“Ready Go…”

Giovanny Saully / 08 09 03613

Gerimis dan udara yang dingin menjadi background latihan pada malam itu. Dengan semangat meneriakan yel demi yel pada setiap gerakan tarian mereka. Irama beat lagu yang di remix cepat semakin mendukung suasana latihan. Sang kapten tak lelah meneriakkan aba-aba ‘Ready Go…’, pada setiap awal gerakan. Semua terlihat lelah namun rasa kebersamaan dari hati mereka sendiri, yang telah terbangun saling memberikan pondasi yang kuat.

Flash All Star. Inilah suatu wadah berkumpul para penggemar cheerleaders di Yogyakarta. Sang kapten, Serbyanus Eudes Filio dan kawan-kawan merupakan angkatan ketiga dalam cheers Flash kali ini.

Flash All Stars Yogyakarta merupakan sebuah Team Prototype Cheers Pertama di Yogyakarta. Tim pemandu sorak ini bisa dibilang sebuah tim Pro Cheers yang memiliki kualitas dan teknik yang mumpuni untuk disebut sebagai Team All Stars di Yogyakarta.

Anggota Flash sendiri merupakan gabungan dari berbagai macam pelajar SMA dan juga mahasiswa dari berbagai Universitas. Tentu saja nama ‘All Stars’ yang disandang karena memiliki serentetan pemain yang mempunyai bakat multi talent. Mulai dari dunia seni tari, breakers ataupun asli yang bergelut di dunia cheers.

Sebenarnya Flash All Stars ini dulunya terdiri dari 10 orang kapten dari mantan SMA yang notabene cheersnya merupakan team-team Juara pada masanya. Kemudian ada 4 orang breakers, 2 orang koreografer, 4 orang dancer dan juga beberapa player menggeluti dunia seni tari tradisional Bali, Dayak dan juga tari Jawa klasik.

Sekian banyak team cheerleaders di Yogyakarta, Flash tidak banyak mengalami kesulitan dalam bersaing. Mereka sendiri meyakini bahwa setiap team mempunyai ciri khas tersendiri. “Rasa kekeluargaan dan persamaan satu sama lain yang menyatukan kami sehingga visi yang kami tempuh mampu berjalan sampai saat ini”, kata Serby (19) si hidung mancung sebagai sang kapten.

Menjadi sebuah team yang sukses, tentu saja diperlukan kerja keras dan loyalitas tinggi dari setiap individunya. Hal ini menjadi modal utama untuk kebangkitan team itu sendiri. Maka jadwal latihan pun menjadi menu keseharian untuk menciptakan kekompakan dalam setiap gerakan mereka.

Latihan yang mereka tempuh setiap hari Selasa dan Jumat pada pukul 6 sore, serta hari Minggu pukul 9 pagi. Untuk tempat berlatihnya sendiri, mereka kadang menggunakan halaman gedung perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta.
Dari 20 orang anggota tim, yang mampu bertahan sampai saat ini 17 orang. Hal ini tidak menyurutkan tekad mereka untuk terus bertahan dan berkarya mengembangkan bakat-bakat muda cheerleaders Yogyakarta.

Saat Latian Bersama | Dok: Penulis

Sebagai seorang pemimpin di dalam Flash, Serby tidak memiliki trik khusus agar team tetap kompak. Ia hanya bersikap netral, sebagai modal utama untuk menjaga kestabilan pertemanan dalam teamnya. “Yah..saya berusaha untuk selalu nge-keep teman-teman biar gak ada yang minder satu sama lain”, tambah pria yang menganggap cheers sebagai profesi bukan sekedar hobi lagi.

Flash All Stars ini berdiri pada tanggal 14 April 2008. Penggagas awal Flash adalah seorang partisipan sekaligus pelatih cheers dari salah satu SMA di Yogyakarta. Pria itu bernama Yosi Ardiyanto. Pria dengan perawakan tubuh yang berisi dan kulit sawo matang ini, merupakan salah satu orang yang berperan menyatukan para cheerleaders di Yogyakarta dengan satu Team Prototype.

Waktu itu, bulan Januari 2008, diadakan audisi untuk menggali potensi para cheerleaders di Yogyakarta. Flash Sendiri belum mempunyai induk perusahaan atau bisa dikatakan bimbang untuk berkiblat pada cheers jenis apa. Karena di dunia cheerleading terbagi dalam dua muara ICA dan ICU.

ICU (International Cheers Union) atau bisa dikatakan lebih ke barat dan ICA (International Cheers Asian). Awal pertama Flash All Stars berdiri dilatih dari salah satu Company Cheers di Indonesia yaitu MCP dengan ditangani langsung oleh Kak Ferry.

Untuk kedua kalinya Kak Ferry datang kembali ke Indonesia dengan niat dan kepercayaan yang tinggi untuk membentuk team All Stars. Namun, keberuntungan belum berpihak pada Kak Ferry. Anak-anak yang merupakan generasi pertama Flash tidak bisa mengikuti audisi ini. Entah kurang tertarik atau karena ada beberapa hal yang mereka rasa tidak pas. Maka mereka memutuskan untuk tidak mengikuti lebih lama audisi ini.

Dua bulan kemudian, Flash kedatangan tamu seorang pelatih cheers terkemuka di Jakarta, bernama Indah Setianni. Tidak tanggung-tanggung, beliau ini yang pada akhirnya bisa merebut saham keabsahan Team All Stars ini dari MCP kepada The A-Team Company. Indah Setianni memegang kendali penuh atas Team All Stars di Yogyakarta ini.

Pertemuan dengan Big Boss The A-Team Company diisi dengan pemberian teknik dan juga perkenalan dengan asosiasi yang membawahi mereka. Beliau juga memberikan penjelasan mengenai ICU dan apa yang melatarbelakangi seorang Direktur Utama ini bisa datang ke Yogyakarta.

Setelah itu, pertemuan kedua dibuka audisi bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), berfungsi sebagai regenerasi untuk membentuk team All Stars di Yogyakarta. Audisi ini memang cukup ketat, karena terdiri dari team-team SMA Juara.

Sebut saja SMA Stella Duce 1, SMA Stella Duce 2, SMAN 11, SMAN Babarsari, SMA Santa Maria, SMAN 9, SMA Kolese De Britto, SMA Pangudi Luhur. Beberapa orang dari mereka inilah yang menjadi cikal bakal FLASH ALL STARS ini.

Setiap tetesan keringat yang mereka sumbangkan pada setiap latihan, tidak sia-sia terbuang. Flash berhasil merebut juara 4 Nasional Cheerleading Championship di Jakarta. “Ini pertama kalinya kami masuk nasional dan sangat berkesan untuk kami, ini menjadi motivasi kami selanjutnya”, ungkap Xave sebagai anggota team Flash.

“Yosi ketua Flash terdahulu sampai meneteskan air mata, soalnya dia terharu, ini cita-cita dia sejak awal ingin membawa Flash sampai ke tingkat nasional”, tambah pria yang memiliki perawakan tubuh kecil dan memiliki tanda lahir berwarna merah di tangan kanannya.

Prestasi lain yang pernah dicapai oleh The A Team Cheerleading, induk dari team Flash yang berkantor pusat di Jakarta. Mereka mencetak rekor MURI. Mereka berhasil membuat formasi piramid tertinggi dan terbesar. Semua anggota The A Team Cheerleading yang berasal dari Solo, Jakarta,Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung berkumpul menjadi satu. Mereka juga dinobatkan sebagai team cheerleading terbanyak karena semua berkumpul menjadi satu sebanyak 250 orang.

Kebersamaan menjadi kunci utama untuk membentuk suatu komunitas yang solid. Tentunya dibutuhkan suatu tempat untuk berkumpul bagi suatu komunitas itu tersebut. Flash sendiri tidak memiliki tempat khusus untuk kantor pusat. Biasanya, team ini berkumpul di angkringan dekat UNY. Memang tidak istimewa, tapi dengan kesederhanaan inilah yang menjadikan mereka kompak.

Untuk semakin memperkenalkan kepada masyarakat, Flash membuat lambang sendiri. Tentu saja, bukan sembarang logo yang dibuat. Mulai dari warna sampai bentuk memiliki arti tersendiri.

Logo Flash All Stars

Di belakang tulisan Flash menyerupai lidah-lidah api yang melambangkan jumlah pemain angkatan pertama Flash berjumlah 20 orang. Mereka merupakan pemain prototype All Stars pertama yang didirikan langsung oleh Indah Setianni.

Lambang petir berwarna emas ini, arti dari Stars (yang berarti Bintang) untuk menguatkan kata ‘All Stars’, karena Flash merupakan Team All Stars pertama di Yogyakarta dengan ditambah ornament gambar berbentuk bintang emas. Terdapat juga jumlah empat perisai berwarna hitam yang ada disudut Circle Flash. Ini sebagai tanda bahwa Flash lahir pertama pada bulan keempat, yakni April.

Circle Flash berjumlah satu buah dan ditambah dengan empat perisai satu diatas huruf ‘S’, dua hitam menyambung ditengah S dan satu hitam menjadi satu garis tajam menjadi busur dibawah dari lambang petir. Ini menjadi tanda bahwa Flash lahir pada tanggal 14.

Bentuk Circle jika dilihat lebih jauh membentuk angka 8 dan dua perisai juga melambangkan sebagai angka 2. Sementara Circle sendiri membentuk angka 0 yang berjumlah dua jika dipecah. Simbol ini memliki makna bahwa Flash dibentuk pada tahun genap 2008.

Terdapat 5 perisai berwarna kuning yang ada dalam kumparan perisai hitam, ini menunjukkan pada tanggal 5 mereka tampil pertama kali. Pemilihan warna kuning emas menunjukkan warna matahari sebagai pembangkit energi dan gairah pemainnya. Di samping itu, filosofi warna kuning sebagai bukti simbol persahabatan. Seperti Flash All Stars juga tidak pernah membeda-bedakan orang dari berbagai kalangan dalam bersahabat, asalkan mau tekun berlatih teknik cheers dan belajar untuk menghargai pemain senior maupun junior.

Warna merah (darah) artinya sesuai dengan karakter Flash yang kuat, berani percaya diri dan penuh gairah. Secara psikologis, jika menatap warna merah maka bisa membuat setiap orang yang melihat Flash bisa meningkatkan detak jantung lebih cepat. Sesuai dengan permainan Flash yang ekstrem, dengan aturan napas yang lebih cepat dan komposisi permainan yang taktis.

Untuk warna hitam digunakan untuk mengekspresikan sifat elegan dan feminitas. Sifat warna ini diturunkan dari anggota team campuran dari perempuan dan laki-laki. Walaupun memiliki banyak perbedaan namun tetap satu. Secara psikologis, warna hitam menunjukkan sesuatu yang abadi dan tenang, Flash juga mempunyai sifat tampil tenang dan juga diharapkan bisa selalu ada untuk seterusnya.

Untuk meningkatkan terus kejayaan, Flash All Stars melakukana regenerasi. Maka, pada tanggal 23 Mei 2011 silam, mereka mengadakan open reqruitment. Tentu saja, hal ini berguna untuk generasi penerus Flash seterusnya.

Open Reqruitment | Dok: Penulis

Audisi berlangsung kurang lebih 4 jam, mulai dari pukul 10.00-14.00 dan bertempat di Taman Budaya Yogyakarta. Kriteria penyeleksian menurut panitia seperti dance, jumps, thumblings, dan stunting. Setiap peserta maju satu per satu, Serby mempraktekkan setiap gerakan dan memberikan waktu bagi para peserta untuk melatih diri sebelum unjuk diri.

“Sangat membantu sekali kalau ada yang mengadakan open reqruitment cheerleading seperti Flash. Jadi seseorang mampu dan tahu tempat yang tepat untuk mengembangkan bakatnya menjadi cheerleaders”, kata Gilver sebagai masyarakat awam yang melihat kegiatan audisi Flash.
Peserta yang terdaftar pertama sebanyak 23 peserta, kemudian menjadi 16 peserta saat interview. Dan menjadi semakin berkurang saat seleksi menjadi 15 peserta. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat anggota Flash untuk terus mencari generasi yang berkualitas demi kemajuan Flash All Stars sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s