Aksi Penjarahan Buah Warnai Perayaan Waisak

Oleh : I Gusti Agung Ayu K. Galuh (0809 03582)

Magelang, Indonesia – Aksi penjarahan buah oleh umat non-Budha ikut mewarnai prosesi perayaan Hari Waisak 2555 B.E/2011 di Candi Borobudur pada Selasa siang (17/5/11) lalu. Buah-buahan yang sengaja diletakkan di atas altar utama ini hampir ludes akibat ulah pengunjung yang mengambil tanpa izin. “Saya cuma ikut-ikutan yang lain aja Mbak,” ucap salah seorang penjarah ketika dipergoki sedang mengambil lima buah apel dari atas altar utama.

Buah-buahan dan hasil bumi dikirab oleh umat Budha bersamaan dengan air suci dan api dharma dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Kirab dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul 08.30. Perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu 3 jam. Sesampainya di Candi Borobudur pukul 11.30, air suci, api dharma, buah-buahan, hasil bumi dan berbagai simbol Budha lainnya diletakkan di atas altar utama. Setelah itu umat makan siang dan membiarkan altar kosong tanpa pengawasan.

Sekitar pukul 13.00, banyak pengunjung anak-anak yang iseng memanjat altar utama dan mengambil buah persembahan. Tidak lama kemudian, aksi itu bukannya dilarang, justru diikuti oleh orang tua masing-masing. Alhasil, sesajen berisi buah apel tampak ludes akibat ulah para pengunjung nakal ini. Padahal prosesi ritual sama sekali belum dimulai siang itu.

Aksi tanpa ijin itu berlangsung sekitar lima menit. Barulah, beberapa panitia Walubi datang dan menertibkan para pengunjung yang berada di dekat altar. Altar kemudian dijaga secara ketat hingga saatnya prosesi pembukaan ritual Waisak diadakan.

Rangkaian prosesi Tri Suci Waisak
Seluruh umat berkumpul di altar utama yang telah didirikan di pelataran Candi Borobudur pada pukul 15.30. Pada altar nampak rupang Sang Buddha yang berwarna keemasan. Rupang Buddha yang bergaya seni Tionghoa tersebut diapit oleh 2 buah rupang lain mewakili dua Siswa Utama Sang Buddha.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Ketua Panitia Waisak, Dra. Hartati Murdaya. “Umat Buddha harus tulus, ikhlas, rendah hati, dan penuh pengabdian. Berjuang untuk berbuat yang terbaik agar memiliki karma yang baik pula,” ucap Hartati yang juga merupakan Ketua Umum WALUBI. Tema Waisak tahun ini adalah mencari kebahagiaan dan kedamaian dari dalam diri sendiri.

Pada pukul 16.40 sampai 18.08, diadakan pembacaan parritta dan mantra dari masing-masing tradisi. Tidak lupa sebuah renungan Waisak sambil menunggu detik-detik Waisak.
Tepat pukul 18.08.23 merupakan detik Waisak 2555 B.E, seluruh umat berdiam diri untuk bermeditasi. Setelah umat mengadakan meditasi detik-detik Waisak, Y.M. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera memberikan pesan Waisak dan di lanjutkan dengan pemercikan air berkah oleh beberapa anggota sangha. Umat melakukan pelafalan Vesakha Puja Gatha pada pukul 20.00, setelah sebelumnya melakukan makan malam.

Setelah itu umat melakukan pradaksina atau berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Sebagai kegiatan penutup diadakan pelepasan lentera atau lampion sebanyak 1.000 buah.

Lampion Waisak

Biksu turut melepas lampion ke udara


Menurut Bikhu Lian Ding Fashi, lampion dikalangan umat umat Budha merupakan simbol cahaya penerangan. “Lampion itu merupakan simbol yang artinya terang dalam segala hal,” jelasnya. Harapannya, kehidupan ini selalu terang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s