Yogyakarta Berhotel Nyaman?

Haryorachmantyo Wijowarastro (08 09 03604)

Musim liburan telah tiba di pertengahan tahun 2012 ini. Kota-kota pariwisata di Indonesia dipenuhi dengan bis pariwisata dan para wisatawan dari segala penjuru negeri. Salah satu kota itu adalah Yogyakarta. Yogyakarta selain kota pelajar juga dikenal dengan pariwisatanya, baik itu wisata kuliner, wisata budaya, wisata alam, hingga wisata belanja. Pihak yang sangat diuntungkan dalam fenomena ini adalah hotel dan penginapan seantero kota Yogyakarta. Semakin banyak wisatawan yang datang ke Yogyakarta memicu pertumbuhan jumlah hotel di Yogyakarta.

Hotel Baru

Sepanjang tahun 2010 hingga 2012 ini banyak sekali hotel dibangun di sekitar kota Yogyakarta. Hotel yang dibangun mulai dari yang berukuran sedang hingga yang berkapasitas besar. Hotel-hotel baru itu didirikan di lokasi-lokasi strategis pariwisata di Yogyakarta seperti All Seasons Hotel dan Whizz Hotel di Jalan Dagen, Edotel di Kemetiran Kidul, Hotel Amaris di Jalan Diponegoro, Hotel Harris, Hotel Jambu Luwuk di Jalan Jambu, Hotel MM yang terletak di daerah Seturan, dan Hotel Tentrem di Jalan AM Sangaji yang masih dalam tahap pembangunan.

 Image

(Hotel Jambuluwuk)

Image

 (Hotel Grand Aston)

Tak hanya di pusat kota, namun hotel-hotel juga didirikan di jalan utama seperti di Jalan Solo yang telah berdiri Grand Aston Hotel dan Ambarukmo Palace Hotel. Jalan Adisucipto dan Jalan Gejayan juga sedang dibangun hotel baru.

Pasar wisatawan untuk permintaan kamar hotel semakin meningkat seiring dengan perkembangan jumlah wisatawan. Jumlah wisatawan yang datang dan menginap di hotel bintang maupun non bintang pada bulan April 2012 secara keseluruhan mengalami kenaikan.

Selama bulan April 2012 jumlah tamu yang menginap di hotel secara keseluruhan berjumlah 231.425 orang atau mengalami peningkatan sebesar 7,61 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai jumlah 215.052 orang. Dari jumlah tamu tersebut terdiri dari 219.472 wisnus dan 11.953 wisman. Tamu yang menginap pada hotel bintang bulan April 2012 sebanyak 78.893 orang, mengalami peningkatan sebesar 2,67 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berjumlah 76.840 orang.

Image

Peningkatan jumlah tamu tidak terjadi pada semua kelas bintang, pada hotel bintang tiga dan empat justru mengalami penurunan masing-masing 24,34 persen dan 3,05 persen. Jumlah tamu wisman seluruhnya mengalami kenaikan 6,27 persen, namun tidak merata pada semua klasifikasi hotel bintang. Pada hotel bintang empat terjadi penurunan.

Jumlah Tamu Menginap pada Hotel Bintang di Provinsi D.I.Yogyakarta, Januari – April 2012

Dari tabel diatas bisa terlihat perkembangan jumlah wisatawan yang datang ke Yogyakarta untuk semester awal tahun 2012 ini. Bertambahnya jumlah hotel pun semakin tak terelakkan. Namun hal ini menimbulkan berbagai macam persoalan yang mungkin kurang terpikirkan.


Kemacetan

Semakin banyak wisatawan yang datang ke Yogyakarta berarti semakin banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan-jalan Yogyakarta. Kemacetan menjadi salah satu masalah utama saat musim liburan di Yogyakarta.  Lebar jalan di Yogyakarta tidak selebar kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Jakarta, atau Semarang. Jalan terlebar di Yogyakarta adalah Jalan Ring Road dan Jalan Solo saja, pelebaran jalan juga sedang mulai dilakukan oleh dinas setempat. Namun banyak hotel yang dibangun tanpa melihat akses jalan untuk menuju hotel tersebut, seperti Hotel Jambu Luwuk, Hotel MM, All Seasons Hotel dimana jalan raya di depan hotel tersebut terlalu sempit sehingga jika ada mobil atau bus yang ingin menuju hotel tersebut akan berpotensi menimbulkan kemacetan. Ribuan motor dan mobil lalu lalang tiap bulannya di Yogyakarta setiap musim liburan padahal jaringan jalan di Kota Yogyakarta hanya 462.672 km.

Image

Kemacetan tidak hanya terjadi di jalan-jalan utama Yogyakarta, tetapi juga di jalan-jalan kecil di Yogyakarta seperti Jalan Babarsari dan Jalan Selokan Mataram. Kenyamanan berkendara di Yogyakarta dikorbankan saat musim liburan dimulai, menjadikan slogan “Yogyakarta Berhati Nyaman” pudar dan tidak terasa lagi.

Areal Hijau Berkurang

Ruang terbuka hijau merupakan salah satu elemen penting di dalam tata kota. Areal seperti taman kota dan pepohonan pinggir jalan akan menambah asri kota Yogyakarta. Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di setiap kota memiliki tiga fungsi yaitu ekologis, sosial ekonomi, dan evakuasi. Sesuai dengan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, jumlah RTH di setiap kota harus sebesar 30 persen dari luas kota tersebut.

Lingkungan hijau yang alami bisa menurunkan risiko masyarakat terkena berbagai macam penyakit. Ruang terbuka hijau juga berefek positif terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat. Mereka yang tinggal dalam radius satu kilometer dari ruang terbuka hijau memiliki risiko lebih rendah terkena 15 dari 24 jenis penyakit, termasuk diantaranya penyakit jantung, gangguan otot, gangguan mental, penyakit pernafasan, penyakit syaraf, penyakit pencernaan dan keluhan kesehatan yang lain. Ruang terbuka hijau bermanfaat paling besar untuk mencegah depresi dan kecemasan atau stress bagi mereka yang tinggal di sekitar areal hijau tersebut.

Ruang terbuka hijau di Yogyakarta bisa terancam oleh berdirinya banyak hotel tanpa adanya perencanaan tata kota yang baik. Lahan-lahan yang seharusnya bisa digunakan untuk RTH kini telah terpakai untuk membangun hotel-hotel tersebut. Jika pembangunan seperti ini terus dilanjutkan maka Yogyakarta akan kehilangan RTH. Pemerintah sebaiknya memperhatikan hal ini karena ini sangat penting untuk kepentingan masyarakat kota Yogyakarta.

Komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta untuk memperluas RTH  sampai dengan 30 persen pada tahun 2011 hampir dikatakan mustahil. Walaupun Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkot Yogyakarta sudah menganggarkan untuk menambah ruang hijau terbuka dari 17 persen menjadi 20 persen, tetapi ruang terbuka hijau yang diciptakan lebih pada ruang hijau terbuka binaan bukan merupakan ruang terbuka hijau publik.

Pembangunan hotel tak terkontrol yang mengakibatkan RTH berkurang akan mengakibatkan persoalan lanjutan, seperti suhu udara yang akan semakin panas, kurangnya daerah resapan air yang akan berpotensi menimbulkan banjir.

Pemerintah adalah pihak yang berkompeten untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh pembangunan hotel yang tak terkendali ini. Pembangunan hotel memang dirasa perlu untuk menampung banyaknya wisatawan yang datang ke Yogyakarta, namun elemen-elemen lain seperti akses jalan dan ruang terbuka  hijau jangan dilupakan. Elemen-elemen tersebutlah yang menjadikan kota Yogyakarta memiliki label “Berhati Nyaman”. Jangan sampai slogan itu dikorbankan hanya untuk keuntungan beberapa pihak saja, walau bagaimanapun kepentingan masyarakat umum adalah prioritas utama yang tidak boleh dilupakan.

Sumber:

www.lodging-world.com

www.dishub-diy.net

www.vickyastro.com

Balai Pusat Statistik Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s