“Jogja Menanggapi Perfilman Indonesia”

Vincencia Evita (08 09 03493)

Jogjakarta- Industri perfilman Indonesia sudah berkembang terlebih dari segi kuantitasnya. Pada masa sekarang sudah banyak film yang diproduksi sendiri oleh sineas-sineas Indonesia. Namun industri perfilman justru mengarah pada film yang horor dan banyak menampilkan adegan vulgar bahkan mendatangkan bintang film porno dari luar negri. Adegan vulgar pun tidak hanya terdapat di film horor namun juga terdapat dalam film drama Indonesia.

Film Indonesia seperti yang kita lihat, memiliki unsur seksualitas walaupun itu film horor. Bahkan Film Indonesia sering mendatangkan bintang film dari luar negri namun sayang bintang film yang didatangkan adalah artis film porno seperti Miyabi pada Film “Menculik Miyabi” dan Rin Sakiragi pada film “Suster Keramas” dan yang terbaru adalah artis porno hollywood.

Hal ini menunjukkan bagaimana kualitas film Indonesia pada masa sekarang ini. Sebagian besar film bukan lagi mendidik namun justru lebih didominasi dengan film yang mengarah pada seksialitas. Film seperti ini lebih mendominasi daripada film yang mengandung unsur pendidikan seperti Laskar Pelangi.

“keadaan film Indonesia semakin mengkhawatirkan. Dulu masih sering ada film yang mengandung unsur edukasi namun sekerang film Indonesia hanya identik dengan horor dan seksualitas” tutur pemilik rental CD sekaligus  penggemar film.

Hal itu dikarenakan audiens di Indonesia yang cenderung lebih menyukai film berbau seksualitas. Hal ini terlihat dari semakin maraknya produksi film horor dan vulgar serta diperkuat dengan semakin banyaknya masyarakat  yang justru mencari film tersebut.

“ masih banyak masyarakat yang mencari film yang berbau vulgar karena mereka cendeung penasaran dengan film-film Indonesia  yang horor dan vulgar ” tutur  salah seorang pengusaha rental CD.

Fenomena film Indonesia yang semakin mengarah pada horor dan vulgar sudah merambah kota-kota di Indonesia termasuk Jogjakarta. Jogjakarta sebagai kota pelajar dengan banyak masyarakat yang terpelajar ternyata juga mengkonsumsi film-film ini. Namun begitu, film barat pun tetap menjadi alternatif pemilihan film. Dan incaran kebanyakan masyarakat Jogjakarta yang menyukai film.

Namun, bagi seorang pengusaha rental lebih mudah medapatkan CD Original Film Barat dari pada Indonesia karena pada saat membeli film Indonesia, pengusaha rental CD harus memilih sesuai dengan selera masyarakat. Walaupun begitu, masyarakat tetap menyukai film luar negri karena merasa lebih berkualitas.

Kebanyakan konsumen yang mencari CD film Indonesia yang horor dan vugar ternyata dilatar belakangi oleh semakin terbatasnya ruang untuk mencari film porno karena pemblokiran situs-situs porno di internet.

“sekarang sudah sangat susah mencari film porno di Internet dan penyewan CD jadi cukup melihat film Indonesia seperti Suster Keramaspun sudah cukup” tutur salah satu mahasiswa di Jogjakarta.

Film horor Indonesia ternyata dijadikan sebagai pengganti film porno oleh sebagian masyarakat. Mereka mengaku bahwa film-film horor Indonesia lebih vulgar dari film barat bahkan mendatangkan bintang film porno dari luar sehingga tidak jauh berbeda.

Banyaknya masyarakat yang mencari film horor ini dikarenakan sudah sangat jarang bahkan hampir tidak ada lagi penjualan ataupun persewaan CD porno di Jogjakarta.

“semenjak tahun 2006, kami sudah tidak berani menjual kaset porno karena tidak mau terjerat dengan birokrasi yang ada” tutur salah satu penjual CD di Jogjakarta.

Diblokirnya situs porno di internet membuat ruang lingkup para penggemar film porno semakin dibatasi namun hal itu tak terlalu menjadi masalah bagi mereka karena sudah sedikit digantikan dengan adanya film-film Indonesia yang mendatangkan bintang film porno dari luar negri.

Perfilman Indonesia semakin mengarah pada pornografi dan prosentase produksi film horor lebih tinggi dari pada film edukasi. Inikah wajah perfilman Indonesia saat ini?

Perubahan halauan pada film Indonesia tentunya juga membawa dampak bagi pengusaha rental serta penjual CD. Dampaknya adalah perubahan dimana sekarang kebanyakan masyarakat mencari film horor tersebut sehingga penjualan film horor lebih tinggi dari film Indonesia non horor. Padahal pendistribusian film Indonesia jauuh lebih lama daripada film barat walaupun harga CD originalnya lebih murah.

Fakta mengejutkan terjadi di Yogyakarta. Maraknya film horor yang berbau pronografi ini, justru menjadi aset untuk para pengusaha baik rental maupun penjualan CD karena masyarakat sudah mulai beralih mencari film horor terlebih film horor yang mendatangkan bintang film porno dari luar negri. Hal itu diperkuat dengan adanya fakta bahwa dari sebagian besar masyarakat yang diwawancarai sebagian besar menyewa atau membeli film horor karena penasaran akan adegan vulgar dimana film itu melibatkan artis porno luar negri. Dari hal ini dapat dilihat bagaimana wajah perfilman Indonesia saat ini yang bisa dikatakan sangat memprihatinkan.

Jadi apakah film horor ini dijadikan alternatif sebagai pengganti film porno?yah semua kembali kepada pribadi masing-masing. Namun kenyataannya, selera masyarakat Jogjakata sudah mulai beralih mengikuti perkembangan perfilman di Indonesia. (VIN)

salah satu perusahaan bidang film terbesar di Indonesia

Toko jasa perentalan CD di Yogyakarta

Contoh adegan vulgar pada film Drama Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s