Anak Muda Berkreasi dengan Gamelan

Caecilia Wijayanti/ 080903481

Alat musik gamelan yang mulai ditinggalkan oleh kaum muda saat ini, dimodifikasi sedemikian rupa oleh kelompok musik ini sehingga menghasilkan kombinasi musik modern yang bernuansa Jawa. Kombinasi ini dimainkan oleh kelompok musik Weleh-Weleh.

Lagu berbahasa Jawa dinyanyikan dengan ceria dan apik oleh kelompok musik alternatif Weleh-Weleh dengan iringan musik yang ceria. Gesekan biola, tiupan seruling dan harmonika, petikan gitar dan bass serta cakcuk, dipadukan dengan pukulan saron dan kendang menghidupkan suasana novena di siang hari yang cerah. Weleh Weleh mengkombinasikan alat musik tradisional dengan alat musik modern seperti gejog lesung, kendang, saron,cak cuk, seruling bambu, biola, flute, keyboard, bass, dan gitar. Paduan alat musik ini mengiringi nyanyian lagu-lagu rohani. Semua dinyanyikan dan dimainkan oleh anak muda katolik paroki Pugeran.

Weleh Weleh adalah kelompok musik alternatif yang membawakan lagu-lagu rohani bernuansa jawa. Weleh-Weleh adalah salah satu bentuk karya orang muda katolik Gereja Salib Suci Gunung Sempu, Kasihan Bantul. “Kami adalah kaum muda katolik yang berkumpul untuk bermusik bersama untuk melayani Tuhan serta melestarikan budaya”,ungkap Tika koordinator Weleh Weleh.

Weleh Weleh awalnya dibentuk atas ide Romo Paroki Pugeran, Romo Warsito. Weleh Weleh merupakan gabungan antara dua kelompok mudika gereja stasi yaitu mudika stasi Padokan dan mudika St. Scharbel Machluf stasi Gunung Sempu. Jarak antara dua stasi ini tidak terlalu jauh,sehingga latihan mudah dilakukan.

Arransement musik dibuat oleh Visnu Satyagraha, mudika gereja Gunung Sempu yang sudah terbiasa mencipta dan mengubah lagu dan musik. Latihan dilakukan bersama-sama, tanpa pelatih yang ahli. “Kami berkumpul dan berlatih bersama, beberapa dari kami memang sudah mempunyai kemampuan dasar dalam hal alat musik dan lagu sehingga kami terbiasa berlatih sendiri,” kata Sisil pengurus Weleh Weleh.

Weleh-Weleh beberapa kali pentas dan diundang di beberapa tempat untuk mengisi. Pesta Nama Gereja Salib Suci Gunung Sempu merupakan awal bagi komunitas ini untuk unjuk gigi. Selanjutnya undangan berdatangan untuk mengisi acara seperto acara Culture Festival 2010 Universitas Sanata Dharma, pengisi acara misa Kaum Muda Katolik sekevikepan DIY di gereja Kotabaru, pengisi novena di Solo dan sendang Sriningsih,Klaten.

Berkumpul dan bermusik bersama merupakan salah satu kegiatan mudika St. Scharbel Machluf. “Kesibukan kuliah, sekolah, pekerjaan masing-masing individu terkadang membuat kami sulit untuk berkumpul, untungnya teman-teman masih sadar untuk saling berkumpul. Disini kami bukan hanya sekedar komunitas namun persaudaraan telah terbentuk”, ungkap Tika yang juga ketua bidang minat dan bakat St. Scharbel Machluf.

Foto: dok Weleh Weleh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s