Orangutan Hari Ini

Gabriela Stephani / 07 09 03220

Rosa, salah satu pengurus Yayasan Konservasi Alam Yokyakarta (YKAY) mewanti-wanti agar tidak mendekati kandang Gogon ketika sedang datang bulan. Karena Orangutan jantan bisa mencium bau darah menstruasi dan akan terangsang dengan baunya. Alhasil menghindari kandang Gogon adalah keputusan yang benar.

Gogon adalah salah satu dari tiga Orangutan yang dititipkan di YKAY, yang merupakan hasil sitaan atau kepemilikan  illegal. Ketiganya disita dari tempat berbeda. Antara lain, rumah dinas seorang pejabat di Magelang, sebuah asrama mahasiswa dan satu lagi berasal dari sitaan di daerah Purworejo. YKAY merupakan yayasan di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang menjadi tempat penitipan dan rehabilitasi bagi Orangutan sebelum nantinya dilepas ke habitatnya. Rehabilitasi ini menjadi penting karena Orangutan yang sebelumnya dipelihara manusia menjadi ketergantungan dan jika tidak melalui tahap rehabilitasi ditakutkan Orangutan tidak dapat mencari makan sendiri di habitat aslinya. Semakin lama Orangutan  dipelihara manusia, maka rehabilitasi juga semakin lama untuk memulihkan atau meliarkan perilaku Orangutan dan membuatnya tidak tergantung kepada manusia.

Istilah “orangutan” diambil dari bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Orangutan mencakup dua spesies, yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (borneo) (Pongo pygmaeus). Yang unik adalah orangutan memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, orangutan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4%

Tapi bukan karena alasan kemiripan DNA ini yang akhirnya mengakibatkan turunnya populasi Orangutan. Populasi orangutan yang ada di Borneo, Kalimantan, diperkirakan sekitar 55.000 ekor. Namun, data pada tahun 2004 menyebutkan bahwa, populasi orangutan di Kalimantan Barat berjumlah 2.000 ekor, namun turun drastis, yang sekarang hanya tinggal 1.000 ekor. Sementara di Sumatra, pada tahun 1994, populasinya mencapai lebih dari 12.000 ekor, namun pada tahun 2003, populasinya menurun menjadi 7.300 ekor, dan pada tahun 2008 populasi orangutan di alam liar hanya tinggal 6.500 ekor saja.

Perdagangan Ilegal Bayi Orangutan

Siklus hidup orangutan mirip dengan manusia, orangutan hanya melahirkan seekor bayi dalam kurun waktu 6-7 tahun. Dimasa bayinya, anak orangutan akan menempel dengan induknya. Orang utan juga terkenal memiliki ikatan yang kuat dengan saudaranya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan seekor bayi orangutan, induk dan saudaranya yang beranjak dewasa harus dibunuh. Bayi Orangutan menjadi minat utama karena sosoknya yang masih lucu.

Proses pengiriman orangutan juga terhitung tidak manusiawi. Sekali mengirim orangutan ke pulau Jawa, pemburu akan membawa enam ekor orangutan dan yang bertahan hidup biasanya hanya empat ekor saja, sisanya mati diperjalanan. Jadi bisa dibayangkan, untuk mendapatkan dua ekor bayi orangutan, ada sepuluh ekor orangutan yang mati sia-sia.

Perdagangan ilegal bayi orangutan menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi Orangutan dan sekaligus cara terkejam untuk mengambil Orangutan dari habitatnya. Orangutan merupakan satwa yang dilindungi di Sumatra dengan peraturan dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 yang sangat tegas menyebutkan bahwa, setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagian-bagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-Undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah. Namun, pada kenyataannya para pemburu masih sering memburu mereka, kebanyakan untuk perdagangan hewan. WWF mendata bahwa telah terjadi pengimporan orangutan ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi antara tahun 1985 dan 1990. Berdasarkan laporan Traffic Asia Tenggara yang termuat dalam buku tersebut, dalam kurun waktu 1994-2003 berdasarkan informasi dari 35 pasar hewan di 22 kota di Jawa dan Bali, ditemukan 559 orangutan dan owa yang banyak diperdagangkan secara ilegal di pasar burung. Kata Rosa, salah satu pengurus di YKAY, “Harga bayi orangutan jika diperjualbelikan mencapai angka 5 juta rupiah”. Maka tidak heran, jika sekarang marak terjadi perdagangan ilegal terhadap bayi orangutan.

Forum Anti Perdagangan Satwa Ilegal (FAPSI) menyebutkan bahwa menurut data yang terekam di Yayasan Palung, LSM yang bergerak di bidang konservasi orangutan dan lingkungan, dalam tiga tahun terakhir sudah 30 orangutan yang berhasil diselamatkan di Ketapang.
Sebagian besar orangutan didapat dengan cara membeli dari masyarakat yang tinggal di sekitar habitat orangutan. Perlu dilakukan penyadaran terhadap masyarakat bahwa satwa ilegal atau liar tidak dapat dipelihara.

Menurut Sartono, salah satu pengurus Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BSKDA), kebanyakan motif dari pemeliharaan orangutan adalah karena kesenangan. “Orang kan pasti merasa bangga to kalo memiliki sesuatu yang langka?”, ungkap Sartono menjelaskan alasan banyaknya orang yang memelihara orangutan.  “Kami biasanya melakukan operasi di pasar-pasar”, jawab Sartono ketika ditanya apa yang sudah dilakukan BKSDA untuk mencegah perdagangan ilegal bayi orangutan tersebut. “Bayi orangutan tersebut biasanya dijual ke kota besar dan tidak nyata transaksi, jadi seperti diselundupkan”, ungkap Sartono yang siang itu kami temui dikantornya. Hukum yang diberlakukan untuk membuat jera pelaku pencurian bayi orangutan, menurut Sartono masih relevan, tergantung kepada pribadi sendiri-sendiri untuk masalah ke depannya dia jera atau tidak.

 

Sartono, salah satu pengurus BKSDA

Animal Show

Kejahatan lain yang dilakukan terhadap orangutan adalah dijadikannya orangutan sebagai animal show. “Di  Thailand, tepatnya di Safari World Bangkok, orangutan dijadikan salah satu bagian dari animal show”, ungkap Seto, selaku program koordinator dari COP (Center of Orangutan Protection). Hal yang perlu kita ketahui yaitu, dalam setiap animal show, para binatang akan diperlakukan kejam, mereka dibuat lapar agar mau menuruti kemauan si pawang, yang akan memberikan ‘bonus’ jika binatang tersebut menuruti kemauannya. Tidak jarang pawang mempergunakan tongkat untuk menakut-nakuti binatang tersebut agar patuh pada perintah si pawang.

Kebun binatang yang diharapkan sebagai benteng terakhir konservasi, seharusnya dapat memberikan tempat yang layak bagi kehidupan orangutan. Namun, setelah dilakukan penelitian pada tahun 2009, didapatkan data bahwa 90% orangutan terkena stress berat. Hal ini dikarenakan di kebun binatang tidak ada tempat yang layak, air bersih kurang, serta makanan yang tidak sesuai. Hal tersebut mengakibatkan orangutan menjadi stress, yang biasanya dapat diidentifikasi dari perilakunya, seperti membenturkan kepala, muntah, mencabut bulu, diam tidak bergerak, dan pada akhirnya orangutan yang stress tersebut lebih memilih mati.

Dikemukakan oleh bapak Hari Palguna, staf ahli yang ada di Kebun binatang Gembira Loka. “Satwa yang ada di kebun binatang akan lebih terjamin keamanannya. Di kebun binatang, satwa mendapat makanan yang cukup, jika mereka sakit akan memperoleh pengobatani, serta aman dari pemburu. Kalaupun terjadi kematian, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Hewan di hutan saja bisa mati, apalagi dikebun binatang”.

 

Orangutan di Gembiraloka

Namun, jika kita mau melihat lebih dalam, apakah kebun binatang di Indonesia sudah memenuhi standar animal wellfare? Bagaimana dengan keputusan bahwa jika kebun binatang tidak memenuhi standar yang telah ditentukan, maka kebun binatang tersebut akan ditutup? Hari Palguna pun mengutarakan pendapatnya, “Apabila kebun binatang yang kurang memenuhi standar akan ditutup begitu saja, sepertinya harus dipikirkan ulang tentang kebijakan tersebut. Mereka juga harus memikirkan, berapa jumlah orang yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan kebun binatang? Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Ditutupnya kebun binatang  sama dengan menghilangkan lapangan pekerjaan”. Menurut Hari Palguna, jika kebun binatang di Indonesia belum mencapai standarisasi, perlu dipahami karena negara Indonesia merupakan negara berkembang, untuk mencapai suatu tingkatan, sehingga diperlukan proses untuk mencapai tahap tersebut. Diakui Hari Palguna, penanganan terhadap satwa yang ada di kebun binatang terhambat pada keberadaan sumber daya manusia di Indonesia yang masih kurang. Di sisi lain, Hari Palguna sependapat bahwa animal show atau satwa terampil merupakan salah satu bentuk tindak kejahatan, tetapi tidak serta merta kemudian harus dihentikan. Solusinya yaitu dengan merubah cara pelatihan dan kebijakan dari show itu sendiri. “Misalnya ya dengan tidak lagi menggunakan tongkat atau membuat lapar satwa untuk kepentingan show”, ungkap Hari Palguna.

Namun, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh COP (Center of Orangutan Protection), ketika ditanya tentang kelayakan tempat di kebun binatang untuk habitat orangutan, Seto mengungkapkan bahwa, “Ada aturan yang harus dipenuhi, tetapi sebagian besar selalu beralasan dengan ketiadaan dana”. Yang menjadi masalah berikutnya adalah banyak pengelola yang tidak paham, adanya dokter hewan yang tidak memiliki catatan medis daftar makan, kebersihan kandang, dan pengkayaan kandang di kebun binatang, tidak tahu bagaimana tingkah laku orangutan, tidak adanya animal keeper. Sehingga dari masalah-masalah yang ada tersebut, berdampak pada ketidakmampuan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi orangutan. “Pada intinya tidak ada keseriusan untuk menangani masalah orangutan, jadi sebanyak apapun makanan yang disediakan oleh pihak kebun binatang, kalau mereka tidak bisa memenuhi standar, ya tetap menyalahi prinsip animal welfare”, jelas Seto.

Centre for Orangutan Protection (COP) adalah sebuah kelompok aksi langsung yang terdiri dari putra-putri Indonesia asli. COP mengkampanyekan penghentian segera terhadap penghancuran hutan hujan tropis di Indonesia dan pembantaian terhadap orangutan. COP bekerja diseluruh wilayah di Kalimantan dan di Sumatra.

Pembalakan Liar Habitat Orangutan

Tentu saja pembalakan liar habitat Orangutan tidak dapat dikesampingkan. Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Hal ini dikarenakan habitatnya, yaitu kawasan hutan beralih fungsi menjadi lahan kelapa sawit, lahan pertambangan, serta tidak sedikit pepohonan yang ditebang untuk diambil kayunya. Pembukaan lahan dengan cara pembakaran liar juga menjadi ancaman bagi orangutan yang sudah menjadi habitatnya hidup diatas pohon. Spesies yang dilindungi dan terancam punah ini, seringkali dipandang sebagai ancaman bagi keuntungan perkebunan karena orangutan dianggap sebagai hama, sehingga harus dibunuh. Agak lucu mengingat Orangutan dianggap hama di habitatnya sendiri. Orangutan biasanya dibunuh saat mereka memasuki area perkebunan dan merusak tanaman. Hal ini bisa terjadi karena orangutan tidak bisa mendapatkan makanan yang mereka butuhkan di hutan tempat mereka tinggal, karena telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit dan lain sebagainya.

Menurut Rosa, dengan melindungi atau menyelamatkan Orangutan sebenarnya sama dengan melestarikan 45-48 jenis tumbuhan yang ada di hutan Kalimantan. Terbutkti, beberapa tanaman akan tumbuh lebih subur dengan proses pencernaan yang dilakukan Orangutan. Tanaman yang dimakan oleh Orangutan kemudian diproses dan diikeluarkan kembali melalui feses akan lebih subur dibandingkan dengan yang tidak dicerna oleh Orangutan. Maka kepunahan Orangutan sama dengan kepunahan 48 tanaman di Indonesia.

Dalam satu tahun, ada 1, 4 juta hektar hutan yang habis dibabat.  Data pada tahun 2006-2007 menyebutkan bahwa ada sekitar 600 ekor orangutan yang diselamatkan dari perkebunan kelapa sawit, yang kemudian direhabilitasi. Sedangkan ketika selesai masa rehabilitasi ini, komunitas dan yayasan yang perduli terhadap nasih Orangutan dipusingkan dengan lahan yang minim. Karena untuk mengembalikan sepasang Orangutan ke habitatnya dibutuhkan kira-kira 20 hektar hutan.

Namun, bukan berarti seluruh masyarakat Indonesia tidak perduli dengan nasib mamalia ini, dalam web-nya WWF memberitakan kegiatan mereka mengedukasi sekitar 300 siswa dari tujuh sekolah di Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang dengan antusias mengikuti kegiatan kampanye orangutan yang difasilitasi oleh WWF-Indonesia Kantor Program Kalimantan Barat. Setiap sekolah mengirimkan siswa-siswanya untuk terlibat dalam kampanye tiga hari yang dimulai sejak Kamis (10/09) hingga Sabtu (12/09). Semua sekolah baik sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, berkumpul bersama untuk mengetahui lebih banyak mengenai isu lingkungan dan sekaligus merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Kampanye ini bertujuan untuk membangun kesadartahuan masyarakat muda mengenai pentingnya konservasi hutan, khususnya konservasi orangutan dimana orangutan dapat menjadi indikator sehat tidaknya hutan. Diharapkan rasa bangga pada orangutan dapat tumbuh di kalangan muda, mengingat orangutan hanya dapat ditemui di Pulau Borneo dan Sumatra saja. Di Kalimantan Barat, setidaknya 2000 orangutan berada di Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum, dua taman nasional penting di kawasan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo), yang merupakan rumah dan habitat ideal bagi orangutan subjenis Pongo pygmaeus pygmaeus.

Tidak hanya murid-muridnya tapi para guru juga menganggap kampanye dan edukasi ini penting, tidak hanya bagi Orangutan tapi juga bagi lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s