Aktifitas Menjadi Rutinitas

Clara Soca Atisomya 0 8 0 9 0 3 5 0 7

Kepadatan lalu lintas di kota disebabkan karena bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Namun tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak penduduk yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari. Seperti yang terdapat di kota Yogya, setahun belakangan ini mulai bertambah banyak pengguna sepeda. Baik dari kalangan anak sekolah, kuliahan hingga pekerja. Didukung dengan kondisi geografis kota Yogya yang relatif datar sehingga pilihan untuk bersepeda sudah tepat. Berbagai jenis sepeda yang digunakan, dari si kecil bandel BMX sampai si jangkung sepeda tinggi, juga tak ketinggalan fixie yang sedang tren saat ini. Selain itu ada juga sepeda lowryder, sepeda tua seperti jengki, MTB, dunhill dan lain sebagainya. Muncul beberapa komunitas dari kalangan pengguna sepeda, sekedar dari kesamaan hobi sampai pada inisiatif untuk mengadakan kampanye penggunaan sepeda. Berbagai macam acara diselenggarakan, namun nyatanya terbentuknya komunitas-komunitas yang ada malah menjadi pengkotakan. Beberapa komentar yang terlontar mengomentari komunitas yang satu dengan yang lain. Jalanan Kota Yogya mempertemukan anak-anak muda tanpa terkotak-kotak oleh kelompok atau komunitas untuk menciptakan kegiatan bersepeda bersama termasuk Jogja Last Friday Ride (JLFR), yang sesuai dengan namanya digelar pada hari Jumat terakhir setiap bulannya, tentu saja di Kota Yogya. “Sebenarnya bukan komunitas yang dibutuhkan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat melakukan suatu aktifitas dan disitu kita bisa berkumpul serta dapat saling bertukar pikiran satu dengan lainnya.” Kata Thomas Widiyanto, koordinator JLFR. Jauh sebelum diadakan JLFR pada awal tahun 2010, ada banyak kegiatan bersepeda yang dilakukan, umumnya untuk memperingati peristiwa-peristiwa khusus. Misalnya saja konvoi sepeda yang bertema “Dengan Sepeda Kami Bersumpah” pada tanggal 25 Oktober 2009, yaitu untuk memperingati hari Sumpah Pemuda; konvoi “Ride Jogja” pada tanggal 6 Desember 2009, bersamaan dengan konvoi sepeda yang diselenggarakan di banyak kota di dunia; dan konvoi sepeda peringatan Hari Bumi pada tanggal 22 April 2010, yang diorganisir oleh sepeda tinggi Yogyakarta. Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti mampu menarik massa pesepeda yang cukup banyak. Setiap kegiatan mampu mengumpulkan lebih dari 200 pesepeda.  Karena kegiatan-kegiatan ini dirasa tidak menentu dari sisi waktu, tercetuslah sebuah ide untuk melakukan kegiatan pawai sepeda di dalam kota yang rutin diselenggarakan. Pembicaraan demi pembicaraan pun terjadi setelah mengikuti konvoi sepeda Hari Bumi, menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa perlu untuk mengadakan aktivitas bersepeda bersama setiap bulan sekali, setidaknya dalam satu nama kegiatan. Yang kemudian menjadi alasan untuk memilih hari Jumat terakhir setiap bulannya, yaitu dengan melihat dari beberapa referensi diketahui bahwa Jumat terakhir setiap bulannya adalah hari yang cukup istimewa bagi gerakan sepeda di dunia. Di banyak kota di dunia pada hari tersebut sering ada peristiwa sepeda yang disebut Critical Mass, sebuah konvoi pesepeda, sering bersifat protes, untuk menunjukkan besarnya populasi pesepeda di satu kota. Kadang dalam protes ini disertai penutupan jalan oleh pesepeda, dan bahkan bentrokan dengan petugas kepolisian sering kali tidak terelakan seperti yang terjadi di New York pada tahun 2004. Namun demikian, JLFR sendiri menempatkan diri sebagai sebuah pertemuan dan perayaan saja. Sejak awal, JLFR tidak menuntut kuantitas; dengan lima atau sepuluh pesepeda pun tidak menutup kemungkinan untuk tetap melaksanakan kegiatan ini. JLFR bukan merupakan kegiatan yang mengampanyekan isu pemanasan global. Bila sampai saat ini begitu banyak orang yang rela ikut dalam kegiatan ini, memang begitulah faktanya bahwa jumlah pesepeda di kota ini tidaklah sedikit. “Siapa pun boleh ikut dalam kegiatan ini, mereka secara suka rela mengikutinya dan sama sekali tidak ada paksaan sedikit pun.” kata Thomas. Menurut Darmawan Aji sebagai salah satu peserta JLFR, “Kehendak dan kesadaran tanggung jawab pribadi yang membawa kita untuk ikut kegiatan ini, seperti halnya dengan pilihan kita untuk bersepeda.” Dengan demikian JLFR menjadi pertemuan individu-individu yang berkehendak untuk bersepeda bersama. JLFR  sudah memasuki seri yang ke 12. Dalam perjalannya mulai JLFR pertama sampai ke 11 mulai muncul isu yang menarik. Masalah ketertiban, kedisiplinan di jalan raya dan tata ruang kota banyak menjadi sorotan para peserta JLFR. Diskusi yang paling menarik adalah soal ketertiban dan kedisiplinan terhadap kondisi jalanan Yogya dan perundang-undangan yang tidak sepenuhnya bisa mengatur pengguna jalan raya. Bukan hanya bersenang-senang, dalam JLFR seluruh peserta menunjukan bahwa individu-individu mempunyai tanggung jawab terhadap sekitar, mempunyai mekanisme kesadaran berbagi secara spontan, tanpa perlu aturan, perintah dan pimpinan. Mereka memiliki kebebasan namun tetap menjunjung kesadaran untuk tetap bertanggungjawab. Memanfaatkan situs jejaring sosial, JLFR memberikan informasi rencana pelaksanaan dan rutenya. Rute dibuat agar pesepeda yang ingin bergabung tidak harus mengikuti dari lokasi start, mereka bisa bergabung di jalan-jalan yang dilalui. Di lokasi finish, sering diadakan permainan-permainan menggunakan sepeda yang menarik, konyol dan menghibur. Beberapa kali setelah selesai bersepedanya, diadakan lomba yang dilakukan dengan sepeda; misalnya track stand, bunny hop, dan lomba-lomba lain yang lumayan konyol. Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi pesepeda maupun publik yang kebetulan ada di lokasi. Hadiah-hadiah kebanyakan berupa kaos yang merupakan sumbangan sukarela dari beberapa pihak. JLFR adalah sebuah pesta perayaan bagi siapapun yang suka bersepeda.
JLFR Selama Setahun
Penyelenggara JLFR sangat yakin acara ini akan sukses karena kegiatan-kegiatan serupa yang telah dilakukan. “Tidak menjadi masalah siapa yang menjadi penyelenggara acara, yang lain pasti hadir meramaikan.” Jelas Bintang Hanggono. Oleh karena itu, JLFR yang pertama pun sukses terlaksana meski sebelum kumpul hujan deras memang menguyur Kota Jogja pada Jumat sore, tanggal 28 Mei 2010. Dari yang pertama ini sampai yang kesebelas bulan lalu hujan memang selalu menjadi kekuatiran akan menggangu jalannya JLFR. Beberapa kali JLFR berlangsung dalam rintik hujan, bahkan sekali dalam hujan deras hingga memecah rombongan. Sukses diperoleh bukan hanya karena terus berlangsung meski sering dihantui hujan. Jika dilihat dari segi jumlah peserta, setiap bulannya mengalami peningkatan. Bila pada JLFR yang pertama hanya berkisar 100 orang yang terdiri dari mereka yang sudah saling kenal karena pertemuan di kegiatan-kegiatan sepedaan sebelumnya, namun peningkatan begitu dirasakan dan sangat terlihat pada tiga JLFR terakhir. “Jaman dulu ga kebayang sepedaan bareng se-Yogya, mentok 1 sekolahan 3 angkatan, sekarang? bikin merinding hrrr…” kata Stefanus Jallu P. Sesuai namanya, JLFR membatasi rute bersepedanya hanya sebatas Kota Yogya dan sekitarnya. Sampai JLFR #11 segala penjuru kota sudah dijelajahi, meski hanya melewati jalan-jalan utama. Rute JLFR #1 bisa dikatakan sebagai rute yang paling jauh karena melewati daerah Seturan sampai jalan lingkar utara (Condongcatur–Kentungan). Pada pelaksanaan yang pertama, rute tersebut menjadi semacam uji coba, dan hasilnya memang dirasa terlalu jauh. Meski rombongan tidak lebih dari 100 orang, karena kecepatan yang berbeda jadi terpecah-pecah. Kumpul ulang dilakukan di Jl. Kaliurang untuk bersama-sama lagi selesai sampai di Titik Nol Kilometer, melewati Jl. Mangkubumi dan Jl. Malioboro. Hampir semua rute JLFR melewati kedua jalan tersebut. Kedua jalan itu, terutama Malioboro, mendapat perlakuan khusus dari penggerak JLFR. Memang JLFR mampu memberi publik satu tontonan yang khas Yogyakarta. Publik pada dasarnya sudah sangat terbiasa dengan pawai-pawai sepeda semacam ini. Sejauh apapun rutenya, melewati Malioboro menjadi semacam puncak kenikmatan bagi pesepeda. “Rasanya ada kebanggaan bersama ketika bergerombol memenuhi Jalan Malioboro dari ujung utara sampai ujung Selatan sampai pojok Gedung Agung.” Ungkap Lilik Haryanto. JLFR #8 (Desember) dan #9 (Januari) memberi pesepeda kesempatan untuk berekspresi bebas dan menyajikan tontonan bagi publik. ”Pernah sengaja sebelum masuk Jl. Malioboro, rombongan berhenti di Jl. Mangkubumi untuk berkumpul kembali, memadatkan kerumunan, dan setelah itu bergerak bersama masuk Jl. Malioboro, dan hasilnya luar biasa. Malioboro dari ujung utara hingga selatan padat dengan sepeda, tidak tertembus kendaraan lain sampai hampir ujung selatan di depan Pasar Beringharjo.” Cerita Thomas Widiyanto. Sejauh ini tidak pernah terdengar ada keributan akibat kegiatan ini. Pemandangan aktivitas kelompok-kelompok atau individu-individu bersepeda yang mempertontonkan aksi-aksi mereka di jalanan adalah kelaziman di kota Yogya.  Pada dasarnya para pesepeda adalah jiwa-jiwa yang bersahabat. Bila suatu persaudaraan di antara begitu banyak peserta memang telah terbangun, itu adalah fakta yang sulit untuk diingkari.
Bersepeda adalah Keakraban
JLFR memang menawarkan keakraban kepada sesama pesepeda.  Bila pada awal-awal JLFR masih didominasi pesepeda yang sudah lama kenal, saat ini JLFR telah mampu mempertemukan lebih banyak pesepeda yang untuk pertama kali bertemu dalam kegiatan ini. “Mereka selalu tampak ceria dalam kelompok-kelompok kecil di lokasi start dan sepanjang jalan yang dilalui.” Kata Nauval Abduljabar. Selain kemeriahan pesta para pesepeda, ada satu momen di mana JLFR membangun kepedulian sosial bagi warga korban bencana. Meletusnya Gunung Merapi pada 25 Oktober 2010 lalu telah menjadi bencana bagi ribuan warga yang meninggali lereng-lerengnya, memaksa mereka harus mengungsi ke wilayah lebih aman. Kejadian ini menggugah ide untuk menjadikan JLFR #6, tepatnya pada tanggal 29 Oktober 2010, ajang untuk menggalang dana bantuan bagi pengungsi Merapi. Kotak kardus dibuat dan diputar untuk mendapatkan sumbangan suka rela di lokasi start dan finish. Dalam Penggalangan dana ini terkumpul uang sejumlah Rp 739.700,00. Kemudian pada 31 Oktober 2010, penyaluran bantuan dilakukan bersama-sama. Sebagai sebuah kegiatan yang melibatkan banyak individu dengan pikiran yang berbeda-beda, JLFR tetap tidaklah lepas dari kontroversi. Apa yang terjadi selama berjalannya konvoi sepeda yang memicu diskusi atau perdebatan, baik di halaman Facebook (FB) maupun dalam obrolan-obrolan saat berkumpul. Misalnya, pada 28 Februari 2011 sebuah diskusi terpicu oleh satu kritikan yang ditulis oleh salah satu peserta pada “dinding” halaman FB  JLFR. Ia mengatakan bahwa JLFR terlalu lambat bergerak, menyebabkan kemacetan dan tidak mengerti cara berlalu lintas yang benar. Beberapa jawaban mengatakan bahwa kegiatan ini bukan balapan jadi kalau lambat sah-sah saja.  Kalau pun memenuhi jalan, itu justru menjadi bukti kesuksesan, bahwa banyak pesepeda mau bergabung untuk berbagi kesenangan dalam perayaan ini. JLFR tidak pernah memaksa orang untuk ikut, sampai JLFR #11 (Maret) jumlah peserta luar biasa banyaknya. Hal tersebut merupakan jasa dari tiap-tiap individu karena suka rela untuk bergabung.  Bila tampak tidak tertib di jalan maka itu pun resiko yang logis terjadi. Para penggagas JLFR yakin bahwa individu-individu pesepeda bila mereka sedang mengayuh sepedanya sendiri pasti mereka akan lebih tertib. JLFR tidak berharap peserta jadi tergantung dengan kegiatan ini. Kesenangan bersepeda bisa didapat saat sendiri atau pun bersama-sama. “Dan ketika kamu setiap harinya bersepeda, maka tiap hari adalah JLFR bagimu.” Ucap Thomas Widiyanto mengakhiri perbincangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s