Archive

Archive for the ‘Artikel/Paper’ Category

Mahluk Gana ( Candi Sojiwan)

Mahluk Gana ( Candi Sojiwan)

Theo K. A/100904106

klatenDi Kota Klaten terdapat beberapa tempat wisata yang setiap minggunya ramai dikunjungai oleh para wisatawan. Mulai dari wisata air, Pegunungan hingga wisata kuliner. Semua telah dipromosikan dengan baik oleh Pemkab Klaten dan Pemerintah Provinsi DIY karena daerahnya saling bersebelahan dan terjadi kerjasama dalam hal pengolahan wisata. Promosi begitu gencar dan pengunjung banyak yang datang di hari libur.

Menurut Dinas kebudayaan dan Wisata Kabupaten Klaten terdapat lebih dari 100 tempat wisata yang ada di Kabupaten Klaten. Hampir semuanya selalu ramai pengunjung setiap hari liburan.

Tetapi penulis mendapatkan ada beberapa tempat wisata yang sebenarnya menarik tetapi belum digarap dengan serius oleh Pemkab Klaten, salah satunya adalah Candi Sojiwan.

Candi ini berada di Kebon Dalem Kidul kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Persisnya selatan stasiun Brambanan. Letaknya di tengah desa dan tidak begitu banyak orang mengetahui tempat ini apalagi tempatnya yang terpencil.

3

Dari segi tempatnya sangat bagus terawat, bersih dan hijau. Dari segi perawatan baik karena ketika kesana saya melihat beberapa pekerja yang sedang merawat rumput dan membersihkan dedauanan yang jatuh di sekitaran candi. Selain itu juga ada penjaga, satpam yang selalu menjaga 24 jam.

Menurut Anton satpam Candi Sojiwan mengatakan bahwa sangat jarang ada orang atau wisatawan yang berkunjung di Candi Sojiwan kerena memang belum ada rancangan yang jelas tentang pengelolaan candi sojiwan. Yang berkunjung hanya orang-orang yang mempunyai niat khusus seperti penelitian atau KKN.

Sejarah

Menurut sejarahnya Sojiwan sudah ditemukan pada tahun 1813 Kolonel Colin Mackenzie, seorang anak buah Raffles. Pada waktu itu masih dalam bentuk pecahan batu dan tersebar disana sini, buktinya hingga saat ini masih ada beberapa batu yang dimiliki oleh warga dan dijadikan sebagai tempok rumah.

4Candi ini sempat hancur ketika gempa melanda Kota Klaten pada tahun 2006, dan mulai dipugar hingga saat ini.

Candi Sojiwan mempunyai corak agama Budha yang dibuktikan dengan adanya stupa dan umurnya sejajar dengan candi Plaosan.

Keunikan dari candi ini adalah terdapat cerita fable tentang Pancatrantra yaitu cerita hewan yang mengandung kisah kebijaksanaan manusia.

 

 

Ada beberapa cerita tentang hewan yang terukir di dalam relief-relief

5

  1. Dua Pria yang berkelahi
  2. Angsa dan kura-kura
  3. Perlombaan antara garuda dan kura-kura
  4. Kera dan buaya
  5. Tikus dan Ular
  6. Serigala dan wanita serong
  7. Raja dan Putri Patih

Semua cerita itu mengandung kebijaksanaan dan tertuang dalam relief walau untuk saat ini tidak begitu jelas gambarnya akibat pernah runtuh dan proses pemugaran.

Akhirnya kata-kata tidak dapat menggambarkan keindahan seni budaya yang telah ada ratusan tahun yang lalu ini. Silahkan berkunjung dan pasti menemukan sesuatu yang lain …

2 1

Categories: Artikel/Paper

Jejak Pelancong Nusantara: Wisata Ziarah Makam Raja-Raja di Pajimatan Girirejo Imogiri

Image

Gambar 1: Gerbang utama menuju area sakral Makam Raja-Raja Mataram

Teks & Foto: Julius Wicaksono

Bertolak ke selatan kota Yogyakarta, maka akan tiba di daerah Bantul. Selain wisata pantai, terdapat banyak tempat wisata cagar budaya yang dapat dikunjungi di kawasan Bantul. Salahsatunya adalah jika menyisiri pinggir kota Bantul, tepatnya di kecamatan Imogiri terdapat Pajimatan Girirejo Imogiri yaitu salahsatu cagar budaya ziarah Makam Raja-Raja Mataram.

Makam Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri yang terletak di Bukit Desa Pajimatan, Imogiri, Daerah ini dulunya dikenal sebagai daerah perbukitan Merak. Bantul merupakan obyek wisata ziarah yang sangat menarik untuk dikunjungi. Permakaman ini dianggap suci dan keramat karena yang sesuai dengan namanya, makam Imogiri merupakan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yakni Raja yang bertahta di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasultanan Surakarta Hadiningrat. Sebelumnya raja-raja Mataram Islam dimakamkan di makam raja-raja di daerah Kotagede. Sejak masa Sultan Agung, Raja dan keturunan Kerajaan Mataram Islam dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta dimakamkan di Pesarean Imogiri. Hanya saja Sri Sultan Hamengkubuwono ke – II merupakan satu-satunya sultan Yogyakarta yang dimakamkan di Makam Raja-Raja Kotagede.

Terletak tepat persis di sebelah bukit kompleks pemakaman Seniman Indonesia, jalan masuk menuju obyek wisata ini tergolong mudah untuk ditempuh. Yang paling unik dari perjalanan menuju area makam Raja-Raja yakni dengan dengan berjalan kaki menaiki tangga yang menuju puncak di Makam Raja-Raja Keraton Yogyakarta ini. Susunan tangga di makam Imogiri ini terlihat beragam, mulai dari yang pendek dan tergolong santai, sampai tangga yang sangat curam dan beberapa pengunjung memilih memegang besi di dinding tangga sebagai alat bantu untuk naik hingga ke puncak. Sambil menaiki tangga, pengunjung dapat menikmati pemadangan alam disekitar yakni hutan yang masih asri dan tidak tersentuh oleh industrialisasi. Pengunjung dapat menikmati pemandangan yang sangat indah dan mempesona, juga dapat sambil menikmati istirahat di warung yang telah tersedia di beberapa tempat tertentu di area tangga. Sebagian besar pengunjung biasanya mengalami kesalahan hitung ketika berinisiatif menghitung anak tangga saat perjalanan menuju pintu gerbang pertama pemakaman Raja-Raja, bahkan sering dipastikan terjadi selisih hitung antar pengunjung satu sama lain. Menurut mitos yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, maka semua keinginannya akan terkabul.

Image

Gambar 2: Tangga menuju Makam Raja-Raja Mataram

Menurut abdi dalem Pajimatan Girirejo Imogiri, Djoko Redjo menjelaskan mengenai jumlah anak tangga menuju area pemakaman raja-raja berikut filosofinya (8/6). anak tangga dari pemukiman menuju daerah dekat masjid berjumlah 32 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun pada tahun 1632. Anak tangga dari daerah dekat masjid menuju pekarangan masjid berjumlah 13 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung diangkat sebagai raja Mataram pada tahun 1613. Anak tangga dari pekarangan masjid menuju tangga terpanjang berjumlah 45 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Anak tangga terpanjang berjumlah 346 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun selama 346 tahun. Anak tangga di sekitar kolam berjumlah 9 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan Walisongo.

Dalam percakapan informal yang disampaikan oleh abdi dalem Pajimatan dalam perjalanan ingin menuruni area makam, ia bercerita bahwa terdapat sebuah anak tangga yang sebenarnya adalah makam seorang penghianat yang bernama Tumenggung Endranata, salah seorang punggawa kerajaan yang membeberkan rencana penyerbuan Sultan Agung kepada pihak Belanda. Tindakan pengkhianatan tersebut berakibat pada lumbung-lumbung padi sebagai persiapan logistik dalam long march menuju Batavia dibakar dan di porak-porandakan oleh tentara Belanda, sehingga bala tentara Sultan Agung dapat dengan mudah ditumbangkan oleh pihak Belanda.

Setelah mendengar bahwa ternyata salah satu pengikutnya berkhianat, Sultan Agung menunjukan kemurkaannya dengan memerintahkan para ajudan untuk memenggal Tumenggung Endranata yang merupakan pengkhianat kerajaan. Tak hanya dipenggal kepalanya, namun juga tubuh dan kakinya pun dipisahkan. Tubuh tanpa kepala itu kemudian dibenamkan di salah satu tangga paling dasar di depan pintu gerbang pertama di depan area makam. Kepala si pengkhianat dikubur di tengah pintu gerbang makam, dan kakinya dikubur di tengah kolam di depan gerbang. Sebenarnya tempat dikuburnya Tumenggung Endranata ini cukup mudah ditemui yakni, di bagian anak tangga yang permukaannya tidak rata atau sengaja teksturnya dibuat sedikit tidak halus, sangat jauh berbeda dengan keadaan anak tangga yang lainnya.

Untuk memasuki area pemakaman Raja-Raja Mataram, terdapat beberapa ketentuan. Selain pintu gerbang terakhir makam hanya dibuka di hari-hari tertentu seperti Hari Senin dan Jumat, dan hari-hari besar tertentu, ada juga tata cara berpakaian tertentu yang harus dilakukan ketika ingin memasuki kompleks makam secara langsung di bagian dalam. Saat mengunjungi makam, pengunjung akan mendapat petunjuk dari juru kunci untuk mengikuti segala instruksi yang dibutuhkan untuk menjalani segala ritual di dalam makam. Banyaknya pengunjung yang memiliki pengetahuan minim terhadap budaya ziarah di sini, mengakibatkan pengelola makam perlu melakukan pengawasan ekstra ketat agar tidak ada pengunjung yang menyalahi aturan hanya karena tidak mengetahui adat yang ada.

Bagi para pengunjung pria yang ingin memasuki kompleks makam di bagian dalam harus mengenakan kain panjang, baju peranakan, dan blangkon. Pengunjung wanita yang ingin memasuki makam di bagian dalam harus mengenakankain panjang, kemben, dan melepas semua perhiasan. Jika tidak menaati aturan tersebut, maka pengunjung hanya diperbolehkan sampai pintu gerbang pertama, sekedar duduk mendengarkan cerita sejarah para juru kunci di pendopo sebelah kiri yakni juru kunci Pasarean Dalem Kasultanan Yogyakarta, dan sebelah kanan untuk juru kunci Pasarean Dalem Kasultanan Surakarta. Selain itu para pengunjung juga dapat melakukan ziarah, sekedar berdoa di tempat yang sudah ditentukan, bahkan bisa bertapa di area gerbang pertama. Hal ini untuk memfasilitasi para pengunjung yang mungkin kecewa ketika hadir di hari kala pintu masuk pasarean tidak dapat dibuka, yakni pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, maka pengunjung dapat berziarah di depan pintu gerbang kedua yang sudah disediakan tempat untuk berdoa.

Gambar 3: Kompleks Pajimatan Girirejo Imogiri, Tampak Langit

Seperti diketahui pada sejarah Kerajaan Mataram bahwa pada masa Amangkurat V (1677) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi dua, yakni Kasultanan Hamengkubuwono (Yogyakarta) dan Kasultanan Pakubuwono (Solo). Abdi Dalem Makam Raja-Raja, Djoko Redjo pun menjelaskan bahwa disamping cerita sejarah mengenai dibelahnya Mataram menjadi dua dan makamnya pun dipisahkan, selain makam Kasultanan Hamengkubuwono dan Kasultanan Pakubuwono juga terdapat makam Sultan Agung, Sri Ratu Batang, Hamengkurat Amral, dan Hamengkurat Mas.

Pada Jumat 8 Juni 2013, pengunjung dapat memasuki area pemakaman karena berada di waktu ziarah yang sangat tepat. Pengunjung dapat berziarah dan bertapa, juga sekedar memohon bantuan kepada para leluhur untuk diberi kelancaran dan kemudahan rezeki. Atmosfir didalam area makam Raja-Raja berubah pesat ketika pengunjung sudah mulai masuk. Karena suasananya yang sangat hening dan gelap, membawa suasanya yang lebih intim pada para leluhur.

Makam Raja-raja Imogiri adalah tempat bagi mereka  yang mencari ketenangan dan ketentraman batin. Selain menjadi objek cagar budaya dan wisata ziarah, makam Raja Imogiri ini juga sering dimanfaatkan untuk para wisatawan yang memiliki hobi fotografi. Nuansa yang terbangun di tempat ini sangat eksotis dan rindangnya pepohonan dan dedaunan yang berguguran secara alami membuat makam Pajimatan Girirejo Imogiri ini sangat cocok untuk dijadikan objek fotografi. Selain itu dengan mengunjungi Makam Raja-raja Imogiri, pengunjung dapat mengetahui kekayaan sejarah budaya dan tradisi Kerajaan Mataram Islam yang mungkin nuansa intimnya tidak bisa didapatkan di buku sejarah. Tentunya untuk para wisatawan domestik maupun mancanegara yang kiranya haus akan pengetahuan budaya dan sejarah kerajaan Mataram Kuno, berkunjung ke Makam Raja-Raja di Imogiri adalah nilai eksotis yang sangat terrekomendasi. (Jul)

Gambar 4: Peta Letak Makam Imogiri / Pajimatan Girirejo Imogiri (Ditandai dengan huruf A) dari kota Yogyakarta

Link Video Terkait:

Melancong Nusantara – Julius Wicaksono

http://www.youtube.com/watch?v=-EaIrxwOEts&feature=youtu.be

Sumber Peta:

https://maps.google.com/maps?q=Makam+Raja-Raja+Surakarta+%26+Yogyakarta,+Bantul,+Daerah+Istimewa+Yogyakarta+55782,+Indonesia&client=firefox-a&hl=id&ie=UTF8&ct=clnk&cd=1&geocode=FU4lh_8dE4GUBg&split=0

Wicaksono Aji Pamungkas

(090903735)

Categories: Artikel/Paper

PANORAMA PUNCAK DI KETEP PASS, MAGELANG

oleh: Verena PWA-100904107

Gunung Merapi

Ketep Pass salah satu kawasan wisata yang terletak di Desa Blabak, kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 30 km dari Kota Magelang khususnya di kawasan Solo – Selo Borobudur (SSB). Selain Candi Borobudur, Taman Kyai Langgeng dan Kopeng di Salatiga, Ketep Pass merupakan obyek wisata yang termasuk dalam alternatif untuk berwisata di Magelang. Dapat diketahui bahwa lokasi ini merupakan puncak tertinggi di Ketep Pass.

Untuk dapat sampai ke lokasi, bisa melewati Kawasan Wisata Kopeng atau dari Kota Magelang selama kurang lebih 45 menit. Perjalanan menuju Ketep Pass ini tidak bisa dilupakan, dengan jalan yang berliku dan naik turun serta ditemani dengan pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Selain itu, tampak perkebunan dan ladang yang berada di pinggir jalan.

Obyek Wisata Ketep Pass terletak pada ketingggian 1200 m dpl. Luas area sekitar 8000 m persegi, berjarak 17 km dari Blabak Magelang ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang dan 35 km dari Boyolalai. Dari kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, dapat melalaui Kopeng dan Desa Kaponan dan 30 km dari Candi Borobudur. Lokasi Obyek mudah dijangkau baik dengan sepeda motor, mobil, mini bus bahkan bus besar.

Obyek wisata Ketep Pass yang belum begitu lama diresmikan, yakni pada 17 Oktober 2002 oleh Presiden RI Megawati Sukarno Putri, sudah bisa menyita perhatian wisatawan dengan keindahan dan kesejukan hawa pegunungan. Selain itu, obyek pemandangan yang lepas membuat banyak pengunjung datang ke tempat ini. Halaman yang cukup luas di lokasi ini, bisa memuat kendaraan pengunjung mulai dari bus, mobil, dan motor. Tiket masuk yang ditawarkan untuk satu orang tanpa dipatok waktu sebesar Rp 7.000,-, Parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 2.000,-.

Lokasi wisata yang diprakarsai Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto, tampak dengan sangat mempesona bagi para pengunjung yang terlihat dari kesibukan pengunjung yang dengan antusias mengabadikan puncak Gunung Merbabu, yang berada di sebelah kiri dan Gunung Merapi di sebelah kanan dari arah Ketep Pass. Selain menyaksikan keindahan puncak Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang jelas terlihat, keindahan lain tampak dari Gunung Sindoro dan Sumbing yang bisa terlihat dari Ketep Pass.

Pengunjung yang datang di Ketep Pass tidak selalu dari wisatawan lokal saja, tetapi juga dipadati wisatawan dari mancanegara. Pada bagian atas, pengunjung juga bisa menyewa teropong pada Gardu Pandang dan Panca Arga untuk melihat aktivitas gunung merapi secara lebih jelas dengan harga Rp 5.000,- sepuasnya. Selain itu, pengunjung dipuaskan menerawang secara lebih dekat lereng gunung yang akan terlihat lebih eksotik dengan jalan setapak yang ada di setiap lereng gunungnya. Pada pelataran Panca Arga yang berarti lima gunung, pengunjung bisa melihat 5 gunung dari tempat ini, yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet.
IMG_9016

Tidak sedikit pengunjung yang datang bersama dengan keluarga maupun pasangannya dan sekaligus mengabadikan momen di Ketep Pass ini. Latar belakang gunung yang eksotis dan penuh dengan nuansa alam ini, mampu membuang rasa penat dari aktivitas sehari-hari. Keindahan dan aroma alam yang dihadirkan di lokasi ini, dirasa juga sangat dibutuhkan terutama bagi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan yang sarat akan polusi.

Berbagai fasilitas pendukung juga terdapat di lokasi ini, yakni adanya wisata Vulkanologi Gunung Merapi yang di dalamnya terdapat miniatur Gunung Merapi, batu-batuan letusan merapi, foto dan poster yang berkaitan dengan Gunung Merapi serta data-data yang ada di computer interaktif. Selain itu, juga terdapat bioskop mini dengan kursi sebanyak 78 buah. Pengunjung bisa menyaksikan gambaran tentang aktivitas gunung merapi di Volcano Theatre dengan biaya yang tidak begitu mahal. Film yang berdurasi 30 menit ini merupakan bioskop mini, sekaligus menambah wawasan dan pengetahuan mengenai profil dan sejarah gunung berapi serta sejarah meletusnya kepada pengunjung. Untuk wisatawan yang sudah berada di lokasi teratas Ketep Pass dan ingin kembali ke tempat parkir, anda bisa menggunakan flaying fox yang disediakan. Selain cepat, pengunjung juga bisa melihat dan merasakan suasana sejuk ditemani pohon-pohon selama perjalanan outbound tersebut.

Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat, pengunjung juga disediakan tempat untuk beristirahat. Pada bagian bawah terdapat tempat singgah yang berjejer dan dilengkapi dengan minuman hangat, berbagai makanan ringan dan makanan berat serta jagung bakar. Meskipun harga yang ditawarkan di tempat singgah ini, tidak menutup kemungkinan pengunjung enggan mampir. Karena cuaca dingin yang diciptakan oleh tempat ini bisa teratasi dengan panganan dan jajanan hangat yang disediakan. Selain tempat untuk bersinggah, bagi pengunjung yang ingin beribadah, lokasi ini juga menyediakan tempa dan dilengkapi dengan kamar mandi di sebelahnya.IMG_9074

Pemandangan eksotis lagi, bisa pengunjung dapatkan pada saat matahari terbenam. Sinar matahari yang memantul di badan Gunung Merapi maupun Gunung Merbabu tampak terlihat dengan warna oren cerah. Lokasi yang bebas dikunjungi wisatawan selain dari segi Negara tapi juga dari segi waktu kunjungan, memungkinkan wisatawan untuk mengabadikan momen tersebut dalam kamera kapanpun ia mau. Bagi para pecinta alam, tidak salah untuk mengunjungi lokasi ini untuk sekadar menghilangkan penat dari kegiatan sehari-hari.http://atmajayanews.files.wordpress.com/2013/06/img_9016.jpg

Categories: Artikel/Paper

PANORAMA PUNCAK DI KETEP PASS, MAGELANG

Ketep Pass salah satu kawasan wisata yang terletak di Desa Blabak, kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 30 km dari Kota Magelang khususnya di kawasan Solo – Selo Borobudur (SSB). Selain Candi Borobudur, Taman Kyai Langgeng dan Kopeng di Salatiga, Ketep Pass merupakan obyek wisata yang termasuk dalam alternatif untuk berwisata di Magelang. Dapat diketahui bahwa lokasi ini merupakan puncak tertinggi di Ketep Pass.

Untuk dapat sampai ke lokasi, bisa melewati Kawasan Wisata Kopeng atau dari Kota Magelang selama kurang lebih 45 menit. Perjalanan menuju Ketep Pass ini tidak bisa dilupakan, dengan jalan yang berliku dan naik turun serta ditemani dengan pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Selain itu, tampak perkebunan dan ladang yang berada di pinggir jalan.

Obyek Wisata Ketep Pass terletak pada ketingggian 1200 m dpl. Luas area sekitar 8000 m persegi, berjarak 17 km dari Blabak Magelang ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang dan 35 km dari Boyolalai. Dari kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, dapat melalaui Kopeng dan Desa Kaponan dan 30 km dari Candi Borobudur. Lokasi Obyek mudah dijangkau baik dengan sepeda motor, mobil, mini bus bahkan bus besar.

Obyek wisata Ketep Pass yang belum begitu lama diresmikan, yakni pada 17 Oktober 2002 oleh Presiden RI Megawati Sukarno Putri, sudah bisa menyita perhatian wisatawan dengan keindahan dan kesejukan hawa pegunungan. Selain itu, obyek pemandangan yang lepas membuat banyak pengunjung datang ke tempat ini. Halaman yang cukup luas di lokasi ini, bisa memuat kendaraan pengunjung mulai dari bus, mobil, dan motor. Tiket masuk yang ditawarkan untuk satu orang tanpa dipatok waktu sebesar Rp 7.000,-, Parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 2.000,-.

Lokasi wisata yang diprakarsai Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto, tampak dengan sangat mempesona bagi para pengunjung yang terlihat dari kesibukan pengunjung yang dengan antusias mengabadikan puncak Gunung Merbabu, yang berada di sebelah kiri dan Gunung Merapi di sebelah kanan dari arah Ketep Pass. Selain menyaksikan keindahan puncak Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang jelas terlihat, keindahan lain tampak dari Gunung Sindoro dan Sumbing yang bisa terlihat dari Ketep Pass.

Pengunjung yang datang di Ketep Pass tidak selalu dari wisatawan lokal saja, tetapi juga dipadati wisatawan dari mancanegara. Pada bagian atas, pengunjung juga bisa menyewa teropong pada Gardu Pandang dan Panca Arga untuk melihat aktivitas gunung merapi secara lebih jelas dengan harga Rp 5.000,- sepuasnya. Selain itu, pengunjung dipuaskan menerawang secara lebih dekat lereng gunung yang akan terlihat lebih eksotik dengan jalan setapak yang ada di setiap lereng gunungnya. Pada pelataran Panca Arga yang berarti lima gunung, pengunjung bisa melihat 5 gunung dari tempat ini, yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet.

Tidak sedikit pengunjung yang datang bersama dengan keluarga maupun pasangannya dan sekaligus mengabadikan momen di Ketep Pass ini. Latar belakang gunung yang eksotis dan penuh dengan nuansa alam ini, mampu membuang rasa penat dari aktivitas sehari-hari. Keindahan dan aroma alam yang dihadirkan di lokasi ini, dirasa juga sangat dibutuhkan terutama bagi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan yang sarat akan polusi.

Berbagai fasilitas pendukung juga terdapat di lokasi ini, yakni adanya wisata Vulkanologi Gunung Merapi yang di dalamnya terdapat miniatur Gunung Merapi, batu-batuan letusan merapi, foto dan poster yang berkaitan dengan Gunung Merapi serta data-data yang ada di computer interaktif. Selain itu, juga terdapat bioskop mini dengan kursi sebanyak 78 buah. Pengunjung bisa menyaksikan gambaran tentang aktivitas gunung merapi di Volcano Theatre dengan biaya yang tidak begitu mahal. Film yang berdurasi 30 menit ini merupakan bioskop mini, sekaligus menambah wawasan dan pengetahuan mengenai profil dan sejarah gunung berapi serta sejarah meletusnya kepada pengunjung. Untuk wisatawan yang sudah berada di lokasi teratas Ketep Pass dan ingin kembali ke tempat parkir, anda bisa menggunakan flaying fox yang disediakan. Selain cepat, pengunjung juga bisa melihat dan merasakan suasana sejuk ditemani pohon-pohon selama perjalanan outbound tersebut.

Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat, pengunjung juga disediakan tempat untuk beristirahat. Pada bagian bawah terdapat tempat singgah yang berjejer dan dilengkapi dengan minuman hangat, berbagai makanan ringan dan makanan berat serta jagung bakar. Meskipun harga yang ditawarkan di tempat singgah ini, tidak menutup kemungkinan pengunjung enggan mampir. Karena cuaca dingin yang diciptakan oleh tempat ini bisa teratasi dengan panganan dan jajanan hangat yang disediakan. Selain tempat untuk bersinggah, bagi pengunjung yang ingin beribadah, lokasi ini juga menyediakan tempa dan dilengkapi dengan kamar mandi di sebelahnya.

Pemandangan eksotis lagi, bisa pengunjung dapatkan pada saat matahari terbenam. Sinar matahari yang memantul di badan Gunung Merapi maupun Gunung Merbabu tampak terlihat dengan warna oren cerah. Lokasi yang bebas dikunjungi wisatawan selain dari segi Negara tapi juga dari segi waktu kunjungan, memungkinkan wisatawan untuk mengabadikan momen tersebut dalam kamera kapanpun ia mau. Bagi para pecinta alam, tidak salah untuk mengunjungi lokasi ini untuk sekadar menghilangkan penat dari kegiatan sehari-hari.

Categories: Artikel/Paper

Museum “Sisa Hartaku”

Oleh :

Eka Juliana / 100904045

Image

 (peta Kabupaten Sleman)

Image

Ini merupakan bangunan rumah milik anak Ibu Wati yang terkena dampak erupsi Merapi di kawasan Kaliadem pada tahun 2010 silam. Tampak semuanya hancur, kecuali tembok yang masih berdiri tegak dan kokoh. Bangunan ini memang sudah lama tidak dihuni semenjak kejadian 3 tahun lalu. Semua anggota keluarga kini mengungsi di pengungsian dekat lapangan golf Merapi.

 

 

Image

Namun begitu, saat ini bangunan tersebut telah diberi atap agar terlindung dari sengat matahari. Bangunan ini sekarang beralih fungsi menjadi sebuah museum yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang kebanyakan berasal dari luar daerah Yogyakarta. Bentuk dan isi museum ini sangat berbeda dengan museum pada umumnya. Museum ini memuat semua barang-barang milik Ibu Wati dan keluarganya. Menurut Ibu Wati, pendirian museum ini awalnya hanya diketahui oleh orang-orang terdekat. Mereka yang berkunjung ke sana lalu mengabadikan foto kemudian mengunggahnya dalam sosial media. Sejak saat itu, museum ini dibanjiri banyak pengunjung yang berasal dari luar Yogyakarta.

“Nggak sengaja mau buat museum, awalnya Cuma untuk anak cucu. Biar tahu kalau dulu ada erupsi Merapi dan ini dampaknya. Jadi ada buktinya dari erupsi itu yang masih bisa dilihat sama cucu-cucu saya kalau mereka sudah besar”, ujar Ibu Wati.

Beberapa benda peninggalan seperti yang tertulis pada gambar di bawah ini dapat kita temui di museum ini. Menurut Ibu Wati, barang-barang tersebut ditemukan disekitar rumah. Barang itu kemudian dikumpulkan dan sekarang menjadi icon dalam museum ini. Rumah yang tampak pada gambar ini sebenarnya rumah milik anak Ibu Wati. Rumah Ibu Wati berada tepat di belakang rumah anaknya. Namun sayang, rumah itu hancur tak bersisa.

Image

Sehari-harinya, Ibu wati beserta salah satu anak perempuannya naik dari tempat pengungsian menuju rumahnya. Ketika berbincang-bincang Ibu Wati menuturkan, biasanya pukul 07.00 beliau dan putrinya sudah berada di atas. Tepat di sebelah rumahnya yang sekarang dijadikan museum, putrid Ibu Wati berjualan makanan dan minuman. Ketika sore tiba, mereka akan berkemas-kemas dan turun lagi ke barak pengungsian.

Museum ini berada jauh dari pusat kota di Yogyakarta. Jalan yang ditempuh untuk dapat sampai ke tempat ini juga tidak semulus jalan di kota. Kerikil-kerikil kecil dan banyaknya lubang menemani perjalanan kita untuk sampai di museum ini. Para wisatawan yang berkunjung ke museum ini biasanya menggunakan mobil jeep yang sudah dibayar sepaket dengan paket wisata ke daerah Kaliurang. Namun, bagi para wisatawan yang ingin menggunakan kendaraan sendiri, kita juga bisa mencapai tempat ini. Cukup membayar biaya masuk sebesar Rp 3.000 perorang kita sudah bisa masuk dan mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di tempat ini. Untuk masuk ke museum, kita tidak dikenakan biaya. Namun, kita cukup memberi uang seikhlasnya pada kotak dana yang disediakan di pojok museum.

Image

(salah satu tulisan yang merupakan curahan hati mereka)

Sumber gambar :

http://ohpeponi.blogspot.com/2012/12/kota-kota-museum-sisa-hartaku.html

http://ochipmunkz.blogspot.com/2012/11/trip-to-volcanos-museum-27-oktober-2012_5.html

http://berbagifun.blogspot.com/2012/08/museum-sisa-hartaku-kaliadem-yogyakarta.html

Berikut adalah foto yang didapat di lapangan :

Categories: Artikel/Paper

KZ Gedenkstaette, Saksi Bisu Sejarah Kejamnya Nazi

Oleh:

Hermiyani/ 100903991


Siapa yang tak mengenal sejarah tentang Nazi? Perang Dunia II yang disebut-sebut keji itu salah satunya dipimpin oleh adikuasa Jerman, Adolf Hitler, tersebut telah menyisakan luka mendalam bagi seluruh dunia, khususnya bangsa Yahudi dan Jerman sendiri. Bahkan hingga kini, sisa-sisa kekejaman Nazi seperti museum, barak konsentrasi, tempat-tempat bersejarah tersebut masih digunakan untuk dokumentasi atau bahkan dijadikan film seperti Schindler’s List dan The Boy in the Striped Pyjamas.

Dalam kedua film tersebut, terlintas di benak kita bagaimana kondisi kamp konsentrasi atau barak konsentrasi dari para tawanan Nazi. Pria dan wanita dipisahkan, tidak peduli bagaimana kondisi fisik dan umur, semua dipekerjakan bak binatang dan setiap saat dapat diperlakukan keji bahkan dibunuh.

“Saya tidak mau ke tempat-tempat peninggalan Nazi seperti barak konsentrasi. Itu menyisakan luka tersendiri bagi saya, karena dulu keluarga saya juga pernah ditahan oleh Nazi,” kata Andrej Kulesch (25), seorang Belarusia, yang sempat tinggal di Jerman.

Ade (27), seorang Indonesia yang tinggal di Jerman, tidak menyetujui jika barak konsentrasi dijadikan museum.

“Saya tidak setuju jika Kamp Konsentrasi nya Nazi di jadikan Museum. Alangkah baiknya, jika  yang dinamakan museum adalah tempat untuk mengenang sejarah yang indah saja. Ini kan pembunuhan masal yang melibatkan matinya 6 juta lebih orang Yahudi,” kata Ade.

Memang bagi orang-orang Yahudi maupun orang-orang yang keluarganya pernah ditawan oleh tentara Nazi, melihat sedikit pun peninggalan Nazi, membuat mereka sakit hati. Tapi tak salah jika kita mau berziarah dan mengenang saat kejam itu, sehingga menjadi pelajaran untuk tidak mengulangi kejadian keji tersebut.

Terletak di sebuah kota kecil di Jerman Barat, Konzentrationslager (KZ) atau barak konsentrasi Gedenkstaette di Dachau ini mengundang misteri untuk coba dikunjungi. Jika melihat di peta, kita akan dapati sepetak tanah cukup luas yang ternyata dulunya adalah tempat bagi para tentara Nazi untuk menahan orang-orang di luar ras terpilih, yaitu Jerman.

Bayangan tentang bagaimana orang-orang dalam film Schindler’s List dan The Boy in the Striped Pyjamas mulai terlintas saat sekilas tampak dua buah garis panjang di tanah luas tersebut. Rasa penasaran semakin bergejolak, rasanya tak puas hanya melihat dalam sebuah peta.

Saat itu cuaca di Dachau tidak begitu terik, perjalanan kurang lebih 30 menit dari Baar Ebenhausen menggunakan mobil pun tidak begitu terasa lama karena jalan-jalannya yang lengang. Sesaat kemudian kami tiba di tempat parkir mobil di KZ Gedenkstaette. Tidak menyangka ada di sini, di parkirannya saja sudah membuat jantung berdegup kencang dan pikiran berkecamuk.

“Ada apa di sana? Bagaimana kondisinya? Apakah menyeramkan? Banyak turis yang datang juga tidak ya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sekelibat muncul dalam benak, karena maklum saja, menjajal untuk menjadi tawanan Nazi memang mengerikan dan menantang. Apalagi jika kekejaman tentara Hitler itu sudah tertanam melalui film-film garapan Amerika Serikat sana.

Ternyata cuaca yang cukup cerah membuat langkah tetap tegap untuk masuk ke dalam barak konsentrasi tersebut. Dengan membayar tiket masuk yang tidak mahal, atmosfer yang mengerikan saat melihat sebuah tembok yang diukir dengan nama-nama korban dari tentara Nazi itu sudah bisa dirasakan.

Pengunjung harus berjalan cukup jauh untuk masuk ke dalam barak konsentrasi Gedenkstatte. Di sepanjang jalan sebelum ke barak konsentrasi tidak didirikan bangunan apapun. Kondisinya dibiarkan seperti hutan, mungkin agar nuansa seperti saat itu tidak hilang.

Hingga akhirnya, sebuah gerbang besar bertuliskan “Arbeit Macht Frei” tampak di depan mata. Di sekelilingnya dibangun sebuah tembok besar, serta pagar duri untuk menjaga agar para tawanan tidak kabur keluar. Memasuki area penahanan tersebut, ada beberapa bangunan yang sengaja tidak dirombak untuk dijadikan museum. Tapi sayangnya, banyak barak tempat tinggal para tahanan sudah dibongkar dan hanya disisakan 2 bangunan saja.

Masuk ke gedung utama, banyak sekali barang-barang peninggalan para tahanan maupun para tentara Nazi. Semua barang-barang dipanjang dalam lemari kaca dan diberi keterangan dengan bahasa Jerman dan Inggris. Untuk orang-orang yang tidak bisa berbahasa Inggris dan Jerman, disediakan sebuah alat penerjemah, pengunjung hanya tinggal memasukkan kode dan mendengarkan dari alat tersebut.

Ternyata tidak hanya memajang barang-barang sejarah saja. Ternyata bangunan utama tersebut menyimpan banyak cerita. Ada tempat-tempat yang tidak diperbaiki, agar pengunjung tahu bagaimana kondisi bangunan itu pada saat Nazi berkuasa. Ada tempat untuk mandi bagi para tahanan Nazi. Tempat untuk menggantung para tahanan untuk disiksa, tempat tidur kayu untuk menyiksa dan memukul para tahanan Nazi, serta tempat-tempat lainnya yang jika dibayangkan akan membuat kita bergidik.

Di depan bangunan utama, ada dua buah bangunan berdiri sejajar, luruh jaus di belakangnya, ada bangunan berbentuk tabung. Ternyata dua bangunan itu adalah barak tempat tinggal para tahanan Nazi. Hanya disisakan dua buah barak saja, tapi saat masuk ke dalam barak itu sudah cukup membuat kita ngeri.

Ada tiga bagian dalam barak tersebut, tempat tidur para tahanan, sebuah aula, dan wc. Sepi dan sunyi, bayangan dalam film Schindler’s List mulai muncul saat melihat tempat tidur para tahanan Nazi. Ada yang hampir meninggal karena sakit, ada yang sudah meninggal, dan pakaiannya diperebutkan untuk menjaga dari musim dingin. Memang sungguh tragis kondisi saat itu.

Di belakang barak tempat tinggal, ada tiga buah gereja dengan bangunan yang berbeda bentuknya. Ada gereja untuk Kristen Protestan, Kristen Ortodoks, dan untuk orang Yahudi sendiri. Di samping gereja, ada sebuah jalan kecil. Jalan itu menuju tempat pembantaian para tahanan Nazi. Ada gas chamber dan ruang krematorium.

Sungguh ngeri rasanya memasuki gas chamber. Perasaan takut kembali datang ketika masuk ke dalam ruangan yang pengab dan penuh lubang di bagian langit-langitnya untuk jalan gas beracun. Ingin rasanya cepat keluar dari ruangan itu.

Bagaimana pun juga, walaupun sudah menjadi museum, tetap saja ngeri berada di dalam gas chamber. Di depan gas chamber, ada ruangan krematorium. Di ruangan itulah mayat-mayat para tahanan Nazi dibakar dengan keji.

Sungguh miris melihat kondisi kedua ruangan itu. Dengan mudahnya nyawa orang hilang dalam sekejap. Tapi jika dilihat dari kondisinya, tak banyak turis yang mau masuk ke dalam dua ruangan tersebut.

Tempat peninggalan Nazi memang menyisakan berjuta cerita. Banyak kisah yang belum tergali yang sebenarnya menjadi saksi sejarah umat manusia. Dengan adanya museum barak konsentrasi ini, diharapkan tidak ada Hitler-hitler baru yang muncul di dunia. “Never Again”, jangan ada lagi kisah-kisah penyiksaan sesama umat manusia terjadi kembali.

Categories: Artikel/Paper

Cintai Negara lewat Museum Radya Pustaka

Serafica Gischa P / 100903990

Kota Solo merupakan salah satu kota yang memiliki banyak tempat sejarah, selain memiliki Keraton Kausnanan Surakarta juga memiliki Museum-museum seperti Kereta Keraton, Kandang Kerbau Bule Kyai Slamet dan yang lainnya dengan tatanan kota yang apik dan menarik. Ketika saya melintas Jalan Slamet Riyadi terlihat bangunan yang agak menjorok terletak di dekat Taman Sriwedari, bertuliskan Museum Radya Pustaka.

Saya pun membelokkan kemudi dan masuk ke halamannya. Radya Pustaka adalah museum tertua di Indonesia. Dibangun pada 28 Oktober 1890 oleh Kanjeng Adipati Sosroningrat IV, pepatih dalem pada masa pemerintahan Pakoe Boewono IX dan Pakoe Boewono X. Museum Radya Pustaka juga memiliki perpustakaan yang menyimpan buku-buku budaya dan pengetahuan sejarah, seni dan tradisi serta kesusastraan baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun Bahasa Belanda.

Hanya dengan tiket yang dapat terjangkau sebesar Rp 5.000, 00 kita dapat menikmati koleksi benda-benda bersejarah yang memiliki nilai seni yang tinggi. Terdapat beberapa arca batu dan perunggu dari zaman Hindhu dan Budha. Koleksi keris kuno dan berbagai senjata tradisional, seperangkat gamelan, wayang kulit dan wayang beber, koleksi keramik dan berbagai barang seni lainnya.

Satu lagi yang menarik perhatian saya ketika melewati lorong utama terdapat sebuah pintu kaca yang didalamnya terdapat lemari yang mengelilingi tembok dan meja panjang di tengahnya. Ruangan tersebut adalah perpustakaan kecil yang menyimpan banyak sekali surat-surat mulai dari bahasa Sansekerta, Huruf Jawa, dan surat-surat dari negara lain. Namun sayang, semua hal tersebut tidak dapat diabadikan, meskipun dengan satu jepretan saja.

Didalam Museum Radya Pustaka juga terdapat beberapa koleksi buku yang kebanyakan berbahasa Belanda. Keterangan yang tertera didalamnya adalah buku-buku tersebut merupakan buku filsafat dan ilmu yang dikoleksi oleh Sultan Pakoe Boewono untuk belajar.

Ketika memasuki ruangan tengah dari museum tersebut, dari sebelah kiri terdapat satu ruangan khusus yang tidak boleh dimasuki. Ruangan tersebut merupakan tatanan ruang kerja Sultan serta kursi-kursi yang di tata rapi untuk menerima tamu kehormatan dari Keraton.

Disisi kanan terdapat kepala besar, seperti kepala reog namun besar. Kepala tersebut dan beberapa benda yang lain merupakan hiasan kapal dari Jawa yang memiliki jiwa. Pada saat dulu ketika kapal itu berlayar, kapal tersebut tidak pernah membawa bencana, sehingga hingga sekarang benda tersebut menjadi benda yang dikeramatkan.

Ditengah ruangan terdpaat sebuah panggung yang tidak telalu tinggi. Diatasnya tertata rapi seperangkat alat gamelan berikut dengan beberapa wayang yang berada di sana. Gamelan tersebut di tata sesuai dengan pagelaran Wayang Kulit pada umumnya. Semua benda disana rata-rata memang tidak boleh dipegang karena takut akan rusak atau ada yang luka.

Setelah menikmati beberapa koleksi wayang dan beberapa lemari pakaian dan kerja pada jaman kerajaan, di ruangan terakhir terdapat beberapa arca dari jaman Hindu dan Budha. Namun sayang arca-arca tersebut sepertinya tidak di tata dengan rapi. Tersapat beberapa arca yang dengan asal ditaruh sehingga saya sebagai pengunjung tidak mengerti apa maksud dari arca tersebut.

Setelah asyik mengabadikan beberapa hal yang diperbolehkan, saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah satu pengunjung yang kebetulan hanya saya dan dia yang berada di dalam saat itu. Kakak itu bernama Ambar, asal dari Jakarta. Kedatangannya ke kota Solo adalah untuk menikmati beberapak kawasan Solo yang memiliki cerita sejarah.

Namun, Ambar juga menyayangkan ketidakperhatian pemerintah terlebih pengurus Museum Radya Pustaka. Sebenarnya benda-benda yang ada didalam sangat bermanfaat bagi seluruh masyarakat khususnya orang Jawa. Agar mereka tahu bahwa Indonesia sudah sejak dulu mengenal tulisan. Namun karena ketidakperhatian in yang membuat museum ini hanya sebagai pelengkap kota.

Dari kegiatan wisata dan berbincang dengan salah satu pecinta sejarah tersebut saya menjadi lebih memiliki rasa cinta pada tanah air Indonesia dan sejarah. Indonesia sebenarnya negara yang kuat, negara yang pintar, bahkan negara yang hebat. Namun, orang-orang yang merasa hebat diatas sana tidak pernah memiliki Indonesia yang sebenarnya karena melupakan sejarah, bahkan tempat sejarah yang kecil sekalipun.

 

 

 

Cintai Negaramu dengan membuka mata dan hati pada sejarah :) 

Categories: Artikel/Paper

Art Film School Indonesia

Oleh: Arga Nalendra (100903999)

Image

Art Film School Indonesia (AFIS) adalah salah satu sekolah film di Yogyakarta. “Art Film School merupakan salah satu tempat di mana masyarakat dapat belajar lebih mendalam tentang bagaimana cara membuat film dengan manajemen yang benar,” jelas Rusdi Kurniawan atau yang akrab disapa Bogel. Pria berusia 33 tahun ini adalah pendiri Art Film School Indonesia ini.

Berdiri pada tanggal 16 Agustus 2004, pada awalnya AFIS tidak langsung memiliki tempat sendiri. Saat itu AFIS masih meminjam tempat mengajar di AVIKOM, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Pembangunan Negeri Yogyakarta. Di tempat itu, Bogel bersama beberapa rekannya mengajar tentang bagaimana membuat film selama tiga tahun. AFIS kemudian berpindah tempat dengan menyewa sebuah rumah di Jalan Perumnas, Yogyakarta. “Setelah dua tahun di tempat itu, kami memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar sementara, karena kami mengerjakan sebuah produksi film di wilayah Indonesia Timur selama satu tahun,” ungkap Bogel.  

Setelah kembali ke Yogyakarta, Bogel kembali mencari tempat untuk membuka AFIS. Mereka kemudian mendapatkan tempat di Jalan Kaliurang KM 6,7, Yogyakarta yang bertahan hingga saat ini. Pada awalnya tempat tersebut hanya berupa tanah kosong. Setelah proses pendirian bangunan selesai, pada tahun 2012 AFIS kembali mengadakan proses belajar mengajar seperti semula.

Image

Tempat baru AFIS yang mengedepankan suasana nyaman layaknya rumah mampu meningkatkan animo masyarakat untuk berkunjung. Banyak dari murid, alumni, komunitas film, maupun kalangan umum yang berkunjung ke AFIS baik untuk belajar, menambah wawasan, atau sekedar berdiskusi seputar film.

Image

Image

Sejak awal berdiri, AFIS telah berhasil meluluskan lebih dari 300 orang murid. Banyak diantara mereka yang meneruskan karir di jalur industry kreatif. “Ada yang menjadi pembuat film, ada yang menjadi editor di salah satu televisi swasta nasional, bahkan ada yang menjadi fotografer,” ungkap Bogel. Tidak hanya mengadakan kegiatan mengajar dan membuat film, AFIS juga rutin mengadakan sarasehan, semacam diskusi yang bertujuan mengundang masyarakat terutama yang tertarik pada dunia film untuk membahas hal-hal seputar dunia perfilman.

Semboyan yang diusung Bogel yakni “AFIS tanpa dinding pembatas” membuat AFIS terbuka bagi siapa saja. “Tanpa dinding pembatas” berarti bahwa siapapun bebas mengakses tempat maupun fasilitas milik AFIS namun dengan tetap mematuhi peraturan yang telah dibuat.

Sistem belajar yang diadakan AFIS adalah membagi murid-murid dalam beberapa kelas. Setiap kelas akan mendapatkan total dua belas pertemuan. Sepuluh pertemuan pertama berisi materi-materi dasar tentang pembuatan film. Sedangkan dua pertemuan terakhir digunakan untuk memproduksi sebuah film pendek sebagai tugas akhir. Proses belajar mengajar juga tidak dilakukan secara kaku. Proses belajar mengajar tersebut tidak harus dilakukan dalam ruangan kelas, namun juga bisa dilakukan di halaman atau di tempat lain. Tujuan utamanya agar tetap membuat AFIS menjadi tempat yang nyaman terutama bagi murid-muridnya.  

Image

Rusdi Kurniawan alias Bogel

Bagi Bogel, AFIS merupakan bagian dari tanggung jawabnya. “Saya bersikukuh tetap mendirikan AFIS karena berdirinya AFIS merupakan ide yang saya cetuskan. Untuk itu saya harus bertanggung jawab akan itu. Selain itu saya meyakini, AFIS dapat bermanfaat bagi semua orang,” ungkap pria berambut pendek ini. Secara personal, Bogel tidak mengutamakan keuntungan yang ia dapat dari AFIS. Baginya, hal yang lebih penting adalah bagaimana ilmu-ilmu AFIS yang diberikan AFIS dapat berguna bagi banyak orang.  

Kerja keras Bogel berbuah manis. Seiring waktu AFIS semakin berkembang dan akrab di telinga masyarakat. Salah satu buktinya adalah AFIS seringkali diundang untuk menjadi pembicara di berbagai workshop tentang dunia film. Selain itu AFIS juga kerap diajak bekerjasama dalam berbagai kompetisi film.

Image

AFIS juga menjalin kerjasama dengan berbagai komunitas film. Selain sebagai tempat mengajar, AFIS juga menyediakan ruang untuk bernaungnya komunitas film di Yogya. “Saat ini yang mengakses tempat di AFIS adalah komunitas Pabrik Film dan Ruang Hampa Creative Artwork,” jelas Bogel.

Perjalanan panjang berdirinya AFIS atau Art Film School Indonesia merupakan hal yang patut diacungi jempol. Buah kerja keras Bogel dan berbagai dukungan yang menyertainya membuat AFIS mendapat tempat di dunia perfilman, baik lokal maupun nasional.

Berikut ini adalah video perkenalan singkat tentang Art Film School Indonesia:

Categories: Artikel/Paper

Panorama Menawan Ratu Boko, Candi Bersejarah Hindu Budha

Panorama Menawan Ratu Boko, Candi Bersejarah Hindu Budha Oleh : Ruth Alvoncia Hernawan – 100903997 Image Foto : Bersama Rombongan melakukan wisata ke kompleks Kraton Candi Ratu Boko Terletak di atas bukit yang merupakan salah satu deretan perbukitan seribu yang bernama bukit Ratu Boko. Kraton Ratu Boko atau sering juga disebut Candi Ratu Boko menjadi bukti peninggalan sejarah kerajaan Hindhu Budha di masa lampau. Kompleks kraton Ratu Boko ini mungkin bisa dikatakan cukup unik karena di areal kompleks yang sangat luas tersebut, dapat kita lihat bagaimana kejayaan kraton Hindu Budha yang ada di daerah Kalasan tersebut. Image gambar 2 : Perbukitan ratu Boko Seperti kita ketahui, Yogyakarta sangat terkenal dengan kraton yang kental sekali dengan budaya Jawa. Lihatlah bagaimana adat Jawa sangat melekat di kraton Yogyakarta. Akan tetapi, terkadang kita hanya mengetahui bahwa kraton Yogyakarta sangat berbau adat Jawa dengan kejawennya. Kondisi ini berbeda dengan yang ada di Kraton Ratu Boko. Kraton ini menjadi bukti bahwa Yogyakarta menyimpan sejarah Hindu Budha yang mungkin tidak pernah orang lain ketahui. Kompleks Ratu Boko ini merupakan sebuah situs arkeologi berupa keratin kerajaan Mataram Kuno dari abad ke 8. Menurut Roestamto, informan dari Ratu Boko, kompleks ini sudah ada lebih dahulu dibandingkan dengan kompleks candi Prambanan dan candi Borobudur. Adapun penemuan prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 M, kawasan situs Ratu Boko ini disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, sedangkan giri berarti bukit. Wihara sendiri artinya asrama. Jadi, artinya adalah asrama para Bhiksu yang terletak di atas bukit penuh kedamaian.

peta2

peta-gogle

Bukti prasasti itulah yang pada akhirnya mengantarkan pemahaman kita semua bahwa candi ratu boko ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Hindu Budha. Adapun bukti fisik yang bisa kita temukan beberapa arca stupa yang merupakan peninggalan agama Budha, sedangkan untuk agama hindu, terdapat beberapa candi untuk dewa Brahmana, Shiwa, dan lainnya. Disebut kraton karena pada masa lampau tempat ini juga biasa untuk tempat tinggal. Jadi bisa disimpulkan bahwa ada beberapa fungsi global dari komplek Candi Ratu Boko yaitu untuk tempat tinggal, untuk wihara para biksu dan juga sebagai benteng pertahanan. Untuk masuk ke tempat wisata ini tidak terlalu mahal. Setiap orang hanya dikenakan Rp 25.000, 00. Tidak hanya tiket masuk yang kita dapatkan, tetapi saat  memasuki gerbang Ratu Boko, kita akan diberi satu botol air mineral untuk menemani perjalanan kita di dalam. Untuk masuk ke dalam, saat ini pengunjung wajib menggunakan sebuah kain batik yang akan dipakaikan di pinggang pengunjung. Ini wajib digunakan bagi pengunjung perempuan maupun laki-laki. Keunikan menggunakan kain ini ternyata tidak hanya diwajibkan bagi pengunjung Ratu Boko, Roestamto menyebutkan bahwa penggunaan kain ini sudah berlaku juga di Borobudur maupun di Prambanan. “Tujuannya adalah untuk memperkenalkan batik bagi wisatawan dan ini wajib,” ungkapnya. Ketika mulai masuk ke pelataran candi Ratu Boko, awalnya kita akan melihat hamparan luas rerumputan dan disamping terlihat kandang rusa. Pengunjung juga bisa bersantai di sekitar tempat itu karena disekitarnya terdapat beberapa gazebo untuk berteduh dan bersantai. Berjalan lagi masuk menyusuri kawasan tersebut, kita akan naik melalui beberapa anak tangga dan disambut dengan gapura dari batu-batuan. Suasananya mungkin hampir sama ketika kita memasuki pelataran candi Borobudur atau candi prambanan. Beberapa gapura tersebut biasa digunakan beberapa orang untuk berfoto karena memang view yang terlihat sangat bagus untuk kepentingan fotografi. Adapun beberapa pasangan muda yang menggunakan beberapa keindahan wisata ini untuk mengabadikan foto pre wedding mereka. Lebih ke dalam lagi kita dapat melihat beberapa bangunan-bangunan seperti Pendopo, Paseban, Kolam, Gua dan juga Keputren. Pendopo merupakan salah satu tempat seperti aula dengan panjang 40.80m, lebar 33.90m dan tinggi 3.45m. Pendopo ini terbuat dari batuan andesit yang dibangun dengan sangat luas. Kolam juga ada di sekitar pendopo dan kita bisa melihat kolam tersebut dari atas pendopo. Airnya cukup keruh dan hanya berbentuk kolam-kolam kecil. Paseban adalah sebuah ruang tunggu bagi para tamu untuk bertemu dengan raja. Ada dua paseban di komplek ratu boko ini yaitu paseban timur dan juga paseban barat. Image gambar 3 : pendopo di ratu Boko Kita juga akan melihat beberapa penunjuk jalan untuk menuju ke gua. Ada dua gua yaitu gua Lanang dan gua Wadon. Gua Lanang dan Wadon ini dilambangkan dengan simbol genital perempuan dan laki-laki. Fungsi dari gua ini sebenarnya adalah sebagai tempat untuk bermeditasi. Keputren juga merupakan salah satu tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Menurut sejarah, keputren adalah tempat para putri berkumpul.

Di tengah perjalanan, saya dan rombongan bertemu dengan salah satu artis ibukota yaitu Mathias Muchus. Ya, artis dan seniman ini datang mengunjungi tempat wisata ratu boko ini bersama istrinya Mira Lesmana yang juga merupakan sutradara beberapa film ternama. Dalam perbincangan kami, beliau mengatakan bahwa kawasan ini menarik bagi wisatawan. Tentunya bagi ia pribadi, tempat wisata alam seperti ini dapat digunakan sebagai sarana ekspresi. “Kalau saya pergi ke mall yang ada itu stress, tetapi kalau pergi ke tempat seperti ini, saya bisa meluapkan ekspresi saya, ini jadi semacam sarana ekspresi,” ungkapnya. Sayangnya, Mathias Muchus juga menambahkan tentang keprihatinannya tentang wisata ini. Seakan kompleks wisata ini kurang terawat dan tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah. Ia berharap ke depannya, wisata ini dapat menjadi wisata yang lebih baik lagi dan bisa menarik pengunjung lebih banyak. Menanggapi hal ini, Roestamto selaku informan juga mengatakan bahwa beberapa bangunan yang runtuh dan hancur merupakan kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alam seperti gempa bumi yang terjadi di sekitar tahun 1900an. Wilayahnya yang dekat dengan gunung merapi menjadi salah satu faktor kerusakan beberapa bangunan tersebut. Image foto 4:bersama seniman Mathias Muchus. Keunikan lain mungkin tidak hanya ditemukan dari sisi sejarahnya saja, tetapi keunikan panorama yang begitu memukau nyatanya membuat tempat ini digemari oleh wisatawan untuk sekedar duduk menikmati indahnya sunset dari atas bukit ratu boko. Keindahan sunset ratu boko ini tentu saja akan membuat pengunjung betah untuk tetap tinggal diam dan menikmati secangkir teh atau kopi menunggu datangnya sunset. Tak hanya itu, kawasan ini juga menyediakan paket untuk camping umum dengan harga yang cukup terjangkau, hanya Rp 35.000,00 per orang dengan jumlah hari tiga hari dua malam. Itupun sudah termasuk biaya fasilitas-fasilitas yang telah disediakan. Untuk pre wedding, kawasan wisata ini memungut biaya sebesar Rp 500.000,00 untuk setiap sesi pemotretan. Tunggu apa lagi berkunjung ke Kompleks Ratu Boko? Salam Travelling.

DENAH PETA . pdf file

 

Categories: Artikel/Paper

Karya Lokal Yogyakarta Mendunia

June 13, 2013 1 comment

Angela Rianita – 100904084

 

Mendengar kata batik, rasanya seperti hal yang sudah biasa saja. Masyarakat kebanyakan mengetahui batik diproduksi ke dalam bentuk pakaian atau kerajian-kerajinan tangan yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh ketika kita berwisata ke Yogyakarta. Namun, batik yang merupakan warisan kebudayaan asli Indonesia ini kini telah berkembang dengan berbagai macam kreasi. Sumber daya manusia di Indonesia nampaknya sungguh-sungguh telah mengembangkan kemampuannya untuk berkreasi dengan seni yang kerap disebut batik lukis.

Seperti yang ada di Desa Tembi, tepatnya di Jalan Parangtritis kilometer 8,5 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta ini misalnya. Terdapat sebuah bangunan sederhana, minimalis, sejuk, namun penuh dengan goresan-goresan batik lukis karya seniman-seniman lokal Yogyakarta. Ya! Bangunan sederhana ini merupakan sebuah galeri batik, dan biasa dikenal dengan nama Leksa Ganesha. Sepintas memang tidak ada yang berbeda dengan galeri batik yang lain. Namun jangan salah, ketika memasuki galeri, kita akan menemukan banyak sekali batik lukis karya seniman lokal Yogyakarta yang sangat indah.

Leksa Ganesha merupakan galeri batik milik Tatang Elmy, yang masih memiliki hubungan darah dengan seniman batik populer Koeswadji dan seniman tari Bagong Koesudiharjo. Lukisan-lukisan batik ini memiliki beberapa tema khas yaitu tarian Bali, bunga, dan abstrak. Dan yang lebih spesial lagi dari Leksa Ganesha ini adalah, semua lukisan yang dibuat di sini tidak dapat ditemukan di sembarang tempat alias limited edition. “Semua batik lukis di sini tidak bisa dicari di sembarang tempat. Misalkan lukisan ini, di Yogyakarta ini hanya bisa ditemui di tiga galeri saja,” tutur Ibnu Sudiro, marketing Leksa Ganesha sembari menunjukkan salah satu karya batik lukis berukuran cukup besar dan dengan warna-warna yang sederhana namun nampak indah.

Batik lukis Leksa Ganesha diproduksi secara tradisional dengan mengunakan “canthing” dan “malam”. Oleh karena itu, membutuhkan waktu cukup lama kurang lebih selama dua minggu untuk menyelesaikan satu buah karya batik lukis. Hal inilah salah satu alasan mengapa batik lukis Leksa Ganesha digemari oleh banyak pecinta lukisan baik lokal bahkan hingga seniman lukis  internasional.

“Kami belum melakukan eksport ke luar negeri, tetapi seniman lukis luar negeri yang mencari lukisan di sini cukup banyak, bahkan mereka datang langsung ke tempat ini untuk membeli lukisan kami,” tutur Ibnu lagi. Meskipun Leksa Ganesha belum memperdagangkan batik lukisnya ke luar negeri, tetapi Leksa Ganesha telah dikenal oleh beberapa negara tetangga bahkan negara-negara lintas benua dengan mengikuti ajang pameran seni di Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Malaysia, Singapura, dan Laos.

Beberapa waktu yang lalu, turis asing dari Amerika Serikat tinggal di galeri Leksa Ganesha demi memenuhi keinginannya agar bisa menghasilkan sebuah karya batik lukis. “Belum lama ini ada turis dari Amerika Serikat tinggal di sini sekitar tiga tahun. Dia belajar membuat batik lukis di sini, sampai akhirnya dia bisa membuat batik lukis sendiri,” ujar Ibnu.

Tentu saja ini semakin membuat kita semua patut bangga kepada kearifan lokal negeri sendiri. Orang yang bukan dari negeri sendiri saja bersedia mempelajari seni budaya asli Indonesia, kenapa kita tidak?

Categories: Artikel/Paper
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.