Jurnalisme Online bentuk dari Perkembangan Teknologi

Mikhael Prastian Pandubongso (03133)

Globalisasi, merupakan hal yang tak terhindarkan dari peradaban manusia saat ini. Peradaban manusia selalu berkembang dari masa ke masa menghasilkan peradaban baru yang lebih praktis dan canggih seiring berkembangnya teknologi. Globalisasi sendiri merupakan sistem komunikasi yang disepakati secara bersama-sama oleh masyarakat diseluruh dunia untuk membentuk suatu jaringan komunikasi diantara mereka. Globalisasi tak luput dari perkembangan teknologi dimana perkembangan teknologi bersifat evolutif. Bahasa merupakan salah satu hasil dari perkembangan teknologi, dahulu bahasa lisan digunakan untuk saling bertukar informasi, namun karena pada zaman sejarah sangat sulit berkomunikasi menggunakan bahasa lisan dikarenakan keterbatasan suara yang harus mampu menembus jarak yang jauh, dan juga daya cerna bahasa lisan dari manusia purba, maka berkembanglah teknologi gambar. Berkomunikasi dengan gambar memudahkan manusia pada saat itu untuk dapat mengingat apa informasi yang disampaikan dibandingkan dengan bahasa lisan. Kemudian dari gambar berkembang pula teknologi bahasa tulis dengan ditemukannya alphabet dan huruf romawi. Seiring semakin majunya peradaban manusia dan kemampuan berpikir serta mencipta dari manusia, ditemukan dan diciptakanlah alat-alat komunikasi yang lebih canggih, yaitu mesin cetak, telegraph, telepon, televisi, radio, sampai komputer.

Pada masa sekarang ini kebutuhan akan sebuah informasi terhitung sangat tinggi dan membutuhkan media yang cepat. Hal ini dikarenakan tingginya mobilitas masyarakat dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari. Permintaaan akan pemenuhan berita sangat tinggi, apabila dahulu penyediaan berita hanya pada waktu tertentu saja, yaitu sesuai dengan waktu siaran suatu acara berita, ataupun sesuai dengan waktu terbit suatu koran, maka saat ini tuntutan ada pada bagaimana sebuah media informasi dapat memfasilitasi masyarakat agar dapat terus diperbaharui informasinya dengan berita-berita terkini. Beruntung teknologi saat ini telah menemukan internet sebagai salah satu solusi media yang menawarkan akses yang lebih mudah dan cepat.

Internet merupakan jaringan global dari sebuah jaringan komputer. Artinya dengan internet manusia dapat memiliki jaringan global atau akses ke seluruh dunia di tangannya. Internet pertama kali dikembangkan dan diujicobakan pada tahun 1969 oleh US Departement of Defense dalam proyek ARPANet (Advanced Research Project Network). Sejak itu perkembangan internet berlangsung sangat pesat. Salah satu faktor yang berperan menjamurnya pemakaian internet di seluruh dunia adalah perkembangan World Wide Web (WWW) yang dirancang oleh Tim Berners-Lee dan staf ahlinya di laboratorium CERN (Conseil European pour la Recherche Nucleaire) di Jeneva Swiss tahun 1991. Selain itu, faktor pendorong revolusi internet adalah daya tarik utama internet yang meliputi: komunikasi, pencarian keterangan dan informasi. Dalam hal daya tarik komunikasi, internet menawarkan kemampuan berkomunikasi secara elektronik (via email, chatting) yang relatif mudah, murah selama 24 jam. Internet juga memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk mencari dan mengakses berbagai macam informasi, seperti untuk kepentingan penelitian, pengambilan keputusan suatu organisasi hingga untuk mengakses berbagai situs. Internet memiliki beberapa kemampuan pokok seperti;
1. E-mail (electronic mail), memungkinkan untuk mengirimkan pesan secara elektronik.
2. Usenet newsgroup, memungkinkan adanya kelompok diskusi di sebuah electronic bulletin boards.
3. LISTSERV, sama seperti Usenet newsgroup yaitu memungkinkan adanya diskusi kelompok, namun LISTSERV menggunakan e-mail mailing list servers sebagai domainnya.
4. Chatting, sebuah fitur yang menawarkan percakapan interaktif.
5. Telnet, memungkinkan kita untuk masuk ke sistem komputer tertentu dan bekerja pada sistem komputer yang lain.
6. FTP, memungkinkan pengguna internet untuk memindahkan suatu file dari satu komputer ke komputer lain.
7. Gophers, menempatkan informasi yang disimpan pada internet server dengan menggunakan hirarki menu.
8. WWW, akronim dari world wide web, memungkinkan pengguna mengambil, memformat, dan menampilkan informasi berupa teks, audio, grafis, dan video dengan menggunakan hypertext links.

Lima kapabilitas pertama di atas berkaitan dengan aspek komunikasi, sementara FTP dan gophers berkaitan dengan aspek pencarian keterangan, sedangkan www merupakan aspek pencarian informasi.
Internet kemudian menjadi berkembang luas dan disukai oleh masyarakat dunia dikarenakan memiliki beberapa keunggulan, diantaranya;
 Konektivitas dan jangkauan global: di dunia maya, jaringan yang terjalin adalah jaringan global dimana akses data dan informasi melampaui batas-batas negara.
 Akses 24 jam nonstop: akses informasi di Internet tidak dibatasi waktu, karena dengan lingkup global, dunia maya yang dihadirkan tidak pernah tidur atau nonstop.
 Kecepatan: bila dibandingkan sumber data lainnya, internet jauh lebih cepat karena bersifat real time.
 Kenyamanan: melalui internet tidak harus menghadapi berbagai persoalan birokratis seperti izin dari berbagai instansi. Selain itu, berbagai fitur yang ditampilkan dirancang khusus sehingga tampak user-friendly.
 Kemudahan Akses: semakin banyaknya warnet membuat akses terhadap internet jauh lebih mudah.
 Biaya Relatif: dibandingkan dengan membeli majalah atau koran, penelusuran informasi menggunakan internet jauh lebih murah. Apalagi banyak situs yang menyediakan jasa layanan gratis. Seseorang tinggal mengunduh atau mencetak file-file yang dibutuhkan.
 Interaktif dan Fleksibel: bersifat interaktif dan fleksibel atau memudahkan orang yang menggunakannya.
Namun disamping segi positif atau keunggulan yang dimiliki, internet juga tak lepas dari sisi negatif atau dangan kata lain internet juga memiliki berbagai kelemahan, diantaranya yaitu;
 Selektivitas dan anonimitas: identitas pemakai sulit dikenali.
 Clutter dan never ending research: informasi yang tersedia di internet sangat besar jumlahnya, tapi tidak semua dibutuhkan. Pencarian tanpa strategi khusus diibaratkan mencari sebuah jarum di dalam jerami sehingga dapat diartikan pula masuk ke belantara tanpa ujung.
 Virus: salah satu masalah yang sampai sekarang terjadi adalah menyebarnya virus komputer melalui jaringan internet dan e-mail serta melalui file-file yang diunduh. Sekarang ini lebih banyak virus komputer menyerang melalui e-mail yang digunakan user.
 Reliabilitas dan validitas: setiap orang bebas membuka homepage sendiri dan menampilkan berbagai informasi di sana. Implikasinya tidak semua data dan informasi yang didapatkan lewat internet adalah andal dan valid untuk dijadikan sebuah acuan. Selain itu sumber informasi di internet juga mudah berubah, misalnya homepage-nya telah berubah atau bahan sudah tidak ada lagi.
 Ketergantungan pada jaringan telepon dan Internet Service Provider (ISP): fasilitas jaringan telepon dan ISP sangat berpengaruh terhadap biaya pemakaian internet dan kemungkinan akses secara keseluruhan.

Awal kemunculan jurnalisme online disebabkan terbongkarnya perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky atau yang sering disebut “monicagate” pada tanggal 19 Januari 1998 oleh Mark Drugde. Ia membeberkannya melalui media internet dan sejak saat itu semua orang yang mengakses internet segera mengetahui rincian cerita “monicagate”. Namun, secara umum lahirnya jurnalisme online berangkat dari kebutuhan manusia akan informasi yang baru dan selalu diperbaharui dan juga mobilitias yang tinggi dari para penikmat berita, kemudian didukung dengan adanya kemudahan teknologi sebagai media menyampaikan informasi, maka berkembanglah apa yang disebut jurnalisme online dalam menyampaikan berita. Berita, secara praktis dapat didefinisikan sebagai laporan tentang suatu peristiwa yang sudah terjadi yang dipandang penting untuk menentukan sikap serta tindakan. Tetapi semua definisi yang ada, selalu mengandung 4 unsur dalam peristiwa berita, yaitu :
 Peristiwa merupakan perubahan keadaan.
 Peristiwa yang dilaporkan selalu terjadi.
 Peristiwa tersebut dilaporkan manusia.
 Peristiwa tersebut berkaitan dengan kepentingan dan minat masyarakat.

Jurnalisme yang merupakan kegiatan jurnalistik mencakup menyiapkan, mencari fakta dan data, melaporkan dan mempublikasikan lewat media massa, kini dilakukan secara online yaitu dapat dinikmati dan diakses kapan saja dengan world wide web sebagai medianya. World wide web merupakan media yang memfasilitasi berbagai kemampuan internet seperti yang telah disebutkan sebelumnya (e-mail, telnet, FTP, dsb.) dengan akses yang luas. Dalam produksinya jurnalisme online mengacu pada media online yaitu seni memadukan komunikasi, telekomunikasi dengan teknologi, dimana jurnalisme online memadukan teknologi komunikasi yakni internet dengan jurnalisme konvensional. Layaknya media online, jurnalisme online secara umum memiliki ciri-ciri yaitu, breaking news dengan ciri berita yang singkat, mudah dicerna, langsung dan singkat serta ada kontinuitas, periodisasi hilang, borderless/tanpa batas, cepat, sebaran luas, 24 jam nonstop dan bersifat interaktif.

Kemudian, apa yang membedakan jurnalisme online dengan jurnalisme konvensional? Pada intinya jurnalisme, baik yang bersifat online maupun konvensional, menuntut tersedianya berita ataupun informasi yang selalu baru (up-to-date), akurat, dan secepat mungkin. Namun pada jurnalisme online media yang digunakan adalah web atau situs internet, sementara media konvensional mediumnya berdimensi cetak (Koran, majalah, tabloid), selain itu jurnalisme online tidak terlalu terpaku pada kaidah bahasa yang digunakan jurnalistik secara umum.

Secara spesifik jurnalisme online memiliki berbagai ciri-ciri seperti, singkat, langsung, terorganisir, spesifik, mudah dicerna, berita adalah cerita, rekaman mata, setting atau tempat, menyentuh, warna atau mood, anekdot, da panjang/pendek cerita. Untuk bisa mengeksplorasi atau memanfaatkan ciri-ciri tersebut, maka diperlukan tulisan atau berita yang:
1. Singkat: Tulisan yang jelas umumnya bukan tulisan yang panjang lebar, melainkan justru ringkas dan terfokus. Tulisan yang ringkas memberikan kesan tangkas dan penuh vitalitas.
2. Langsung: Tulislah berita yang ringkas menuju pengertian yang dimaksud. Pilih kata/kalimat yang spesifik untuk mewakili pengertian yang mengena (tanpa memberi peluang pada banyak interpretasi).
3. Terorganisir: Mulailah sebuah tulisan dengan teroganisir, yang secara kuat mampu memikat pembaca untuk tenggelam didalamnya. Jika mungkin, gunakan gaya bahasa yang naratif sebagai pendekatan dasar.
4. Spesifik: Pecahlah bagian-bagian yang rumit dalam serpihan yang mudah dicerna. Contohnya, gunakan seorang untuk mewakili kelompoknya dalam penyampaian informasi dari narasumber. Dengan memberikan pengkhususan, seringkali dapat menghadirkan suasana dramatis dan hidup.
5. Mudah Dicerna: Jika terdapat sebuah topik yang padat dan berat, gambarkan melalui ungkapan yang paralel yang mudah dipahami pembaca. Strategi militer misalnya dapat diterangkan melalui formasi pertandingan olahraga, rencana keuangan perusahaan dapat digambarkan melalui rencana anggaran keluarga.
6. Berita adalah Juga Cerita: Sinisme terhadap cerita atau dongeng, kadang diartikan bahwa itu sekadar pengantar tidur, tak memiliki arti kebenaran, hanya karangan. Namun, ada manfaat yang bisa diambil dari cerita, yakni cara menyampaikan sebuah cerita itulah yang sebaiknya dimanfaatkan untuk menyajikan berita. Dengan kata lain, berita adalah cerita yang berdasar fakta.
7. Rekaman Mata: salah satu dari indera kita, yakni mata sangat berharga untuk menangkap objek. Namun, objek yang bagaimana yang bisa diceritakan dan baik untuk orang lain, itulah masalahnya. Setiap fotografer tahu bahwa gambar yang tidak menyertakan unsur kehidupan seperti manusia hanya akan berakhir nasibnya di keranjang sampah. Begitu pula dengan tulisan, sebab pembaca suka membaca tentang manusia lainnya.
8. Setting atau Tempat: Pembaca menyukai ”sense of place”. Kita bisa membuat tulisan lebih hidup jika kita bisa menyusupkan ”sense of place” yang kuat. Misalnya Berita Pesawat Garuda Jatuh di Yogyakarta, Pernikahan Pangeran di Inggris, dsb.
9. Menyentuh: Kita harus berupaya untuk menyentuh indera pembaca. Membuat mereka melihat cerita dengan detil visual yang kuat, dan juga dalam konteks yang tepat dapat membuat mereka mendengar, meraba, merasakan, mencium dan seolah mengalami.
10. Warna dan Mood: Kamera televisi dapat menampilkan pemandangan yang sesungguhnya, dalam warna dan detil. Penulis tidak dapat menyajikan pemandangan dengan mudah, sehingga mereka harus berusaha keras untuk melukis dalam pikiran pembaca. Dalam menggambarkan warna, berarti juga menceritakan tentang suasana (mood). Apakah bahagia? Atau penuh emosi dan ketegangan? Ini bisa mempertajam perasaan terhadap berita yang ditulis.
11. Anekdot: Anekdot sering dipandang sebagai ”permata” dalam cerita. Penulis yang piawai akan menaburkan permata itu keseluruh bagian cerita, bukan menguburnya di satu tempat. Begitu pula dalam menulis berita.
12. Panjang-pendek: Makin pendek cerita makin baik. Kisah akan lebih hidup jika awalnya berdekatan dengan akhir (klimaks), sedekat mungkin. Alinea dan kalimat bervariasi dalam panjang. Letakkan kalimat dan alinea pendek pada titik kejelasan terpekat atau tekanan terbesar.
13. Kutipan: Kutian dalam tulisan berita memberikan otoritas dan validitas. Siapa yang mengatakannya? Seberapa dekat keterlibatannya dengan sesuatu peristiwa dan masalah? Apakah kata-katanya patut didengar? Kutipan juga memberikan vitalitas karena membiarkan pembaca mendengar suara lain selain penuturan si penulis.

Guna mencapai kriteria penulisan berita di atas dibutuhkan teknik penulisan berita. Secara umum kriteria berita yang baik harus memenuhi beberapa hal berikut:
 Akurat, berita harus bersifat faktual, akurasi, obyektif dan berimbang. Sebagai penjabaran akurasi, muncul formula 5 W + H (what, who, when, where, why dan how).
 Obyektif: berita harus merupakan laporan faktual tentang suatu peristiwa seperti apa adanya, tetapi tentu saja sejauh hal ini dimungkinkan, sebab wartawan pun memiliki keterbatasan. Untuk mengejar obyektifitas ini kemudian muncul laporan komprehensif dan laporan investigatif.
 Berimbang (balance): berita adalah laporan yang obyektif termasuk tidak memihak kepentingan kelompok tertentu. Sifat berimbang ini perlu dijaga agar berita tidak menyesatkan pembaca dan tidak digugat oleh pihak yang merasa dirugikan.

Selain kriteria tersebut di atas, sebuah berita juga perlu memiliki peristiwa dengan unsur-unsur tertentu, dimana unsur-unsur ini kemudian menjadi tolok ukur nilai suatu peristiwa yang layak dijadikan berita. Unsur-unsur tersebut antara lain, keluarbiasaan (unsualness), aktual (timeless), kedekatan (proximity), hal baru (novelty), dampak/akibat (impact), konflik (conflict), ketegangan/kejutan (surprising), tokoh/orang penting, kemanusiaan (human interest), kejahatan, dan seks.

Secara umum konsep berita yang ada di media cetak, radio dan televisi serta online adalah sama. Berita koran mengandalkan tulisan, berita radio mengandalkan suara dan televisi mengandalkan gambar bergerak. Media online dalam menyajikan berita mengandalkan kecepatan. Konsep berita online tidak akan lepas dari sifat-sifat internet: interaktif, 24 jam nonstop, periodisasi hilang, tanpa batas (borderless), breaking news, berita selalu ada running news-nya, cepat dan tersebar luas. Dalam media online, berita-berita (news) yang tidak terduga atau tidak direncanakan yang bersifat hard news seringkali mendominasi dibandingkan dengan berita-berita yang sifatnya dapat diduga atau direncanakan. Hal ini disebabkan karena sifat media online yang realtime dan mengutamakan berita yang bersifat breaking news. Agar dapat memenuhi tuntutan pemberitaan yang selalu up-to-date, seorang reporter media online dituntut memiliki:
1. Kepekaan berita yang tajam (sense of news) serta tidak ketinggalan terhadap isu-isu yang berkembang baik lokal atau nasional.
2. Daya pendengaran berita (hears of news).
3. Daya penciuman berita yang tajam.
4. Tatapan/penglihatan berita yang jauh dan jelas (news seeing).
5. Indera perasa berita yang baik (news filling).
6. Ketangguhan di lapangan yang handal.

Seorang reporter media online karena tidak punya deadline atau batas yang jelas dan bisa dikatakan kerja 24 jam nonstop, maka ia dituntut untuk harus mampu “buka mata, buka telinga lebar-lebar” terhadap semua informasi yang ada disekitarnya.
Disamping hal-hal yang dikemukakan diatas, teknik penulisan berita online juga harus disampaikan secara cepat, maka berita yang dibuat lebih banyak berupa berita langsung (straight news report) dan model piramida terbalik. Secara umum bentuk berita ada 3: Pola beraturan, piramida dan piramida terbalik. Dari tiga pola itu, pola piramida terbalik sering digunakan. Dari fungsi dan manfaat bentuk itu memiliki kelebihan masing-masing. Bentuk piramida terbalik sering digunakan media cetak (harian) dan elektronik, karena dengan bentuk ini penulis menuliskan laporan dengan mengutamakan hal yang terpenting. Cara ini menguntungkan, sebab akan mempermudah tim editing dalam melakukan editing kata atau kalimat apabila deadline-nya sangat singkat. Bentuk piramida terbalik banyak digunakan media cetak harian yang waktu deadlinenya cukup singkat dan terbatas. Bentuk beraturan digunakan penulis tanpa melihat hal terpenting namun penulis cukup menulis sesuai apa yang dikehendakinya. Bentuk beraturan sangat tepat digunakan untuk menyusun artikel, karenanya bentuk ini lazim digunakan oleh media cetak seperti majalah dan tabloid yang memiliki deadline panjang.

Gaya penulisan berita dalam cybermedia lebih banyak menggunakan piramida terbalik. Gaya ini memulai tulisan dengan memberitahu kesimpulannya kepada pembaca, diikuti dengan informasi pendukung yang lebih penting dan diakhiri dengan memberikan latar belakang. Dengan model piramida terbalik ini akan memudahkan pembaca, pendengar atau pemirsa yang sangat sibuk untuk segera menemukan berita yang dianggapnya menarik atau penting yang sedang dicari atau ingin diketahuinya, memudahkan reporter, editor memotong bagian-bagian berita yang dianggap kurang atau tidak penting ketika dihadapkan kepada kendala teknis, misalnya berita terlalu panjang sementara kapling atau ruangan yang tersedia sangat terbatas, dan memudahkan jurnalis dalam menyusun pesan berita melalui rumus baku yang sudah sangat dikuasainya sekaligus untuk menghindari kemungkinan adanya fakta atau informasi yang terlewat tidak terlaporkan. Dalam web, piramida terbalik menjadi hal yang krusial. Para penggunanya kerap hanya membaca bagian atas sebuah tulisan. Mereka tidak meneruskan bacaannya. “Mereka tidak menggulung layar” seperti yang ditulis Nielsen dalam Inverted Pyramids in Cyberspace Frames. Gulungan layar adalah istilah dari proses internet meneruskan jaringan informasinya. Menghubungkan pengguna web dengan situs-situs yang telah dirancang jaringan link-nya. Tapi pada beberapa pengguna lainnya, terjadi kebalikannya. Di sinilah kegunaan teknologi internet dimanfaatkan oleh jurnalisme online. Pembaca yang tertarik akan menggulung layar, akan meneruskan bacaannya pada materi-materi yang terkait dengan topik yang tengah dibacanya.

Selain perlu memperhatikan teknik penulisan berita, dalam jurnalisme online kita juga perlu memperhatikan kode etik. Kode etik jurnalisme online tidak berbeda jauh dengan kode etik jurnalisme konvensional. Berikut kode etik jurnalisme online;
Umum;
1. Data yang diperoleh melalui hak amandemen pertama tidak boleh dijual kembali guna mendapatkan keuntungan.
2. Waspada terhadap isi berita yang menjual produk tertentu yang dilakukan dengan cara pemungutan suara.
3. Dimungkinkan adanya isi yang menjual namun kredibilitas isi harus diutamakan.
4. Staf pemberitaan harus melaporkan berita kepada manajemen pemberitaan agar dapat dipertanggungjawabkan.
Isi;
1. Spronsor tidak diperkenankan mengontrol konten.
2. Tidak boleh ada pengaruh iklan dalam isi editorial.
3. Harus ada standard tekstual dan visual untuk membedakan konten dengan iklan.
4. Harus ada proses review aplikasi perangkat lunak editorial yang digunakan dalam situs.
Penyingkapan;
1. Pengungkapan kerjasama harus dilakukan sebelum link untuk masuk konten kerjasama. Simbol visual dan tekstual harus digunakan dalam pengungkapanya.
2. Ketika perusahaan memperoleh penghasilan dari link sponsor, hubungn harus diungkapkan.
Pengkodean;
1. Terjemahan dari aturan konvensional ke bahasa online harus dikembangkan guna membantu staf baru dalam mengenali nilai-nilai tersebut, misalnya;
• Aturan bahwa situs sponsor harus dibuat mengikuti aturan-aturan untuk advertorial di media cetak.
• Harus ada proses peninjauan editorial, animasi web dan grafis.
• Harus ada isyarat atau tanda yang diberikan secara terbuka terhadap konten yang bukan diproduksi oleh wartawan online dan editor terkait.
2. Kode etik internal atau komitmen perusahaan online jika memang berlaku harus dipublikasikan secara online.
Interaksi dengan pembaca;
1. Perlindungan terhadap privasi masyarakat harus dilakukan. Harus ada penjelasan spesifik tentang bagaimana situs online menggunakan informasi pendaftaran data pribadi masyarakat atau pengguna situs.
2. Formulir atau layar pendaftaran tidak menyertakan sponsor atau iklan kecuali diminta oleh pembaca.

Lahirnya media online tidak lepas dari meledaknya media online di luar negeri pada pertengahan tahun 1990-an. Pada bulan Mei 1992 Chicago Online, koran online pertama di Amerika diluncurkan Chichago Tribune di AS. Di Indonesia media online pada awalnya hanya memindahkan isi berita yang yang ada di surat kabar. Dengan kata lain produk berita versi cetak dengan online tidak ada perbedaan, sama persis. Namun yang dilakukan oleh situs http://www.detik.com pada pertengahan Juli 1998, tidaklah demikian. Detikcom tidak memindahkan berita versi cetak ke online, karena Detik.com tidak punya versi cetak, meski dalam perkembangan pernah membuat versi cetak. Berita-berita yang disajikan selalu up-to-date sehingga menjadi acuan banyak orang.

Orang melirik media online lantaran ada kejenuhan di pasar media cetak pasca reformasi 1998. Orang melihat media online mempunyai peluang yang menguntungkan karena modal dan investasinya dianggap lebih ringan dan murah dibandingkan dengan media konvensional/cetak. Oleh karena itu, orang kemudian berlomba-lomba membuat media online. Namun ternyata gagal. Satu persatu hingga tahun 2003, media online tutup. Pada waktu itu ada lebih kurang 500-an media online berdiri di Indonesia, termasuk situs-situs yang dibuat pemerintah daerah. Beberapa media online yang sudah hilang dari peredaran diantaranya : http://www.satunet.com, http://www.astaga.com, http://www.berpolitik.com, http://www.kafegaul.com, http://www.satuwanita.com, dll.

Lepas dari bagaimana jurnalisme online itu muncul, dan bagaimana seharusnya berita dalam jurnalisme online disajikan, kemajuan teknologi telah membuka peluang baru bagi jurnalisme online dan penggunaan internet oleh konsumen. Secara teknis operasional, internet sangat tidak praktis karena membutuhkan komputer dan ruang khusus untuk komputer serta jaringan telekomunikasi yang handal, sehingga ecara sosial ekonomi, internet merupakan barang yang mahal sehingga media ini justru melahirkan kesenjangan informasi dan pengetahuan, antara orang-orang yang bisa mengaksesnya dengan mereka yang tidak bisa mengaksesnya. Kelemahan-kelemahan internet inilah yang kemudian memunculkan teknologi telepon seluler (mobile). Pada periode di mana teknologi internet berkembang, pada saat yang berbarengan sebetulnya teknologi komunkiasi telepon seluler juga berkembang dengan pesat. Bila teknologi AMPS (generasi pertama) yang muncul pada awal 1990-an sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis, maka pada teknologi GSM (generasi kedua) yang mulai bergerak pada pertengah dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu mejadi wahana tukar informasi dalam bentuk suara tetapi juga data, berupa SMS dan MMS. Kemampuan teknologi mobilephone dalam mengirim data dalam bentuk teks dan gambar (SMS dan MMS) mendorong lahirnya berita-berita singkat dalam bentuk SMS dan foto-foto jurnalistik dalam bentuk MMS. Karena kemampuan mengirim dan menyimpan data sangat terbatas, maka teknologi GSM gagal mewadahi fungsi pers dengan lima prinsip jurnalistiknya, sehingga pers dalam teknologi seluler masih terbatas peran dan pengaruhnya. Namun hal ini berlangsung lama, sebab dengan beroperasinya UMTS (Universal Mobile Telecommunications System) yang merupakan generasi teknologi seluler generasi ketiga (3.G) sekarang ini, maka keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat teratasi, sehingga handphone menjadi sarana untuk mendapatkan informasi lengkap: teks, gambar, audio dan visual. Pada babakan inilah apa yang disebut konvergensi media akan mencapai titik maksimal, di mana lewat segenggam handset orang di berbagai penjuru dunia bisa mengakses informasi secara cepat dan lengkap sesuai dengan kebutuhan. Komunitas pers tentu akan menjadi pihak pertama yang memanfaatkan teknologi ini dengan menampilkan informasi dalam bentuk teks, gambar, audio dan visual. Tentu model-model jurnalisme via teknologi seluler ini juga akan berbeda dengan jurnaslime cetak, radio, televisi dan internet. Dampak konvergensi media ini akan menyentuh masyarakat dimana masyarakat pasti akan berubah tapi perubahan itu masih dalam batas-batas kontinium sebagaimana teknologi media dan jurnalisme mengalaminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s