepatnya di dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Café Pyramid yang berada di jalan Parangtritis menjadi petunjuk jalan terdekat dari dusun ini.

Lahirnya Nama Kampung Dolanan

Momentum gempa bumi 2006 menjadi titik dimana Wahyudi, selaku perintis lahirnya kampung dolanan ini melakukan sebuah pergerakan.Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan pada saat itu, menjadi sebuah langkah kecil untuk mengumpulkan kembali semangat masyarakat Pandes untuk menunjukkan kearifan lokalnya.Kemudian didirikanlah Komunitas Pojok Busaya yang memberikan desa Pandes sebagai Kampung Dolanan

“Tahun 2007, Komunitas Pojok Budaya didirikan di kampung dolanan ini.Dimana tujuan utamanya melihat kembali potensi dusun Pandes”, ungkap Bimo, Ketua Komunitas Pojok Budaya.

Visi dari komunitas ini adalah ingin membantu dalam perwujudan masyarakat yang mandiri, berbudaya, religius dan peduli lingkungan sekitar. Komunitas yang terdiri dari Karang Taruna dan masyarakat Pandes pun memiliki kegiatan, misalnya saja adanya Kelompok Bermain Among Siwi dan juga kegiatan Insidental lainnya, seperti pelestarian budaya dan paket outbond untuk para pengunjung.

Kelompok Bermain Among Siwi ini memiliki sistem pembelajaran yang satu visi dengan kampung dolanan, yaitu mempergunakan alam dan alat-alat traadisional sebagai media pembelajarannya. Begitu juga dengan paket outbond yang ditawarkan berbeda dari outbond pada umumnya. Kampung Dolanan memberikan sebuah pembelajaran dalam membuat dolanan langsung dari simbah-simbah.Begitu juga pelestarian busaya yang ada di desa ini, seperti gejog lesung, karawitan, wayang dan jatilan.

Eksistensi Dolanan

Permainan yang ada di internet, gadget, playstation memang lebih menarik bagia anak-anank dibandingkan sebuah permainan tradisional yang daya tahan mainannya tidak terlalu lama.Namun, keuletan tangan simbah-simbah di dusun dalam memproduksi sebuah permainan patut diacungi jempol.Di usianya yang lebih dari 80 tahun, masih kuat untuk membuat pola dalam permainan tradisional.

Seiring dengan perkembangan jaman, jumlah simbah yang memproduksi dolanan pun semakin sedikit.Awalnya hampir semua masyarakat dusun ini memproduksi dolanan hingga kini hanya 4 yang tersisa. Mbah Karto, Mbah Joyo, Mbah Sis dan Mbah Atemo sebagai pelestari buda dalam permainan dolanan.

Image

Gambar 2. Mbah Joyo saat membuat klontongan

“yaaa…kalau saya sudah tidak ada. ya sudah tidak ada lagi yang meneruskan. Anak-anak sekarang sudah pada merantau dan berbeda”, ungkap mbah Joyo saat ditemui di bilik bambunya.

Hal ini pun diungkapkan oleh Mas Bimo, salah satu komunitas Pojok Budaya.Pada dasarnya, memproduksi sebuah dolanan bukan menjadi salah satu pilihan bagi generasi sekarang disebabkan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Membuat dolanan memang bukan menjadi sebuah pilihan mata pencaharian di era ini, namun ini dapat diakali dengan membuat re-design dari dolanan itu sendiri.

Uniknya Dolanan

Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung, kitiran, kandangan, klontongan  dan kepat merupakan dolanan khas yang dihasilkan di desa ini. Angkrek adalah sebuah permainan yang dibentuk dari pola kertas, dimana keunikannya kaki dan tangannya dapat digerakkan secara bersamaan.Hebatnya lagi, wayang kulit dan angkrek buatan dari dusun Pandes tidak digambar terlebih dahulu baru digunting.Namun, simbah-simbah memotongnya langsung dengan mudahnya.Pewarnaan dalam permainan ini juga masih menggunakan pewarna tradisional, semacam seperti pewarna pakaian yang kita sebut teres. Kemudian simbah-simbah melukiskannya di atas kertas tersebut.

Image

Gambar 3. Dolanan : Payung, Agkrek dan Wayang

Begitu halnya dengan pola pada permainan kitiran, kepat (payung), kandangan dan klontongan yang dibuat dari bambu.Tangan-tangan simbah ini mampu memilih mana bambu yang cocok dan bagaimana membentuknya menjadi menarik.Oleh karena itu, tidak salah jika tradisi ini sudah turun-temurun.

Produksi dolanan di desa ini tidaklah semat-mata hanya untuk mata pencaharian para simbah-simbah pada jaman dahulu.Walaupun secara fisik hanyalah sebuah permainan, ternyata dibalik dari sebuah dolanan banyak makna yang ingin disampaikan.

“Dalam permainan sebuah ada yang disebut multiple intelligent  atau kecerdasan majemuk, yang terdiri atas kecerdasan irama, kinestetis dan rasa, atau dalam bahasa jawanya wiromo, wiroso dan wirogo”, ungkap Pak Wahyudi.

Penasaran ingin bermain mengingat-ingat saat kita kecil? Serta mau bersama-sama melestarikan dolanan ini sendiri. Yukk langsung saja ke Kampung Dolanan, banyak hal yang menarik disana !

Categories: Artikel/Paper
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.