Gereja Bersejarah, Gereja Cagar Budaya


Oleh : Dionysia Dewi I.P (080903490)

 

Sejak diresmikan tepatnya pada hari Minggu tanggal 8 April 1934, bangunan Gereja Santo Yusup Bintaran dikenal sebagai gereja Jawa Pertama di Yogyakarta. Awalnya sebelum adanya gereja Bintaran ini, umat katolik pribumi merayakan Misa Ekaristi di sebuah gudang Kiduloji. Oleh karena jumlah umat yang semakin bertambah, maka dibangunla Gereja Santo Yusup Bintaran ini.

Peletakan batu pertama Gereja Santo Yusup Bintaran

Walaupun sebelum gereja Bintaran dibangun, sudah terdapat gereja-gereja modern lain. Akan tetapi karena masyarakat Jawa merasa kurang nyaman mengikuti ibadat di bangunan modern, maka Rama H. van Driessche, Rama van Kalken, SJ dan Bapak Dawoed seorang katekis probumi tergerak untuk mendirikan bangunan gereja baru di Yogyakarta yang memiliki kelengkapan serta suasana sesuai dengan cita rasa masyarakat setempat.

Setelah dibangun, Romo A.A.C.M de Kuyper, SJ dibantu oleh Romo Soegijapranata, SJ merupakan pastor pertama yang ditugaskan untuk berkarya di Paroki Bintaran ini sejak tanggal 12 Oktober 1933. Tahun 1936 Rama Soegijapranata, SJ memimpin Gereja bersejarah ini hingga tanggal 1 Agustus 1940, beliau dipromosikan menduduki jabatan Vikep Keuskupan Semarang.

Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1947 Sekolah Guru Katolik dan SMA de Britto juga mulai tumbuh dari Bintaran. Bersamaan dengan itu, sekolah Santo Thomas (sekarang sudah menjadi SMA St. Thomas dan Yayasan Marsudi Luhur) berdiri pula di Bintaran. Hal ini membuktikan bahwa Bintaran selain berbasis rohani juga mempunyai tujuan untuk mensukseskan pendidikan.

Gereja Bintaran beserta para pengurus-pengurusnya terbentuk ketika Indonesia belum meraih kesejahteraan. Hal ini dibuktikan masih berperannya gereja Bintaran pada saat pergolakan G-30S PKI yaitu menjadi markas Ikatan Sarjana Katolik Indonesia dan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Selain itu mengudaranya radio bersemangat Katolik dengan nama Bikima singkatan dari Bintaran Kidul Lima.

Bintaran sebagai Cagar Budaya

“Yang menggembirakan juga banyak kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan baik pada masa orde lama, orde baru, sampai pada masa reformasi tumbuh dan berkembang mulai dari tempat ini..” ungkap Romo E.G Willem Pau, Pr selaku romo paroki sejak tahun 2009 hingga sekarang.

Hingga saat ini, Gereja yang merupakan salah satu cagar budaya dan dilindungi oleh Undang-undang  no 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya ini sudah berusia 76 tahun. Usia yang cukup dewasa untuk mempunyai banyak pengalaman.

“..sekarang usianya sudah mencapai 76 tahun. Usia yang cukup dewasa malah dikatakan usia yang cukup tua dengan segudang pengalaman dan sebuah penghayatan yang sudah muncul Retnaning Rat Nayakaning Bawana, permata dunia, penjaga semesta, sungguh suatu pedoman yang menjadi pengharapan bagi semua..” lanjut romo Willem

Semenjak dahulu hingga usia saat ini sudah banyak sekali pastur-pastur yang berkarya di Gereja ini. Tidak sedikit pula para pastur setelah tinggal di Bintaran, lalu menjadi uskup atau romo kevikepan. Contohnya saja Uskup Alb. Soegijapranata, Uskup Ign. Suharyo, Pr, dan Romo Kevikepan B. Saryanto WP, Pr.

Saat ini sudah terdapat 29 lingkungan dan satu stasi yaitu stasi Pringgolayan yang dibawahi oleh gereja ini. Dengan adanya umat yang tidak sedikit itulah diharapkan dapat membantu gereja megah ini untuk berkembang dengan lebih baik. SOLI DEO GLORIA, “mari kita persembahkan tugas ini hanya untuk Tuhan”, tulisan itulah yang ada di pintu masuk gereja Bintaran untuk menambah semangat para umat dalam pelayanan.

Lebih Cepat Lebih Menarik

Lebih Cepat lebih Menarik
Setidaknya kecepatan menjadi sumber daya tarik bagi seseorang dalam memperoleh informasi. Saat ini internet bukanlah hal baru lagi. Jaringan berbasis internet ini dikembangkan dan di ujicobakan pertama kali tahun 1969 oleh US Departement of Defense dalam proyek ARPANet (Advanced Research Project Network). Dari situ internet berkembang dengan sangat pesat dan mulai merakyat.
Selain bertindak dalam hal kecepatan, kelebihan internet adalah lebih komunikatif . seperti melalui fitur chatting dan email. Terlebih saat ini, internet seperti memenangkan posisi dalam kecepatan dalam revolusi informasi. Melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, YM dan masih banyak lagi. Semua kemudahan ditawarkan melalui situs ini. Jaringan internet merupakan komunikasi timbal balik/ interactivity, penerima dapat memilih berita yang diinginkan, menjawab kembali, menukar informasi dan dihubungkan dengan penerima lainnya secara langsung. Kelenturan/ flexibilitas bentu, isi dan penggunaan (McQuail, 1987:16).

Kelebihan
Yang menjadi keunggulan internet lainnya adalah akses yang mudah. Proses akses tidak hanya dapat dilakukan orang dewasa namun juga anak-anak. Hal ini menjadi nilai lebih bagi internet dalam menjaring pengguna. Kemudian akses data yang tiada batasnya. Dengan memasukkan kata kunci singkat melalui mesin pencari google, dalam hitungan detik saja kita sudah menemukan jawaban dari pertanyaan kita. Semudah membalikkan telapak tangan ketika kita bersentuhan dengan internet.
Keunggulan lainnya adalah, akses yang dapat dilakukan tanpa batas.sehingga dalam keadaan dan waktu apapun kita dapat melakukan googling, chatting, dan beraneka kegiatan lain dalam dunia internet. Sudah tanpa batas, lagi murah. Ini yang digemari pecinta dunia maya. Dengan menggunakan internet pun kita sudah mengurangi penggunaan kertas untuk proses cetak file, karena file dapat kita simpan dalam bentuk soft melalui penyimpan data dalam di flash disk.

Kelemahan
Sekalipun tampak banyak kelebihan internet, selalu saja ada kekurangan yang ditemukan. Seperti rentan terhadap virus, virus yang dapat tersebar melalui jaringan sampai pada file-file yang didownload. Sekalipun sudah ada pengamannya, tetap saja untuk yang satu ini masih terasa mengganggu. Sehingga anti virus yang baik sejatinya adalah berawal dari user / pengguna.

Kebenaran yang diragukan dalam media blog dari mesin pencari, membuat orang seringkali terjebak dengan kebingungan setelah mendapat banyak informasi yang dimunculkan. Sehingga ada baiknya informasi yang dicari langsung menggunakan link yang resmi saja.
Tetapi tidak dapat dipungkiri karena media berbasic online inilah yang membuat kemudahan bagi khalayak di era global saat ini. Aktifitas masyarakat yang kini lebih menuju mobilitas tinggi membuat semua harus berlangsung cepat. Internet dan jurnalisme online merupakan jalan keluar. Semua serba tinggal click dan semua kebutuhan informasi akan muncul. Tidak ada yang disalahkan dengan adanya kemudahan-kemudahan ini, terlebih karena melalui media online inilah yang menjadikan media ini lebih efektif dalam memberikan pengaruh bagi khalayak.

Agustina Yuliastuti/ 03437

Ketika Gelar Sarjana Dipertanyakan?

Nama : Eko Febri Asi Panggabean

NIM    : 08 09 03578

          Pendidikan merupakan sarana yang efektif dalam menerobos sebuah perkembangan ke arah yang positif. Pendidikan akan memberi pengaruh yang baik bagi masyarakat luas pada umumnya, dan khususnya bagi diri sendiri. Oleh sebab itu, tak heran bila kebanyakan orang yang menyadari pentingnya akan pendidikan, dan mereka berlomba-lomba dalam meraih gelar yang tinggi. Tentunya gelar yang didapat tidak diperoleh dengan begitu saja. Serangkaian proses pembelajaran yang diakhiri dengan pembuatan tugas akhir harus dilaluinya. Namun terkadang, banyak orang yang lebih memilih untuk mempercayakannya kepada jasa pembuatan tugas akhir.

           Informasi mengenai jasa pembuatan skripsi ini juga kerap kita lihat dijalan-jalan. Orang yang membuka jasa skripsi, sengaja menempelkan informasi agar gampang dilihat oleh kalangan mahasiswa. Biasanya, mereka menempelkan selebaran di pohon-pohon, tiang listrik, gapura, warnet, fotocopyan, bahkan ada yang membuka usaha secara terbuka dengan memasang spanduk atau pamflet.

        Dalam prosesnya, jasa pemakaian olah data dan skripsi ini sanhgat mudah digunakan. Mereka yang ingin menggunakan jasa ini, hanya memberitahukan apa yang diinginkan, skripsi apa yang dikehendaki. Kemudian sang pemberi jasa akan bertanya kembali, apa yang diketahui mengenai bahasan yang akan dibahas di skripsi yang akan dibuat kelak. Hal ini dilakukan, agar ketika ujian kelak, bisa menjawab pertanyaan yang diberikan dosen penguji. Biaya yang dikeluarkan untuk jasa olah data dan skripsi relatif bervariasi. mulai dari Rp 1.000.0000, hingga 2 jutaan. tergantung tingkat kesulitan, dan pemahaman konsep.

          Ketika berbicara mengenai hukuman, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui apa hukuman apabila menggunakan jasa orang lain. Bisa jadi mahasiswa yang ketahuan dalam aksi jual beli skripsi bisa dikenakan sanksi tidak lulus bahkan di drop out dari universitas yang diampu mahasiswa tersebut. Pengakuan dari salah seorang mahasiswa yang menggunakan jasa skripsi mengatakan, dirinya terpaksa menggunakan jasa ini karena tidak bisa lagi untuk mengerjakan skripsinya dan tidak tahu cara mengolah data. Selain itu, ada seorang mahasiswa yang ketahuan oleh dosen penguji ketika ujian, dan skripsi dari mahasiswa tersebut dirobek dan mahasiswa tersebut harus mengulang skripsinya dari awal lagi. Hal ini sangat disayangkan buat mahasiswa yang menggunakan jasa skripsi. Karena dirinya sama saja mempermainkan dunia pendidikan.

          Begitu juga dengan orang yang menyediakan jasa skripsi. Dirinya mengaku, bahwa jasa yang lakukan hanya untuk membantu orang-orang dan ade tingkatan dalam menyusun skripsi dan mengolah data. Dia tidak takut akan hukuman yang ada. karena baginya, ia hanya membantu saja.

          Tentunya banyak berbagai pro dan kontra yang terjadi dalam fenomena ini. Sebagian kalangan menolak fenomena ini, kerena dianggap tidak sesuai dengan kode etik dunia pendidikan. Namun, adapula berbagai kalangan yang mendukung fenomena ini, demi tercapainya sebuah “GELAR” yang di impikannya. Bagaimanakah fenomena ini terjadi, dan sejauhmanakah fenomena ini memberi damak yang signifikan bagi dunia pendidikan? Lalu, bagaimana pula tanggapan dan respon maysarakat luas terhadap fenomena ini?

Jabatan Sri Sultan Masih Menggantung

Wujud Konsistensi Masyarakat Jogjakarta Untuk Penetapan (Gambar Diambil di depan Gedung Agung Jogjakarta, Rabu (25/5))

OLEH: FRANSISCUS ASISI ADITYA YUDA (080903491)

             Polemik jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur yang langsung dipegang oleh Sri Sultan dan Sri Paduka Paku Alam, hingga kini masih belum menunjukkan titik temu yang jelas. Malah baru-baru ini muncul keputusan dari Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri untuk memperpanjang  jabatan pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur hingga tahun 2013. Belum lagi di tambah masalah Sultan Ground yang disertifikasikan atas nama negara tanpa sepengetahuan pihak Keraton Jogjakarta. Sungguh Ironis, Kota Jogjakarta yang selalu berkontribusi positif demi kemajuan bangsa ini bagaikan menelan pil pahit atas kejadian ini.

            “Sebenarnya justru semakin menunjukkan manajemen pemerintahan yang buruk”, ujar Widhihasto Wasana Putra, Pemimpin Gerakan Rakyat Mataram.

            Menurut Widhihasto hal tersebut dikarenakan tidak ada koordinasi yang jelas antara kepala dengan tubuh, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri sudah menyatakan perpanjangan tetapi di lain pihak ada yang mengatakan masih wacana.

            Kembali merunut sejarah, sebenarnya hak keistimewaan kota Jogakarta sudah di miliki sejak zaman sebelum kemerdekaan. Status Kerajaan sudah, Jogjakarta miliki sejak zaman penjajahan, mulai dari VOC , Republik Belanda-Perancis, Kerajaan Inggris, Hindia Belanda dan terakhir zaman penjajahan Tentara Jepang. Pada zaman penjajahan Belanda status kerajaan yang dimiliki oleh Jogjakarta disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan disebut dengan Koti/Kooti pada zaman penjajahan Jepang. Status kerajaan tersebut membawa konsekuensi hukum dan politik berupa sebuah kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah atau negaranya sendiri, namun tetap di bawah pengawasan pemerintah penjajahnya. Berkat Status kerajaan itu  pula oleh Soekarno, kemudian diakui dan di beri payung hukum sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai negara.

            Fakta sejarah lain juga menunjukkan hal serupa, sesuai dengan Maklumat 5 September 1945, salah satu poin penting bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sultan berhak dan bertanggung jawab mengelola pemerintahannya sendiri dan berhubungan langsung dengan pemerintah pusat. Berawal dari hal itulah pengisian jabatan Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta adalah Sri Sultan.

            Ditemui dikantornya (25/5), Widhihasto mengatakan bahwa dari aspsek manapun, sejarah, yuridis dan filosofi adalah mengarah kepada penetapan, hal itu didukung pula oleh piagam penetapan kedudukan yang dikeluarkan pada zaman pemerintahan Soekarno dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 18b ayat 1.

            Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 18 b ayat 1 itu berbunyi Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.

            Kita juga tahu, bahwa polemik yang terjadi hingga saat ini juga terkait pernyataan Sri Sultan tentang rencana pengundurun dirinya untuk tidak menjabat sebagai Gubernur lagi. Berkaitan dengan hal tersebut, Widhi menyatakan bahwa pernyataan Sri Sultan tersebut mengandung arti bahwa beliau tidak mau dicalonkan kembali, tetapi langsung saja di tetapkan, itu hanya permasalahan pemilihan diksi dan kata. Widhi juga menambahkan bahwa dirinya juga tidak mau berspekulasi, apakah beliau mau atau tidak. Tapi yang jelas, rakyat Jogjakarta menginginkan penetapan.

            Sebuah polling opini publik yang dilakukan sebelum artikel ini di turunkan dengan mengambil sampel masyarakat Jogjakarta, bahwa 94,67 persen responden menyatakan setuju penetapan Sri Sultan dan Sri Paduka Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur tanpa adanya proses pemilihan.

            Hingga kini draf Rancangan Undang-undang Keistimewaan masih berada di tangan Komisi II untuk diproses. Namun yang jelas, setelah mencermati daftar isian masalah, sembilan fraksi yang setuju dengan penetapan, pembahasannya bukan lagi soal pemilihan atau penetapan. Tetapi konsep Gubernur utama dan mekanisme pencalonan itu dihapuskan. “mereka mengingkan pasal itu di hapus, namun sebenarnya sama saja, mereka ingin kembali ke penetapan”, ujar Widhi.

            Widhi menambahkan, hal ini merupakan sinyal yang bagus, namun kembali lagi kepada pemerintah. Tetapi pihaknya akan terus mengawal sidang Komisi II. Hal serupa juga akan di lakukan oleh seluruh masyarakat Jogjakarta, dengan semangat Ijab Qbul sesuai dengan amanah HB IX, mereka akan terus memperjuangkan hak keistimewaan untuk Kota Jogjakarta, karena pada dasarnya pegangan hukumnya sangat jelas, Piagam Penetapan Kedudukan dan Amanah Ijab Qbul HB IX.(adt)

Perubahan Alur Perekonomian di Pasty

Putu Satria ( 03389 )

BANTUL– Dengan berpindahnya kawasan berjualan Pasar Ngasem yang dimana pasar tersebut menyediakan beraneka hewan dan pakan ternak kekawasan Bantul menjadikan omset umumnya dari para pedagang menjadi meningkat dua kali lipat dari sebelumnya disamping itu pengunjung yang datang pun bertambah banyak dari tempat dimana awal mereka berjualan.

Pasar Ngasem sekarang menjadi sangat baik dalam segala aspeknya. Perpindahan pasar ngasem kewilayah Bantul empat bulan lalu yaitu sekitar tanggal 23 mei 2010, ternyata bukan menjadi keresahan bagi seluruh pedagang. Tetapi mereka malah sangat bersyukur dan merasa senang karena, tampat yang baru bagi mereka melakukan kegiatan berdagang sangatlah baik sekali. Mulai dari kondisi tekstur bangunan kios mereka sangat rapi, tata ruang yang dibangun cukup baik karena, terdapat musholah, kebun binatang yang dibuat mini, banyak terdapat taman kecil-kecil.

Selain itu, tempat mereka berjualan lumayan bersih dan rapi. Disadari atau tidak bahwa dari semua aspek yang di paparkan di atas termasuk senjata yang baik untuk menarik para pengunjung datang ke pasar tersebut dan menikmati yang disajikan di pasar tersebut. Pastinya untuk membeli apa yang di inginkan oleh para pengunjung dipasar tersebut.

Semua itu senada semua dengan apa yang di paparkan oleh Ibu Parjiah selaku pedagang di Ngasem yang menjual pakan ternak ketika saya wawancarai. Ibu parjiah mengatakan “ Saya merasa biasa saja saat Pasar ini mau di pindah ke daerah Bantul ini. Malah saya agak sedikit senang karena tempat yang akan saya tempati seperti ini lebih baik dari pada yang sebelumnya”. Ibu tersebut mengatakan seperti itu karena, ia merasakan sendiri apa yang terjadi de lokasi yang baru.

Setelah itu pertanyaan kedua yang saya tanyakan adalah tentang omset yang di dapat oleh Ibu Parjiah. Ia mengatakan “ omset yang saya dapat jauh lebih banyak dari pada yang saya dapat dilokasi sebelumnya. Mengapa karena pengunjung yang yang datang hanya datang saja tidak membeli”.Yang diharapkan dari ibu parjilah adalah ingin dagangannya lebih banyak lagi seperti dengan apa yang dirasakan dulu di pasar ngasem yang lama walau sekarang memang sudah banyak yang laku. Beliaupun mengatakan memang di sini tempatnya rapi dan uang sewanya murah tetapi, sama aja jika hasil penjualannya rendah.

Tetapi hal itu tidak senada semua dengan apa yang di paparkan oleh ibu Tom yang sangat tidak nyaman dengan hasil penjualan yang didapat ibu Tom dibandingkan dengan dingasem yang lama, yang dimana penjualannya baik dan menguntungkan. Beliau mengatakan di sini memang banyak orang yang datang dan melihat-lihat tetapi hanya untuk jalan-jalan saja tidak membeli.

Salah seorang pengunjung mengungkapkan bahwa “ memang benar ngasem yang sekarang memang lebih bagus dan nyaman untuk berkunjung dari pada dilokasi yang lama yang kumuh” ujar eko. Setelah itu ia pun mengatakan bahwa memang cenderung datang ke sini untuk melihat-lihat saja dan refresing sehabis pulang kerja dari pada membeli.

Hal yang berbeda dikatakan oleh pengunjung wanita yang bernama theo ia mengatakan “ saya kesini tidak hanya suka dengan tempatnya saja tetapi memang saya membeli makanan anjing saya disini dan sambil melihat anjing apa yang baru datang karena saya sedikit gemar untuk mengkoleksi anjing dan mengawinkannya untuk dijual kembali.

Mengenai suasana pasar yang semakin baik, Pasar Ngasem mengalami lonjakan pada omset. Itu terjadi karena, pasar semakin ramai pada saat hari sabtu dan minggu. Itu dipicu karena, pada saat hari itu pengunjung sudah mulai libur dan ingin berjalan jalan ke Pasar Ngasem tidak hanya melihat hewan-hewan yang lucu-lucu saja tetapi, di tempat tersebut sangat enak pula pemandangan untuk berjalan-jalan dan bersantai. Itu dipicu dengan adanya taman-taman kecil dan tempat untuk bersantai.

Jadi, dengan demikian masyarakat secara tidak langsung tidak akan merasa tidak nyaman lagi jika harus mengunjungi Pasar Hewan. Karena sekarang keadaan pasar tersebut sudah menjadi lebih baik dab pastinya bersih. Dan meski tempat berjualan para pedagang Pasar Ngasem sekarang jauh dari lokasi awal, para pedagang pun tidak perlu risau karena mereka tidak ditinggalkan pelanggan tetapi, pelanggan yang datang semakin banyak.

 

Aksi Penjarahan Buah Warnai Perayaan Waisak

Oleh : I Gusti Agung Ayu K. Galuh (0809 03582)

Magelang, Indonesia – Aksi penjarahan buah oleh umat non-Budha ikut mewarnai prosesi perayaan Hari Waisak 2555 B.E/2011 di Candi Borobudur pada Selasa siang (17/5/11) lalu. Buah-buahan yang sengaja diletakkan di atas altar utama ini hampir ludes akibat ulah pengunjung yang mengambil tanpa izin. “Saya cuma ikut-ikutan yang lain aja Mbak,” ucap salah seorang penjarah ketika dipergoki sedang mengambil lima buah apel dari atas altar utama.

Buah-buahan dan hasil bumi dikirab oleh umat Budha bersamaan dengan air suci dan api dharma dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Kirab dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul 08.30. Perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu 3 jam. Sesampainya di Candi Borobudur pukul 11.30, air suci, api dharma, buah-buahan, hasil bumi dan berbagai simbol Budha lainnya diletakkan di atas altar utama. Setelah itu umat makan siang dan membiarkan altar kosong tanpa pengawasan.

Sekitar pukul 13.00, banyak pengunjung anak-anak yang iseng memanjat altar utama dan mengambil buah persembahan. Tidak lama kemudian, aksi itu bukannya dilarang, justru diikuti oleh orang tua masing-masing. Alhasil, sesajen berisi buah apel tampak ludes akibat ulah para pengunjung nakal ini. Padahal prosesi ritual sama sekali belum dimulai siang itu.

Aksi tanpa ijin itu berlangsung sekitar lima menit. Barulah, beberapa panitia Walubi datang dan menertibkan para pengunjung yang berada di dekat altar. Altar kemudian dijaga secara ketat hingga saatnya prosesi pembukaan ritual Waisak diadakan.

Rangkaian prosesi Tri Suci Waisak
Seluruh umat berkumpul di altar utama yang telah didirikan di pelataran Candi Borobudur pada pukul 15.30. Pada altar nampak rupang Sang Buddha yang berwarna keemasan. Rupang Buddha yang bergaya seni Tionghoa tersebut diapit oleh 2 buah rupang lain mewakili dua Siswa Utama Sang Buddha.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Ketua Panitia Waisak, Dra. Hartati Murdaya. “Umat Buddha harus tulus, ikhlas, rendah hati, dan penuh pengabdian. Berjuang untuk berbuat yang terbaik agar memiliki karma yang baik pula,” ucap Hartati yang juga merupakan Ketua Umum WALUBI. Tema Waisak tahun ini adalah mencari kebahagiaan dan kedamaian dari dalam diri sendiri.

Pada pukul 16.40 sampai 18.08, diadakan pembacaan parritta dan mantra dari masing-masing tradisi. Tidak lupa sebuah renungan Waisak sambil menunggu detik-detik Waisak.
Tepat pukul 18.08.23 merupakan detik Waisak 2555 B.E, seluruh umat berdiam diri untuk bermeditasi. Setelah umat mengadakan meditasi detik-detik Waisak, Y.M. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera memberikan pesan Waisak dan di lanjutkan dengan pemercikan air berkah oleh beberapa anggota sangha. Umat melakukan pelafalan Vesakha Puja Gatha pada pukul 20.00, setelah sebelumnya melakukan makan malam.

Setelah itu umat melakukan pradaksina atau berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Sebagai kegiatan penutup diadakan pelepasan lentera atau lampion sebanyak 1.000 buah.

Lampion Waisak

Biksu turut melepas lampion ke udara


Menurut Bikhu Lian Ding Fashi, lampion dikalangan umat umat Budha merupakan simbol cahaya penerangan. “Lampion itu merupakan simbol yang artinya terang dalam segala hal,” jelasnya. Harapannya, kehidupan ini selalu terang.

Detik-detik Mencapai Kesempurnaan Hidup Di Hari Raya Waisak

Paskalia Ditha Ratnasari (08 09 03685)

MAGELANG – Tepat pada saat Purnamasidhi (bulan purnama) di bulan Waisak, hari Selasa (17/5), umat Buddha di seluruh dunia merayakan Tri Suci Waisak 2555 BE/2011 dengan tema “Mencari Kebahagiaan dan Kedamaian Dari Dalam Diri Sendiri”. Pada saat peringatan Tri Suci Waisak, umat Buddha kembali memperingati, mengagungkan, dan memuliakan tiga peristiwa agung yang terjadi pada saat Purnamasidhi dan bulan yang sama.

Setiap tahun, umat Buddha di Indonesia maupun dari luar negeri dengan penuh rasa bakti datang ke Candi Borobudur untuk memuja Keagungan Buddha pada Hari Tri Suci Waisak dalam upacara Waisak nasional. Selain itu, dalam memperingati Waisak, tidak hanya umat Buddha saja, melainkan banyak masyarakat non-Buddha dan banyak wisatawan mancanegara yang ingin ikut andil dalam hari raya Waisak ini. Hari Tri Suci Waisak adalah hari suci teragung yang mengandung hikmah tentang puncak perjuangan seorang umat manusia untuk menemukan kebahagiaan tertinggi demi membebaskan semua makhluk dari belenggu penderitaan. Demikian Hari Tri Suci Waisak hendaknya menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menggapai kebahagiaan yang sejati untuk mendapatkan kesempurnaan hidup dengan cara mengisinya dengan berbagai kebajikan kepada semua makhluk.

Hari Selasa (17/5), acara dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.30 WIB di Candi Borobudur. Walaupun hujan deras sempat membasahi pelataran candi Borobudur sekitar pukul 19.00 WIB, umat Buddha tetap khidmat dalam menjalankan ibadahnya. Setelah berkumpul, berdoa, dan merenung, umat Buddha diajak untuk memperingati detik-detik Waisak 2555 BE dengan melakukan meditasi mulai pukul 18.10 WIB sampai selesai. Setelah melakukan meditasi, dilanjutkan dengan pemberkatan dan pradaksina, kemudian pelepasan lampion ke udara.

Dalam perayaan tersebut, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia, Maha Bhiksu Dutavira Sthavira menyampaikan kata sambutan yang berisikan Makna Hari Raya Waisak. Salah satu maknanya adalah memperingati hari pencapaian sempurna seorang manusia menjadi Buddha (Anuttara Sanyaksamboddhi), melalui proses pemutusan semua kekotoran batin dan memahami hakikat kehidupan (588 SM). Dengan jalan menerima segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita sebagaimana adanya, akan membawa kita pada keseimbangan batin untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri sendiri.

“Hari Waisak mempunyai makna dan arti yang sangat dalam sekali bagi umat Buddha dan orang-orang yang mencari jati diri. Hyang Buddha telah menemukan dan mengajarkan Dharma (hukum perbuatan, hukum dimensi waktu, hukum saling ketergantungan atau interdependensi) yang sangat mulia dan agung yang dapat membebaskan semua makhluk dari lautan samsara kelahiran dan kematian. Setiap orang yang menjalankan Dharma akan mendapatkan kebahagiaan pada awalnya, kebahagiaan pada pertengahannya, dan kebahagiaan pada akhirnya. Dengan demikian sebagai umat Buddha yang saleh seharusnya bisa menjadikan Dharma Hyang Buddha sebagai jalan hidup (the way of life) untuk menemukan kebahagiaan kehidupan dan menemukan jati dirinya”, tutur Maha Bhiksu Dutavira Sthavira, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu modal utama agar dapat menuju kepada pencapaian akhir, yaitu kesempurnaan hidup.

Waisak akan sangat bermakna jika kita mau merenungkan kembali ajaran yang telah diajarkan oleh Hyang Buddha. Kita menjadikan hari raya Waisak sebagai sarana untuk introspeksi diri, melihat segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Sehingga semangat Waisak dapat membawa perubahan terhadap semua aspek diri kita dan kehidupan kita.

Dalam renungan Waisak tentang Pencerahan Pikiran, YM Bhikshu Tadisa Paramita Mahasthavira berkata, “Hati dalam ajaran Buddhis disebut sebagai Panca Skandha (terdiri dari: rupa, perasaan, pikiran, pencerapan, dan kesadaran). Pahamilah bahwa semua karma berasal dari aktivitas hati, Hati khayal yang menampakkan, Hati diskriminasi yang membedakan ciri, Hati melekat yang menjadikan, Hati bodoh yang membuat derita, Hati bijak yang menetralisirkan, Hati sunya lenyaplah fenomena, Hati murni bebas dari rintangan dualitas, Hati cerah menerangi segala realita kebenaran sebagaimana adanya”.

Dalam peringatan hari Waisak, terdapat makna yang mendalam yang disampaikan lewat sepatah dua patah kata oleh Bhikkhu Pabhākaro. Beliau berkata, “Setelah menemukan kebenaran sejati (Dhamma) yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan, sang Buddha Gautama berkelana untuk mengajarkan Dhamma demi kebahagiaan dewa dan manusia. “Terbukalah pintu kebahagiaan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan”. Tiga peristiwa itu, memberikan gambaran kepada kita bahwa begitulah proses kehidupan. Setelah lahir, tumbuh dan berkembang lalu akhirnya harus meninggal. Dalam kehidupan manusia mengalami berbagai macam hal, seperti kegagalan, ketengangan mental, keputusasaan, kejenuhan, dan lain sebagainya yang memaksa manusia untuk terbebas dari kondisi tersebut dan menggantinya dengan konsep-konsep kebahagiaan dengan ukuran yang berbeda-beda. Keindahan jasmani, pemuasan nafsu, pencarian tempat-tempat hiburan, penumpukan materi dan lain sebagainya yang tidak dapat disebutkan keseluruhan menjadi obsesi umat manusia dalam berusaha mencari  kebahagiaannya. Berbagai macam usaha yang dilakukan umat manusia untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, tidak mampu memenuhi kebutuhan akan kebahagiaan itu. Justru hal tersebut membuat manusia terjerat dalam keserakahan, monopoli, ketidak-adilan, dorongan mengahncurkan sesama dan pemuasan akan nafsu yang tiada habisnya. Demikianlah umat manusia mencari kebahagiaan dengan cara-cara salah yang hanya mendapatkan kebahagiaannya sekejap mata. Sesungguhnya sang Buddha telah mengajarkan bagaimana mencari kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang sejati sesungguhnya berada di dalam hati, dimana batin ini mampu melenyapkan nafsu, memiliki kebahagiaan yang sederhana dengan memiliki rasa puas, akhirnya batin mampu melepaskan ketamakan, kebencian, iri hati, pemuasan, keserakahan, kegelapan batin sehingga batin begitu damai dari hiruk-pikuk duniawi.” Beliau juga menegaskan bahwa Siddharta berarti “Tercapailah segala cita-citanya”.