Archive

Archive for the ‘Artikel/Paper’ Category

Kampung Dolanan : Dusun Unik Penghasil Permainan Tradisional

Oleh : Lusia Febriana ArumingtyasImage

Gambar 1. Tembok Kampung Doalanan yang dilukis oleh Mahasiswa Institut Seni Indonesia

Permainan tradisional, yang biasa kita sebut sebagai ‘dolanan’ sudah jarng sekali terlihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang. Apalagi semenjak pertengahan tahun 1980-an dimana permainan plastik dari Amerika dan China mulai merambah di Indonesia. Kampung Dolanan, keunikan salah satu desa dari keragaman seni kriya yang ada di Yogyakarta, dimana eksistensi dolanan masih bertahan.

“sudah jaman kecil saya membuat permainan ini, dari mulai simbok”, jelas Mbah Atemo sambil membuat sebuah model wayang dari kertas.

Kampung Dolanan secara historis adalah salah satu dusun yang masyarakatnya mayoritas memproduksi dolanan anak-anak berbahan bambu dan kertas.Tradisi ini sudah ada sejak pemerintaha HB VIII atau sekitar abad ke-18.Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung dan kepat menjadi salah satu pilihan dolanan yang ditawarankan dari desa ini.

Letak desa ini 9,2 km dari kota Yogyakarta ke arah selatan, lebih tepatnya di dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Café Pyramid yang berada di jalan Parangtritis menjadi petunjuk jalan terdekat dari dusun ini.

Lahirnya Nama Kampung Dolanan

Momentum gempa bumi 2006 menjadi titik dimana Wahyudi, selaku perintis lahirnya kampung dolanan ini melakukan sebuah pergerakan.Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan pada saat itu, menjadi sebuah langkah kecil untuk mengumpulkan kembali semangat masyarakat Pandes untuk menunjukkan kearifan lokalnya.Kemudian didirikanlah Komunitas Pojok Busaya yang memberikan desa Pandes sebagai Kampung Dolanan

“Tahun 2007, Komunitas Pojok Budaya didirikan di kampung dolanan ini.Dimana tujuan utamanya melihat kembali potensi dusun Pandes”, ungkap Bimo, Ketua Komunitas Pojok Budaya.

Visi dari komunitas ini adalah ingin membantu dalam perwujudan masyarakat yang mandiri, berbudaya, religius dan peduli lingkungan sekitar. Komunitas yang terdiri dari Karang Taruna dan masyarakat Pandes pun memiliki kegiatan, misalnya saja adanya Kelompok Bermain Among Siwi dan juga kegiatan Insidental lainnya, seperti pelestarian budaya dan paket outbond untuk para pengunjung.

Kelompok Bermain Among Siwi ini memiliki sistem pembelajaran yang satu visi dengan kampung dolanan, yaitu mempergunakan alam dan alat-alat traadisional sebagai media pembelajarannya. Begitu juga dengan paket outbond yang ditawarkan berbeda dari outbond pada umumnya. Kampung Dolanan memberikan sebuah pembelajaran dalam membuat dolanan langsung dari simbah-simbah.Begitu juga pelestarian busaya yang ada di desa ini, seperti gejog lesung, karawitan, wayang dan jatilan.

Eksistensi Dolanan

Permainan yang ada di internet, gadget, playstation memang lebih menarik bagia anak-anank dibandingkan sebuah permainan tradisional yang daya tahan mainannya tidak terlalu lama.Namun, keuletan tangan simbah-simbah di dusun dalam memproduksi sebuah permainan patut diacungi jempol.Di usianya yang lebih dari 80 tahun, masih kuat untuk membuat pola dalam permainan tradisional.

Seiring dengan perkembangan jaman, jumlah simbah yang memproduksi dolanan pun semakin sedikit.Awalnya hampir semua masyarakat dusun ini memproduksi dolanan hingga kini hanya 4 yang tersisa. Mbah Karto, Mbah Joyo, Mbah Sis dan Mbah Atemo sebagai pelestari buda dalam permainan dolanan.

Image

Gambar 2. Mbah Joyo saat membuat klontongan

“yaaa…kalau saya sudah tidak ada. ya sudah tidak ada lagi yang meneruskan. Anak-anak sekarang sudah pada merantau dan berbeda”, ungkap mbah Joyo saat ditemui di bilik bambunya.

Hal ini pun diungkapkan oleh Mas Bimo, salah satu komunitas Pojok Budaya.Pada dasarnya, memproduksi sebuah dolanan bukan menjadi salah satu pilihan bagi generasi sekarang disebabkan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Membuat dolanan memang bukan menjadi sebuah pilihan mata pencaharian di era ini, namun ini dapat diakali dengan membuat re-design dari dolanan itu sendiri.

Uniknya Dolanan

Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung, kitiran, kandangan, klontongan  dan kepat merupakan dolanan khas yang dihasilkan di desa ini. Angkrek adalah sebuah permainan yang dibentuk dari pola kertas, dimana keunikannya kaki dan tangannya dapat digerakkan secara bersamaan.Hebatnya lagi, wayang kulit dan angkrek buatan dari dusun Pandes tidak digambar terlebih dahulu baru digunting.Namun, simbah-simbah memotongnya langsung dengan mudahnya.Pewarnaan dalam permainan ini juga masih menggunakan pewarna tradisional, semacam seperti pewarna pakaian yang kita sebut teres. Kemudian simbah-simbah melukiskannya di atas kertas tersebut.

Image

Gambar 3. Dolanan : Payung, Agkrek dan Wayang

Begitu halnya dengan pola pada permainan kitiran, kepat (payung), kandangan dan klontongan yang dibuat dari bambu.Tangan-tangan simbah ini mampu memilih mana bambu yang cocok dan bagaimana membentuknya menjadi menarik.Oleh karena itu, tidak salah jika tradisi ini sudah turun-temurun.

Produksi dolanan di desa ini tidaklah semat-mata hanya untuk mata pencaharian para simbah-simbah pada jaman dahulu.Walaupun secara fisik hanyalah sebuah permainan, ternyata dibalik dari sebuah dolanan banyak makna yang ingin disampaikan.

“Dalam permainan sebuah ada yang disebut multiple intelligent  atau kecerdasan majemuk, yang terdiri atas kecerdasan irama, kinestetis dan rasa, atau dalam bahasa jawanya wiromo, wiroso dan wirogo”, ungkap Pak Wahyudi.

Penasaran ingin bermain mengingat-ingat saat kita kecil? Serta mau bersama-sama melestarikan dolanan ini sendiri. Yukk langsung saja ke Kampung Dolanan, banyak hal yang menarik disana !

Categories: Artikel/Paper

CANDI SAMBISARI – Yang Hilang Telah Ditemukan Kembali

Oleh : Hugo Dalupe / 070903424

Indonesia sangat terkenal dengan banyak peninggalan sejarah dan budaya. Peninggalan tersebut banyak yang terkubur dan seolah hilang dimakan waktu. Padahal sesungguhnya, benda-benda sejarah itu mewakili perkembangan peradaban bangsa. Di Pulau Jawa terutama Jogja dan Jawa Tengah, kita dengan mudah menjumpai candi-candi terkenal seperti Prambanan dan Borobudur. Kedua candi ini menjadi cagar budaya yang sangat terkenal sampai ke manca Negara dan bahkan menjadi ikon cagar budaya Indonesia.

Salah satu candi yang juga memiliki nilai sejarah tinggi adalah Candi Sambisari. Candi ini terletak di desa Sambisari, Purwomartani, Sleman, sekitar 12 km dari pusat kota Yogyakarta . Penamaan Sambisari sendiri sesuai dengan nama areal persawahan yang subur di Yogayakarta dimana candi itu berada.

Movie SAMBISARI 002

Candi Sambisari diketemukan sekitar tahun 1966 oleh seorang petani yang sedang mencangkul di sawahnya. Secara tidak sengaja ia membenturkan cangkulnya pada puncak candi yang terbenam di tanah persawahannya. Petani tersebut bernama  Karyowinangun yang kemudian melaporkan temuannya kepada kepala desa setempat.

Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menindaklanjuti laporan tersebut. Mereka akhirnya melakukan penelitian dan penggalian. Dari hasil penggalian itu, pada tahun 1966 dipastikan ternyata di daerah tersebut terdapat sebuah situs candi dan dinyatakan sebagai daerah cagar budaya. Proses penyusunan dan rekonstruksi kembali reruntuhan candi yang runtuh dimulai.

Movie SAMBISARI 004

Candi Sambisari diperkirakan dibangun pada abad ke-10. Candi Sambisari sudah lama terkubur dan ditelan bumi karena material letusan gunung Merapi di tahun 1006. Sejak ditemukan kembali, perlu waktu sekitar 21 tahun untuk pemugaran dan rekontruksi ulang terhadap bangunan candi. Ditemukan bahwa candi tersebut berada pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah. Maka candi ini sering disebut sebagai candi bawah tanah.

Salah satu keunikan yang ditemukan dari candi ini adalah konstruksi bangunannya yang tidak menggunakan pondasi yang tinggi seperti yang kita temukan di Prambanan atau candi-candi lain. Candi ini dibangun tanpa alas langsung di atas permukaan tanah. Di samping itu, badan dinding candi Sambisari lebih pendek jika dibandingkan dengan candi lainnya.

Untuk mencapai lokasi, candi sambisari terletak sekitar 12 km ke arah timur kota Yogyakarta di sebelah utara dari jalan utama antara Yogyakarta dan Solo. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan bus jurusan Yogya-Solo. Tiba di kilometer 10, terdapat papan penunjuk jalan menuju candi Sambisari. Dari tepi jalan besar, kita dapat melanjutkan perjalanan sekitar 2 km lagi yang dapat ditempuh dengan alat transportasi lokal, seperti dokar atau ojek.

 

Categories: Artikel/Paper

Wisata Malam Bersama Keluarga di Taman Pelangi

Berwisata di malam hari bukanlah hal yang sulit di Yogyakarta. Banyak tempat di Yogyakarta yang dapat dikunjungi pada malam hari seperti wisata sepeda di alun-alun selatan dan masih banyak lagi. Walaupun bukan sesuatu yang sangat baru di Jogja, namun ini adalah pertama kali penulis mengunjungi tempat wisata keluarga Taman Pelangi yang terletak di kompleks Monumen Jogja Kembali. Read more…

Klenteng Sam Poo Kong, Sentuhan Tiongkok di Semarang

Oleh: Elfreda Ruth Simbolon (100904212)

Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Indonesia dengan semboyan bhineka tunggal ikanya menyajikan keragaman di tiap daerah.  Salah satunya di propinsi Jawa Tengah. Keragaman agama dan budaya di Semarang tak diragukan lagi. Mesjid Agung, Gereja Blenduk, Pagoda Avalokitesvara, dan Klenteng Sam Poo Kong menjadi saksi sejarah keragaman religiusitas di Semarang.

Klenteng Agung Sam Poo Kong, nama yang sudah menjadi destinasi liburan di Semarang. T00296[20-20-26]erletak di Jalan Simongan Raya 129, tak sulit untuk menjangkau daerah ini. Taksi sebagai salah satu kendaraan yang mudah ditemui di sana, dapat menjadi salah satu solusi untuk mencapai Klenteng Sam Poo Kong.

Klenteng Sam Poo Kong memiliki lahan parkir yang luas. Disambut dengan gerbang yang bertuliskan Sam Poo Kong dan tulisan Sam Poo Kong yang sepintas seperti tulisan Hollywood menyambut pengunjung. Sayang rasanya jika pengunjung tak mengabadikan gambar di sini.

Dengan membayar tiga ribu rupiah, wisatawan lokal sudah bisa menikmati nuansa diKlenteng Sam Poo Kong. Sayangnya, untuk masuk ke lokasi pemujaan, harus mengeluarkan uang lagi sebesar tiga puluh ribu rupiah. Tapi, bagi pengunjung yang memang melakukan sembahyang, tidak dikenakan biaya.

Area Klenteng Sam Poo Kong dipenuhi oleh ornamen khas Negara Tirai Bambu. Mulai dari patung-patung yang menggambarkan sosok khas tiongkok hingga naga yang bertengger di atap bangunan. Warna merah menyala yang menghiasi warna bangunan menambah semarak suasana klenteng.

Ruang kosong di antara bangunan-bangunan merah hanya diisi oleh beberapa patung. Ruang hijau tersedia di pinggir bangunan dekat tempat pembelian souvenir. Tak adanya ruang hijau di antara ruang kosong ditambah sengatan matahari membuat pengunjung lebih memilih untuk beristirahat di situ.

Adanya klenteng Sam Poo Kong tak lepas dari sosok yang melekat di dalamnya, Laksamana Zheng He. Laksamana Zheng He, sang duta perdamaian memimpin armada muhibah mengunjungi Champa, Sumatera, Palembang, Jawa, Srilanka, dan Kalikut di masa kekaisaran Yong Le, Dinasti Ming.Patung Laksamana Zheng He

Bila tak mengetahui sosok Laksamana Zheng He, Klenteng Sam Poo Kongmenghadirkan sosok Sang Pembawa Perdamaian dalam sebuah patung. Patung yang menggambarkan sosok gagah nan bersahaja ini diresmikan pada tanggal 29 Juli 2011 oleh Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo.

Klenteng Sam Poo Kong menyediakan jasa untuk berfoto dengan menggunakan pakaian tradisional dari Dinasti Cina. Dengan membayar Rp 75 ribu, pengunjung bisa mendapatkan kenang-kenangan sebagai orang Tiongkok sehari. Didominasi oleh warna merah pada pakaian, serasi dengan suasana Sam Poo Kong.

“Sam Poo Kong itu bagus buat tempat liburan, selain untuk tempat beribadah. Berasa di negara Cina”, tutur Desi (20) mahasiswi asal Yogyakarta.

Sudahkah memilih destinasi liburan di Semarang? Di Klenteng Sam Poo Kong, rasakan suasana negeri tirai bambu di Indonesia.

 

Categories: Artikel/Paper

Pasar Triwindu: Antik dan Berarti

Barang antik merupakan barang yang cukup sulit untuk kita temui sekarang ini. Keberadaan pasar yang memnjual barang-barang antik juga sangat jarang ditemui di Indonesia. Dari berbagai tempat yang ada di Indonesia hanya terdapat beberapa daerah saja yang terdapat pasar yang menjual barang-barang antik.

Di pulau Jawa sendiri pasar barang antik jarang ditemui, namun pasar barang antic ini terdapat di salah satu daerah di Pulau Jawa yaitu Solo. Pasar barang antic yang dikenal dengan Pasar Triwindu merupakan salah satu pasar yang menjual berbagai barang antik.

Pasar ini memiliki konsep bangunan yang dipenuhi dengan atap kayu. Dengan dominasi warna coklat dan wayang yang menjadi fokus mata ketika pertama kali berkunjung ke pasar ini. Pasar ini melayani pembeli pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Topeng Unik di Pasar Triwindu

Pasar yang terletak di JL. Pangeran Diponegoro Solo Kota ini memiliki berbagai macam barang-barang antic yang ditawarkan untuk para penggemar barang antik. Barang yang dapat kita temui di Pasar Triwindu seperti alat-alat daput yang digunakan pada zaman dahulu misalnya teko serta gelas-gelas yang biasa kita temui di film-film tahun 1980an.

Tidak hanya perlengkapan dapur dan alat memasak saja, Pasar Triwindu juga memiliki ragam barang antic lain seperti lampu serta interior dalam ruangan. Lampu-lampu yang tersedia di Pasar Trwindu kebanyakan lampu model barat yang penuh dengan kaca. Lampu yang biasa diletakkan di ruang tamu dengan menampilkan kemewahannya. Selain lampu terdapat juga wayang, patung, topeng, serta alat eletroknik zaman dahulu seperti radio.

            Barang-Barang di Pasar Triwindu

Barang-barang tersebut dipajang didepan masing-masing toko sesuai dengan selera penjual. Barang yang terdapat dari satu toko ke toko lain cenderung sama, namun yang membedakan adalah jenis barang sesuai dengan selera para penjual itu sendiri. Di setiap sudut pasar yang kita temui hanyalah barang-barang lawas, sesuai dengan ketenaran Pasar Triwindu itu sendiri.

Pasar Triwindu telah menjadi tempat yang sangat berarti bagi Bapak Agus salah satu penjual di pasar ini. Bapak Agus memulai karirnya dengan berjualan di Pasar Triwindu sejak kecil, ia melanjutkan usaha orang tuanya yang berjualan di pasar antik ini.

“Saya berjualan disini sudah lama, dari zaman saya kecil saya sudah disini. Ya saya meneruskan usaha kedua orang tua saya”, tegasnya.

Barang-barang yang terdapat di toko Pak Agus sendiri berupa lampu, patung, meja dan sebagainya. Harga yang ia berikan untuk barang-barang tersebut berkisar dari Rp 50.000,00 hingga ratusan ribu rupiah. Berbekal pengetahuan dari kedua orang tuanya ia tidak kesulitan dalam memperoleh barang-barang tersebut. “Biasanya kalau barang ada yang kita produksi sendiri, ada juga yang kita beli dari rumah ke rumah, ya berkeliling mencari sendiri barang-barangnya”, ujarnya.

Selain wisatawan local terdapat juga wistawan mancanegara yang berkunjung ke pasar ini. Agus mengaku untuk barang yang sering dicari wisatawan tidak menentu akrena sesuai dengan selera pembeli masing-masing. Sebagian besar wisatawan asing membeli souvenir berupa topeng yang mudah untuk dibawa. Namun untuk wisatawan local sendiri kebanyakan membeli lampu serta meja. Lampu yang terdapat di toko Bapak Agus merupakan lampu hasil reproduksi sendiri namun masih juga terdapat lampu-lampu antik. Walaupun produksi sendiri, Bapak Agus telah mendapat kepercayaan dari para pembelinya, sehingga ia sering menerima orderan dengan partai besar.

Salah satu etalase di dalam pasar

Pasar Triwindu menjadi tempat yang sangat berarti bagi Bapak Agus serta penjual lain yang mengais rezeki untuk menghidupi keluarga. Selain itu pasar ini juga menjadi tempat yang langka dimana hanya ada satu jenis barang yang dipasarkan. Dengan lokasi yang mudah dijangkau maka pasar ini dapat mewujudkan hasrat dari para penggemar barang antik untuk memiliki serta menambah koleksi pribadinya.

Maria Goretti Kartika Putri Legi

100904199

Categories: Artikel/Paper

Bumen, Kotagede (Masa Lalu dan Kini)

Image Oleh: Natalia Avikma Manuk (101004010) Secara geografis, Kecamatan Kotegede merupakan kecamatan yang terletak di bagian paling timur Kota Yogyakarta. Arus transportasi dan kepadatan penduduk, merupakan gambaran umum bagi keramaian suatu daerah sehingga sangat dimungkinkan muncul permasalahan-permasalahan, konflik-konflik, dan kepentingan-kepentingan lain yang bersifat individu maupun kelompok. Batas-batas wilayahnya,  sebelah utara, timur dan selatan berbatasan dengan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Kotagede merupakan kawasan fungsi campuran yang mengalami banyak perubahan baik fisik maupun sosial dalam kurun waktu lama. Bertahannya vitalitas ruang-ruang publik pada kawasan mengindikasikan kemampuannya memadukan kebutuhan aktivitas sosial masyarakat dengan konteks kawasan yang berubah. Selain itu Kotagede merupakan kawasan yang memiliki banyak kesamaan karakter dengan kawasan studi: fungsi awal sebagai kawasan permukiman, letak geografis, maupun sosial budaya berupa kehidupan bersama komunitas  yang heterogen. Kecamatan Kotagede adalah wilayah kecamatan di Kota Yogyakarta. Terdapat sentra industri kerajinan perak, terpusat di Kelurahan Purbayan dan Kelurahan Prenggan. Industri kerajinan perak dilakukan dengan mandiri atau berkelompok dan bersifat rumah tangga. Sebagian besar penduduk di dua kelurahan ini memanfaatkan air sumur (air tanah) sebagai sumber air bersih. Lebih dari 10% penduduk di dua kelurahan tersebut bekerja di industri kerajinan perak. Terdapat kelompok-kelompok pengrajin yang melakukan usaha, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengecoran logam, pembentukan logam, pelapisan hingga finishing, semua dilakukan dalam skala rumah tangga. Industri skala rumah tangga ini menimbulkan limbah padat dan limbah cair yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) serta  berpotensi mencemari lingkungan. Mangkubumen (Bumen) merupakan salah satu wilayah di Kotagede. Jika dilihat dari rata-rata tingkat pendidikannya adalah lulusan SMA. Alasan para warga untuk tidak meneruskan pendidikan anaknya hingga ke perguruan tinggi karena faktor ekonomi dan para warga beranggapan daripada meneruskan ke perguruan tinggi akan lebih berguna jika anaknya membantu orangtuanya dalam berwiraswasta. Menurut beberapa narasumber menyatakan bahwa sebagian warga di Kotagede merupakan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Keterlibatan dalam PKI yang membuat para warga ini diperlakukan secara diskrimiatif oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahu 1965, misalnya saja dibatasinya akses untuk mendapatkan pekerjaan sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada para warga yang terindikasi terlibat dalam kegiatan PKI. Keterbatasan akses tersebut yang membuat para warga di Kotagede ini memilih matapencaharian sebagai wiraswasta dan sebagian besar memilih sebagai perajin logam—mulanya sebagai perajin teko. Pemilihan matapencaharian sebagai perajin logam ini karena pada masa pemerintahan Presiden Soekarno menggalakan adanya KPBK (Koperasi Perajin Blek Kotagede) untuk membantu para warga mendapatkan bahan baku murah dalam memproduksi kerajinan logam dan membantu pemasaran. Kemudian seiring waktu, para perajin di Kotagede lebih memfokuskan produksinya dengan bahan baku perak dan emas. Namun setelah peristiwa Bom Bali, produksi kerajinan emas mulai terhenti, karena pemasaran terbesarnya adalah di Bali, dan kini sebagian warga hanya memproduksi kerajinan perak. Kehidupan usaha kerajinan perak pun saling bersaing antara perajin perak berskala rumah tangga dengan pengusaha perak yang kini mulai merangkak membesarkan modalnya. Para perajin kecil pun kini mulai terhimpit dengan aura persaingan yang tidak seimbang ini—dilihat dari kepemilikan modal yang timpang—maka tak sedikit pula perajin kecil pun, yang kini semakin sedikit menerima pesanan, tak kuasa menolak kepentingan pengusaha perak yang sudah mapan untuk menjadikannya pekerja dengan upah yang minim. Hal tersebut ditambah akses pekerjaan yang minim bagi para perajin kecil ini yang rata-rata pendidikannya hanya lulus SMA. Mulanya para perajin rumah tangga ini telah berusaha untuk berkompetisi dengan para pengusaha perak, usaha yang dilakukan dengan mengikuti berbagai pameran industri untuk mendongkrak penjualan. Namun usaha tersebut hanya bertahan beberapa kali saja, kemudian perajin perak berskala industri menengah pun mulai mendominasi dalam pameran-pameran selanjutnya dengan daya tawar membayar uang sewa yang lebih tinggi. Lemahnya daya tawar pun juga terjadi dalam hal mengembangkan suatu inovasi produk yang dikreasikan oleh para perajin kecil. Ada beberapa inovasi produk yang dihasilkan oleh para perajin kecil, misalnya kerajinan perak berbentuk replika Borobudur dan kapal penisi, namun inovasi tersebut kemudian ditanggapi oleh para pengusaha perak dengan membuat produk yang serupa secara masif dengan harga yang lebih murah. Keunggulan para pengusaha perak dalam hal jejaring pemasaran pun semakin mematikan usaha para perajin kecil. Akhir yang serupa pun juga mewarnai Koperasi KP3Y yang dulunya berfungsi untuk menampung produk para perajin kecil yang kemudian akan dibantu dalam hal pemasaran, namun kini koperasi ini didominasi oleh para pengusaha perak dan menyingkirkan kepentingan para perajin kecil. Bahkan fungsi koperasi untuk mengatur standar harga antar pelaku usaha perak ini pun hanya berlaku bagi para pengusaha perak—tanpa mempertimbangkan para perajin kecil. Harga yang dipatok oleh pengusaha perak terbilang lebih murah dibandingkan dengan para perajin kecil karena peralatan yang dimiliki para pengusaha tersebut lebih memudahkan dalam melakukan produksi dalam skala besar secara cepat dengan sistem cetak—sedangkan para perajin kecil hanya melakukan pekerjaannya secara manual, sehingga dari segi harga pun akan lebih mahal.

Categories: Artikel/Paper

Satu Kota, Dua Makna, Tiga Tempat

Febriyadi Halim (100904206)

Bandung, sebuah kota di Indonesia yang merupakan ibukota dari Jawa Barat, menjadi destinasi pilihan penulis untuk dikunjungi terkait tugas akhir dari mata kuliah jurnalisme online. Kopitiam Oey di Jalan Braga, Straits Kitchen dan Jun Njan Restaurant di Trans Studio Mall merupakan tiga tempat yang berbeda, bertolakbelakang, serta memiliki filosofi yang berbeda pula.

Kopitiam Oey, sebuah tempat makan yang terletak di bilangan Jalan Braga yang terkenal akan desain arsitekturnya yang menyerupai kota tua. Trans Studio Mall, tempat bernaungnya Straits Kitchen dan Jun Njan Restaurant merupakan sebuah simbol kapitalisme dunia barat dengan pusat perbelanjaan modernnya. Tiga tempat, satu kota, namun memiliki dua makna serta filosofi yang berbanding terbalik.

Desain arsitektur zaman dahuluIMG_00000429 dengan nuansa zaman kolonial, menjadi sajian menarik bagi mata setiap pengunjung yang datang ke Kopitiam Oey. Guruh Soekarnoputra baru-baru ini mengemukakan bahwa kredo Bung Karno yang terkenal yaitu “Jas Merah”, dimana seringkali kita terjemahkan menjadi “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” adalah kurang tepat. Guruh meluruskan bahwa terjemahan yang benar adalah “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Bangsa Indonesia pernah dijajah, itu adalah sejarah. Peninggalan sejarah sudah semestinya dilestarikan dan dijaga keberlangsungan hidupnya, supaya generasi penerus dapat mengingat seberapa pahitnya perjuangan hidup bangsa ini, sehingga dapat menjadi pemicu kebangkitan di masa yang akan datang.

Potret kapitalisme barat terpampang jelas dalam sebuah wadah raksasa bernama Trans Studio Mall. Straits Kitchen sebagai salah satu entitas yang terdapat didalamnya, turut menjadi pengejawantahan dari simbol kapitalisme. Bangunan megah serta desain arsitektur barat menjadi hal yang menonjol dari Straits Kitchen. Jun Njan Restaurant sebagai restoran dengan menu chinese food, yang juga berdiri di atas lahan kapitalisme tahu betul bagaimana memadukan kedua hal yang bertolakbelakang tersebut. Nuansa klasik yang menjadi ciri khas bangsa Cina tetap dipertahankan sedemikian rupa. Kopitiam Oey dan Jun Njan Restaurant merupakan dua contoh konkret dimana tradisi serta histori sebuah bangsa, tidak terlupakan begitu saja seiring perkembangan zaman. Sedikit perenungan yang mungkin tidak terkait dengan topik pembahasan, akan penulis sajikan di bawah. Sebuah kredo favorit penulis yang terinspirasi dari pengalaman serta lika-liku hidup penulis selama ini. Terima kasih, sampai jumpa, salam damai bagi kita semua.

-Dunia ini terbentuk bagi dan oleh mereka yang bertopeng rupa-

Categories: Artikel/Paper

Menelusuri Kisah Masa Lampau di Museum Radya Pustaka

Anitana Widya Puspa 100904042

Solo, “The Spirit of Java” muncul sebagai ikon kota budaya telah berevolusi menjadi destinasi wisata baru. Menggabungkan antara seni,sejarah, dan  pengetahuan, Solo memiliki Museum Radya Pustaka. Bangunan Radya Pustaka memang terkesan kuno, namun itulah daya tariknya, pasalnya  museum ini merupakan  museum tertua di Indonesia. Pertama kali masuk, Patung RonggoWarsito, sastrawan Kraton termahsyur pada abad 19, menyapa di halaman depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika datang berkunjung, suasana pagi itu masih sepi, mungkin karena museum baru di buka, yakni pukul 08.30. Masuk ke dalam museum, alunan lagu gamelan jawa diperdengarkan kepada pengunjung,sedikit kecewa, karena tak secara live melainkan hanya melalui rekaman. Sesaat berikutnya, rasa kecewa itu berganti menjadi  rasa antusiasme begitu melihat wayang, khususnya jenis wayang beber. Tak pernah sekalipun saya melihat jenis wayang ini sebelumnya. Bentuk dan cara memainkan wayang beber berbeda dengan jenis wayang lain yang biasanya dimainkan dengan digerakkan. Bahan dasarnya yang terbuat dari kertas membuat ukuran wayang ini tergolong lebar. Cara memainkannya ditunjuk seperti bertutur.

 

Di bagian tengah ruangan terdapat patung Kanjeng Adipati Sosroningrat IV, sangpendiri Museum ini. Awalnya museum ini hanya merupakan paheman yang didirikanpada tahun 1890 di kediamannya, Dalem Kepatihan sebagai wadah bagi pujangga atau sastrawan Kraton untuk belajar, sebelum akhirnya tahun menjadi bagian milik kraton dan bernama Radya Pustaka. Radya berarti Kraton, sedangkan Pustaka berarti perpustakaan. Lokasinya kemudian juga dipindah ke Loji Kadipolo.

Radya Pustaka memiliki koleksi bersejarah yang tak terhitung nilai historisnya. Perabot-perabot antik juga tidak luput, seperti meja dan kursi peninggalan masa Daendels atau pun alat penerangan pada zaman dulu jauh sebelum lampu teplok. Pada ruangan yang lebih dalam, terdapat koleksi keris dan senjata pada masa lalu termasuk pedang, tombak hingga meriam Lela. Untuk jenis keris, keris Bali lah yang paling mencolok karena corak dan hiasannya berbentuk mewah, memiliki ukiran-ukiran. Pedang Amangkurat II tidak lupat dari perhatian saya karena ukirannya yang lebih condong kepada ukiran Eropa khusunya Romawi kuno.

Menyusuri sudut demi sudut ruangan, saya ditemani oleh Mas Dodo sebagai tour guide. Ruangan berikutnya adalah ruang perunggu, berbagai macam koleksi berbahan dasar perunggu, utamanya adalah perhiasan bagi para dewa. Sebut saja, kelat lenganseum tertata rapi, tarif  selasa, gelang, padmasana. Terdapat pula Stupika, bahan membuat cetakan arca kecil. Selain itu, ada duplak kuningan tempat menyimpan air, penduduk Jepang sendiri memanfaatkannya untuk membuat sake. Koleksi yang paling menonjol dari ruangan ini adalah serpihan relung rambut Avalokitesvara.

Menyebrang ke ruangan keramik, memang terdapat bermacam perabot indah memanjakan mata terbuat dari porselin. Koleksi cangkir, Mangkuk, Gelas, dan piring –piring ini indah menyilaukan mata.Apabila terdapat tanda crown ,bukan sekedar porselin pula,porselin ini merupakan hadiah pemberian dari kerajaan lain masa itu. Tentu ada yang paling indah yakni vas bunga warna merah pemberian Napoleon Bonaparte kepada Sultan HB keempat.

 

Satu set gamelan lengkap terpajang di ruang etnografika. Gamelan ini masih bisa digunakan dan justru sering digunakan agar tidak mudah rusak. Satu hal yang tak boleh terlewatkan ketika mengunjungi museum ini adalah canthik Kiai Rajamala berukuran besar di sebelah barat gamelan.  Hiasan ( canthik ) kapal yang terbuat dari pohon jati hutan Donoloyo tersebut sudah ada sejak tahun 1811 zaman pemerintahan Paku Buwono IV. Fungsi utamanya adalah sebagai transportasi permaisuri PB IV untuk pulang ke Madura. Sedikit berbau ritual, Kiai Rajamala yang berwajah garang warna merah ini masih rutin diberi sesajen.

 

Satu Ruangan tertutup bernama perpustakaan. Ruangan ini menyimpan manuscriptdari abad 17 hingga 19. Koleksi perpustakaan Radya Pustaka terdiri dari Jawa Carik ( tulis tangan ), Babad Mataram, Kawruh Empu ( buku tentang keris ), hingga buku-buku Belanda seperti De Java – Oorlog Van 1825 – 1830,  Babad Tanah Jawi Pararaton ( Ken Arok ), buku-buku pembuatan keris, peta dan naskah kuno lain yang masih terawat dengan baik.  Pengunjung diperbolehkan membaca nakah-naskah kuno di sini, terkecuali untuk yang telah berum 50 hingga 100 tahun ke atas, rentan rusak. Koleksi manuscript di sini bahkan mencapai puluhan ribu, menurut ibu Yanti, staff perpustakaan.

 

Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi saya untuk bisa menikmati seluruh koleksi museum. Tanpa saya sadari pula bahwa sudah dua jam lamanya namun pengunjung museum hanya segelintir orang. Menanggapi pertanyaan saya, Mas Dodo menerangkan bahwa jumlah pengunjung tidak bisa ditebak, terkadang bisa datang banyak sekali terutama rombongan wisata dari sekolah atau universitas, bahkan turis. Bergantung pada hari juga, Sabtu-Minggu biasanya lumayan ramai. Tetapi ia juga mengakui kalau untuk pengunjung individu terlepas dari rombongan memang sedikit.

Banyaknya koleksi museum memang harus benar-benar dijaga dan dirawat agar tetap bertahan. Radya pustaka setiap tanggal ulang tahun museum melakukan mises ringgit, khususnya untuk mencuci keris dan wayang. Barang-barang dari perunggu memerlukan perhatian khusus untuk merawat bahkan mendatangkan ahli khusus. Cukup membahayakan juga bagi pengunjung untuk memegang setelah koleksi dibersihkan karena pembersihannya melibatkan cairan kimia.

 

Menikmati dan melihat berbagai macam koleksi di museum ini membuat saya terpukau akan kehebatan sejarah. Serasa melakukan perjalan masa lampau dengan mesin waktu. Dengan hanya membayar 5ribu rupiah, kita bisa merasakan setiap kisah masa lampau, dengan keindaahan nilai seni, keunikan,  dan historis, serta tambahan pengetahuan di museum Radya Pustaka. Anda bisa berkunjung ke museum ini setiap hari terkecuali hari senin,  konvensi museum internasional telah menetapkan sebagai hari libur museum.

 

 

 

Categories: Artikel/Paper

SAM POO KONG: Eksotisme Negeri China di Semarang

Oleh: Ph. Angga Purenda 100903980

Image

Klenteng Besar Sam Poo Kong

Jumat (24/5) Pagi itu cuaca cukup cerah dengan langit berwarna biru serta matahari yang begitu gagah memancarkan sinarnya di atas Kabupaten Ungaran, Jawa Tengah. Di sisi lain saya sedang menyiapkan berbagai bekal untuk menjadi teman perjalanan ketika akan mengarungi sebuah Kota yang terkenal dengan cuaca panasnya yaitu Semarang. Beruntung saya ditemani seorang pemandu wisata yang sudah mengenal betul tentang tempat wisata di Kota Semarang dan sekitarnya yaitu Adit.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Adit, cukup sulit apabila perjalanan ditempuh dengan menggunakan transportasi umum ketika akan mengunjungi salah satu tempat wisata unggulan di Semarang tersebut. Sehingga perjalanan ditempuh dengan mobil sewaan cukup murah dari Kabupaten Ungaran. Akhirnya pada pukul 08.00 WIB perjalanan dimulai dari Kabupaten Ungaran menuju Kota Semarang.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya saya sampai disebuah tempat yang memiliki bangunan didominasi warna merah menyala yang begitu khas dengan negara China. Tempat tersebut bernama Sam Poo Kong sebuah klenteng yang dibangun oleh masyarakat keturunan China di Kota Semarang dan sekitarnya untuk menghormati jasa-jasa seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu, karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu.

Sam Poo Kong sendiri terletak di Jl. Simongan No. 129, Kelurahan Bongsari, Semarang Selatan, Semarang. Klenteng ini menjadi destinasi wajib para traveler ketika  mengunjungi Kota Semarang karena di dalamnya menawarkan berbagai kemegahan khas negeri China. Tiket masuk ke area Sam Poo Kong ini cukup murah yaitu hanya Rp 3000 saja. Ketika memasuki area Sam Poo Kong bersama Adit yang menjadi pemandu wisata kali ini disambut dengan bangunan arsitektur khas China.

Lampu lampion juga terlihat menggantung di pohon-pohon sekitar area yang menambah suasana serasa di Tiongkok. Adit menjelaskan jika area ini dulunya merupakan napak petilasan dari Laksamana Cheng Ho yang mendarat di Kota Semarang.  “Klenteng Sam Poo Kong ini dipercaya sebagai tempat persinggahan pertama Cheng Hoo ketika berlayar melintasi Laut Jawa” ujarnya.

Di area yang begitu luas ada hal yang menarik perhatian saya adalah sebuah patung perunggu setinggi kurang lebih 10 meter. Patung tersebut adalah Laksamana Cheng Hoo yang begitu gagahnya tepat di salah satu sudut area Sam Poo Kong tersebut. Terlihat juga sebuah pintu yang sangat besar dengan dominasi merah menyalanya persis seperti pintu-pintu di kerajaan China.

Panorama serba merah ini menjadi daya tarik saya ketika mengunjungi Sam Poo Kong ini sehingga tidak ketinggalan pula saya memotret momen menarik tersebut. Ketika saya diajak keliling oleh Adit sebenarnya saya melihat beberapa pekerja sedang menyelesaikan sebuah bangunan dengan melakukan pengecatan. “Memang Sam Poo Kong ini menjadi destinasi unggulan di Jawa Tengah dan masuk dalam program Visit Jawa Tengah 2013,  jadi ada tahap pengembangan wisata terhadap klenteng ini” ujarnya.

Image

Patung Laksamana Cheng Ho

Klenteng Sam Poo Kong sendiri selain sebagai tempat berdoa atau berziarah bagi umat Konghucu, memang diperuntukan untuk sebagai tempat wisata. Sehingga saya tidak heran jika klenteng ini banyak dikunjungi oleh masyarakat. Seperti terlihat pada waktu itu barisan anak-anak TK bersama gurunya asyik menikmati perjalanan di sekitar area Sam Poo Kong. Satu persatu mereka di foto oleh gurunya bersama patung Laksamana Cheng Ho dan di depan Klenteng.

Adit memberikan informasi kepada saya jika ingin mengunjungi bangunan utama dari Sam Poo Kong ini wajib membeli tiket seharga Rp. 20.000. Maka itu atas saran Adit saya membeli tiket masuk tersebut karena penasaran dengan beberapa klenteng disana dan melihatnya dari dekat. Bangunan utama yang dimaksud oleh Adit adalah sebuah klenteng yang cukup besar yang memiliki atap yang bertingkat yang sangat jarang ditemui klenteng dengan arsitektur tersebut.

Cerita mengenai kedatangan Laksamana Cheng Ho dapat ditelusuri dari pahatan-pahatan dinding yang berada di belakang Klenteng Besar tersebut. Dibawah pahatan tersebut terdapat sebuah tulisan yang menjelaskan perjalanan Laksamana Cheng Ho dalam 3 bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia, Inggris dan China. Tak jauh dari pahatan dinding tersebut terlihat beberapa umat sedang berdoa menghadap sebuah gua batu, dimana didepannya terdapat altar kecil. Tempat tersebut diyakini menjadi awal pendaratan dari Laksamana Cheng Ho sendiri. Menariknya terdapat juga umat muslim yang melakukan doa di area klenteng tersebut dengan membawa hio serta dipandu oleh penjaga dari klenteng tersebut.

Berdasarkan informasi dari Adit jika adanya umat islam yang melakukan doa di klenteng tersebut disebabkan dari sosok Laksamana Chen Ho yang diyakini beragama islam. “Jika kita lihat beberapa bentuk bangunan di kompleks Sam Poo Kong ini, unsur perpaduan antara Konghucu dan Islam sangat tampak” ujarnya. Sehingga kehadiran Sam Poo Kong ini dapat menjadi contoh menunjukkan kehidupan berinteraksi antar sesama, dengan mengesampingkan perbedaan yang ada.

Image

Para umat Konghucu sedang berdoa dengan menghadap Goa Sam Poo Kong

Selesai menikmati pahatan-pahatan yang menceritakan perjalanan Laksamana Cheng Ho serta klenteng besar tersebut. Tak ketinggalan pula menikmati sebuah deretan patung yang merupakan dewa-dewi, namun sayang tulisan yang ada dibawahnya dengan menggunakan huruf China sehingga saya tidak mengerti nama dari dewa dan dewi tersebut.

Pemandu Wisata saya kali ini Adit, memberi tahu jika di Sam Poo Kong terdapat jasa pemotretan dengan menggunakan baju tradisional China dengan latar belakang megah klenteng. “Disini juga ada jasa pemotretan menggunakan baju tradisional China harganya Rp.75.000” ujarnya. Namun saya tidak mengambil kesempatan tersebut karena lebih baik untuk istarahat di bawah pohon yang begitu rindang dengan hiasan lampu lampion. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk menanyakan kesan beberapa pengunjung Sam Poo Kong.

Menurut Erna yang merupakan pengunjung asal Ungaran ini menuturkan jika dirinya baru pertama kali mengunjungi Sam Poo Kong ini. “Ini pertama kalinya saya ke Sam Poo Kong, klentengnya sangat menarik dengan warna merahnya” tuturnya. Lebih lanjut Erna mengatakan jika pemerintah seharusnya menggalakan lagi tentang Visit Jawa Tengah tertutama pada destinasi andalannya seperti Sam Poo Kong agar semakin banyak masyarakat yang mengunjungi tempat tersebut.

Berbeda lagi dengan Erna, Endang seorang Ibu ini terlihat sangat menikmati liburannya dengan mengunjungi Sam Poo Kong. “Sam Poo Kong sangat bagus, terlebih lagi banyak tempat yang menarik untuk pemotretan dengan latar belakang klenteng” ujarnya. Kesempatan berkunjung tersebut, digunakan Endang untuk berfoto bersama patung Laksamana Cheng Ho dan dewa-dewi disekitar kompleks tersebut.

Akhirnya setelah cukup puas menikmati Sam Poo Kong yang begitu luas tersebut, saya memutuskan untuk pulang dan berpamitan dengan Adit yang selama ini menjadi pemandu wisata saya di Kota Semarang. Sam Poo Kong telah memberikan saya pembelajaran dan inspirasi yang sangat berharga mengenai kerukunan umat beragama. Melalui kebesaran Laksamana Cheng Ho pula, segala perbedaaan dapat dapat disampingkan dan justru membangun hubungan antar umat dengan begitu harmoni.

Image

Letak dari Sam Poo Kong

 

 

Categories: Artikel/Paper

Pagoda Avalokitesvara, Bukti Cinta Untuk Dewi Kwan Im

Dyah Arum Narwastu (100904055)

Mewah dan mempesona, dua kata yang nampaknya layak digunakan untuk menggambarkan bangunan bernama Pagoda Avalokitesvara. Sebuah tempat ibadah sekaligus tempat wisata yang dibangun di lahan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. Tidak sulit menemukan bangunan ini, cukup menuju Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang, maka tingginya bangunan ini akan langsung mencuri fokus siapapun yang melewati daerah tersebut.

DSC_2030Terdapat banyak hal yang ditawarkan di tempat ini, semuanya tentu saja berhubungan dengan wisata rohani. Diantaranya, bangunan Pagoda Avalokitesvara setinggi 45 meter yang didominasi oleh warna merah dan kuning keemasan. Dalam budaya China, warna merah melambangkan keberuntungan, sedangkan warna kuning keemasan dipercaya menghasilkan Yin dan Yang. Kepercayaan ini membuat warna kuning dilambangkan sebagai bentuk netralisasi dan keberuntungan.

Selain pagoda, di kawasan Vihara ini ada pula patung Siddhartha Gautama yang sedang bersemedi di bawah pohon Bodhi. Pohon Bodhi yang ada di Vihara ini merupakan cangkokan dari Pohon Bodhi yang ada di Anuradha Vihara Srilanka. Sedangkan Pohon Bodhi yang ada di Anuradha Vihara Srilanka adalah keturunan dari Pohon Bodhi yang ada di Bodhagaya, India.

Pagoda Avalokitesvara dibangun sebagai bentuk penghargaan terhadap Dewi Kwan Im. Terdapat 24 patung Dewi Kwan Im yang terpasang mengelilingi enam tingkat pagoda. Pengunjung tidak hanya bisa melihat patung Dewi Kwan Im, namun juga bisa berdoa langsung kepadanya.

DSC_2017Aroma dupa terasa sangat menyengat ketika api dari sebuah kotak yang disediakan menyentuh ujung dupa tersebut. Pembakaran dupa memang harus dilakukan sebagai tahapan dalam ritual Ciamsi untuk memohon ijin kepada Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im tidak mengijinkan sembarang orang untuk bertanya kepadanya, maka dari itu ritual ini perlu untuk dilakukan. Pembakaran dupa harus dibarengi dengan persembahyangan menurut agama dari seseorang yang ingin bertanya tersebut. Penyebutan nama, usia, dan pertanyaan yang ingin diajukan dilakukan pula dalam tahap ini, tentunya kesemua itu diucapkan di dalam hati.

Ritual dilanjutkan dengan melempar Poa Pwee, dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran yang memiliki dua sisi berlainan. Jika Poa Pwee jatuh dengan dua sisi yang berlainan, maka orang yang melemparnya diijinkan untuk melanjutkan ritual. Namun apabila sisi yang terbuka sama, itu berarti Dewi Kwan Im tidak mengijinkannya untuk bertanya.

Jawaban dari pertanyaan yang diajukan dapat diperoleh dengan mengocok beberapa bambu yang terdapat pada suatu wadah. Satu batang bambu yang jatuh adalah jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan. Namun, kesalahan masih mungkin terjadi dalam tahap ini. Maka untuk memastikan lagi, kita harus bertanya lagi kepada Dewi Kwan Im dengan melempar Poa Pwee. Bila jawaban yang kita peroleh memang benar merupakan jawaban dari Dewi Kwan Im, maka Poa Pwee akan jatuh dengan menunjukkan dua sisi yang berlawanan.

Sebatang bambu dalam ritual Ciamsi memiliki berbagai makna yang diungkapkan dengan sebuah syair lembut berbahasa Sansekerta. Syair ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan memiliki berbagai arti sesuai dengan pertanyaan apa yang kita ajukan, baik pertanyaan mengenai rezeki, umur, maupun jodoh.

Categories: Artikel/Paper
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.