MENELUSUR KIPRAH BUS KOTA

Stephani Arum Sari (090903761)


Pagi itu terminal Jombor tidak terlalu ramai. Seorang pemuda duduk di belakang kemudi bus kota Ia tidak sendiri, seorang kawan yang juga masih muda berdiri di pintu bus. Keduanya menunggu penumpang yang menyewa bus itu. Sopir bus itu bernama Bagus (24) dan rekannya bernama Adi (26). Keduanya berada dalam atap kerja yang sama, mengoperasikan salah satu bus kota yaitu PUSKOPKAR. Dengan mengenakan kaos oblong, keduanya masih menunggu penumpang. Di terminal Jombor, hanya ada satu bus kota yang terparkir.

Pembahasan soal alat transportasi memang tidak akan ada habisnya. Bus kota atau bus regular merupakan salah satu alat transportasi yang dimanfaatkan oleh warga Yogyakarta. Di samping angkot, taksi, becak, dan dokar. Bus masih menjadi alat transportasi pilihan bagi masyarakat Yogyakarta dari satu tempat ke tempat lain. Bus kota terbagi dalam beberapa jenis seperti KOPATA, KOBUTRI, ASPADA, PUSKOPKAR dan DAMRI.

Kesemua jenis bus kota itu memiliki ciri khas masing-masing. Secara kasat mata, bentuk fisik bus ini berbeda-beda. Misalnya untuk ASPADA, warna bus adalah biru. KOBUTRI menggunakan warna kuning sebagai penanada bus. KOPATA memiliki warna merah pada bus. Sedangkan  DAMRI dan PUSKOPKAR warna bus keduanya adalah putih dan biru.

Masing-masing bus memiliki jalur atau trayek yang berbeda-beda. Setiap dua hari sekali, bus-bus itu beroperasi. Contohnya, jalur dua yang rutenya dari terminal Giwangan, Purawisata, bundaran UGM dilayani oleh KOBUTRI dan KOPAJA. Sedangkan jalur empat yang arahnya dari terminal Giwangan, Kota Baru, Tugu Jogja, Gembira Loka dilayani oleh ASPADA, KOPAJA dan PUSKOPKAR. Bus kota tersebut juga beroperasi sesuai dengan hari tertentu. Biasanya, bus kota tersebut mulai bergerilya pada pukul 05.00 – 18.00 WIB. Terminal Giwangan memang menjadi pusat keberangkatan bus kota tersebut. Dalam beberapa menit, bus kota berlalu lalang di sana.

KEMUNCULAN TRANS JOGJA

Kemunculan TRANS JOGJA dalam deretan sarana transportasi warga cukup fenomenal. Apalagi jika dikaitkan dengan eksistensi bus kota sebelumnya. Memang, sebelum Trans Jogja muncul, bus kota menjadi primadona transportasi. Namun setelah muncul Trans Jogja, beragam pendapat mulai terkuak, entah pro maupun kontra.

Bagus dan Adi mengakui, setelah Trans Jogja muncul, pengguna bus kota pun mulai menurun.

“Pendapatan kalau narik bus kota sekarang ya nurun mbak. Apalagi sekarang ada Trans Jogja. Orang-orang lebih milih naik Trans Jogja”, ujar Bagus.

Menurut keduanya, dari segi fisik, fasilitas dan pelayanan, Trans Jogja lebih mumpuni. Namun tidak lantas bus kota mengalami penurunan penumpang yang drastis. Beberapa masyarakat Yogyakarta masih menggunakannya walaupun jarang.

“Biasanya ya yang mau ke pasar sama ke kampus mbak. Bus ini kan ketemunya, pusatnya ada di kampus UGM”, jelas Bagus.

Keduanya mengatakan, fisik bus kota memang sudah menurun. Namun soal jalur, bus kota memang lebih unggul dibandingkan dengan Trans Jogja.

Menurut Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pengelolaan Terminal Giwangan, Imanudin Aziz, hadirnya Trans Jogja bertujuan meremajakan bus kota. Satu bus Trans Jogja yang beroperasi mensubstitusi dua bus regular.

“Sebelum adanya Trans Jogja, bus kota regular itu kan terus menurun. Dari segi fisik bus nya secara kasat mata tidak memenuhi standar kelayakan. Kedua, dari segi pelayanan, dari jam berjalannya, jam operasionalnya itu kan semakin hari semakin tidak jelas. Maka ini kan perlu dilakukan peremajaan, artinya dari sisi fisik busnya, layanannya, sistemnya”, ujar Imanudin Azis.

Imanudin mengatakan, dalam jangka waktu ke depan bus kota akan dihilangkan, walaupun membutuhkan proses yang lama. Saat ini bus kota memang masih bertahan, sekalipun dari segi kuantitas penumpang menurun. Namun keunggulannya, Trans Jogja belum dapat menggantikan trayek bus kota.

Perpustakaan, ‘Gudang Ilmu’ yang menjadi ‘Gudang’

 

Charissa Olivia Ananda (0909 03868)
Perpustakaan; Gudang Ilmu yang menjadi Gudang

Seiring dengan maju nya tekhnologi dan tinggi nya mobilitas masyarakat, sekarang sudah banyak diciptakan alat-alat untuk memudahkan kebutuhan masyarakat, salah satunya dalam hal edukasi. Dalam dunia edukasi, buku merupakan salah satu hal pokok dalam belajar. Munurut definisi Kamus besar Bahasa Indonesiam buku adalah “lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong; kitab”.
Perpustakaan, tempat, gedung, ruang yg disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dsb; koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yg disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.
Selain itu, internet yang telah berkembang kini memanjakan masyarakat dengan banyaknya search engine untuk mencari apa saja yang kita ingin ketahui , bahkan banyak juga tersedia buku online. Dengan tekhnologi yang baru pula, telah diciptakan e-book atau buku elektronik yang dapat diunduh dari internet ke dalam smart phone. Hal-hal seperti itu banyak menurunkan jumlah pengunjung perpustakaan.

Yogyakarta, dari dahulu sampai sekarang masih dikenal sebagai “Kota Pelajar”. Banyak orangtua dari luar kota maupun luar pulau, jauh-jauh mensekolahkan putra-putri mereka ke Jogja untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik serta lingkungan pendidikan yang terjamin pula. Salah satu perpustakaan di Yogyakarta ini adalah Yayasan Perpustakaan Hatta yang terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto.

Dahulu sekitar tahun 80-90an, Perpustakaan ini pernah menjadi mengkalnya para aktifis , budayawan, sastrawan, dan pekerja budaya sebagai ruang dialog pembebasan pada kuasa rejim Orde Baru yang otoriter, namun sekarang terlihat begitu kumuh, dan sangat tidak terawatt. Rumput ilalang dan rumput liar banyak dibiarkan tumbuh begitu saja baik di depan maupun di belakang gedung Perpustakaan. Begitu juga dengan kondisi gedung nya, atap bangunan itu sudah rapuh,dan di bagian belakang bangunan terdapat banyak bangku-bangku yang sudah tak layak pakai.
Berada di tengah-tengah kota, tak membuat bangunan ini menjadi ramai dikunjungi masyarakat. Padahal, Perpustakaan ini terletak di depan Gedung Wanitama, dan berdekatan dengan SMA Swasta serta Mall yang berada tak jauh dari situ. Saat malam tiba pun, kondisi bangunan ini sudah hamper tidak terklihat karena banyaknya warung makan yang berada di depan bangunan ini.
Yayasan Perpustakan Hatta mulai tanggal 15 Juli 2006 telah tertutup untuk umum. Meski dipindahalihkan buku-bukunya ke perpustakaan Universitas Gajah Mada, entah mengapa tak ada suara-suara protes atau kritik yang menyapa mengapa Yayasan Perpustakaan Hatta yang telah menghidupkan denyut peradaban Yogyakarta ini harus ditutup. Bahkan dari puterinya sendiri yang saat ini telah menjabat sebagai menteri pemberdayaan perempuan, Meutia Hatta.
Sekarang, perpustakaan itu telah benar-benar beralih fungsi menjadi Gudang dari Universitas Gadjah Mada. Menurut salah satu guru dai sekolah swasta, Ery ,”Sangat disayangkan sekali yah, perpustakaan warisan dari Bung hatta itu udah jadi gudang seperti itu. padahal, gedung itu merupakan gedung bersejarah dan sudah ada dari lama sekali, amat disayangkan harus menjadi seperti itu.”

Balap Liar Bahayakan Pengguna Jalan

YOGYAKARTA – Aksi balapan motor liar yang dilakukan puluhan pemuda di Jalan Stadion Baru, depan Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta, sangat mengganggu dan meresahkan pengguna jalan serta masyarakat sekitar, karena aksi tersebut dinilai dapat membahayakan keselamatan masyarakat dan pengguna jalan lainnya, saat menggunakan fasilitas jalan umum tersebut.

Foto : Balap Motor Liar di Jalan StadionBru, Depan Stadion Maguwoharjo – Yogyakarta

Aparat Kepolisian Sektor Depok Timur, Yogyakarta, melarang keras kegiatan balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo tersebut dilakukan. Patroli, himbauan, penindakan dan kerja sama dengan warga, pengguna jalan, serta dengan aparat kepolisian Polsek Kemplak, Yogyakarta, terus dilakukan untuk mencegah aksi balapan motor liar dan mengurangi angka kecelakaan yang disebabkan oleh aksi balap motor liar tersebut.

Meskipun pihak kepolisian sudah mengambil langkah tegas dalam menangani problematika ketertertiban berlalu lintas tersebut, dengan melakukan patroli dan penangkapan terhadap pembalap liar beserta kendaraannya. Para pemuda yang memiliki hobi balap motor ini, sepertinya tidak jera atas tindakan polisi, terbukti dengan masih adanya rutinitas balapan motor liar dalam setiap harinya di sore hari dari sekitar pukul 16.00  hingga 18.00, tepat di depan Stadion Maguwoharjo hingga sekarang.

Rutinitas balapan motor liar tersebut, akhirnya juga dimanfaatkan sebagian masyarakat sekitar untuk mengais rejeki dengan membuka warung atau angkringan. Hal itu bisa terjadi karena balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo, tepatnya di Jalan Stadion Baru tersebut sudah menjadi tontonan dan hiburan bagi pemuda/i yang gemar dengan balapan motor, setiap harinya.

“Aksi balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo tergolong susah untuk dihilangkan, karena setiap petugas kepolisian melakukan patroli, para pembalap liar dan penonton akan langsung bubar dan melarikan diri. Usaha penangkapan pun akhirnya kerap kali gagal karena petugas kalah cepat dengan para pembalap liar dan untuk mengurangi resiko kecelakaan petugas dengan pembalap, pengejaranpun dihentikan dan petugas hanya menyita barang bukti yang tertinggal”, ungkap Surahman, Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Depok Timur, Kamis (21/6).

Padahal aksi balap motor liar tersebut, selain menganggu kenyamanan berlalu lintas juga dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan. “Kecelakaan juga sering terjadi saat di arena balapan motor liar, selain dengan sesama pembalap motor liar, kecelakaan juga kerap terjadi dengan masyarakat dan pengguna jalan yang berlalu lalang menggunakan jalan umum ini”, tutur Radinand yang merupakan salah satu penonton yang hampir setiap harinya gemar menonton balapan motor liar, saat ditemui di depan Stadion Maguwoharjo, Rabu, (20/6).

Dengan adanya kegiatan yang melanggar ketertiban lalu lintas serta dapat merugikan dan membahayakan orang lain, tidak segan-segan pihak kepolisian juga akan memberikan tindak pidana berdasarkan Undang-Undang Lalu Lintas No. 22 tahun 2009. Aparat Kepolisian Sektor Depok Timur juga akan terus menindaklanjuti laporan dari masyarakat terkait dengan balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo. Selain itu juga akan tetap terus menggalakkan patroli dalam setiap harinya, serta akan terus bekerja keras untuk menekan tingkat kecelakaan lalu lintas. Pasalnya, seringkali balap motor liar yang mengganggu ketertiban lalu lintas dapat berujung pada kecelakaan.

Pihak kepolisian sudah bekerja keras sekuat tenaga untuk perlahan-lahan mengurangi aktivitas balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo, namun hal ini akan menjadi sia-sia apabila tidak ada kesadaran dari para peserta balapan motor liar dan dukungan dari Pemerintah Daerah D.I Yogyakarta, seperti yang diungkapkan Surahman, selaku Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Depok Timur dalam rekaman wawancara, saat ditemui di ruang kerjanya berikut ini, Kamis (21/6).

https://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F50490662 Wawancara – Kanit Lantas Depok Timur – YK by Mega Latu

Mega Latu / 090903810

Trotoar, Milik Siapa?

Image

Kawasan di Jalan Babarsari, Depok, Sleman

Sleman (20/6) – Kaum pejalan kaki adalah orang terlemah saat berada di jalan. Fungsi trotoar adalah untuk memfasilitasi dan memastikan mereka bisa aman dan nyaman walau sedang berjalan di pinggir jalan raya sekalipun.

Namun, fungsi trotoar sendiri semakin dipertanyakan ketika digunakan untuk kepentingan lain. Fenomena yang sering dijumpai adalah berkumpulnya para pedagang yang berjajar di sepanjang trotoar untuk berjualan. Hal ini bisa membahayakan kaum pejalan kaki, karena tidak ada ruang bagi mereka untuk berjalan. Bisa saja, mereka terserempet oleh kendaraan saat berjalan di pinggir jalan ketika trotoar digunakan untuk berdagang.

Salah satu ruas jalan yang dipadati oleh pedagang kaki lima adalah jalan Laskda Adi Sutjipto, depan Mirota Kampus Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Sebagai kawasan yang padat, trotoar tertutupi oleh beberapa mobil yang parkir, belum lagi para pedagang yang berjualan di trotoar.

Namun, dilema mengenai bagaimana nasib pedagang jika tidak berjualan. Sukino (40), penjual otak-otak di trotoar depan Mirota Kampus Babarsari mengatakan bahwa ia tahu tidak boleh berjualan di trotoar. Ntetapi, jika tidak berjualan, anak dan istrinya di rumah mau makan apa. Sukino mengakui sering kali dia berjualan di Pasa Beringharjo lalu diusir oleh petugas Kamtib. Tidak ada yang bisa ia lakukan, hanya lari menghindar dan mengamankan dagangannya.

Image

Sukino (40), Pedagang Otak-otak

Berbeda lagi dengan Tia (21) mahasiswi UAJY, sebagai pejalan kaki ia merasa tertanggu oleh adanya pedagang yang berjualan di trotoar. Terlebih lagi jiak sedang ada transaksi jual beli disana. Ia harus menunggu hingga transaksi itu selesai baru bisa berjalan.

Sebagai salah satu fasilitas umum, Tia berpendapat sudah saatnya trotoar dikembalikan ke fungsi semula yakni untuk pejalan kaki. “Pemerintah juga harus memberi lokasi bagi pedagang kaki lima seperti yang terdapat di kawasan Mrican”, ungkapnya.
Veronika Yasinta/090903799

BUS-BUS LUAR KOTA YANG SERING “SEMBRONO”

Edith Jeanet H

0809 03671

Kerap kali saya melihat Bus-Bus yang berhenti tidak pada tempatnya. Bus-Bus yang saya lihat sering melakukan pemberhentian ditempat yang tidak sesuai alias sembrono. Pemerintah kota Yogyakarta sudah memberikan tempat untuk naik dan turunnya penumpang luar kota, tetapi kerap kali tidak dipergunakan sesuai aturan yang berlaku dan sering dilanggar. Ini terjadi karena pemerintah yang kurang tegas terhadap masalah ini.

Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, kerap kali saya melihat Bus-Bus yang sembrono menurunkan penumpang juga menaikan penumpang di pinggir jalanan raya tanpa memikirkan bahaya atau tidak pada penumpang tersebut. Selain itu juga banyak didapat Bus-Bus yang sudah tidak layak di pakai dan di operasika malah tetap berjamur disetiap jalan.

Contohnya saja yang sering saya lihat yaitu di bawah Jembatan Janti, baratnya shelter Trans Jogja arah ke solo. Bus-Bus Kopata dan Bus-Bus ke luar kota sering berhenti dengan sembarangan di pinggiran jalan raya ini. Tidak hanya di jalan ini, tetapi di jalan-jalan raya lainnya juga serupa. Dengan kebiasaan tersebut jadinya penumpangpun ikut serta terlibat dalam pelanggaran tersebut.

 

Tidak hanya di Yogyakarta yang sering buat pelanggaran seperti ini, di kota-kota besar lain misalnya Jakarta yang kita sendiripun tau bagaimana keadaan kota Jakarta dengan segala kericuhan kendaraan bermotor, bermobil,truk dan juga bus-bus. Tidak hanya Bus-Bus saja yang sering melanggar tertibnya lalu lintas tetapi kendaraan-kendaraan lainnya juga sama. Keadaan Bus yang sudah tidak layak dipakai juga masih terlihat banyak yang beroprasi di kota Jakarta.

Diberikan kemudahan tetapi tidak di laksanakan dengan baik dan benar, sebaiknya pemerintah kota Yogyakarta lebih tegas dengan hal tersebut, agar kota Yogyakarta bebas dari Bus yang rusak dan juga yang sembrono. Begitu juga dengan diberikannya penyuluhan yang baik juga kepada sopir-sopir yang mengendarai kendaraan tersebut.

Wisata Cerdas ke Museum

Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar mempunyai banyak obyek wisata sejarah maupun pendidikan yang dapat menjadi alternatif mengisi liburan di Jogja. Salah satu cara untuk mengetahui sejarah dan budaya di Yogyakarta adalah dengan mengunjungi museum. Yogyakarta mempunyai  banyak museum yang dapat dikelompokkan menjadi Museum Benda Budaya dan Kesenian, Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, dan Museum Sejarah dan Perjuangan. Berikut ini, saya akan membagikan beberapa informasi museum di Yogyakarta :

Sumber : Katalog Museum Yogyakarta, Asosiasi Museum Badan Musyawarah Musea (Barahmus DIY)

  1. Museum Kareta Kraton Yogyakarta

Peta Musem Kareta Kraton

Kraton Yogyakarta merupakan salah satu tempat wisata budaya favorit wisatawan. Namun jika sudah sampai Kraton, jangan lupa untuk mampir ke Museum Kareta Kraton Yogyakarta. Museum kareta kencana ini, menyimpan kareta-kareta kencana dari zaman Sultan Hamengku Buwono I sampai Sultan Hamengku Buwono IX yang masih terawat sampai sekarang. Memasuki area museum Anda akan melihat kareta kencana bernama Kyai Jongwiyat, salah satu kareta  yang dipakai untuk kirab pernikahan putri Sultan yaitu Jeng Reni. Puluhan kareta disimpan dan dirawat baik-baik di tempat ini oleh para abdi dalem Kraton. Salah satu kareta yang tertua adalah kareta milik Sultan Hamengkubuwono I yang bernama Kanjeng Nyai Jimat, kareta ini sudah berumur kira-kira 300 tahun.

Ada juga kareta yang khusus dipakai untuk penobatan Sultan, kareta tersebut lebih besar daripada yang lain dan diberi nama Kyai Garuda Yeksa. Di atas kareta tersebut terdapat mahkota yang terbuat dari emas. Kareta tersebut dibuat di Belanda. Ada juga kareta yang berfungsi sebagai ambulans atau untuk mengangkat raja yang sudah wafat ke pemakaman raja-raja Imogiri Bantul, kareta berwarna putih ini bernama Kyai Rata Pralaya.

Museum ini terletak di jalan Rotowijayan sebelah barat Kraton Yogyakarta, tarif masuk museum ini juga sangat murah yaitu Rp 3000,00, untuk ijin memotret maka akan dikenai tarif tambahan seribu rupiah.

2. Museum Biologi

Museum milik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini, memamerkan ribuan koleksi hewan, tumbuhan, dan fosil yang dikelompokkan dalam herbarium basah, herbarium kering, awetan hewan basah, awetan hewan kering. Selain itu terdapat juga koleksi kerangka hewan, bahkan manusia.

Museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan. Masuk ke ruang fishes, Anda akan disuguhi barisan toples kaca yang di dalamnya terdapat beragam spesies ikan yang diawetkan dengan air keras. Mulai dari ikan air tawar, sampai ikan air laut dengan bentuk dan rupa yang jarang dilihat pun ada di museum ini.

Menginjakkan kaki di ruang kerangka, Anda akan menemui beraneka kerangka dengan susunan yang utuh di dalam kotak kaca berukuran besar. Lihat saja kerangka badak Jawa yang panjangnya hampir mencapai tiga meter dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter, menjadi kerangka paling besar di ruangan tersebut. Kerangka lain seperti kuda, kambing, orang utan, dan manusia juga tersusun rapi dalam kotak kaca, di beberapa bagian terlihat kawat-kawat kecil untuk mengaitkan bagian-bagian dari kerangka tersebut.

Di ruang aves, terdapat bermacam-macam awetan burung seperti kakak tua, burung bangau, kasuari, burung dara mahkota, merak hijau, burung hantu, elang, gagak, dan lainnya. Awetan burung tersebut dimasukkan dalam kotak kaca, dan dilengkapi dengan ranting pohon dan daun layaknya saat hidup di alam bebas.

Awetan hewan seperti, kura-kura, ular, buaya, penyu, dan bulus terdapat di ruang reptile. Jenis-jenis ular yang kecil dimasukkan ke dalam tabung kaca bulat yang diisi dengan air keras dan disinari lampu. Selain itu terdapat kura-kura dan penyu berukuran besar yang digantung di dinding, ada pula yang dimasukkan ke dalam rak kaca.

Bagaimana? Menarik kan museum ini? Anda dapat berkunjung ke sini bersama anak-anak agar mereka dapat belajar secara langsung keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia. Lokasi museum ini juga mudah dijangkau yaitu di Jalan Sultan Agung No.22 Yogyakarta. Jam buka museum ini mulai hari Selasa-Kamis pukul 07.30-14.30, Jumat pukul 08.00-11.00, Sabtu pukul 08.00-12.30, dan Minggu pukul 08.00-12.00.

3. Museum Sonobudoyo

Museum ini menyimpan banyak sekali benda bersejarah seperti artefak, gerabah, arca, keris, wayang, benda pra sejarah dan masih banyak lagi. Museum ini sangat luas dan terbagi menjadi beberapa ruangan diantaranya ruang pra sejarah tempat untuk menyimpan benda-benda pra sejarah. Kemudian ada juga ruang topeng, wayang kulit, wayang golek, batik, keris dan sebagainya.

Di sebelah museum ada juga gedung untuk menampilkan pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit tersebut diadakan setiap Senin sampai Jumat pukul 20.00. Di sekitar museum juga terdapat rumah pembuatan wayang kulit asli dari kulit kerbau. Harganya bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah tergantung ukuran dan kualitasnya.

Museum ini berada di jalan Trikora No.6 Yogyakarta. Jam buka Selasa-Kamis, pukul 08.00-15.30 WIB, Jumat pukul 08.00-14.00, Sabtu dan Minggu pukul 08.00-15.30, sedangkan Senin dan Hari Libur Nasional tutup.

4. Museum Gunung Merapi

Yogyakarta mempunyai gunung berapi teraktif di Indonesia, apalagi kalau bukan Gunung Merapi. Gunung yang terletak di utara Kota Yogyakarta ini menyimpan pesona yang indah. Namun, jika sudah mulai erupsi maka bisa menjadi bencana yang hebat. Erupsi tahun 2006 dan 2010 merenggut korban jiwa dan material. Di Museum Gunung Merapi ini, dikumpulkan berbagai macam artefak dari sisa-sisa letusan, seperti motor yang sudah dilalap awan panas, peralatan dapur yang tertimbun abu, dan lainnya. Museum ini juga menampilkan foto-foto dan peta timbul gunung-gunung berapi di Indonesia. Museum yang terletak di Jalan Kaliurang Km 22, Hargobinangun, Pakem Sleman ini, mulai buka dari hari Selasa-Minggu pukul 09.00-15.30.

Oleh : Veronika Sekar Hayu W (090903804)

Kemerosotan Eksistensi Telepon ‘Koin’

Arwindha Putry Dewantary (090903954)

Sabtu siang (16/6) kondisi jalanan di jalan Yos Sudarso nampak sepi, yang terlihat hanya segerombolan siswa siswi SMP 5 yang pulang sekolah. Tidak jauh dari tempat itu terlihat adanya bilik telepon umum “koin” di depan kantor pusat PT. Telkom. Sekilas saja tampak bilik telepon koin tersebut tidak terawat, kotor, berdebu dan penuh dengan coretan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab. Dan benar, setelah didekati telepon koin tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dua dari empat bilik yang disediakan ternyata mati dan bahkan sudah tidak layak digunakan.

Telepon ‘koin’ di Jalan Yos Sudarso Yogyakarta

Menurut informasi penjaga parkir PT. Telkom, sebagai fasilitas umum telepon koin memang sudah jarang digunakan bahkan dalam satu hari tidak mesti ada yang menggunakannya. “sepi mbak sekarang. Paling yang memakai hanya siswa SMP atau SMA dekat sini, selain itu tidak ada”, ujar Sugiyato (55). Bahkan PT. Telkom sendiri sebagai perusahaan telekomunikasi nampak mulai tidak memperhatikan keberadaan telepon koin.

Tetapi siang itu nampak dua lelaki berhenti di depan bilik telepon koin. Salah satu dari mereka nampak memasukkan koin ke dalam telepon dan menggunakannya. Menurut Hadi (24) salah satu pengguna telepon koin, kata “murah” sangat tepat untuk menjawab alasan masih menggunakan telepon umum. “Yang pasti murah mbak. Cukup memasukkan koin 100 rupiah sudah bisa bicara kurang lebih 3 menit” sambungnya. Namun sepertinya kata ‘murah’ sendiri tidak bisa membuat penggunaan telepon koin bisa bertahan.

Pada era multimedia ini perkembangan teknologi semakin pesat. Dimulai dari munculnya mobile phone, smartphone hingga teknologi seperti tablet PC yang dapat digunakan untuk telepon. Semakin maraknya penggunaan teknologi canggih membuat orang kini tidak lagi melirik fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah, seperti yang kerap kita ketahui yaitu telepon umum “koin”. Hal ini menimbulkan keprihatinan, bahwa kini faktanya penggunaan telepon umum sudah menjadi hal yang langka. Bahkan hampir tidak pernah digunakan.

Coretan di bilik Telepon ‘koin’

Mengingat kemajuan perkembangan teknologi yang semakin baik, membuat orang-orang lebih beralih pada teknologi pribadi tanpa harus berbaur dengan fasilitas umum. Hingga kini jarang sekali ditemukan orang yang ingin menelpon tetapi harus pergi ke tempat telepon umum terlebih dahulu. Mobilitas yang tinggi membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas yang dirasa kurang membawa keuntungan tersendiri.

Rasa malas dan merasa lebih mudah serta praktis menggunakan mobile phone juga membuat orang tidak ingin bersusah payah mencari telepon umum untuk telepon ke daerah lokal. Apalagi hal ini didukung dengan semakin maraknya kondisi persaingan provider atau yang sering disebut ‘perang provider’. Dimana provider telepon seluler berlomba-lomba memberikan harga yang paling murah kepada penggunanya sehingga pengguna lebih tertarik untuk menggunakan telepon seluler yang praktis dan murah dari pada haru pergi mengunjungi telepon umum di pinggir jalan.

Perubahan ini sungguh terlihat sangat signifikan. Telepon umum yang dahulu menjadi alat komunikasi yang paling banyak diakses oleh masyarakat kini justru ng jawab. agi terawat, berdebu, rusak atau tidak berbunyi, bahkan bilik nya sudah dicoret-coret jarang dan bahkan tidak ada lagi yang berniat untuk menggunakan fasilitas telepon umum. Telepon umum yang di sediakan oleh PT. Telkom pun tidak lagi dipergunakan semestinya.

Kini keberadaan telepon umum sudah tergerus dengan budaya multimedia saat ini dan eksistensinya pun semakin menurun seiring berkembangnya teknologi yang lebih maju. Walaupun masih terlihat beberapa di tempat-tempat umum, sepertinya hal itu tidak diperhatikan lagi dan semata hanya sebagai pelengkap dekorasi kota yang memiliki fasilitas umum.

JANGAN ABAIKAN TOILET UMUM

LOWINA MINDASARI BR. GINTING / 07 09 03381

Yogyakarta (20/6), pukul 20.00 WIB, sepanjang jalan malioboro Km 0 dikerumuni banyak orang yang berlalu-lalang. Banyak aktivitas yang dikerjakan, baik yang menikmati acara di Monumen Serangan 1 Maret 1949 maupun yang hanya sekedar berfoto-foto atau berkumpul. Malam ini lebih ramai bila dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya.

Padatnya pengunjung malam itu juga berdampak terhadap toilet umum. Di Jalan Malioboro Km 0, tepatnya di depan Kantor Pos terdapat toilet umum. Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin banyak pula pengguna toilet umum tersebut. Adanya toilet umum merupakan salah satu kebutuhan yang penting di daerah yang banyak dikunjungi.

Image

Menurut Bapak Gito (53 Tahun) toilet di depan kantor pos ini beroprasi mulai dari pukul 09.00 – 24.00 WIB. Pak Gito adalah penjaga toilet umum ini. “Penjaga toilet ini terbagi dua, penjaga pertama mulai dari jam 09.00 – 17.00 WIB, dan penjaga selanjutnya mulai dari 17.00 – 24.00 WIB. Biasanya sampai acara selesai kalau ada acara disini” lanjut pak Gito menjelaskan.

Sebagai penjaga toilet umum ini, banyak pengalaman yang dialami oleh pak Gito. Banyak dari pengguna toilet yang membuang sampah tidak pada tempatnya, akibatnya tidak jarang saluran pembuangannya sumbat.

Image

Tidak hanya pak Gito, banyak pengguna yang juga mengeluhkan kebersihan toilet umum ini. Seperti yang dikeluhkan oleh mbak Yani (27 Tahun) seorang pendatang dari Palembang. Menurutnya toilet umum ini tidak terlalu bersih. Lantainya becek, banyak punting rokok yang berserakan. “ Kurang bersih, apalagi westaflenya rusak, enggak bisa digunakan, tapi airnya bersih dan enggak bau seperti toilet umum lainnya” jawabnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Jonatan (18 Tahun) seorang mahasiswa. Menurutnya toilet ini agak baud an becek

Pengguna toilet ini biasanya akan diminta biaya suka rela, dimana uang tersebut akan digunakan untuk kebersihan dan perawatan toilet umum ini. Menurut pak Gito, dalam semalam bisa mengumpulkan sekitar Rp. 50.000/malam untuk malam biasa sedangkan untuk malam minggu atau hari besar bisa terkumpul sekitar Rp. 100.000/malam.

Menurut Jonatan (18 tahun), keberadaan toilet umum ini sangat penting. Dengan adanya toilet umum ini pengunjung tidak perlu jauh-jauh mencari toilet. Toilet ini sudah lebih baik dibandingkan toilet umum lainnya. meenurut mbak Yani yang perlu dibenahi adalah memperbaiki westafle dan diperhatikan kebersihannya. Berikut ini adalah hasil rekaman dengan beberapa pengguna toilet umum.

Wawancara dengan Pak Gito (Penjaga toilet umum) :

Wawancara dengan Mbak Yuni :

Wawancara dengan mas Jonathan:

Lokasi:

Lihat Peta Lebih Besar

Polisi Tidur Tidak Perlu Berlebihan

Tutut Lestari   (09093962)

Alat pembatas kecepatan atau sering disebut sebagai polisi tidur banyak dijumpai di beberapa ruas jalan. Alat pembatas kecepatan tersebut merupakan bagian dari rekayasa lalu lintas yang dibuat untuk mengurangi kecepatan kendaraan ketika melintas. Pembuatan dan spesifikasi alat pembatas kecepatan diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan nomor 3 tahun 1994. Di dalam peraturan tersebut diatur mengenai bentuk, bahan, serta penempatan alat pembatas jalan agar fungsinya sesuai.

Salah satu kawasan yang terkenal dengan polisi tidur-nya adalah kawasan Pogung, yang meliputi Pogung Rejo, Pogung Kidul, dan Pogung Dalangan. Kawasan ini terletak di wilayah Kecamatan Mlati, di sebelah utara Kampus Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Pogung menjadi kampung bagi mahasiswa yang sebagian besar berkuliah di UGM. Banyak dijumpai kost-kostan dan sejenisnya di kawasan ini, sama banyaknya dengan warung makan, laundry, dan rental computer. Aktivitas di Pogung tidak pernah mati. Hampir selama 24 jam ada saja orang beraktivitas di sini. Jam berapapun orang melintas pasti akan berpapasan dengan rombongan kendaraan bermotor, baik yang melaju ke arah Pogung, maupun yang keluar dari Pogung.

Lalu lintas yang ramai di jalanan yang sempit, ditambah aktivitas orang di kanan dan kiri jalan membuat masyarakat setempat merasa memerlukan polisi tidur untuk mengurangi resiko kecelakaan di jalanan. Hanya saja sayang, tampaknya di dalam pembuatannya, polisi tidur di kawasan ini tidak mengikuti ketentuan yang diatur dalam undang-undang. Di lapangan, banyak dijumpai polisi tidur yang tingginya melebihi spesifikasi yang ditentukan. Selain itu, meskipun tidak tertulis secara jelas di dalam peraturan, jarak antar polisi tidur di beberapa ruas jalan sangat berdekatan.

Jalanan di Pogung memang merupakan jalan lingkungan. Itu artinya, sesuai ketentuan yang berlaku tidak masalah untuk membuat alat pembatas kecepatan di jalan tersebut. Masyarakat juga membutuhkan alat pembatas kecepatan. Tentunya masyarakat setempat ingin merasa nyaman dan aman beraktivitas di lingkungannya sendiri. Apalagi banyak mahasiswa yang bermukim di situ agak ugal-ugalan ketika berkendara, entah karena terburu-buru masuk kuliah, atau karena pikiran yang sedang kacau. Tanpa alat pembatas kecepatan, perilaku ugal-ugalan itu akan membahayakan keselamatan warga. Namun sekali lagi, pemasangan alat pembatas kecepatan tersebut tidak perlu “lebay” alias berlebihan.

Jarak antar polisi tidur yang berdekatan membuat orang yang berkendara serasa menaiki punggung kuda. Belum lagi tinggi polisi tidur yang sering membuat beberapa jenis kendaraan “nyangkut”. Keberadaan polisi tidur yang berdekatan, yang dalam jarak seratus meter bisa dijumpai lima polisi tidur, tanpa dilengkapi sistem drainase yang baik juga menyebabkan jalan cepat rusak. Keberadaan polisi tidur menjadi bendungan bagi air hujan sehingga pada musim penghujan banyak ruas jalan tergenang di kawasan ini. Hal itu menyebabkan jalan cepat rusak. Niat baik untuk melindungi warga justru merepotkan warga sendiri, yang setiap tahunnya harus kerja bakti untuk memperbaiki jalan.

Inilah rasanya yang harus jadi perhatian. Pengguna jalan sendiri, daripada capai mengeluh mengenai kondisi jalan akan lebih baik juga ikut menyadari bahwa jalanan di situ merupakan milik bersama. Artinya ketika melintas di jalan-jalan permukiman seperti itu harus menjaga etika. Sementara warga juga sebaiknya mengurangi jumlah polisi tidur di Pogung. Selain menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengendara, polisi tidur yang terlalu lebay akan membuat jalanan menjadi cepat rusak karena sering tergenang. Mungkin harus ada tindakan tegas dari Dinas Perhubungan terkait masalah ini demi kenyamanan bersama.

Minimnya Transportasi Umum di Jalan Babarsari

Daisy Herapuspitasari M (090903861)

Transportasi umum merupakan salah satu fasilitas penting yang berhak digunakan oleh semua orang. Beragam transportasi umum di Yogyakarta, seperti bus, angkot, taksi, becak, delman, sampai yang terbaru seperti Bus Trans Jogja, tentunya telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, untuk berpergian ke tempat-tempat yang mereka tuju. Namun, tidak semua daerah di Yogyakarta dilalui oleh berbagai transportasi tersebut. Jalan Babarsari salah satunya.

SLEMAN – Jalan Babarsari bisa dibilang sebagai jalannya mahasiswa. Pasalnya disepanjang jalan ini berdiri berbagai universitas, diantaranya Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN), Universitas Atma Jaya (UAJY), Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Batan (STTN Batan), dan Universitas Proklamasi (UnProk). Sebagai jalanan yang dipenuhi mahasiswa, tentunya transportasi umum sangatlah diperlukan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Ironisnya, minim sekali transportasi umum yang melewati jalan ini. Kondisi ini nyatanya memang banyak dikeluhkan oleh berbagai pihak, khususnya mahasiswa sendiri, yang memang tidak memiliki kendaraan pribadi.

“Transportasi umum emang minim banget, apalagi di daerah Babarsari. Misalnya kayak aku yang gak punya transportasi sendiri itu lumayan susah kalo mau ke daerah kayak Seturan gitu misalnya, yang deket-deket aja tapi gak ada transportasi umum”, ujar Igna, mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Yeni, mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ia mengaku pernah mengalami kesulitan ketika harus berangkat ke kampusnya, sewaktu ia masih kos di daerah Gowok, depan Ambarukmo Plaza.

“Dulu waktu pertama kali kuliah di Atma kan itu aku sempet kos di daerah Gowok, jadi kalo ke Babarsari hanya TransJogja aja, itu pun tempat pemberhentian TransJogja itu cukup jauh dari Kampus Atma Jaya, sehingga aku yang ga tau apa-apa naik becak, dan bapak becaknya bilang tu 10 ribu, mahal banget kan, aku tawar tu 3000 dan dia ga mau, mau gak mau kalo ga mau telat ya udah naik, dengan ongkos 10 ribu.”, jelasnya.

Menurutnya, jika ada angkutan umum, seperti angkot misalnya, paling tidak ia tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal hanya untuk berpergian dalam jarak dekat.

Sesungguhnya ada satu transportasi umum di Jalan Babarsari, yaitu becak. Para tukang becak ini biasa mangkal di depan Jalan Babarsari, tepatnya di pertigaan Jalan Solo, tepat di depan jalan masuk ke Babarsari. Namun, becak sendiri kurang banyak diminati oleh para mahasiswa.

“Di Babarsari juga ada becak, ya itu memang transportasi umum, tapi kalo aku pribadi belum pernah naik becak di Jogja, kenapa, karena yang pertama butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai ke tempat tujuannya, padahal aku butuh waktu yang cepat untuk sampai ke tempat tujuannya.”, jelas Prince, salah satu mahasiswi UAJY yang juga berdomisili didaerah ini.

Selain karena lama, tarifnya yang mahal menjadi alasan utama mengapa transportasi ini menjadi kurang diminati. Untuk perjalanan dari shelter Trans Jogja yang ada di Janti sampai ke depan Jalan Babarsari dibutuhkan ongkos sekitar Rp 5000 sampai Rp 7000. Sedangkan untuk perjalanan dari shelter yang sama ke Kampus Atma Jaya dibutuhkan ongkos sekitar Rp 10000. Disamping itu, pangkalan becak juga hanya terdapat di tempat itu saja. Selebihnya, tidak ada satu pun becak yang mau mangkal di daerah Babarsari ke dalam.

“Untuk mangkal-nya itu kalo di Seturan atau di UPN Ringroad sana, itu gak terbiasa mbak. Jadi kalo mangkal disana nyatanya anu e, gak betah, gak ada temen-temennya disana mbak. Jadi otomatis mangkalnya di depan sini, di depan Jalan Babarsari.”, ujar Sulaiman, salah satu tukang becak yang mangkal di depan Jalan Babarsari.

Selain karena alasan tersebut, ia mengaku kalau ditempat ia mangkal ini, ia bisa mendapatkan penumpang lebih banyak dibandingkan bila ia mangkal di daerah Babarsari ke dalam, atau Seturan misalnya. Pasalnya tempat pangkalan becak ini adalah tempat dimana biasanya orang-orang turun dari bus atau angkutan kota yang melintas di Jalan Solo.

Minimnya transportasi umum di Jalan Babarsari memang menjadi keluhan bagi warga Babarsari, khususnya para mahasiswa yang kuliah di daerah tersebut. Tidak adanya transportasi umum membuat mereka merasa sulit untuk berpergian ke tempat-tempat tertentu, terutama daerah sekitar Babarsari sendiri, seperti Seturan atau Selokan Mataram, yang memang tidak mungkin bila ditempuh hanya dengan jalan kaki. Mereka tentunya berharap agar transportasi umum ini nantinya akan diadakan di Jalan Babarsari.

“Harapanku sih kalo bisa ada kayak TransJogja ato angkot-angkot gitu yang lewat disekitar kampus, soalnya kan banyak juga sebenernya mahasiswa yang gak bisa naik transport tapi sebenernya perlu transportasi umum”, ujar Rizky, yang juga mahasiswi UAJY.

Selain memudahkan dalam berpergian, transportasi umum juga dirasa lebih terjangkau bagi kantong mahasiswa, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya lebih hanya untuk transport saja.

Kan gak mungkin harus apa-apa telepon taksi, namanya juga mahasiswa pasti apa-apa juga pasti minim gitu. Kita bukan anak pejabat ato anak konglomerat yang bisa ngluarin duit enteng 25 ribu untuk pergi jauh, paling jauh deh Malioboro, padahal dengan 25 ribu bisa untuk tiga kali makan”, ujar Yeni menambahkan.

Becak menjadi satu-satunya transportasi umum yang ada di Jalan Babarsari. Sayangnya mereka hanya mangkal di depan jalan masuk Babarsari saja.

Sebuah tempat duduk mirip halte diletakkan di depan Kampus III UAJY. Sayangnya tempat duduk tersebut nampak sia-sia, karena tidak ada satu pun kendaraan umum yang lewat jalan ini.