Jurnalistik Berbasiskan Internet

Efrida Simamora (03407)

Media massa merupakan faktor penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi. Setiap orang membutuhkan informasi baik dalam negeri maupun mancanegara. Kini berita menjadi suatu kebutuhan yang juga mesti dipenuhi. Oleh karena itu, semakin banyak penerbitan media massa mulai dari media cetak (seperti surat kabar, tabloid, dan majalah dengan berbagai macam segmen) hingga media elektronik (radio dan televisi). Ketika perkembangan kehidupan manusia berkembang semakin kompleks dimana interaksi antar manusia mulai dipisahkan oleh ruang dan waktu, maka muncul lah jurnalisme online. Berita diakses secara online dan dapat dinikmati oleh masyarakat kapan dan dimana saja mereka berada. Dengan adanya komputer, laptop, atau mobile phone berjaring internet, siapa saja bisa mengakses berita di dunia online.

Melihat sejarahnya, situs berita online muncul pada pertengahan tahun 1990-an bersama dengan popularitas World Wide Web, akan tetapi asal-usul berita online sendiri ditelusuri pada awal 1980-an. Chichago Tribune merupakan surat kabar pertama di Amerika Online yang meluncurkan Chicago Online (http://www.chicagotribune.com) pada bulan Mei tahun 1992. Segera setelah itu, pada bulan Mei tahun 1993, San Jose Mercury News menjadi surat kabar pertama yang menyajikan konten-konten online teks secara virtual (Salwen et al, 2005:4). Seiring dengan perkembangannya, Untuk Indonesia sendiri media online muncul sekitar pada tahun 1996-an dimana media online sebagai fotokopi dari koran media cetak seperti Republika dan Kompas.

Media berjaring internet atau media online termasuk kedalam media baru (new media). Ciri- ciri yang membedakan dengan media lainnya antara lain menggunakan jaringan internet, komunikasi timbal- balik (inter-activity), penerima dapat memilih berita yang diinginkan, menjawab kembali, menukar informasi dan dihubungkan dengan penerima lainnya secara langsung, kelenturan atau fleksibilitas bentuk, isi, dan penggunaan (McQuail, 1987:16). Penyajian isi berita terdiri dari teleteks dan videoteks. Teleteks terdiri dari teks atau naskah berita, sedangkan videoteks berperan menambah dan melengkapi informasi tekstual. Media online mempunyai kelebihan dari pada media lainnya, yaitu kecepatan dalam menyampaikan informasi.

Komputer Sebagai Alat Bantu Jurnalisme Online
Komputer memiliki peranan yang sangat penting dalam jurnalistik online. Dengan adanya komputer sebagai alat bantu, jurnalis online dapat mengolah teks, mengupload gambar dan video, menyajikan layout atau tampilan yang menarik pembaca, dan menyebarkan informasi. Apalagi komputer kini mudah ditemui di berbagai tempat dan mudah diperoleh. Harganya pun relatif terjangkau jika dibandingkan dengan kemampuan yang dikandungnya.

Semakin pesatnya perkembangan terknologi komputer saat ini yang menawarkan berbagai macam fasilitas, membuat jurnalistik online terbantu. Fasilitas itu antara lain fasilitas pengolah kata seperti Microsoft Word, Word Perfect dan pengolah kata versi Star Office atau Open Office yang berbasis Linux (Darmadi et al, 2006:99). Pengolah kata juga dilengkapi fasilitas desktop publishing yang tersedia antara lain bentuk dan jenis huruf, pengaturan tata warna, penyisipan dan olah gambar, format halaman, misalnya dari segi pengaturan kolom. Dengan adanya fasilitas desktop publishing membuat penyajian informasi menjadi lebih komunikatif dan menarik. Selain itu juga tersedia kemampuan untuk pembuatan tabel dan grafik. Kemudahan yang lain adalah jurnalis yang sedang ada di lapangan dapat langsung mengirimkan teks berita dan foto melalui mobile phone berjaring internet ke komputer editor yang berada di kantor.

Oleh karena itu, komputer merupakan alat bantu penting bagi jurnalisme online. Tidak hanya membutuhkan kecepatan dalam menyebarkan informasi, tetapi juga menyajikan tampilan yang menarik dalam portal beritanya kepada para pembaca.

Internet
Perkembangan internet ternyata sangat cepat dan kini sudah menjadi salah satu bagian dari rutinitas masyarakat didalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari website jejaring sosial (social networking) seperti Facebook, Twitter, Myspace, Friendster, dan sebagainya, hingga portal-portal berita maupun non berita, dinikmati oleh berjuta-juta manusia dan menjadi sesuatu hal yang penting untuk dikonsumsi. Internet memberikan segala kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi dan berjejaring sosial dengan yang lain.

Bagi jurnalis online sendiri, internet begitu memudahkan dalam pekerjaan mereka. Internet dapat digunakan untuk mendistribusikan informasi yang mereka dapat di lapangan. Untuk mewawancarai narasumber dapat dilakukan melalui internet, seperti layanan chatting atau email. Internet juga menyediakan fasilitas video conference untuk wawancara jarak jauh. Selain itu, jurnalis dapat memperoleh sumber berita di seluruh pelosok baik dalam negeri maupun luar negeri tanpa mengeluarkan biaya yang besar dan membuang waktu. Akan tetapi perlu diperhatikan bagi seorang jurnalis dalam mengakses informasi yang didapat di internet. perlu adanya penyaringan, memilah, dan cross check (meninjau kembali) terhadap suatu informasi. Hal ini perlu diperlukan agar jurnalis tetap menyampaikan suatu berita yang akurat dan faktual.

Dengan adanya teknologi berjaring internet, portal berita online memperoleh kebebasan lebih besar dalam menyampaikan peristiwa atau informasi kepada masyarakat. Artinya mereka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dapat kapan saja menyampaikan peristiwa melalui internet tanpa terbatas. Masyarakat pun memiliki kebebasan dalam menggunakan media online menurut waktu dan tempat yang sesuai dengan keinginannya.

Jurnalis Online dan Tantangannya
Para jurnalis yang bekerja untuk menyajikan berita-berita pada situs-situs internet sering disebut dengan istilah cyberjournal (Darmadi et al, 2006:114). Jurnalis cyber atau online bekerja mulai dari mengumpulkan berita, mengupload gambar, video dan teks berita, hingga terampil dalam mengoperasikan teknologi internet dengan baik.

Hal yang dituntut dalam jurnalisme online adalah kecepatan dalam menyampaikan informasi. Hal yang menjadi penghambat adalah ketika jurnalis dituntut dalam hal kecepatan, jurnalis ‘tersandung’ dengan akurasi. Timbulnya berbagai masalah lebih cenderung bersumber dari jurnalis sendiri yang terlalu cepat bergerak dan terlalu percaya pada sumber-sumber yang kurang kuat pada informasi yang didapat. Tidak hanya itu, munculnya jurnalis yang berperilaku ‘gelap’ dalam membuat berita, seperti copy-tindih dan copy-paste. Copy-tindih adalah kerja saling tukar liputan atau barter liputan antara satu jurnalis dengan jurnalis lainnya (Upi Asmaradhana, 2008:21). Kerjasama antar jurnalis ini biasanya dilakukan terbuka, bahkan dilakukan di tempat umum dan biasanya dianggap lumrah. Hal ini biasa dilakukan karena tidak semua wartawan mampu meliput semua berita dalam waktu bersamaan sementara di lain sisi momen dari peristiwa tersebut menarik untuk diberitakan. Sehingga terjadilah penukaran liputan. Begitu pula dengan sistem copy-paste. Mereka biasanya mengcopy laporan peristiwa yang sudah ada tanpa izin tertulis dari penulis atau media yang bersangkutan (Upi Asmaradhana, 2008:22). Hal ini biasanya dilakukan para jurnalis yang bergelut dalam dunia internet. Cara yang mereka lakukan adalah mereka membuka situs media berita lain tentang sebuah laporan berita yang diinginkan, kemudian mengcopy dan selanjutnya menempelkan (paste) pada halaman yang baru, seolah- olah karya yang dibuat berasal dari hasil karyanya. Kemudian karya yang dimuat nanti, ditulis atas nama si jurnalis yang telah melakukan copy-paste. Praktek ini dilakukan karena biasanya sang jurnalis malas melakukan verifikasi dan hanya mau memperoleh hasil dalam waktu yang cukup singkat.

Tidak hanya dalam isi atau tekstual dalam beritanya, mungkin juga terjadi dalam hal foto yang ditampilkan dalam media online tersebut. contohnya adalah foto crop. Istilah ini berasal dari kata cropping. Teknik ini dilakukan dengan cara menambah warna, ukuran, dan pencahayaan terhadap sebuah hasil karya foto, yang dengan maksud tertentu untuk terlihat lebih indah dari warna aslinya (Upi Asmaradhana, 2008:20). Sebuah karya foto yang dihasilkan seorang fotografer hendaklah dihormati seperti tidak mengaku-aku hasil jepretan sendiri, padahal hasil jepretan orang lain. Hal ini jadi terkesan mengaburkan fakta yang sebenarnya.

Dunia maya dengan segala kemudahannya mengakses suatu situs dan tanpa aturan yang mengikat, begitu rentan terhadap tindakan tidak terpuji. Oleh karena itu, diperlukan sebuah hati nurani seorang jurnalis untuk menghargai dan menghormati karya orang lain, kesadaran diri dan tetap memegang kode etik jurnalistik dalam membuat berita. menurut para ahli, dalam buku Jurnalisme Dasar karya Luwi Ishwara, Kunci keberhasilan pada jurnalisme online adalah sama halnya dengan berita-berita tradisional, yaitu akurasi, penulisan yang baik dan dorongan untuk berinovasi (Ishwara, 2011:75).

Media Online
Kini berita atau informasi dari berbagai penjuru dunia pun dapat diakses secara cepat dan mudah melalui internet. Berbagai media cetak dan televisi sekarang ini mempunyai portal berita. Media cetak bahkan menyajikan e-paper yaitu isi berita yang sama persis dengan surat kabar seperti surat kabar harian Kompas (http://kompas.com), koran Tribun (http://tribunnews.com) dan lainnya. Media televisi juga mempunyai portal berita yang berisi teks maupun video yang sudah diputar ulang di televisi seperti Metro TV (http://metrotvnews.com). Ada pula portal berita yang berdiri sendiri tanpa mempunyai media cetak ataupun televisi, seperti Detik.com.

Berita yang dapat kita akses dan lihat melalui portal-portal berita tersebut mempunyai beberapa ciri-ciri yang meliputi yaitu content, functionality, navigation, audio or video quality, dan interactivity. Dilihat dari content atau isi, begitu banyak yang ditampilkan. Dalam Kompas.com contohnya. Content yang disajikan berupa nasional, regional, internasional, megapolitan, bisnis dan keuangan, olahraga, sains, travel, oase, edukasi, English, grafis, video, surat pembaca, dan lainnya. Uraian suatu berita pun sudah mencukupi 5W (what,where,who,why, when) + 1H (how). Bahasa yang digunakan mudah dicerna dan tidak panjang lebar. Berita yang disajikan biasanya bersifat langsung. Terkecuali dalam e-paper, akan berbeda lagi dengan berita online yang disajikan. E-paper sama isinya dengan yang ada di koran. Dilihat dari functionality, portal berita memberikan manfaat bagi pengguna untuk mendapatkan informasi dengan kemudahan akses dan biaya yang murah.

Dilihat dari navigation, pengguna dapat mudah menemukan content karena portal berita sudah mengkotak-kotakkan jenis berita sesuai temanya. Hal ini memudahkan orang untuk melakukan pemilihan berita yang mereka inginkan. Dilihat dari audio or video quality, ada portal berita dari cetak maupun yang berdiri sendiri seperti Detik.com, yang menyediakan audio atau video berita. Akan tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Berbeda pada portal berita televisi yang banyak menampilkan audio dan video yaitu rekaman langsung seorang anchor (pembaca berita) dan rekaman peristiwa. Dilihat dari interactivity, adanya komunikasi dua arah antara penerbit portal berita dan penikmat berita. Hampir semua portal berita melibatkan penikmat berita seperti adanya forum surat pembaca untuk menyampaikan pesan dari suatu berita, maupun kritik dan saran.


Munculnya Jurnalisme Warga

Kebebasan memperoleh informasi melalui portal berita yang tersajikan, berlaku pula pada warga untuk menyampaikan informasi, menyatakan pendapat atau kebebasan berekspresi di dalam dunia maya. Apalagi dengan adanya internet yang memudahkan warga mengakses dan berbiaya murah tersebut. Itulah internet yang telah memberikan ruang dan waktu sangat luas kepada masyarakat untuk berkomunikasi dan saling bertukar informasi baik itu melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya maupun blog. Bermunculannya informasi dari warga bagai jamur dan tak terkontrol. Siapa pun itu bisa leluasa untuk menyampaikan suatu informasi apa saja. Penyampaian informasi dengan tata bahasa dan kaidah jurnalistik seperti tidak terlalu diperlukan. Perlu diketahui bahwa jurnalisme warga biasanya tidak mempunyai latar belakang pendidikan jurnalistik. Dapat kita lihat, hal yang biasa dibahas oleh warga dalam dunia maya seperti mengkritik kebijakan publik, mengkritik pejabat pemerintah, berdiskusi terbuka, bahkan berdialog sengit mengenai suatu isu yang mereka bahas dalam suatu blog. Ada pula warga yang menyampaikan informasi langsung dengan apa yang dia lihat di tempat kejadian. Kemudian menyebarkan informasi tersebut ke dunia maya melalui akun pribadinya, bahkan tidak segan-segan menyampaikan di jejaring sosialnya secara periodik, seperti kasus Roy Suryo dengan kapten Vino dari maskapai Lion Air dan penumpang pesawat lain, Ernest Prakasa melalui jejaring sosial, Twitter.

Munculnya jurnalisme warga perlu diapresiasikan dan ditanggapi dengan positif. Namun untuk membuat suatu berita haruslah akurat. Jurnalisme warga tidak hanya sekedar menulis, akan tetapi perlu melihat beberapa hal-hal penting dalam menyampaikan suatu informasi. Diperlukan pula bimbingan para jurnalis maupun adanya seminar ataupun pendidikan mengenai jurnalistik kepada jurnalisme warga yang siap untuk dididik. Oleh karean itu, jurnalisme warga dapat menghasilkan berita akurat, faktual, dan objektif.

Referensi:
– Asmaradhana, Upi. 2008. Pengkhianatan Jurnalis. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi.
– Darmadi, Z. Bambang, Y.B. Margantoro & B.S. Dharma Oetomo. 2006. Mahir Berjunalistik. Yogyakarta: Penerbit Amara Books.
– Ishwara, Luwi. 2011. Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Kompas.
– McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Penerbit Erlangga.
– Salwen, Michael B., Bruce Garrison & Paul D. Driscoll. 2005. Online News and the Public. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s