Detik-detik Mencapai Kesempurnaan Hidup Di Hari Raya Waisak

Paskalia Ditha Ratnasari (08 09 03685)

MAGELANG – Tepat pada saat Purnamasidhi (bulan purnama) di bulan Waisak, hari Selasa (17/5), umat Buddha di seluruh dunia merayakan Tri Suci Waisak 2555 BE/2011 dengan tema “Mencari Kebahagiaan dan Kedamaian Dari Dalam Diri Sendiri”. Pada saat peringatan Tri Suci Waisak, umat Buddha kembali memperingati, mengagungkan, dan memuliakan tiga peristiwa agung yang terjadi pada saat Purnamasidhi dan bulan yang sama.

Setiap tahun, umat Buddha di Indonesia maupun dari luar negeri dengan penuh rasa bakti datang ke Candi Borobudur untuk memuja Keagungan Buddha pada Hari Tri Suci Waisak dalam upacara Waisak nasional. Selain itu, dalam memperingati Waisak, tidak hanya umat Buddha saja, melainkan banyak masyarakat non-Buddha dan banyak wisatawan mancanegara yang ingin ikut andil dalam hari raya Waisak ini. Hari Tri Suci Waisak adalah hari suci teragung yang mengandung hikmah tentang puncak perjuangan seorang umat manusia untuk menemukan kebahagiaan tertinggi demi membebaskan semua makhluk dari belenggu penderitaan. Demikian Hari Tri Suci Waisak hendaknya menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menggapai kebahagiaan yang sejati untuk mendapatkan kesempurnaan hidup dengan cara mengisinya dengan berbagai kebajikan kepada semua makhluk.

Hari Selasa (17/5), acara dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.30 WIB di Candi Borobudur. Walaupun hujan deras sempat membasahi pelataran candi Borobudur sekitar pukul 19.00 WIB, umat Buddha tetap khidmat dalam menjalankan ibadahnya. Setelah berkumpul, berdoa, dan merenung, umat Buddha diajak untuk memperingati detik-detik Waisak 2555 BE dengan melakukan meditasi mulai pukul 18.10 WIB sampai selesai. Setelah melakukan meditasi, dilanjutkan dengan pemberkatan dan pradaksina, kemudian pelepasan lampion ke udara.

Dalam perayaan tersebut, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia, Maha Bhiksu Dutavira Sthavira menyampaikan kata sambutan yang berisikan Makna Hari Raya Waisak. Salah satu maknanya adalah memperingati hari pencapaian sempurna seorang manusia menjadi Buddha (Anuttara Sanyaksamboddhi), melalui proses pemutusan semua kekotoran batin dan memahami hakikat kehidupan (588 SM). Dengan jalan menerima segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita sebagaimana adanya, akan membawa kita pada keseimbangan batin untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri sendiri.

“Hari Waisak mempunyai makna dan arti yang sangat dalam sekali bagi umat Buddha dan orang-orang yang mencari jati diri. Hyang Buddha telah menemukan dan mengajarkan Dharma (hukum perbuatan, hukum dimensi waktu, hukum saling ketergantungan atau interdependensi) yang sangat mulia dan agung yang dapat membebaskan semua makhluk dari lautan samsara kelahiran dan kematian. Setiap orang yang menjalankan Dharma akan mendapatkan kebahagiaan pada awalnya, kebahagiaan pada pertengahannya, dan kebahagiaan pada akhirnya. Dengan demikian sebagai umat Buddha yang saleh seharusnya bisa menjadikan Dharma Hyang Buddha sebagai jalan hidup (the way of life) untuk menemukan kebahagiaan kehidupan dan menemukan jati dirinya”, tutur Maha Bhiksu Dutavira Sthavira, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu modal utama agar dapat menuju kepada pencapaian akhir, yaitu kesempurnaan hidup.

Waisak akan sangat bermakna jika kita mau merenungkan kembali ajaran yang telah diajarkan oleh Hyang Buddha. Kita menjadikan hari raya Waisak sebagai sarana untuk introspeksi diri, melihat segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Sehingga semangat Waisak dapat membawa perubahan terhadap semua aspek diri kita dan kehidupan kita.

Dalam renungan Waisak tentang Pencerahan Pikiran, YM Bhikshu Tadisa Paramita Mahasthavira berkata, “Hati dalam ajaran Buddhis disebut sebagai Panca Skandha (terdiri dari: rupa, perasaan, pikiran, pencerapan, dan kesadaran). Pahamilah bahwa semua karma berasal dari aktivitas hati, Hati khayal yang menampakkan, Hati diskriminasi yang membedakan ciri, Hati melekat yang menjadikan, Hati bodoh yang membuat derita, Hati bijak yang menetralisirkan, Hati sunya lenyaplah fenomena, Hati murni bebas dari rintangan dualitas, Hati cerah menerangi segala realita kebenaran sebagaimana adanya”.

Dalam peringatan hari Waisak, terdapat makna yang mendalam yang disampaikan lewat sepatah dua patah kata oleh Bhikkhu Pabhākaro. Beliau berkata, “Setelah menemukan kebenaran sejati (Dhamma) yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan, sang Buddha Gautama berkelana untuk mengajarkan Dhamma demi kebahagiaan dewa dan manusia. “Terbukalah pintu kebahagiaan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan”. Tiga peristiwa itu, memberikan gambaran kepada kita bahwa begitulah proses kehidupan. Setelah lahir, tumbuh dan berkembang lalu akhirnya harus meninggal. Dalam kehidupan manusia mengalami berbagai macam hal, seperti kegagalan, ketengangan mental, keputusasaan, kejenuhan, dan lain sebagainya yang memaksa manusia untuk terbebas dari kondisi tersebut dan menggantinya dengan konsep-konsep kebahagiaan dengan ukuran yang berbeda-beda. Keindahan jasmani, pemuasan nafsu, pencarian tempat-tempat hiburan, penumpukan materi dan lain sebagainya yang tidak dapat disebutkan keseluruhan menjadi obsesi umat manusia dalam berusaha mencari  kebahagiaannya. Berbagai macam usaha yang dilakukan umat manusia untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, tidak mampu memenuhi kebutuhan akan kebahagiaan itu. Justru hal tersebut membuat manusia terjerat dalam keserakahan, monopoli, ketidak-adilan, dorongan mengahncurkan sesama dan pemuasan akan nafsu yang tiada habisnya. Demikianlah umat manusia mencari kebahagiaan dengan cara-cara salah yang hanya mendapatkan kebahagiaannya sekejap mata. Sesungguhnya sang Buddha telah mengajarkan bagaimana mencari kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang sejati sesungguhnya berada di dalam hati, dimana batin ini mampu melenyapkan nafsu, memiliki kebahagiaan yang sederhana dengan memiliki rasa puas, akhirnya batin mampu melepaskan ketamakan, kebencian, iri hati, pemuasan, keserakahan, kegelapan batin sehingga batin begitu damai dari hiruk-pikuk duniawi.” Beliau juga menegaskan bahwa Siddharta berarti “Tercapailah segala cita-citanya”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s