Sebuah Keluarga Atas Nama Musik

oleh Cecillia Cati Rahayu Wulandari (03471)

“Jazz Mben Senen?!Kancaku!!!” salah satu jargon Komunitas Jazz Jogja yang selalu dikumandangkan bersama-sama di salah satu acara mingguannya.

Musik merupakan suatu hal yang tidak terbatas. Terdapat berbagai macam aliran di  dalam musik itu sendiri. Tentu saja masing-masing aliran mempunyai peminatnya masing-masing. Salah satu aliran musik yang mempunyai peminatnya sendiri adalah aliran musik Jazz. Peminat musik jazz sudah tersebar di seluruh belahan dunia, termasuk kota Yogyakarta di dalamnya.

Pluralitas masyarakat Yogyakarta, sangat berperan dalam perkembangan berbagai macam aliran musik yang ada di kota Gudeg ini. Salah satunya adalah perkembangan musik jazz. Sekitar tahun 80’an, jazz sudah dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat Yogyakarta. Seiring dengan perkembangan jaman dan generasi muda yang terus bertumbuh, musik jazz di Yogyakarta juga terus menerus berkembang dan turun-temurun melewati banyak generasi.

Sekitar tahun 90’an, musik jazz ini dimainkan oleh beberapa musisi senior di Gadjah Wong Restaurant, rumah makan tempat mereka menjadi homeband. Tidak sedikit generasi musisi yang lebih muda datang ke Gadjah Wong Restaurant, mulai dari sekedar menikmati permainan para seniornya, mendapatkan ilmu dari seniornya, bahkan ikut bermain di sana di bagian jam session. “Selalu ada pertanyaan kenapa, mengapa dan bagaimana di pikiranku” kata Danny Eriawan, salah satu bass di komunitas yang saat itu sering datang untuk jammin’  bersama musisi-musisi yang lain. Beberapa nama-nama musisi senior yang tidak asing lagi adalah Agung (bassist), Tuti (vocalist), Bj (drummer) dan masih banyak pemain yang lain. Sampai saat ini, sudah banyak sekali cafe-cafe yang juga memberikan live music jazzy night di hari-hari tertentu. Misalnya seperti Momento cafe.

Hingga akhirnya, sekitar tahun 2007-2008, beberapa musisi generasi muda, diantaranya adalah Fabion, Fanny Kuncoro, Danny Eriawan dan musisi yang lain, mempunyai ide untuk membuat jam session sendiri, sehingga mereka bisa berapresiasi setiap minggunya. Agar waktu yang digunakan untuk berapresiasi semakin lama, dan ilmu yang didapat tentunya semakin banyak. Akhirnya ide pun terwujud dengan bantuan seniman Yogyakarta, Djaduk Feriyanto. Jam session pun kemudian diadakan setiap  minggunya di d’Click cafe.

Peminat jam session semakin bertambah banyak. Mulai dari sekedar penonton, sampai ke peserta jammin’ sendiri. Setiap minggunya lagu yang dimainkan pun bervariasi, sesuai dengan apa yang sedang diinginkan pemain untuk jammin’. Lagu-lagu yang dimainkan pada saat jam session mayoritas adalah lagu-lagu jazz standar, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk memainkan lagu di luar itu. Hanya bermodalkan sound system seadanya acara ini pun terus berjalan. Beberapa musisi generasi yang lebih muda dan datang dari berbagai macam daerah luar Yogyakarta juga datang ikut meramaikan acara ini. Terkadang musisi ibukota yang sedang main ke Yogyakarta juga menyempatkan hadir dan ikut jammin’  bersama dalam acara ini.

Pengadaan jam session yang rutin di tiap minggunya, mempererat tali persaudaraan yang terjalin diantara peserta jammin’  yang hadir. Kemudian selain bertemu di d’Click cafe, mereka mulai berlatih bersama di luar acara tersebut. Salah satu tempat mereka berkumpul adalah di Samirono, di rumah Bapak Tari Pradeksa. Sambil berlatih, mereka juga menghabiskan waktu bersama dengan duduk santai dan berbagi cerita atau pengalaman bermusik yang sudah dialami masing-masing individu. Rutinitas inilah yang kemudian menjadi sebuah asal mula terbentuknya sebuah komunitas, yaitu Komunitas Jazz Jogja.

“Saya mulai masuk ke komunitas sekitar tahun 2008,” ujar Harley Yoga, seorang pemain bass yang merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan komunitas ini. Harley merasa, di komunitas ini ia bisa mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif, yaitu mengembangkan kemampuan bermusiknya. Selain itu secara langsung relasi akan bertambah, menambah saudara, dan merasa seolah-olah punya keluarga baru karena ia merupakan pendatang dari luar Yogya.

“Di komunitas ini saya bisa bertemu dengan orang-orang ‘gila’ untuk bersama-sama merealisasikan musik ‘gila’ yang ada di pikiran saya dan teman-teman yang lain,” lanjut pemain bass asal Purwokerto ini.

Berbagai macam acara satu demi satu muncul untuk mengisi keseharian anggota komunitas dengan bermusik. Mulai adanya Jazz on the Street, salah satu jam session yang diadakan di pinggir jalan, yang saat itu diadakan di halaman depan Jogja Gallery. Untuk menikmati acara jam session yang diadakan oleh Komunitas Jazz Jogja, warga Yogya tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun, karena acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Hal tersebut juga merupakan salah satu strategi komunitas, untuk memperkenalkan aliran musik jazz  kepada warga Yogya agar lebih familiar di telinga.

Jam session  yang diadakan di d’Click pun berpindah tempat. Komunitas akhirnya mengadakan acara tersebut di Bentara Budaya Yogyakarta, dengan nama Jazz Mben Senen (JMS). Tentunya hari Senin menjadi hari yang selalu ditunggu oleh pendengar setia dan anggota Komunitas Jazz Jogja. Acara dimulai sekitar pukul delapan malam dan berlangsung hingga lewat tengah malam. Musik yang dimainkan di JMS tidak terus menerus aliran jazz, tetapi acara ini terbuka bagi siapapun yang ingin berkesenian di sini. Berbagai macam acara yang pernah ada di JMS antara lain, musik kontemporer, pembacaan puisi, penggalangan dana, perayaan ulang tahun suatu lembaga, promo album, musik yang digabung dengan tari-tarian, dan masih banyak lagi ragam kesenian yang pernah ada. Melalui JMS ini pun, ide-ide acara yang lain untuk komunitas pun kerap muncul.

“Jazz Mben Senen?!Kancaku!!!” salah satu jargon Komunitas Jazz Jogja yang selalu dikumandangkan oleh MC bersama-sama di JMS. Acara Jam Session  mingguan lainnya adalah Etawa Jazz. Bertempat di rumah makan Susu Kambing Etawa, teman-teman komunitas juga bisa jammin’ bersama di sini.

 Selain acara mingguan, komunitas juga mempunyai agenda yang diadakan di setiap tahunnya. Acara yang pertama adalah Ngayogjazz. Dalam acara ini, anggota komunitas bebas berapresiasi untuk menghasilkan sebuah karya yang nantinya tergabung dalam satu album kompilasi di setiap tahunnya.

Di acara Ngayogjazz ini, komunitas bekerjasama dengan Wartajazz, untuk mengangkat tema tertentu di setiap tahunnya. Tentunya dari tahun pertama ke tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, tema yang diangkat akan berbeda. Karya yang dihasilkan musisi-musisi Komunitas Jazz Jogja di dalam album kompilasi, sesuai dengan tema yang diangkat. Bisa dibilang karya yang mereka hasilkan, selain dibiayai oleh sponsor utama, juga dibiayai oleh penikmat jazz di Yogya yang datang dan mengisi kotak apresiasi sukarela yang disediakan oleh komunitas.

Selama ini respon masyarakat Yogya terhadap Ngayogjazz cukup bagus. Selain menampilkan musisi daerah, Ngayogjazz juga menghadirkan musisi ibukota. Misalnya saja seperti Syaharani, Glenn Fredly, Iga Mawarni, Indro Hardjodikoro, dan masih banyak musisi lain yang pernah ikut meramaikan acara Ngayogjazz.

Agenda tiap tahun berikutnya adalah Jazz Sunrise. Awal mula acara ini adalah obrolan-obrolan ringan diantara anggota komunitas, yang ingin menikmati suasana lain saat bermusik. Dari wacana tersebut, anggota mencoba merealisasikannya dan mengajak penikmat musik jazz yang lain untuk ikut serta. Dan ternyata acara itu pun direspon baik oleh masyarakat Yogya, khususnya penikmat setia JMS.

“Menikmati deru angin dan suara ombak dengan irigan lagu jazz memang mantep banget. Ini suasana lain yang ingin kita rasakan saat bermusik, ujar Riri salah satu penyanyi yang cukup lama bergabung dalam komunitas.

Selain acara mingguan dan tahunan, untuk mengembangkan kemampuan tiap individu dan untuk memperkaya ilmu. Komunitas Jazz Jogja juga mengadakan sesi belajar bersama tiap dua minggu sekali. Dalam sesi ini, semua orang tidak terkecuali yang ingin bisa bermain jazz dipersilahkan untuk bergabung dalam proses pembelajaran ini. Pengajar dalam sesi ini adalah anggota komunitas yang lebih mengerti dan lebih paham dalam bidangnya. Misalnya saja spesialisasi drum mengajarkan tentang instrumen drum kepada peserta yang masih awam bagaimana memainkan drum dalam musik jazz. Begitu juga dengan instrumen gitar, saxophone, bass, dan instrumen yang lain.

Selain belajar bersama, anggota juga mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh teman-teman Alldint. Pengajar di pelatihan itu adalah bapak Yosias, salah satu pengajar di ISI Yogyakarta. Pelatihan-pelatihan ini sangat bermanfaat bagi anggota komunitas, khususnya para pemain instrumen, agar dalam memainkan instrumen, mereka tidak asal bermain, tetapi juga mengerti apa yang seharusnya dimainkan.

Hingga saat ini, komunitas sudah menghasilkan beberapa band yang dikenal oleh masyarakat umum. Salah satunya adalah Everyday Band. Membawakan lagu ciptaan sendiri dengan aransemen sendiri. Lagu-lagu Everyday yang baru saja dirilis adalah My Baby Blue, Irama hati dan masih ada beberapa lagu yang lain. Beranggotakan Riri (vocal), Gilang (keyboard), Yoga (bass), Jay (Saxophone), dan Simbah (drum). Dalam band ini terdapat chemistry antar satu dengan yang lain, yang berawal dari saling kenal dalam komunitas. Chemistry yang berhasil dibentuk berhasil mengeluarkan beberapa buah karya, yang sekarang sudah berada dalam masa promosi. Selain Everyday, ada juga Yovia Project, dan masih banyak lagi band-band kecil yang sudah memiliki karya sendiri.

Uniknya di Komunitas Jazz Jogja ini tidak ditemui adanya ketua komunitas. Anggota satu dengan yang lain setara, dan masing-masing individu berhak dan berkewajiban memberikan yang terbaik untuk komunitas. Dalam perjalanannya, komunitas ini juga tidak terlepas dari berbagai persoalan. Baik persoalan di antara anggota, maupun persoalan di luar komunitas. Sekarang ini, karena dukungan baik materi maupun non materi yang diberikan oleh penikmat dan penonton setia, komunitas sudah mempunyai basecamp  baru serta sound system mandiri. Basecamp komunitas saat ini adalah di belakang cafe Momento, dekat Jembatan Merah, Gejayan. Sekarang ini hampir setiap hari para anggota berkumpul, dan disanalah segala macam ide, wacana, dan permasalahan, didiskusikan. Bagaikan hidup seseorang, naik turunnya dinamika dalam Komunitas Jazz Jogja juga seperti sebuah roda yang berputar.

 

<a href=”

” title=”Jazz Sunrise”>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s