Gereja Bersejarah, Gereja Cagar Budaya


Oleh : Dionysia Dewi I.P (080903490)

 

Sejak diresmikan tepatnya pada hari Minggu tanggal 8 April 1934, bangunan Gereja Santo Yusup Bintaran dikenal sebagai gereja Jawa Pertama di Yogyakarta. Awalnya sebelum adanya gereja Bintaran ini, umat katolik pribumi merayakan Misa Ekaristi di sebuah gudang Kiduloji. Oleh karena jumlah umat yang semakin bertambah, maka dibangunla Gereja Santo Yusup Bintaran ini.

Peletakan batu pertama Gereja Santo Yusup Bintaran

Walaupun sebelum gereja Bintaran dibangun, sudah terdapat gereja-gereja modern lain. Akan tetapi karena masyarakat Jawa merasa kurang nyaman mengikuti ibadat di bangunan modern, maka Rama H. van Driessche, Rama van Kalken, SJ dan Bapak Dawoed seorang katekis probumi tergerak untuk mendirikan bangunan gereja baru di Yogyakarta yang memiliki kelengkapan serta suasana sesuai dengan cita rasa masyarakat setempat.

Setelah dibangun, Romo A.A.C.M de Kuyper, SJ dibantu oleh Romo Soegijapranata, SJ merupakan pastor pertama yang ditugaskan untuk berkarya di Paroki Bintaran ini sejak tanggal 12 Oktober 1933. Tahun 1936 Rama Soegijapranata, SJ memimpin Gereja bersejarah ini hingga tanggal 1 Agustus 1940, beliau dipromosikan menduduki jabatan Vikep Keuskupan Semarang.

Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1947 Sekolah Guru Katolik dan SMA de Britto juga mulai tumbuh dari Bintaran. Bersamaan dengan itu, sekolah Santo Thomas (sekarang sudah menjadi SMA St. Thomas dan Yayasan Marsudi Luhur) berdiri pula di Bintaran. Hal ini membuktikan bahwa Bintaran selain berbasis rohani juga mempunyai tujuan untuk mensukseskan pendidikan.

Gereja Bintaran beserta para pengurus-pengurusnya terbentuk ketika Indonesia belum meraih kesejahteraan. Hal ini dibuktikan masih berperannya gereja Bintaran pada saat pergolakan G-30S PKI yaitu menjadi markas Ikatan Sarjana Katolik Indonesia dan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Selain itu mengudaranya radio bersemangat Katolik dengan nama Bikima singkatan dari Bintaran Kidul Lima.

Bintaran sebagai Cagar Budaya

“Yang menggembirakan juga banyak kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan baik pada masa orde lama, orde baru, sampai pada masa reformasi tumbuh dan berkembang mulai dari tempat ini..” ungkap Romo E.G Willem Pau, Pr selaku romo paroki sejak tahun 2009 hingga sekarang.

Hingga saat ini, Gereja yang merupakan salah satu cagar budaya dan dilindungi oleh Undang-undang  no 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya ini sudah berusia 76 tahun. Usia yang cukup dewasa untuk mempunyai banyak pengalaman.

“..sekarang usianya sudah mencapai 76 tahun. Usia yang cukup dewasa malah dikatakan usia yang cukup tua dengan segudang pengalaman dan sebuah penghayatan yang sudah muncul Retnaning Rat Nayakaning Bawana, permata dunia, penjaga semesta, sungguh suatu pedoman yang menjadi pengharapan bagi semua..” lanjut romo Willem

Semenjak dahulu hingga usia saat ini sudah banyak sekali pastur-pastur yang berkarya di Gereja ini. Tidak sedikit pula para pastur setelah tinggal di Bintaran, lalu menjadi uskup atau romo kevikepan. Contohnya saja Uskup Alb. Soegijapranata, Uskup Ign. Suharyo, Pr, dan Romo Kevikepan B. Saryanto WP, Pr.

Saat ini sudah terdapat 29 lingkungan dan satu stasi yaitu stasi Pringgolayan yang dibawahi oleh gereja ini. Dengan adanya umat yang tidak sedikit itulah diharapkan dapat membantu gereja megah ini untuk berkembang dengan lebih baik. SOLI DEO GLORIA, “mari kita persembahkan tugas ini hanya untuk Tuhan”, tulisan itulah yang ada di pintu masuk gereja Bintaran untuk menambah semangat para umat dalam pelayanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s