Komunitas Media Tanpa Batas

Natalia Eka Jiwanggi 03453

“Draw on any surface, salah satu esensi dari street art, yakni media tanpa batas”, ujar Gandhi Setyawan (22), salah satu anggota Writer Super Team. Komunitas street art ini telah menjadi patokan bagi komunitas street art lain dalam menorehkan seni di jalanan Yogyakarta.

Berdiri pada tahun 2007 dan berlokasi di Yogyakarta, Writer Super Team yang sering disingkat WST menjadi anakan dari komunitas street art Yogyakarta Art Crime (YORC). YORC sendiri merupakan komunitas street art  yang memiliki ideologi art crime yang melihat seni jalanan sebagai aksi kriminal dalam skala kecil. “Bisa dibilang vandalisme namun tetap memikirkan estetika seni”, ujar Rolly (32), salah satu tetua YORC. Dalam komunitas seperti ini, tidak ditunjuk ketua yang mengkoordinasi kegiatan, hanya beberapa orang saja yang memang sudah lama aktif dan disegani oleh anggota lain.

Kelahiran WST diawali oleh pemikiran para dedengkot grafiti Jogja, seperti ‘Deka’, ‘Mads’ dan ‘Love Hate Love’ yang sudah malang melintang di dunia street art ini. Mereka bertujuan untuk mengkomersilkan street art agar dapat menghidupi sisi lain dari egonya. Lama kelamaan, WST keluar dari YORC karena masalah perbedaan kepentingan dan pandangan mengenai street art sendiri. Apakah berdiri di jalur crime atau jalur komersil. Mereka lepas dari YORC agar egonya dapat tetap berjalan, seperti menghasilkan uang untuk menggambar dijalanan tanpa meminta dari orang tua.

Walau hanya tersisa 11 orang, WST tetap menjalankan aktivitasnya sebagai seniman jalanan. “Jumlah kami emang dikit, tapi malah lebih solid satu sama lain”, ungkap Gedhek, ketua WST. Kalingga (27), nama asli dari Gedhek, juga memiliki nama jalan seperti artis street art lainnya, yakni ‘Silencer Eight’. Ada pula yang bergabung dalam WST, seperti Gandhi ‘Rasefour’, Damar ‘Da Masta’, Dido ‘Artz, Dandul ‘Age’, Adhit ‘Tes Two’, Theo ‘Sale Seven’, dan Putra ‘Sims Two’.

“Kami nggak ada kegiatan rutin. Cuma kalau lagi pengen nggambar ya langsung bareng-bareng nggambar”, ujar Gandhi (22), salah satu anggota aktif WST. “Biasanya kami berkumpul di kontrakan, terus langsung jalan cari spot nggambar”, tambahnya. Mereka memiliki basecamp di kontrakan milik Gedhek di daerah Mrican. Walau tidak terlalu besar, cukup untuk tempat mereka mengobrol dan berkarya.



Karena merupakan komunitas yang dapat dikatakan komersil, mereka mencari dana melalui karya seni yang dibuat. Beberapa aktivitas dilakukan secara aksidental atau mendadak karena tidak ada agenda bulanan. Seperti perform di acara semacam Let’s Dance, menjadi designer untuk interior cafe, designer kaos dan menyablonnya sendiri, produksi tas karton atau kanvas, membuat e-magz seputar dunia street art hingga menjadi salah satu pelopor sepatu lukis di Indonesia. “Kami bermain di berbagai media, batu aja pernah kami gambarin”, pungkas Gandhi. “Draw on any surface, salah satu esensi dari street art, yakni media tanpa batas”, tambahnya.

Tidak hanya lelaki saja yang bergabung dalam WST, ada dua perempuan yang mengurus manajemen. Afie dan Ucik telah menjadi anggota cukup lama, semenjak WST dibentuk. “Saya menyukai street art dan cocok dengan anggota yang lain, jadi ya saya kerasan disini. Berasa rumah sendiri dan malas pulang. Hehehe”, tutur Ucik (21). Kebanyakan street art memang laki-laki, tapi disini perempuan diberi ruang sama luasnya.

“Kami sering diminta bikin mural untuk promosi acara tertentu. Seperti yang sudah-sudah, kami buat mural untuk acara Yogya Gamelan Festival, atau Bienalle Yogya”, ungkap Kalingga sembari memperlihatkan hasil karya mereka. Karena tuntutan profesionalitas dan sisi perfeksionis yang dimiliki tiap anggota, hasil karya seni yang dibuat tidak main-main. Walaupun hanya menggambar untuk kesenangan pribadi, hasilnya juga tetap dibuat sesempurna mungkin. “Susahnya, kami ini perfeksionis semua. Jadi kalau nggambar harus totalitas, dan kalau lagi nggak mood mending nggak usah nggambar sekalian”, tambahnya.

Sebagai seniman jalanan, media yang digunakan pun tidak terbatas. Tembok rumah, gedung atau tembok jalanan, tembok fly-over, tiang listrik, bahkan jalanan itu sendiri. “Semua media yang masih bisa digambarin, kami hajar”, ujar pria yang akrab dipanggil Gedhek karena kepalanya sering gedhek-gedhek­ sendiri. “Tapi paling sering kami menggambar di tembok rumah atau toko orang. Mereka jarang marah kalau tembok kosongnya digambarin. Ada yang senang, tapi juga ada yang cuek. Itu enaknya nggambar di Jogja, orangnya welcome banget dengan senimal kaya kita”, jelasnya.

Dapat dikatakan bahwa sebagian besar seni jalanan itu ilegal karena dianggap mengotori pemandangan. Tetapi bukan Jogja kalau tidak melegalkan seni seperti ini. Jogja dianggap sebagai salah satu kota yang tidak terlalu ketat dengan aturan seni jalanan. Banyak seniman jalanan dari luar kota yang menetap di Jogja karena masih banyak tempat kosong yang dapat digambari. Seperti Bienalle Yogya yang memamerkan karya seni seniman Jogja di jalanan dengan berbagai macam media, sebutannya unconventional media. Jogja dikenal dengan seninya yang beragam dan unpredictable. Iklim seperti inilah yang mendukung para seniman jalanan seperti komunitas WST untuk terus berkarya.

Tembok kosong atau tembok yang strategis biasanya sering diincar oleh para seniman jalanan. Sama halnya oleh WST, yang jeli dengan letak-letak strategis tembok di Jogja. “Biasanya salah satu dari kami dapat incaran tembok bagus. Langsung aja bikin sketch, beli cat dan pilox, terus eksekusi deh”, ujar Rasefour, pria berkacamata yang juga anak iklan. Tidak semua tembok yang digambari harus bersih awalnya. Kebanyakan malah sudah penuh oleh gambar lama, dan ditumpuk oleh mereka. “Gambar yang kami tumpuk itu gambar anak-anak baru. Ada sedikit senioritas dalam hal ini”, tambahnya. WST, sebagai senior, anak lama dalam grafiti Jogja, sangat dipandang oleh anak-anak baru. Mereka jadi contoh untuk mengembangkan style dan skill anak baru. Sehingga, biasanya WST menumpuk gambar anak baru yang sudah lama berada disitu.

Salah satu hambatan yang sering dialami saat nggambar di jalanan adalah ketahuan polisi setempat. “Ketahuan polisi memang paling menyebalkan. Bisa ganggu mood ngambar kita”, ungkap Kalingga yang juga seorang graphic design. “Ketahuan polisi sih biasa. Nanti cuma ditanyain lagi ngapain, gambar apa, sudah ijin atau belum. Habis itu dilepas kok. Yang paling sering ketangkep tuh si Putra”, ujar Kalingga sambil menunjuk pria yang juga anak band punk metal dengan bercanda.


Lokasi di Jogja yang pernah mereka gambar, seperti Jembatan Layang Lempuyangan dan Janti, tembok di daerah Gejayan, Sagan, Malioboro, cafe Buzz di Babarsari dan cafe Bunker di sebelah Hotel Saphir. Beberapa diantaranya masih ada dan belum dihapus atau ditumpuk oleh gambar lain. Sehingga karyanya masih dapat kita nikmati bersama.


Konflik antar komunitas street art memang tak dapat dihindari, apalagi kalau soal lokasi gambar. WST pernah punya masalah dengan seniman jalanan lain karena gambar mereka di tiban. Sebagai seorang seniman, mereka mengekspresikan kemarahan dengan gambar, yakni jari tengah tangan tengkorang yang mengacung ke atas. Memang cukup frontal dalam membalas kemarahan, tetapi bagi mereka, dunia yang dijalani saat ini jauh lebih kejam. “Mereka semena-mena menumpuk gambar kami, padahal saat itu mood nggambar kami lagi bagus. Jadi hasilnya sangat memuaskan. Eh, malah ditumpuk, gambarnya jelek lagi”, kesal Adhit yang juga ikut nggambar.



Tidak hanya memiliki kenalan dengan komunitas street art di Jogja. Komunitas street art lain seperti di Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, bahkan dari luar negri, seperti New York, Belanda, Itali dan Perancis pun kenal dengan WST. “Kami memang cukup dikenal oleh komunitas lain. Biasanya kami nggambar bareng, terus disambung ngobrol-ngobrol seputar grafiti dan mural di Jogja”, jelas Gedhek. “Kami dapat kenalan dari teman. Bangga campur senang kalau ketemu mereka, apalagi yang dari luar negri. Bule dari Itali malah kaget dengan keadaan di Jogja yang penuh dengan grafiti dan mural”, tambahnya.

Perkembangan dunia street art semakin meluas dan bertransformasi menjadi lebih kompleks. Semakin banyak anak muda yang tertarik untuk terjun di dunia ini, dengan skill dan style-nya masing-masing. “Grafiti Jogja sekarang makin bagus aja. Style-nya makin berkembang dan variatif”, pungkas Gandhi. “Hanya saja, gambar mereka kurang terkonsep dengan baik, sehingga terlihat asal-asalan. Attitude mereka juga masih kurang, kadang-kadang sisa piloxnya nggak diberesin”, tambahnya.

Anak baru memang belum mengerti betul mengenai dunia street art secara menyeluruh. Untuk itu, WST ingin membantu mereka agar lebih mengembangkan bakat dan menjaga tingkah laku saat menggambar dijalanan. Selain itu, WST ingin agar seniman jalanan seperti mereka dihargai oleh masyarakat. Karena gambar dijalanan itu bukanlah sampah dan mengganggu pemandangan. “Grafiti dan mural itu seni. Seni mengekspresikan masalah lewat media seperti tembok jalanan. Bukannya corat-coret nggak jelas, itu namanya vandalism, bukan seni”, jelas Gedhek. Seni itu luas, abstrak dan subyektif. Sehingga pandangan tiap orang akan berbeda. Semuanya diserahkan kepada masyarakat yang menilai baik buruknya karya seni para seniman jalanan seperti WST.

4 thoughts on “Komunitas Media Tanpa Batas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s