Semua Hanya Modal Cangkem

Tak perlu modal besar untuk membangun komunitas ini, hanya perlu suara Cangkem (mulut), niat, dan kekompakan untuk menjadi sebuah komunitas yang solid sekaligus menyumbangkan prestasi mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Tak peduli batasan umur dan jenis kelamin, komunitas ini mampu menjebatani setiap orang yang ingin berkreasi melalui musik. Komunitas ini lahir melalui aliran musik yang tidak biasa dan kreasi mereka tidak terhalang oleh keberadaan alat musik. Musik yang mereka mainkan dihasilkan melalui kekompakan suara yang dihasilkan oleh mulut, yang biasa disebut masyarakat sebagai acapella. Nama Acapella itu sendiri lahir sebagai sebuah karya musik yang  mengolah berbagai kemungkinan suara yang di hasilkan oleh mulut, karya ini pernah tenar di Eropa pada masa revolusi silam. Di Indonesia sendiri tidak banyak komunitas musik yang mengambil acapella sebagai jalur pilihan berkarya, namun justru karena inilah lahirlah Komunitas acapella unik dari Yogyakarta biasa masyarakat kenal sebagai komunitas Acapella Mataraman.

Komunitas acapella yang lahir pada lima belas tahun silam di kota Yogyakarta ini sepintas tidak berbeda dengan grup acapella yang biasa kita temui di eropa. Namun yang menjadi daya tarik tersendiri adalah komunitas ini justru mengangkat spirit musik tradisi nusantara yang dikemas menjadi musik yang unik dinamis dan kreatif. Kebanyakan instrument musik yang dimainkan olek komunitas ini mengambil suara alat musik nusantara yang cenderung mengarah pada suara-suara etnik. Acapella ini mengambil kata Mataraman untuk menamai komunitasnya tidak lain sebagai wujud identitas baru atas interpretasi acapella itu sendiri (acapella yang merakyat dan sangat Indonesia), selain itu penamaan ini juga merujuk pada permainan komedi gaya dagelan mataraman yang melahirkan humor-humor segar yang dikenal dengan guyon maton parikeno (lelucon yang nakal). Akhirnya kekuatan bunyi dengan lirik nakal namun cerdas inilah yang menjadi daya tarik utama Acapella Mataraman.

Komunitas ini lahir atas inisiatif Fredy Pardiman, awalnya komunitas ini terlahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan itu berupa alat musik, tempat latihan, pemusik dan uang yang diharapkan mendukung proses bermusik dengan latar belakang musik tradisi. Situasi ini dialami Fredy Pardiman ketika kuliah di Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta pada awal tahun 90-an. Ide membentuk komuitas ini berawal dari adanya permintaan seorang mahasiswa Jurusan Tari untuk membantu menata iringan ujian koreografi, Fredy Pardiman kesulitan untuk mendapatkan pemusik dan tempat latihan musik. Karena banyak mahasiswa tari yang juga mempersiapkan ujian yang sama, latihan musik pun tidak berjalan seperti yang diharapkan. Buntutnya Fredy Pardiman kebingungan yang berbuah stress. Dikejar oleh waktu, Fredy Pardiman memutuskan untuk tidak menggunakan gamelan sebagai alat musik dalam garapannya. Tetapi memindahkan suara-suara alat musik gamelan kedalam bentuk permainan vokal. Di luar dugaan permainan gamelan mulut yang dilakukan karena “keterpaksaan” ini ternyata memberikan hasil yang menarik dan memunculkan ide baru dalam penggarapan karya musik. Alhasil, Fredy Pardiman banyak mendapat pujian dan masukan positif yang mendukung dirinya untuk meneruskan musik gamelan mulut. Penampilan pertama gamelan mulut sebagai sajian musik tunggal datang pada saat Dies Natalis ISI tahun 1992, saat itu Fredy Pardiman berkesempatan mementaskan gamelan mulutnya yang diberi nama gamelan cangkem.

Beberapa tahun berlalu karir seni komunitas ini makin menanjak. Tahun 1996, Fredy Pardiman meneruskan perjalanan musiknya dalam kelompok musik KUA ETNIKA. Bersama Kua Etnika yang memberikan ruang bagi pengembangan kreatifitas tiap anggotanya Fredy Pardiman berkesempatan lagi menggelar pertunjukan gamelan mulut-nya pada acara Sketsa-Sketsa Bunyi yang diselenggarakan di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta pada bulan Desember 1997. Dalam pertunjukan tersebut, gamelan mulut karyanya tampil impresif dan megocok perut penonton dengan menghadirkan “nJeplak Thung-thung” dan “Oral Kambang”. Butet Kertaradjasa sebagai pembawa acara dalam pertunjukan ini secara spontan di atas panggung memberi label Acapella Mataraman pada permainan musik mulut karya Fredy Pardiman. Dan berawal dari ini pula Freddy berusaha mengembangkan seninya sekaligus menularkan bakatnya pada penerusnya untuk dapat sukses seperti dirinya. Pada tahun 1998 akhirnya Freddy berinisiatif memiliki sanggar dan membuat komunitas yang terbuka bagi siapapun untuk dapat belajar mendalami kesenian acapella etnik. Akhirnya gayung pun bersambut, pada tahun ini lahirlah StudioOmah Cangkem tepatnya di desa Karangjati, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul. Freddy mengakui sanggarnya tidaklah besar namun setidaknya harapannya untuk memiliki wadah kreatifitas sudah terwujud.

Dengan berdirinya sanggar ini harapan untuk memperluas kesenian acapella etnik mulai muncul, sekaligus harapan untuk mengasah seni kaum muda agar makin mencintai karya seni lokal mulai menggebu. Harapan Freddy kini hanya satu agar kaum muda yang mereka bimbing menjadi penerus karya kontemporer dan sekaligus menjaga cagar budaya lokal agar tetap langgeng. Harapan ini muncul karena menurutnya masa muda harus di isi dengan kegiatan yang positif selain belajar tentang kemandirian juga belajar menghormati warisan lokal yang dititipkan kepadanya, belajar berkomunikasi. Dari ide inilah maka komunitas acapella ini mulai membuka diri bagi kaum muda yang ingin belajar. Tanpa disangka ide ini disambut baik oleh kaum muda,  maka banyak pelajar dan mahasiswa dari Sleman, Yogya, dan Bantul yang tertarik untuk mendalami seni ini mulai bergabung dalam kelompok Acapella Mataraman yang dikomandani oleh Pardiman Djoyonegoro. Rata-rata anggota komunitas ini mengaku tertarik mengikuti acapella ini ini karena merasa terpanggil untuk melestarikan budaya Indonesia khususnya jawa. Namun usaha yang dilakukan para pemuda ini juga tidaklah mudah, mereka harus merelakan waktu yang tidak sedikit untuk berlatih dan mengasah pengalaman untuk membuat kompak acapella yang mereka mainkan. “waktu yang kami gunakan tidak akan pernah sia-sia semua terbayar lunas saat pementasan, tepuk tangan penonton merupakan kepuasan tersendiri” ujar Eny Lestari, salah satu anggota acapella mataraman ini menerangkan. Selama ini dengan bertambahnya personel yang masuk, komunitas ini merasa makin kuat dalam komposisi dan musik yang dimainkan melalui mulut juga mulai beragam dan bervariasi. Maka dalam masa keemasan inilah mereka telah melanglang buana hampir di banyak tempat di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kebanggaan tersendiri ketika karyanya dapat dinikmati seluruh masyarakat.

Seakan tak pernah berhenti berkarya, setelah hampir seperempat abad acapella Mataraman berdiri, barulah pada 24-25 Mei mendatang mendapat kesempatan untuk tampil secara internasional di Singapura. Kominits acapella ini didaulat untuk tampil di ajang internasional yaitu Singapore Arts Festival. Komunitas ini patut berbangga karena akan tampil dalam dua hari berturut-turut dalam sebuah tajuk JavanesseMoonlight yang mengangkat kekayaan kesenian jawa. “Secara personal pentas ke luar negeri sudah sering, tapi dengan membawa grup sendir dan membawa misi untuk budaya Jawa, ya baru kali ini. Dan ini suaru kebanggaan saya” ujar Pardiman Djojonegoro. Dalam kesempatan ini komunitas ini akan membawa delapan personel yang rata-rata memiliki jam terbang tinggi atau yang sudah memiliki mental untuk dipertontonkan di ajang luar negeri semacam festival kali ini. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya komunitas ini juga tidak lupa mengadakan gladi bersih pada 19 Mei 2011 kemarin. Selain untuk mempersiapkan mental juga untuk menambah tanggapan dari penonton untuk dapat lebih baik di pementasan sebenarnya di Singapura nanti. Dalam beberapa kritik yang diberikan penonton ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki oleh komunitas ini, antara lain persoalan gesture tubuh, ekspresi, tata busana yang hanya satu dan masih banyaknya penggunaan kata-kata lokal yang ditakutkan tidak terlalu relevan di pentas luar negeri nanti.

konser persiapan pentas di Singapura (foto diambil dari antaranews.com)

Untuk pementasan di Singapura nanti acapella besutan Freddy ini akan menampilkan tiga segmen yang dari kesemuanya akan di dominasi oleh komedi menarik sekitar kehidupan Jawa. Segmen pertama akan menghadirkan keceriaan selayaknya anak-anak lewat lagu malioboro, di segmen kedua komunitas ini akan lebih fokus pada kehidupan yang dibalut iringan karawitan dan imaji tentang wayang kulit sekaligus bercerita tentang tingkah polah manusia yang kadang lucu, di segmen ketiga komunitas ini akan menghadirkan karya Njeplak Tung-tung yang bercerita tentang paduan suara yang tidak menurut pada dirijennya. Yang membuat acara malam itu semakin menarik adalah keseriusan para lakon yang ada di dalamnya yang secara penataan suara dan kemampuan berkesenian tidak diragukan lagi, yang akhirnya membuat acara ini layaknya sajian musik orkestra yang menyentuh.

Akhirnya komunitas ini memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa membuat karya tidak harus terbatas oleh apapun, bagaimanapun setiap apa yang kita lakukan apabila ada niat di dalamnya niscaya akan berhasil baik sekaligus memberikan kepuasan tersendiri. Selain itu komunitas acapella Mataraman juga memberikan suguhan yang menarik dan inspiratif bagi kaum muda, bahwa kearifan lokal tak harus dinikmati secara konvensional namun terlepas dari itu setiap budaya lokal yang ada dapat dipahami secara menarik apabila mampu dihadirkan secara berbeda.

Yohanes Januadi 08 09 03541

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s