Pentingnya Ruang Terbuka Bagi Anak-anak

Brigitta Agni Wibowo / 0809 03630

Yogyakarta-Selasa (17/5) lalu merupakan hari libur Nasional dalam rangka memperingati hari Raya umat Buddha, Waisak. Hari itu bukan hanya istimewa karena umat Buddha merayakan hari besarnya namun juga dikarenakan sejak Senin (16/5) ditetapkan sebagai hari cuti bersama.

Dampak dari keputusan Pemerintah yang menetapkan cuti bersama selama dua hari adalah meningkatnya jumlah pengunjung lokasi wisata di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Salah satunya adalah Taman Pintar di Yogyakarta.

Selasa (17/5) lalu, lokasi wisata edukasi anak-anak, Taman Pintar Yogyakarta, memang dipadati ribuan pengunjung. Berbagai rombongan dari sekolah maupun rombongan dari daerah luar Yogyakarta datang memadati lokasi wisata edukasi anak-anak itu. “Mumpung libur, saya bawa anak-anak ke Taman Pintar, sekalian refreshing. Kasian sehari-hari cuma main didalam rumah, nonton tivi terus, jarang keluar rumah,” ungkap Saryanto, salah seorang pengunjung.

Taman Pintar dan Aktualisasi Diri Anak

Padatnya lokasi wisata edukasi, Taman Pintar Yogyakarta, pada Selasa (17/5) lalu menunjukkan animo masyarakat tentang kebutuhan akan hiburan. Namun fenomena padatnya Taman Pintar Yogyakarta pada Selasa (17/5) lalu tidak hanya bisa dipahami sebagai kebutuhan manusia akan hiburan semata, tapi juga kepada pentingnya tahap tumbuh kembang anak di ruang terbuka.

Seperti yang bisa kita lihat di sekitar lingkungan kita bahwa pembangunan infrastruktur semakin gencar dilakukan di Indonesia. Terlebih kini semakin banyak pemukiman padat dibangun di kota-kota besar. Semakin banyak jalan raya yang diperlebar guna mendukung lancarnya jalur transportasi. Lebih jelas lagi kini semakin banyak dibangun gedung pencakar langit.

Semakin banyak bangunan yang berdiri maka semakin sedikit lahan kosong yang tersisa. Ironisnya pula maka semakin sedikit pula ruang terbuka bagi anak-anak. Terlebih baik pemerintah pusat maupun daerah kurang memperhatikan ruang terbuka atau ruang gerak bagi anak-anak. Kalaupun dibangun taman di pusat kota hanya dibangun untuk kepentingan penghijauan saja. Sangat jarang ditemukan taman kota yang bisa digunakan juga sebagai tempat bermain anak di ruang terbuka.

Santrock dalam bukunya mengenai Perkembangan Anak mengatakan bahwa anak pada usia 5 tahun menyukai petualangan. Ia juga mengatakan bahwa anak pada usia 5 tahun biasanya percaya diri untuk melakukan adegan yang menakutkan seperti memanjat, melompat, dan lain sebagainya. Artinya memang perlu ada ruang terbuka bagi anak-anak untuk mengembangkan diri.

Santrock juga mengatakan bahwa anak-anak juga membutuhkan aktualisasi diri lewat ruang terbuka. Dari ruang terbuka mereka bisa banyak belajar dari alam dan relasi antar teman sebayanya.

Salah satu permainan anak yang digemari dan cukup mengundang banyak perhatian anak-anak di Taman Pintar adalah taman airnya. Disana anak-anak bisa mengekspresikan diri dengan bermain air sepuasnya bersama teman-teman sebaya mereka. Mereka bisa mandi sepuasnya sambil bermain bersama teman sebaya dan orang tua mereka.

Saat berada di taman air, bila diperhatikan anak-anak tampak sangat ekspresif. Mereka bisa bermain, berteriak, bahkan berkejaran dengan teman-teman mereka. “Seneng banget anak saya main air, apalagi bareng-bareng gitu sama temannya,” ujar Sari, salah satu orang tua yang sedang menunggu anaknya bermain di taman air.

Tentunya hal tadi menjadi pemandangan yang jarang kita lihat. Sebab saat ini dengan berkembangnya pembangunan infrastruktur tentu membatasi ruang gerak anak-anak di ruang terbuka. Anak-anak saat ini menjadi lebih akrab dengan LCD seperti handphone, TV dan game online.

Dampak secara psikologis bagi anak adalah mereka kemudian tumbuh menjadi pribadi yang individual. Saraf-sarafnya juga tak terlatih untuk melakukan gerakan. Emosi dan keseimbangan saraf dalam otak tak dapat diolah dengan seimbang. Pelajaran dari alam dan dunia nyata yang sesungguhnya tak tersentuh dalam pikiran mereka. Anak-anak hanya belajar konsep-konsep formal dan ketrampilan lewat bangunan fisik dan dunia imajinasi layar monitor. Mereka tak belajar dari permainan dan gerak alamiah yang melibatkan emosi, saraf otak serta otot.

Ini yang kemudian menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Bagaimanapun juga anak-anak membutuhkan ruang terbuka bagi tahap tumbuh kembangnya. Setidaknya beri tempat bagi mereka untuk tumbuh secara alami. (brieg)

One thought on “Pentingnya Ruang Terbuka Bagi Anak-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s