Trotoar di Kota Yogyakarta Beralih Fungsi

Nita Au Batuwael (090903929)

Yogyakarta – kurang lebih 1000 pedagang kaki lima mencari nafkah di kota ini. Bagaimana tidak, peraturan daerah mengenai Perizinan Tempat Usaha tidak dilaksanakan secara jelas. Akibatnya hampir di setiap trotoar jalan utama di Yogyakarta dipakai oleh pedagang kaki lima untuk berjualan.

Berbeda dengan Yogya, Rancangan peraturan daerah tentang Perizinan Tempat Usaha mulai disusun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penggunaan ruang publik yang tidak terkendali lagi, memaksa untuk segera ditetapkan Peraturan Daerah (Perda) mengenai permasalah ini.

Peraturan ini juga dirancang untuk menertibkan pemakaian ruang publik seperti saluran air, trotoar, Bahu jalan, median jalan. Bila aturan ini diterapkan, maka yang pertama kali harus ditertibkan tentu saja adalah pedagang kaki lima.

Dari data yang dimiliki Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), saat ini ada sekitar 105.000 pedagang di Ibukota. Sedangkan jumlah anggota resmi organisasi itu tercatat sekitar 32.780 orang. Angka ini tentu fantastis, dan mereka hampir ada di setiap pinggir jalan utama Jakarta.

Tidak bisa dipersalahkan jika Pedagang kaki lima semakin merajalela di hampir setiap trotoar kota. Mereka timbul karena kondisi pembangunan perekonomian dan pendidikan yang tidak merata di Indonesia. Juga tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi.

Sejak lama ruas jalan untuk pejalan kaki ini (trotoar) dimanfaatkan pedagang untuk berjualan, yang dulu dikenal dengan pedagang emperan. Beberapa sudut kota Yogyakarta seperti jalan Kaliurang, daerah sekitar Universitas Negeri Yogyakarta, jalan Solo, jalan Babarsari banyak ditemukan pedagang kaki lima yang beroperasi di daerah itu.

Aturan mengenai sarana untuk pejalan kaki sebenarnya sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Peraturan pemerintah saat itu menetapkan bahwa setiap jalan yang yang dibangun harus menyediakan sarana untuk pejalanan kaki. Lebar ruas jalan itu harus lima kaki atau sekitar 1,5 meter.

Keberadaan pedagang kaki lima memang jadi masalah. Mulai dari menganggu lalu lintas, pedagang kaki lima kerap membuang limbah dagangan mereka di sungai dan saluran air terdekat.

Keberadaan pedagang kaki lima di tempat yang kurang tepat ini cukup mengganggu para pejalan kaki bahkan terhitung membahayakan pejalan kaki. Pasalnya para pejalan kaki akhirnya harus berjalan tidak pada trotoar yang bisa mengakibatkan mereka di tabrak oleh kendaraan yang sedang berlalu lalang.

Tapi keberadaan mereka masih sangat dibutuhkan, karena harga makanan dan barang dagangan yang mereka jual relatif murah. Dan dengan modal yang tidak besar, banyak orang yang akhirnya tertarik dengan bisnis ini.

Oleh karena itu, beberapa masyarakat sebagai pejalan kaki mengharapkan agar pemerintah segera bertindak dengan menyediakan lahan bagi para pedagang kaki lima ini sehingga pejalan kaki dapat berjalan dengan lebih aman, jalan menjadi lebih bersih karena tidak ada pedagang yang membuang sisa dagangan mereka ke jalan maupun selokan, serta pekerjaan mereka juga dapat di pertahankan.

Sumber :

http://metro.vivanews.com/news/read/246968-perda-trotoar–105-ribu-pkl-akan-tergusur

Berikut adalah beberapa komentar warga tentang keberadaan pedagang kaki lima di trotoar :
Komentar 1 :

Komentar 2 :

Komentar 3 :

Komentar 4 :

Lokasi :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s