Kiprah Telepon Umum “Coin” Kian Tenggelam

Bagaikan Buku Gambar

Oleh Beatrix Dewan 080903492

“Habis manis sepah di buang”. Yang baru datang, yang lama di buang. Kira-kira begitulah kondisi Telepon Umum “Coin” atau yang biasa disingkat TUC di Indonesia. Padahal, di era 90an, telepon umum koin menjadi primadona. Hampir seluruh warga Indonesia menggandrunginya. Pada masa keemasannya itulah, telepon umum koin menjadi alat komunikasi yang paling sering di akses masyarakat.

Kini, kiprah telepon umum koin seakan tenggelam terbawa arus teknologi komunikasi digital dan modern. Melesatnya penetrasi telekomunikasi seluler menjadi penyebab masyarakat semakin jarang menggunakan sarana telepon umum koin. Teknologi komunikasi tak berhenti beranak pinak dari waktu ke waktu. Kemajuannya yang pesat bak aliran sungai yang tak bisa lagi dibendung. Aneka jenis dan bentuk alat komunikasi modern terus membanjiri kehidupan manusia.

Aku Pilih Yang Kecil Aja

Di Yogyakarta, pos telepon umum koin nampak sepi pengunjung dan tidak terawat. Beberapa unit telepon umum koin bahkan tidak lagi berfungsi dan rusak. Trotoar tempat dibangunnya pos telepon umum koin menjadi tidak sedap di pandang mata dan jauh dari perhatian masyarakat. Box telepon yang seharusnya dirawat dengan baik, kini tidak sebagus dulu. Banyak coretan hasil karya tangan-tangan tidak bertanggung jawab di dinding box. Bahkan, tidak sedikit gagang telepon hilang entah ke mana.

Serupa Tapi Tak Sama

Jumlah telepon umum koin diberbagai daerah juga terlihat semakin menyusut, bahkan pengadaannya di beberapa daerah dihentikan. Hal ini membuktikan bahwa pasal 17 Kepmenhub No. 20/2001 dan 21/2001 juga sudah mulai diabaikan oleh pihak terkait karena dirasa ketinggalan jaman dan tak lagi relevan. Pasal ini menyatakan bahwa pemilik lisensi telepon tetap diwajibkan membangun telepon umum 3% dari kapasitas terpasang dan 1% diantaranya adalah telepon umum koin.

Tanpa disadari, sifat Hi-Tech industri media berdampak langsung pada tataran regulasi telekomunikasi. Regulasi pasal 17 Kepmenhub No. 20 tahun 2001 dan 21 tahun 2001 menunjukan bahwa regulator tak mampu mengimbangi akselerasi perubahan teknologi. Pada masa regulasi itu di buat, angka 3% masih relevan, tapi tidak lagi relevan untuk masa sekarang. Angka 1% untuk telepon umum koin sangat menyulitkan operator. Setting telepon umum koin sulit dilakukan oleh pihak operator karena ukuran dan jenis koin yang selalu berubah-ubah. Selain itu, kepemilikan koin di masyarakat juga semakin tersisih.

Meski tarif lokalnya murah, masyarakat merasa enggan mengakses telepon umum koin karena semakin sulit menemukan telepon umum koin yang bersih, nyaman, dan waras. Masyarakat juga merasa privasi mereka kurang terakomodir ketika menggunakan telepon umum koin. “Box telepon yang terlalu terbuka dan jarak antar telepon yang terlalu dekat membuat tidak nyaman,” ungkap Intan, mahasiswa salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Bagi operator, tingginya tingkat vandalisme menyebabkan biaya perawatan telepon umum koin membengkak. Padahal, harga yang ditetapkan dan dibebankan kepada masyarakat sangat murah, Rp 100,00 per pulsa. Bagi masyarakat, buruknya kondisi telepon umum membuat mereka enggan menggunakannya. Inilah keadaan dilematis dalam bidang telekomunikasi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Kedepannya, diharapkan semua pihak yang terlibat harus segera menentukan langkah untuk menyelamatkan eksistensi keberadaan fasilitas public ini. Regulator harus segera melakukan kaji ulang regulasi agar tidak lagi jadul. Sementara, operator harus menyiapkan inovasi agar telepon umum kembali diminati. “Jangan hanya melihat pengguna telepon umum diperkotaan, tapi lihat juga yang tinggal di daerah sub urban. Mereka masih menggunakan dan membutuhkan telepon umum koin,” ujar Dela mendukung eksistensi telepon umum koin. (bee)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s