Kotak Surat, Medium yang Tersendat

Priska Sari Pratiwi
090903917

 

Masih ingatkah Anda kapan terakhir kali menggunakan kotak surat? Kehadiran teknologi seperti fasilitas SMS (short message service) dan email membuat penggunaan kotak surat turun drastis. Kebanyakan orang saat ini memilih untuk berkirim pesan melalui email maupun mengirimkannya langsung ke kantor pos.

Image

Ditemui Rabu (13/6) di Kantor Pos Babarsari, Sleman, Yogyakarta, Wajiyo (48) menjelaskan pengambilan surat yang masuk ke kotak surat masih dilakukan setiap hari. Namun jumlah surat yang masuk hanya 3-5 surat setiap minggunya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai juru parkir ini sesekali juga bertugas menyortir surat-surat yang masuk. 

Penggunaan kotak surat dianggap tidak lagi efektif oleh sebagian besar masyarakat. Vini (21), mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta mengungkapkan, mengirim surat melalui kotak surat tidak menjamin sampai di alamat tujuan. Ia memilih mengirimkannya langsung melalui kantor pos. “ Lagipula bentuk kotak surat sekarang kayak enggak pernah dirawat,” tambahnya. Hal senada diungkapkan Hendri (28), karyawan yang tinggal di Kulonprogo ini memilih langsung mengirimkan surat atau paket barang melalui kantor pos.

Saat ini, sangat sulit menemukan kotak yang berwarna mencolok ini di persimpangan jalan. Kini kotak surat di Yogyakarta hanya ada di kantor pos besar dan di daerah-daerah. Memang, dulu kotak surat sangat bermanfaat. Letaknya bisa dijangkau tanpa harus pergi ke kantor pos pusat. Namun kemudahan teknologi semakin menjauhkan ingatan masyarakat tentang kotak surat. 

Kotak surat tak lebih menjadi saksi bisu perkembangan telekomunikasi di Indonesia. Fungsinya seolah hanya sebagai pelengkap jalan. Jika bukan kita yang peduli dengan keberadaan kotak surat, siapa lagi?

Advertisements

MENELUSUR KIPRAH BUS KOTA

Stephani Arum Sari (090903761)


Pagi itu terminal Jombor tidak terlalu ramai. Seorang pemuda duduk di belakang kemudi bus kota Ia tidak sendiri, seorang kawan yang juga masih muda berdiri di pintu bus. Keduanya menunggu penumpang yang menyewa bus itu. Sopir bus itu bernama Bagus (24) dan rekannya bernama Adi (26). Keduanya berada dalam atap kerja yang sama, mengoperasikan salah satu bus kota yaitu PUSKOPKAR. Dengan mengenakan kaos oblong, keduanya masih menunggu penumpang. Di terminal Jombor, hanya ada satu bus kota yang terparkir.

Pembahasan soal alat transportasi memang tidak akan ada habisnya. Bus kota atau bus regular merupakan salah satu alat transportasi yang dimanfaatkan oleh warga Yogyakarta. Di samping angkot, taksi, becak, dan dokar. Bus masih menjadi alat transportasi pilihan bagi masyarakat Yogyakarta dari satu tempat ke tempat lain. Bus kota terbagi dalam beberapa jenis seperti KOPATA, KOBUTRI, ASPADA, PUSKOPKAR dan DAMRI.

Kesemua jenis bus kota itu memiliki ciri khas masing-masing. Secara kasat mata, bentuk fisik bus ini berbeda-beda. Misalnya untuk ASPADA, warna bus adalah biru. KOBUTRI menggunakan warna kuning sebagai penanada bus. KOPATA memiliki warna merah pada bus. Sedangkan  DAMRI dan PUSKOPKAR warna bus keduanya adalah putih dan biru.

Masing-masing bus memiliki jalur atau trayek yang berbeda-beda. Setiap dua hari sekali, bus-bus itu beroperasi. Contohnya, jalur dua yang rutenya dari terminal Giwangan, Purawisata, bundaran UGM dilayani oleh KOBUTRI dan KOPAJA. Sedangkan jalur empat yang arahnya dari terminal Giwangan, Kota Baru, Tugu Jogja, Gembira Loka dilayani oleh ASPADA, KOPAJA dan PUSKOPKAR. Bus kota tersebut juga beroperasi sesuai dengan hari tertentu. Biasanya, bus kota tersebut mulai bergerilya pada pukul 05.00 – 18.00 WIB. Terminal Giwangan memang menjadi pusat keberangkatan bus kota tersebut. Dalam beberapa menit, bus kota berlalu lalang di sana.

KEMUNCULAN TRANS JOGJA

Kemunculan TRANS JOGJA dalam deretan sarana transportasi warga cukup fenomenal. Apalagi jika dikaitkan dengan eksistensi bus kota sebelumnya. Memang, sebelum Trans Jogja muncul, bus kota menjadi primadona transportasi. Namun setelah muncul Trans Jogja, beragam pendapat mulai terkuak, entah pro maupun kontra.

Bagus dan Adi mengakui, setelah Trans Jogja muncul, pengguna bus kota pun mulai menurun.

“Pendapatan kalau narik bus kota sekarang ya nurun mbak. Apalagi sekarang ada Trans Jogja. Orang-orang lebih milih naik Trans Jogja”, ujar Bagus.

Menurut keduanya, dari segi fisik, fasilitas dan pelayanan, Trans Jogja lebih mumpuni. Namun tidak lantas bus kota mengalami penurunan penumpang yang drastis. Beberapa masyarakat Yogyakarta masih menggunakannya walaupun jarang.

“Biasanya ya yang mau ke pasar sama ke kampus mbak. Bus ini kan ketemunya, pusatnya ada di kampus UGM”, jelas Bagus.

Keduanya mengatakan, fisik bus kota memang sudah menurun. Namun soal jalur, bus kota memang lebih unggul dibandingkan dengan Trans Jogja.

Menurut Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pengelolaan Terminal Giwangan, Imanudin Aziz, hadirnya Trans Jogja bertujuan meremajakan bus kota. Satu bus Trans Jogja yang beroperasi mensubstitusi dua bus regular.

“Sebelum adanya Trans Jogja, bus kota regular itu kan terus menurun. Dari segi fisik bus nya secara kasat mata tidak memenuhi standar kelayakan. Kedua, dari segi pelayanan, dari jam berjalannya, jam operasionalnya itu kan semakin hari semakin tidak jelas. Maka ini kan perlu dilakukan peremajaan, artinya dari sisi fisik busnya, layanannya, sistemnya”, ujar Imanudin Azis.

Imanudin mengatakan, dalam jangka waktu ke depan bus kota akan dihilangkan, walaupun membutuhkan proses yang lama. Saat ini bus kota memang masih bertahan, sekalipun dari segi kuantitas penumpang menurun. Namun keunggulannya, Trans Jogja belum dapat menggantikan trayek bus kota.

Perpustakaan, ‘Gudang Ilmu’ yang menjadi ‘Gudang’

 

Charissa Olivia Ananda (0909 03868)
Perpustakaan; Gudang Ilmu yang menjadi Gudang

Seiring dengan maju nya tekhnologi dan tinggi nya mobilitas masyarakat, sekarang sudah banyak diciptakan alat-alat untuk memudahkan kebutuhan masyarakat, salah satunya dalam hal edukasi. Dalam dunia edukasi, buku merupakan salah satu hal pokok dalam belajar. Munurut definisi Kamus besar Bahasa Indonesiam buku adalah “lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong; kitab”.
Perpustakaan, tempat, gedung, ruang yg disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dsb; koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yg disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.
Selain itu, internet yang telah berkembang kini memanjakan masyarakat dengan banyaknya search engine untuk mencari apa saja yang kita ingin ketahui , bahkan banyak juga tersedia buku online. Dengan tekhnologi yang baru pula, telah diciptakan e-book atau buku elektronik yang dapat diunduh dari internet ke dalam smart phone. Hal-hal seperti itu banyak menurunkan jumlah pengunjung perpustakaan.

Yogyakarta, dari dahulu sampai sekarang masih dikenal sebagai “Kota Pelajar”. Banyak orangtua dari luar kota maupun luar pulau, jauh-jauh mensekolahkan putra-putri mereka ke Jogja untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik serta lingkungan pendidikan yang terjamin pula. Salah satu perpustakaan di Yogyakarta ini adalah Yayasan Perpustakaan Hatta yang terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto.

Dahulu sekitar tahun 80-90an, Perpustakaan ini pernah menjadi mengkalnya para aktifis , budayawan, sastrawan, dan pekerja budaya sebagai ruang dialog pembebasan pada kuasa rejim Orde Baru yang otoriter, namun sekarang terlihat begitu kumuh, dan sangat tidak terawatt. Rumput ilalang dan rumput liar banyak dibiarkan tumbuh begitu saja baik di depan maupun di belakang gedung Perpustakaan. Begitu juga dengan kondisi gedung nya, atap bangunan itu sudah rapuh,dan di bagian belakang bangunan terdapat banyak bangku-bangku yang sudah tak layak pakai.
Berada di tengah-tengah kota, tak membuat bangunan ini menjadi ramai dikunjungi masyarakat. Padahal, Perpustakaan ini terletak di depan Gedung Wanitama, dan berdekatan dengan SMA Swasta serta Mall yang berada tak jauh dari situ. Saat malam tiba pun, kondisi bangunan ini sudah hamper tidak terklihat karena banyaknya warung makan yang berada di depan bangunan ini.
Yayasan Perpustakan Hatta mulai tanggal 15 Juli 2006 telah tertutup untuk umum. Meski dipindahalihkan buku-bukunya ke perpustakaan Universitas Gajah Mada, entah mengapa tak ada suara-suara protes atau kritik yang menyapa mengapa Yayasan Perpustakaan Hatta yang telah menghidupkan denyut peradaban Yogyakarta ini harus ditutup. Bahkan dari puterinya sendiri yang saat ini telah menjabat sebagai menteri pemberdayaan perempuan, Meutia Hatta.
Sekarang, perpustakaan itu telah benar-benar beralih fungsi menjadi Gudang dari Universitas Gadjah Mada. Menurut salah satu guru dai sekolah swasta, Ery ,”Sangat disayangkan sekali yah, perpustakaan warisan dari Bung hatta itu udah jadi gudang seperti itu. padahal, gedung itu merupakan gedung bersejarah dan sudah ada dari lama sekali, amat disayangkan harus menjadi seperti itu.”

Balap Liar Bahayakan Pengguna Jalan

YOGYAKARTA – Aksi balapan motor liar yang dilakukan puluhan pemuda di Jalan Stadion Baru, depan Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta, sangat mengganggu dan meresahkan pengguna jalan serta masyarakat sekitar, karena aksi tersebut dinilai dapat membahayakan keselamatan masyarakat dan pengguna jalan lainnya, saat menggunakan fasilitas jalan umum tersebut.

Foto : Balap Motor Liar di Jalan StadionBru, Depan Stadion Maguwoharjo – Yogyakarta

Aparat Kepolisian Sektor Depok Timur, Yogyakarta, melarang keras kegiatan balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo tersebut dilakukan. Patroli, himbauan, penindakan dan kerja sama dengan warga, pengguna jalan, serta dengan aparat kepolisian Polsek Kemplak, Yogyakarta, terus dilakukan untuk mencegah aksi balapan motor liar dan mengurangi angka kecelakaan yang disebabkan oleh aksi balap motor liar tersebut.

Meskipun pihak kepolisian sudah mengambil langkah tegas dalam menangani problematika ketertertiban berlalu lintas tersebut, dengan melakukan patroli dan penangkapan terhadap pembalap liar beserta kendaraannya. Para pemuda yang memiliki hobi balap motor ini, sepertinya tidak jera atas tindakan polisi, terbukti dengan masih adanya rutinitas balapan motor liar dalam setiap harinya di sore hari dari sekitar pukul 16.00  hingga 18.00, tepat di depan Stadion Maguwoharjo hingga sekarang.

Rutinitas balapan motor liar tersebut, akhirnya juga dimanfaatkan sebagian masyarakat sekitar untuk mengais rejeki dengan membuka warung atau angkringan. Hal itu bisa terjadi karena balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo, tepatnya di Jalan Stadion Baru tersebut sudah menjadi tontonan dan hiburan bagi pemuda/i yang gemar dengan balapan motor, setiap harinya.

“Aksi balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo tergolong susah untuk dihilangkan, karena setiap petugas kepolisian melakukan patroli, para pembalap liar dan penonton akan langsung bubar dan melarikan diri. Usaha penangkapan pun akhirnya kerap kali gagal karena petugas kalah cepat dengan para pembalap liar dan untuk mengurangi resiko kecelakaan petugas dengan pembalap, pengejaranpun dihentikan dan petugas hanya menyita barang bukti yang tertinggal”, ungkap Surahman, Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Depok Timur, Kamis (21/6).

Padahal aksi balap motor liar tersebut, selain menganggu kenyamanan berlalu lintas juga dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan. “Kecelakaan juga sering terjadi saat di arena balapan motor liar, selain dengan sesama pembalap motor liar, kecelakaan juga kerap terjadi dengan masyarakat dan pengguna jalan yang berlalu lalang menggunakan jalan umum ini”, tutur Radinand yang merupakan salah satu penonton yang hampir setiap harinya gemar menonton balapan motor liar, saat ditemui di depan Stadion Maguwoharjo, Rabu, (20/6).

Dengan adanya kegiatan yang melanggar ketertiban lalu lintas serta dapat merugikan dan membahayakan orang lain, tidak segan-segan pihak kepolisian juga akan memberikan tindak pidana berdasarkan Undang-Undang Lalu Lintas No. 22 tahun 2009. Aparat Kepolisian Sektor Depok Timur juga akan terus menindaklanjuti laporan dari masyarakat terkait dengan balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo. Selain itu juga akan tetap terus menggalakkan patroli dalam setiap harinya, serta akan terus bekerja keras untuk menekan tingkat kecelakaan lalu lintas. Pasalnya, seringkali balap motor liar yang mengganggu ketertiban lalu lintas dapat berujung pada kecelakaan.

Pihak kepolisian sudah bekerja keras sekuat tenaga untuk perlahan-lahan mengurangi aktivitas balapan motor liar di depan Stadion Maguwoharjo, namun hal ini akan menjadi sia-sia apabila tidak ada kesadaran dari para peserta balapan motor liar dan dukungan dari Pemerintah Daerah D.I Yogyakarta, seperti yang diungkapkan Surahman, selaku Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Depok Timur dalam rekaman wawancara, saat ditemui di ruang kerjanya berikut ini, Kamis (21/6).

https://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F50490662 Wawancara – Kanit Lantas Depok Timur – YK by Mega Latu

Mega Latu / 090903810

Trotoar, Milik Siapa?

Image

Kawasan di Jalan Babarsari, Depok, Sleman

Sleman (20/6) – Kaum pejalan kaki adalah orang terlemah saat berada di jalan. Fungsi trotoar adalah untuk memfasilitasi dan memastikan mereka bisa aman dan nyaman walau sedang berjalan di pinggir jalan raya sekalipun.

Namun, fungsi trotoar sendiri semakin dipertanyakan ketika digunakan untuk kepentingan lain. Fenomena yang sering dijumpai adalah berkumpulnya para pedagang yang berjajar di sepanjang trotoar untuk berjualan. Hal ini bisa membahayakan kaum pejalan kaki, karena tidak ada ruang bagi mereka untuk berjalan. Bisa saja, mereka terserempet oleh kendaraan saat berjalan di pinggir jalan ketika trotoar digunakan untuk berdagang.

Salah satu ruas jalan yang dipadati oleh pedagang kaki lima adalah jalan Laskda Adi Sutjipto, depan Mirota Kampus Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Sebagai kawasan yang padat, trotoar tertutupi oleh beberapa mobil yang parkir, belum lagi para pedagang yang berjualan di trotoar.

Namun, dilema mengenai bagaimana nasib pedagang jika tidak berjualan. Sukino (40), penjual otak-otak di trotoar depan Mirota Kampus Babarsari mengatakan bahwa ia tahu tidak boleh berjualan di trotoar. Ntetapi, jika tidak berjualan, anak dan istrinya di rumah mau makan apa. Sukino mengakui sering kali dia berjualan di Pasa Beringharjo lalu diusir oleh petugas Kamtib. Tidak ada yang bisa ia lakukan, hanya lari menghindar dan mengamankan dagangannya.

Image

Sukino (40), Pedagang Otak-otak

Berbeda lagi dengan Tia (21) mahasiswi UAJY, sebagai pejalan kaki ia merasa tertanggu oleh adanya pedagang yang berjualan di trotoar. Terlebih lagi jiak sedang ada transaksi jual beli disana. Ia harus menunggu hingga transaksi itu selesai baru bisa berjalan.

Sebagai salah satu fasilitas umum, Tia berpendapat sudah saatnya trotoar dikembalikan ke fungsi semula yakni untuk pejalan kaki. “Pemerintah juga harus memberi lokasi bagi pedagang kaki lima seperti yang terdapat di kawasan Mrican”, ungkapnya.
Veronika Yasinta/090903799