Jogja Movie Meeting Point: Komunitasnya Komunitas Film

oleh: Niti Bayu Indrakrista / 08 09 03583

Ruangan itu tampak dipenuhi kursi lipat serta orang-orang yang duduk di atasnya. Terkesan dipaksakan, beberapa orang yang tidak mendapat tempat bahkan harus berdiri di luar, menatap ke dalam melalui dinding kaca. Malam itu, semua mata memandang ke arah depan, dimana sebuah layar proyektor menembakkan gambar bergerak ke selembar kain.

Jogja Movie Meeting Point (JMMP), acara pemutaran film indie karya mahasiswa dari forum kine di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. “Berawal dari kegelisahan kami, melihat banyaknya kine di Jogja, tapi kok tidak ada forum atau acara sebagai sarana kumpul mereka,” ujar Gundi, salah seorang ‘pengasuh’ acara ini. JMMP merupakan gagasan beberapa pengurus Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF). Gundi salah satunya.

Untuk merealisasikannya, Gundi dkk. pun mengundang perwakilan kine-kine kampus di Jogja untuk berbagi kegelisahan dan menawarkan solusi. Tercatat Forum Film MMTC, Fiagra dan Kine Klub Komunikasi dari Universitas Gajah Mada (UGM), 12,9 AJ Kine Klub dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Cinema Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta Avikom UPN Veteran yang menyanggupi panggilan tersebut.

Purba, perwakilan dari 12,9 AJ Kine Klub, mencurahkan motivasinya untuk bergabung dalam proyek bersama ini, “dulu sudah pernah ada wacana meng-adakan kegiatan seperti ini, yang mempertemukan kine se-Jogja. Tapi belum ada yang direali-sasikan dengan baik dan berke-lanjutan.”

Menurut Damar, juga dari JAFF, kegiatan ini memegang prinsip kese-taraan. Siapa-pun memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan karyanya. Untuk itu, dibuatlah jadwal dimana setiap pemutaran akan menayangkan tiga film dari tiga komunitas (kine). Pemutaran berikutnya, giliran tiga kine lain yang mendapat jatah pemutaran.

Kendala suara

JMMP memiliki format acara berupa pemutaran dan diskusi film karya kine anggotanya. Setiap pemutaran, diundang pula seorang tamu praktisi film, dimana salah satu filmnya akan diputar di akhir acara sebagai penutup. “Kami mau peserta dan penonton mendapat sesuatu dari acara ini. Harapan kami, acara ini dapat meningkatkan ‘level’ anak kine Jogja yang ikut serta,” ujar Gundi.

Damar menambahkan, acara JMMP akan menjalankan forum diskusi yang prinsipnya adalah belajar bersama. Jadi, tidak akan ada cacian atau kritik terlampau pedas, seperti layaknya diskusi film (indie) yang selama ini.diadakan. “Kami tidak mau JMMP jadi ajang ‘pembantaian’.”

JMMP diadakan setiap dua minggu sekali setiap hari Kamis, bertempat di Moviebox, Jalan Seturan, Yogyakarta. Sejauh ini, pemutaran ini telah menginjak penyelenggaraannya yang kedua, pada tanggal 19 Mei lalu. Untuk pemutaran tersebut, anggota JMMP  bertambah satu komunitas, yaitu Kompor dari Universitas Islam Indonesia (UII).

Selama dua kali penyelenggaraan ini, tempat pemutaran selalu dipenuhi penonton yang kebanyakan berasal dari komunitas film di Jogja. Dan selama dua kali pula ada penonton yang harus berdiri di luar, karena tidak lagi ada tempat bagi mereka di dalam.

Sayangnya, panitia masih kecolongan pada masalah sound, terutama saat diskusi. Suara yang dihasilkan pengeras masih terlalu lirih, sehingga dari kursi paling belakang tidak terdengar terlalu jelas. Akibatnya, dengan jumlah penonton yang membludak, acara diskusi kesan tidak mendapat perhatian. Para penonton seperti membuat forum sendiri dengan rekan-rekan komunitasnya.

Khusus kampus

Saat ini, dengan adanya tujuh komunitas yang bergabung, JMMP tidak menutup kemungkinan bergabungnya kine dari kampus lain di kawasan Yogyakarta. Hanya saja, menurut Damar, mereka tidak menerima forum film non kampus, seperti Festival Film Dokumenter (FFD) dan Kampung Halaman.

Trailer film “Dimensi” karya Jatmiko Kresnatama dari 12,9 AJ Kine Klub, yang diputar pada JMMP #1.

Ada harapan besar menyertai (atau malah membebani) forum ini. JMMP diharapkan tidak mengulangi kesalahan para pendahulu, dengan tidak mampu menghadirkan kesinambungan, melainkan putus begitu saja di tengah jalan. Menurut Gundi, Yogyakarta memiliki banyak potensi seni yang sangat bagus, termasuk dalam bidang film independen. Sangat disayangkan bila tidak ada tali pengikat. Bukan untuk menggabungkan atau memaksakan kesamaan visi. Sekadar berbagi pengalaman, sebagai usaha untuk berangkat ke level yang lebih baik.

 “Kami fokus sampai bulan puasa dulu. Saat Ramadhan, tidak ada pemutaran dan diskusi. Setelah itu, mungkin JMMP akan kami evaluasi dulu, akan berlanjut atau tidak,” ujar Gundi, menutup pembicaraan kami sore itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s