Permainan Anak Jaman Dulu VS Permainan Anak Jaman Sekarang

https://www.youtube.com/watch?v=NuB3S4Jzcb0

 

Uli Sari Simarmata (130905065)

Banyak hal yang membedakan di era 90-an dengan era sekarang, salah satunya adalah permainan. Di era 90-an, kita biasanya memainkan permainan seperti gasing, tamiya, petak umpet, congklak, dan lain sebagainya di luar ruangan. Sedangkan anak-anak jaman sekarang memainkan permainan tersebut melalui smartphone/ gadget mereka masing-masing. Permainan yang dimainkan masih sama, hanya saja mereka memainkannya di tempat yang berbeda.gasing
Dapat dikatakan jika anak-anak jaman sekarang kurang aktif saat bersama teman-temannya. Bayangkan saja, keseharian mereka sudah dilingkupi oleh gadget. Teman sepermainan mereka juga sama-sama menggunakan gadget. Rasa peduli dengan lingkungan sekitar juga semakin menurun.
Saya akan mengambil contoh yaitu adik saya sendiri yang masih duduk di kelas 3 SD. Ia mengenal permainan jaman dulu seperti yang disebutkan di atas, namun ia lebih tertarik untuk bermain melalui smartphone. Lebih enak, begitu jawabannya ketika ditanya mengenai alasan bermain gadget.
Sayang sebenarnya ketika melihat realitas yang ada. Tetapi kembali lagi, lahan yang kurang dan kemajuan teknologi yang besar tidak dapat dibendung lagi. Tidak salah ketika mereka lebih sering bermain gadget, karena memang jaman mereka adalah jaman gadget. Di mana semuanya dilakukan dengan gadget.
Namun, bila anak-anak tidak diajarkan sedikit demi sedikit permainan jaman dahulu atau setidaknya dikenalkan dengan permainan tersebut, kemungkinan permainan yang dulu sering kita mainkan masih bisa dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang.

Bagaimana Anak-anak di Jerman Memanfaatkan Waktu Luang?

Perjalanan saya menuju Eropa bersama beberapa rekan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, membuahkan banyak inspirasi bagi saya. Tujuan utama saya adalah sebuah kota kecil di Jerman bagian tengah. Daerah tersebut bernama Ilmenau. Daerah ini masuk ke dalam provinsi Thüringen.
Selain berkuliah, kami juga memiliki waktu untuk beristirahat di sela-sela hari libur. Banyak hal baru yang saya amati, terlebih mengenai bagaimana kebiasaan orang-orang disana menikmati hari libur. Pada hari Sabtu, hanya terdapat beberapa toko saja yang masih melayani pembeli. Biasanya berupa supermarket. Sekelas mini market biasanya tidak membuka gerainya. Hari Minggu merupakan hari dimana pertokoan justru libur. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di Ilmenau membeli barang-barang pada hari Sabtu dan Jumat malam. Lalu apa yang mereka lakukan pada hari libur?

Ilmenau merupakan sebuah kota yang banyak dijumpai mahasiswa. Beberapa dari mahasiswa biasanya pulang ke kota masing-masing. Lalu bagaimana dengan mereka yang telah berkeluarga? Tentunya mereka menghabiskan waktu bersama keluarga.

Saya melihat, begitu beragam cara orang-orang di Jerman mendidik anak mereka. Meskipun Jerman terkenal dengan kecanggihan teknologinya, namun tidak semata-mata hal itu membuat para penduduknya mudah beradaptasi dan menggunakan berbagai teknologi yang canggih untuk menunjang kehidupan mereka. Para orang tua lebih senang mengajak anak-anak mereka untuk melakukan aktivitas di luar rumah untuk memanfaatkan waktu luang (leisure time).

Thüringen memang terkenal daerah yang masih asri sehingga disana banyak terdapat ruang terbuka. Banyak terdapat taman-taman sebagai arena bermain. Selain taman, para orang tua juga mengajak anak mereka untuk mendaki perbukitan. Bukit tersebut dinamai Kickelhand. Di bukit tersebut, biasanya orang tua bersama anak-anak mereka menyempatkan diri untuk mendaki. Saya menemui bahkan terdapat beberapa anak balita yang telah dilatih oleh orang tua mereka untuk berjalan jauh. Selain itu, beberapa diantaranya menghabiskan waktu untuk bersepeda. Saya tertarik untuk mengamati bagaimana orang-orang disini sangat senang betul melakukan kegiatan di luar ruangan. Untuk itu, secara khusus saya melakukan wawancara dengan seorang dosen metodologi di Technische Universität Ilmenau.

Beliau bernama Mira Rohyadi Reetz atau lebih akrab disapa Mira. Beliau sudah 7 tahun bekerja di Jerman. Mira berkewarganegaraan Indonesia tetapi bekerja dan menetap di Jerman selama beberapa waktu. Suaminya berkewarganegaraan Jerman dan saat ini telah dikaruniai seorang anak bernama Michael. Mira bersama suami mendidik Michael dengan dua budaya yakni Indonesia dengan Jerman. Hal ini tentu menarik untuk dipahami.
Michael merupakan seorang anak berusia 3.5 tahun. Michael fasih berbahasa Jerman dan Indonesia. Uniknya, dengan Ibunya Michael lebih dominan berbahasa Indonesia sementara dengan ayahnya, berbahasa Jerman. Itu seperti sudah otomatis terucap begitu saja. Saat ini bersekolah di sebuah kelompok bermain yang letaknya cukup jauh dari tempat Mira mengajar yakni di Technische Universität Ilmenau. Rutinitas kesehariannya, Michael diantar ke sekolah pada pukul 8 pagi. Kemudian dijemput kembali pada jam 4 sore. Tidak hanya untuk belajar, sekolah menawarkan berbagai aktivitas lain. Disana Michael diberi pendampingan khusus, seperti ada waktu tidur siang dan makan. Aktivitas justru dilakukan dengan juga melibatkan anak-anak lain, sehingga tidak terlalu manja dan ketergantungan dengan orang tua. Setelah pulang sekolah, biasanya Mira atau suaminya datang untuk menjemput Michael. Setelah dijemput, Michael diajak untuk melakukan banyak kegiatan di luar rumah.

SONY DSC

Michael sangat suka beraktivitas di luar rumah seperti bersepeda dan bermain di kotak pasir. Baik Mira maupun suaminya memang tidak mendidik Michael untuk ketergantungan dengan gadget. Sesekali Michael memang diberi suguhan film anak-anak seperti Thomas tetapi lebih dominan untuk melakukan aktivitas bermain tetapi tanpa melibatkan gadget yang berlebihan. Michael nyaman bermain dengan kedua orang tuanya dan menghabiskan waktu bersama. Bermain dengan melibatkan kedua orang tua, justru menambah kedekatan antara anak dengan orang tua. Belajar dari pengalaman Mira mendidik anaknya, hal ini dapat menjadi rekomendasi bagi para orang tua untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak memanfaatkan waktu luang. (Agnes)

SONY DSC

 

Agnes Friska Cyntia (130905002)

KURANGNYA TAMAN ANAK DI KOTA PELAJAR

Dimas Satria Putra

130904902

Seorang anak memanjat pagar rel di Taman Anak Lempuyangan

Seorang anak memanjat pagar rel di Taman Lempuyangan

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. Dari kota ini, telah lahir orang-orang hebat yang menduduki posisi penting di negara ini.

Menyandang status kota pelajar, tentu pembinaan tumbuh kembang anak sejak kecil perlu diperhatikan. Salah satunya terkait ruang publik. Lebih spesifiknya adalah taman bermain anak.

Lingkungan adalah level ke dua setelah keluarga bagi anak untuk mengenal dunia. Pembelajaran di lingkungan dapat dimulai pada taman bermain di mana berisi anak-anak sebayanya. Hal ini sebagai tahap awal untuk mengenalkan anak pada dunia luar yang baru dikenalnya.

Namun Yogyakarta belum memiliki banyak taman bermain yang layak dan memadahi. Contoh taman bermain anak di Yogyakarta berada di daerah Lempuyangan, tepatnya di bawah jalan layang. Letaknya yang berada di bawah jalan layang yang sudah cukup tua tentu membahayakan keselamatan anak. Di samping itu juga, taman bermain berada di pinggir rel kereta api.

Nanang, salah satu orang tua yang ditemui di tempat mengaku mengajak anaknya bermain di taman bermain anak Lempuyangan karena lebih sederhana. Ia mengaku taman anak di kota Yogyakarta kurang bervariasi sehingga terkesan membosankan bagi orang tua juga anak. “Ngajak anak main biasanya di sini sama di Alun-Alun Selatan. Taman yang ada di kota kurang bervariasi juga”.

Tentu hal ini patut menjadi perhatian pemerintah kota Yogyakarta untuk memperbanyak taman bermain untuk anak, terutama di kampung-kampung. Di samping pembangunan hotel-hotel yang kerap kali memakan lahan perkampungan.

Nyalakan Pelita, Terangi Cita-Cita

Anak merupakan anugerah terindah yang dititipkan Tuhan. Tentunya ia harus dijaga dan dirawat dengan baik. Diberi kasih sayang yang cukup dan pendidikan yang baik pula. Pendidikan bagi anak merupakan hal yang penting. Tanpa pendidikan, anak sulit untuk mengembangkan bakat maupun kepandaiannya.

Pendidikan formal ditempuh seorang anak mulai dari usia 3 atau 4 tahun melalui Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK). Anak tentunya tidak hanya diajarkan materi tentang membaca, menulis, dan menghitung saja. Mereka juga diberikan berbagai pemahaman tentang kehidupan, salah satunya tentang cita-cita.

Konsep cita-cita bagi anak memegang peranan penting untuk menumbuhkan motivasi anak dalam belajar. Berbagai cita-cita yang ada melahirkan pemahaman bagi anak bahwa kelak nantinya saat mereka dewasa, mereka dapat menjadi sosok atau profesi yang diidamkan tersebut.

Tak bisa dipungkiri bahwa semakin anak beranjak dewasa, ia semakin kehilangan konsep akan cita-citanya. Cita-cita anak yang diidamkan sejak kecil terkadang pupus seiring perkembangan pikirannya saat dewasa. Pemikiran realistis akan sebuah profesi dan ekonomi menjadi faktor utama bagaimana cita-cita seorang anak sulit dicapai ketika dewasa.

JurOn UAS INdividu.jpg

Anak-anak Kelas TK A Pangudi Luhur Yogyakarta bersama mahasiswa UAJY.

Pada Jumat (27/5) kemarin, 25 orang mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan kelas pengajaran kepada anak PG dan TK Pangudi Luhur Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan aktualisasi ilmu yang dipelajari dalam mata kuliah Public Speaking yang diampu oleh Diah Wulandari, salah satu Dosen UAJY.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mahasiswa mata kuliah Public Speaking  agar dapat membandingkan teori dan konsep yang dipelajari di kelas dengan mempraktikkannya langsung di depan publik, yakni anak-anak,” kata Diah.

Kegiatan ini mengusung tema “Cita-Cita Anak” sesuai dengan tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2016 yang diambil oleh PG dan TK Pangudi Luhur. Pada Hardiknas 2016 ini PG dan TK Pangudi Luhur mengambil tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita”. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan anak bisa belajar mengenai cita-cita dan berani menyuarakan pendapatnya.

“Untuk manfaat kegiatan ini disesuaikan dengan tema Hardiknas 2016 sekolah kami, ‘Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita’. Diharapkan anak bisa belajar mengenal cita-cita yang ada,” kata Anastasia Arum, Kepala PGTK Pangudi Luhur Yogyakarta.

Para mahasiswa yang ikut serta mengajar tentang cita-cita ini menggunakan metode alat peraga atau permainan. Mereka mengajarkan cita-cita melalui cerita, drama atau dongeng yang mudah dipahami oleh anak-anak. Berbagai macam cita-cita diperkenalkan kepada anak-anak tersebut. Mulai dari dokter, guru, tentara, nahkoda, sampai pilot pun tak ketinggalan. Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan ini.

“Acara ini keren, adiknya lucu-lucu masih pada kecil-kecil. Kita pun dapat memotivasi adik-adik TK untuk bersemangat menggapai cita-cita,” ungkap Kartika Kris salah seorang mahasiswi pengisi acara.

Juron individu 2

Antusiasme anak-anak TKPG Pangudi Luhur Jogja dalam berpartisipasi

 

Oleh : Elisabeth Arwita Pinerang / 130905055

Yogyakarta, Kota Layak Anak?

Mulai dari tahun 2015 hingga nanti tahun 2019, Yogyakarta membenahi diri untuk menjadi kota yang layak anak. Banyak media memberitakan bahwa Yogyakarta telah dan sedang mempertahankan predikat tersebut. Namun dibalik itu semua, apakah Yogyakarta saat ini benar-benar menjadi kota yang layak anak?

Berbagai upaya dilakukan untuk mendukung kebijakan Presiden Jokowi yang beliau keluarkan mulai tahun 2015 lalu. Hal ini juga disambut positif oleh walikota Yogyakarta yang telah menerbitkan kota layak anak yang ada di bawah ini.

Perwal Nomor 34 Tahun 2015 ttg Rencana Aksi Daerah Pengembangan Kota Layak Anak Kota Yogyakarta

Dalam hal ini Perda Kota Layak Anak (KLA) dibarengi juga oleh berbagai kebijakan yang diambil sendiri oleh masing-masing kota. Yogyakarta sendiri memilih untuk membangun sekolah ramah anak, kesehatan ramah anak dan ruang ramah anak.

Semua aturan yang berkaitan dengan kriteria terletak pada perda yang telah diatur dan diterbitkan oleh pemerintah kota Yogyakarta.

Namun kenyataannya, Yogyakarta bukanlah kota yang demikian, seiring bertumbuhnya modernisasi dan banyaknya orang yang hijrah dan menetap di Yogyakarta. Keadaan semakin padat, gedung-gedung semakin tinggi dan terlihat pula banyak anak-anak yang bermain di jalanan.

Vanie Sinanda, sebagai seorang aktivis yang bekerja untuk membuka ruang untuk anak mengatakan bahwa Yogyakarta belum menjadi kota yang ramah anak, hal ini terlihat sangat jelas. “Coba deh, lihat di kompleks-kompleks pemukiman, ada ga ruang bermain untuk anak?. Tidak kan? Anak-anak saat ini banyak bermain di jalan dan gang yang sempit. Hal ini tentu saja membahayakan bagi anak itu sendiri” jelas Vanie.

IMG_0039

Bukan hanya itu berbagai sampah visual juga sangat tidak ramah anak contohnya adalah iklan visual yang terdapat di berbagi jalan, yang berisi mengenai rokok.

Ia juga mengatakan bahwa pemerintah harusnya serius untuk menanggapi isu ini, dan ia merasa pemerintah harus melindungi generasi termuda di negara ini. (Aloycia Devi Ratna Sari Haran/ 130905196)

Komunitas Perkampungan Sosial Pingit

Oleh: Recha Lista Rosa (130905048)

Komunitas Perkampungan Sosial Pingit atau komunitas PSP adalah sebuah komunitas yang menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak tuna wisma atau keluarga tuna wisma. Komunitas PSP ini diawasi oleh para Frater di Kolosani Kota Baru, salah satunya adalah Frater Agustinus Winaryanta atau yang akrab disapa anak-anak Pingit dengan Frater Win. Anak pingit ini memiliki dua kategori yaitu warga dampingan, yang merupakan anak-anak atau keluarga yang terlantar dan diberikan tempat tinggal di Pingit. Saat ini jumlah warga dampingan di Pingit ada lima keluarga dan tujuh anak-anak. Yang kedua adalah anak-anak asli Pingit, yaitu anak-anak asli di Pingit yang mengetahui kegiatan di Pingit lalu bermain dan belajar bersama di Pingit. Jumlah anak-anak asli komunitas PSP ini berjumlah 35 anak. Selain diberikan tempat tinggal, anak-anak dalam komunitas PSP ini juga diberikan pelajaran menulis, membaca, berhitung, dan juga diajarkan untuk membuat kreasi yang akan dipimpin oleh salah satu volunteer di komunitas PSP ini. Komunitas PSP ini memiliki volunteer yang kebanyakan adalah mahasiswa, dari berbagai macam jurusan.


Waktu belajar di komunitas PSP ini dilakukan setiap hari Senin dan Kamis, pukul 19.00-21.00. Kelas di komunitas ini dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas TK, kelas SD kecil dan kelas bersama. Di kelas TK, jumlah volunteer harus sama dengan jumlah murid yang hadir mengikuti kelas, hal ini karena anak TK masih harus dibimbing dan dipantau aktifitasnya oleh volunteer. Hal ini juga bertujuan agar materi dan metode yang akan disampaikan oleh volunteer dapat diterima dengan baik oleh anak-anak TK yang mengikuti kelas tersebut. SD kecil adalah kelas yang melatih anak-anak untuk menyanyi yang akan ditampilkan di Kota Baru, lagu-lagu yang dibawakan oleh anak-anak Komunitas PSP ini pun lagu tentang komunitas ini sendiri. Seperti contohnya lagu berjudul Anak Pingit yang dipimpin oleh salah satu pengajar di Komunitas PSP. Sedangkan kelas bersama adalah kelas yang merupakan gabungan dari semua kelas. Materi yang akan diberikan di kelas bersama ini, diberikan oleh para mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma. Materi yang disampaikan adalah materi tentang penjelasan sederhana mengenai sumber daya alam, bagaimana mereka harus menjaga air, dan lainnya. Adapun kesulitan yang dialami oleh pengajar adalah menarik perhatian anak-anak dan mengajarkan mereka dengan bahasa yang mudah dipahami.


Suasana kelas di Komunitas PSP ini memang kurang kondusif, hal ini disebabkan oleh materi pengajar yang terkesan membosankan untuk anak-anak yang ada di Komunitas Perkampungan Sosial Pingit. Sehingga anak-anak akan merasa bosan di kelas, sikap mereka yang masih mudah terpengaruh untuk bermain daripada belajar, ditambah dengan melihat sifat dan perilaku anak-anak yang masih perlu diperbaiki. Sehingga keberagaman materi dan perilaku atau sikap anak-anak akan menjadi faktor penting dalam proses belajar mengajar di Komunitas PSP. Metode pengajar yang diterapkan di Komunitas PSP cukup terstruktur, tetapi metode yang mereka gunakan lebih menyesuaikan keinginan anak-anak dan kurang mempertimbangkan keefektifan materi tersebut di kelas. Sehingga seringkali materi yang disampaikan tidak efektif. Selain itu, metode yang digunakan dalam satu semester telah disepakati oleh para pengajar dan para pengurus PSP. Peneliti melihat, pada akhir semester, PSP lebih mengarahkan anak-anak untuk lebih fokus pada kreativitas mereka. Seperti menggambar, mewarnai, dan membuat kreasi lain atau bahkan mengikuti lomba kesenian seperti lomba menggambar, lomba menari, dan sebagainya. Hal ini disepakati karena jika anak-anak PSP dituntut untuk belajar seperti anak-anak di sekolah formal, kemungkinan besar anak-anak PSP akan merasa jenuh. Selain itu, tujuan dari PSP adalah agar anak-anak PSP bisa mengubah sikap anak-anak di Pingit dan mengubah pandangan orang-orang tentang anak-anak Pingit yang dikenal sebagian dari orang pinggiran. Selain itu, Komunitas PSP juga mengharapkan kemajuan dari anak-anak atau warga dampingan nya untuk maju. Oleh karena itu, setiap warga dampingan hanya diberi waktu 2 tahun saja untuk tinggal di Komunitas PSP ini. Setelah 2 tahun, warga dampingan diharapkan sudah memiliki pekerjaan yang bisa menghidupi kehidupan mereka sehari-hari, sehingga mereka bisa menyewa rumah sendiri. Tentu jika dibutuhkan, Komunitas PSP ini dengan senang hati membantu memberikan modal pada anak-anak dampingan di Pingit.
Komunitas ini sangat peduli pada masa depan anak-anak khususnya di Yogyakarta. Jika Anda tertarik untuk menjadi volunteer atau memberi bantuan, Komunitas PSP ini ada di Jalan Abu Bakar Ali 1. Atau di Kolosani Gereja Kota Baru untuk bertemu para Frater yang mendampingi para anak-anak di Pingit dan mengurus kegiatan para volunteer.