Minimnya Transportasi Umum di Jalan Babarsari

Daisy Herapuspitasari M (090903861)

Transportasi umum merupakan salah satu fasilitas penting yang berhak digunakan oleh semua orang. Beragam transportasi umum di Yogyakarta, seperti bus, angkot, taksi, becak, delman, sampai yang terbaru seperti Bus Trans Jogja, tentunya telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, untuk berpergian ke tempat-tempat yang mereka tuju. Namun, tidak semua daerah di Yogyakarta dilalui oleh berbagai transportasi tersebut. Jalan Babarsari salah satunya.

SLEMAN – Jalan Babarsari bisa dibilang sebagai jalannya mahasiswa. Pasalnya disepanjang jalan ini berdiri berbagai universitas, diantaranya Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN), Universitas Atma Jaya (UAJY), Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Batan (STTN Batan), dan Universitas Proklamasi (UnProk). Sebagai jalanan yang dipenuhi mahasiswa, tentunya transportasi umum sangatlah diperlukan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Ironisnya, minim sekali transportasi umum yang melewati jalan ini. Kondisi ini nyatanya memang banyak dikeluhkan oleh berbagai pihak, khususnya mahasiswa sendiri, yang memang tidak memiliki kendaraan pribadi.

“Transportasi umum emang minim banget, apalagi di daerah Babarsari. Misalnya kayak aku yang gak punya transportasi sendiri itu lumayan susah kalo mau ke daerah kayak Seturan gitu misalnya, yang deket-deket aja tapi gak ada transportasi umum”, ujar Igna, mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Yeni, mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ia mengaku pernah mengalami kesulitan ketika harus berangkat ke kampusnya, sewaktu ia masih kos di daerah Gowok, depan Ambarukmo Plaza.

“Dulu waktu pertama kali kuliah di Atma kan itu aku sempet kos di daerah Gowok, jadi kalo ke Babarsari hanya TransJogja aja, itu pun tempat pemberhentian TransJogja itu cukup jauh dari Kampus Atma Jaya, sehingga aku yang ga tau apa-apa naik becak, dan bapak becaknya bilang tu 10 ribu, mahal banget kan, aku tawar tu 3000 dan dia ga mau, mau gak mau kalo ga mau telat ya udah naik, dengan ongkos 10 ribu.”, jelasnya.

Menurutnya, jika ada angkutan umum, seperti angkot misalnya, paling tidak ia tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal hanya untuk berpergian dalam jarak dekat.

Sesungguhnya ada satu transportasi umum di Jalan Babarsari, yaitu becak. Para tukang becak ini biasa mangkal di depan Jalan Babarsari, tepatnya di pertigaan Jalan Solo, tepat di depan jalan masuk ke Babarsari. Namun, becak sendiri kurang banyak diminati oleh para mahasiswa.

“Di Babarsari juga ada becak, ya itu memang transportasi umum, tapi kalo aku pribadi belum pernah naik becak di Jogja, kenapa, karena yang pertama butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai ke tempat tujuannya, padahal aku butuh waktu yang cepat untuk sampai ke tempat tujuannya.”, jelas Prince, salah satu mahasiswi UAJY yang juga berdomisili didaerah ini.

Selain karena lama, tarifnya yang mahal menjadi alasan utama mengapa transportasi ini menjadi kurang diminati. Untuk perjalanan dari shelter Trans Jogja yang ada di Janti sampai ke depan Jalan Babarsari dibutuhkan ongkos sekitar Rp 5000 sampai Rp 7000. Sedangkan untuk perjalanan dari shelter yang sama ke Kampus Atma Jaya dibutuhkan ongkos sekitar Rp 10000. Disamping itu, pangkalan becak juga hanya terdapat di tempat itu saja. Selebihnya, tidak ada satu pun becak yang mau mangkal di daerah Babarsari ke dalam.

“Untuk mangkal-nya itu kalo di Seturan atau di UPN Ringroad sana, itu gak terbiasa mbak. Jadi kalo mangkal disana nyatanya anu e, gak betah, gak ada temen-temennya disana mbak. Jadi otomatis mangkalnya di depan sini, di depan Jalan Babarsari.”, ujar Sulaiman, salah satu tukang becak yang mangkal di depan Jalan Babarsari.

Selain karena alasan tersebut, ia mengaku kalau ditempat ia mangkal ini, ia bisa mendapatkan penumpang lebih banyak dibandingkan bila ia mangkal di daerah Babarsari ke dalam, atau Seturan misalnya. Pasalnya tempat pangkalan becak ini adalah tempat dimana biasanya orang-orang turun dari bus atau angkutan kota yang melintas di Jalan Solo.

Minimnya transportasi umum di Jalan Babarsari memang menjadi keluhan bagi warga Babarsari, khususnya para mahasiswa yang kuliah di daerah tersebut. Tidak adanya transportasi umum membuat mereka merasa sulit untuk berpergian ke tempat-tempat tertentu, terutama daerah sekitar Babarsari sendiri, seperti Seturan atau Selokan Mataram, yang memang tidak mungkin bila ditempuh hanya dengan jalan kaki. Mereka tentunya berharap agar transportasi umum ini nantinya akan diadakan di Jalan Babarsari.

“Harapanku sih kalo bisa ada kayak TransJogja ato angkot-angkot gitu yang lewat disekitar kampus, soalnya kan banyak juga sebenernya mahasiswa yang gak bisa naik transport tapi sebenernya perlu transportasi umum”, ujar Rizky, yang juga mahasiswi UAJY.

Selain memudahkan dalam berpergian, transportasi umum juga dirasa lebih terjangkau bagi kantong mahasiswa, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya lebih hanya untuk transport saja.

Kan gak mungkin harus apa-apa telepon taksi, namanya juga mahasiswa pasti apa-apa juga pasti minim gitu. Kita bukan anak pejabat ato anak konglomerat yang bisa ngluarin duit enteng 25 ribu untuk pergi jauh, paling jauh deh Malioboro, padahal dengan 25 ribu bisa untuk tiga kali makan”, ujar Yeni menambahkan.

Becak menjadi satu-satunya transportasi umum yang ada di Jalan Babarsari. Sayangnya mereka hanya mangkal di depan jalan masuk Babarsari saja.

Sebuah tempat duduk mirip halte diletakkan di depan Kampus III UAJY. Sayangnya tempat duduk tersebut nampak sia-sia, karena tidak ada satu pun kendaraan umum yang lewat jalan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s