Karya Lokal Yogyakarta Mendunia

Angela Rianita – 100904084

Mendengar kata batik, rasanya seperti hal yang sudah biasa saja. Masyarakat kebanyakan mengetahui batik diproduksi ke dalam bentuk pakaian atau kerajian-kerajinan tangan yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh ketika kita berwisata ke Yogyakarta. Namun, batik yang merupakan warisan kebudayaan asli Indonesia ini kini telah berkembang dengan berbagai macam kreasi. Sumber daya manusia di Indonesia nampaknya sungguh-sungguh telah mengembangkan kemampuannya untuk berkreasi dengan seni yang kerap disebut batik lukis.

Seperti yang ada di Desa Tembi, tepatnya di Jalan Parangtritis kilometer 8,5 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta ini misalnya. Terdapat sebuah bangunan sederhana, minimalis, sejuk, namun penuh dengan goresan-goresan batik lukis karya seniman-seniman lokal Yogyakarta. Ya! Bangunan sederhana ini merupakan sebuah galeri batik, dan biasa dikenal dengan nama Leksa Ganesha. Sepintas memang tidak ada yang berbeda dengan galeri batik yang lain. Namun jangan salah, ketika memasuki galeri, kita akan menemukan banyak sekali batik lukis karya seniman lokal Yogyakarta yang sangat indah.

Leksa Ganesha merupakan galeri batik gagasan Tatang Elmy dan Aprat Koeswadji, yang masih memiliki hubungan darah dengan seniman batik populer Koeswadji dan seniman tari Bagong Koesudiharjo. Lukisan-lukisan batik ini memiliki beberapa tema khas yaitu tarian Bali, bunga, dan abstrak. Dan yang lebih spesial lagi dari Leksa Ganesha ini adalah, semua lukisan yang dibuat di sini tidak dapat ditemukan di sembarang tempat alias limited edition. “Semua batik lukis di sini tidak bisa dicari di sembarang tempat. Misalkan lukisan ini, di Yogyakarta ini hanya bisa ditemui di tiga galeri saja,” tutur Ibnu Sudiro, marketing Leksa Ganesha sembari menunjukkan salah satu karya batik lukis berukuran cukup besar dan dengan warna-warna yang sederhana namun nampak indah.

Batik lukis Leksa Ganesha diproduksi secara tradisional dengan mengunakan “canthing” dan “malam”. Oleh karena itu, membutuhkan waktu cukup lama kurang lebih selama dua minggu untuk menyelesaikan satu buah karya batik lukis. Hal inilah salah satu alasan mengapa batik lukis Leksa Ganesha digemari oleh banyak pecinta lukisan baik lokal bahkan hingga seniman lukis internasional.

“Kami belum melakukan eksport ke luar negeri, tetapi seniman lukis luar negeri yang mencari lukisan di sini cukup banyak, bahkan mereka datang langsung ke tempat ini untuk membeli lukisan kami,” tutur Ibnu lagi. Meskipun Leksa Ganesha belum memperdagangkan batik lukisnya ke luar negeri, tetapi Leksa Ganesha telah dikenal oleh beberapa negara tetangga bahkan negara-negara lintas benua dengan mengikuti ajang pameran seni di Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Malaysia, Singapura, dan Laos.

Beberapa waktu yang lalu, turis asing dari Amerika Serikat tinggal di galeri Leksa Ganesha demi memenuhi keinginannya agar bisa menghasilkan sebuah karya batik lukis. “Belum lama ini ada turis dari Amerika Serikat tinggal di sini sekitar tiga tahun. Dia belajar membuat batik lukis di sini, sampai akhirnya dia bisa membuat batik lukis sendiri,” ujar Ibnu.

Tentu saja ini semakin membuat kita semua patut bangga kepada kearifan lokal negeri sendiri. Orang yang bukan dari negeri sendiri saja bersedia mempelajari seni budaya asli Indonesia, kenapa kita tidak?

Fenomena Langka di Festival Peh Cun 2013

Alexander A. Ermando (100903981)

Telur yang berdiri di panggung Festival Peh Cun 2013, Parangtritis, Yogyakarta

Telur yang berdiri di panggung Festival Peh Cun 2013, Parangtritis, Yogyakarta

Festival Peh Cun 2013 yang digelar Pantai Parangtritis Baru, Bantul, Yogyakarta pada Rabu (12/6) mampu menarik perhatian para wisatawan yang hadir. Pasalnya, dalam acara tersebut terdapat tradisi mendirikan telur yang unik. Fenomena ini terjadi karena bumi, bulan dan matahari disebutkan berada dalam garis lurus, sehingga menyebabkan anomali gravitasi.

“Pada pukul 12.00 WIB hari ini, bumi, bulan dan matahari sedang berada dalam satu garis lurus. Ini bisa dibuktikan dengan telur yang bisa berdiri tegak tanpa disangga sama sekali,” jelas Ketua Panitia Pelaksana Peh Cun 2013 Muwardi Gunawan pada pihak media yang hadir.

Beberapa orang pun maju ke panggung utama sambil masing-masing membawa sebuah telur yang telah disediakan oleh panitia. Tidak hanya warga setempat, turis asing pun ikut serta dalam atraksi ini. Setelah berjuang beberapa saat, beberapa orang berhasil mendirikan telur, dan tanpa penyangga sama sekali! Para fotografer pun segera mengabadikan momen tersebut.

Acara yang digelar sejak pukul 11.00 WIB tersebut merupakan puncak dari rangkaian Festival Peh Cun sejak 9 Juni kemarin. Selain melakukan tradisi mendirikan telur, acara puncak juga diisi dengan lomba pentas barongsai yang digelar untuk pertama kalinya. Lomba ini diikuti oleh 10 peserta. Sebelumnya juga telah dilakukan doa bersama dan melarung sesaji ke tengah laut.

Berdasarkan pengamatan, para warga yang hadir tampak antusias untuk mengikuti acara ini. Padahal cuaca saat itu sedang amat terik dan berangin ringan. Untungnya, pihak panitia menyediakan tenda serta ratusan tempat duduk yang bisa ditempati warga secara bebas. Para awak media sendiri juga diundang untuk meliput, meskipun dengan berbagai batasan-batasan. Batasan paling umum yang diberikan adalah waktu pengambilan momen atau sekadar mengingatkan area yang diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Tradisi Peh Cun sendiri merupakan bentuk rasa syukur terhadap berkah yang sudah diberikan. Pelaksanaannya jatuh pada tanggal 5 bulan 5 berdasarkan kalender Tionghoa. Salah satu yang khas adalah tradisi makan bakcang bersama.

Wandi (23), warga Bantul mengaku terhibur dengan adanya Festival Peh Cun ini, apalagi dengan dihadirkannya beberapa atraksi menarik.

“Acaranya menarik ya, terutama bagian mendirikan telur. Itu unik sekali. Meskipun cuacanya lagi panas, saya tetap senang,” ungkap pria jangkung ini.

Festival yang juga dihadiri oleh serombongan turis dari Negeri Tirai Bambu ini sebelumnya telah dibuka dengan lomba perahu naga yang digelar di Bendung Tegal, Imogiri pada 9 Juni lalu dan diikuti oleh belasan tim dari berbagai daerah.

 

Kampung Dolanan : Dusun Unik Penghasil Permainan Tradisional

Oleh : Lusia Febriana ArumingtyasImage

Gambar 1. Tembok Kampung Doalanan yang dilukis oleh Mahasiswa Institut Seni Indonesia

Permainan tradisional, yang biasa kita sebut sebagai ‘dolanan’ sudah jarng sekali terlihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang. Apalagi semenjak pertengahan tahun 1980-an dimana permainan plastik dari Amerika dan China mulai merambah di Indonesia. Kampung Dolanan, keunikan salah satu desa dari keragaman seni kriya yang ada di Yogyakarta, dimana eksistensi dolanan masih bertahan.

“sudah jaman kecil saya membuat permainan ini, dari mulai simbok”, jelas Mbah Atemo sambil membuat sebuah model wayang dari kertas.

Kampung Dolanan secara historis adalah salah satu dusun yang masyarakatnya mayoritas memproduksi dolanan anak-anak berbahan bambu dan kertas.Tradisi ini sudah ada sejak pemerintaha HB VIII atau sekitar abad ke-18.Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung dan kepat menjadi salah satu pilihan dolanan yang ditawarankan dari desa ini.

Letak desa ini 9,2 km dari kota Yogyakarta ke arah selatan, lebih tepatnya di dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Café Pyramid yang berada di jalan Parangtritis menjadi petunjuk jalan terdekat dari dusun ini.

Lahirnya Nama Kampung Dolanan

Momentum gempa bumi 2006 menjadi titik dimana Wahyudi, selaku perintis lahirnya kampung dolanan ini melakukan sebuah pergerakan.Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan pada saat itu, menjadi sebuah langkah kecil untuk mengumpulkan kembali semangat masyarakat Pandes untuk menunjukkan kearifan lokalnya.Kemudian didirikanlah Komunitas Pojok Busaya yang memberikan desa Pandes sebagai Kampung Dolanan

“Tahun 2007, Komunitas Pojok Budaya didirikan di kampung dolanan ini.Dimana tujuan utamanya melihat kembali potensi dusun Pandes”, ungkap Bimo, Ketua Komunitas Pojok Budaya.

Visi dari komunitas ini adalah ingin membantu dalam perwujudan masyarakat yang mandiri, berbudaya, religius dan peduli lingkungan sekitar. Komunitas yang terdiri dari Karang Taruna dan masyarakat Pandes pun memiliki kegiatan, misalnya saja adanya Kelompok Bermain Among Siwi dan juga kegiatan Insidental lainnya, seperti pelestarian budaya dan paket outbond untuk para pengunjung.

Kelompok Bermain Among Siwi ini memiliki sistem pembelajaran yang satu visi dengan kampung dolanan, yaitu mempergunakan alam dan alat-alat traadisional sebagai media pembelajarannya. Begitu juga dengan paket outbond yang ditawarkan berbeda dari outbond pada umumnya. Kampung Dolanan memberikan sebuah pembelajaran dalam membuat dolanan langsung dari simbah-simbah.Begitu juga pelestarian busaya yang ada di desa ini, seperti gejog lesung, karawitan, wayang dan jatilan.

Eksistensi Dolanan

Permainan yang ada di internet, gadget, playstation memang lebih menarik bagia anak-anank dibandingkan sebuah permainan tradisional yang daya tahan mainannya tidak terlalu lama.Namun, keuletan tangan simbah-simbah di dusun dalam memproduksi sebuah permainan patut diacungi jempol.Di usianya yang lebih dari 80 tahun, masih kuat untuk membuat pola dalam permainan tradisional.

Seiring dengan perkembangan jaman, jumlah simbah yang memproduksi dolanan pun semakin sedikit.Awalnya hampir semua masyarakat dusun ini memproduksi dolanan hingga kini hanya 4 yang tersisa. Mbah Karto, Mbah Joyo, Mbah Sis dan Mbah Atemo sebagai pelestari buda dalam permainan dolanan.

Image

Gambar 2. Mbah Joyo saat membuat klontongan

“yaaa…kalau saya sudah tidak ada. ya sudah tidak ada lagi yang meneruskan. Anak-anak sekarang sudah pada merantau dan berbeda”, ungkap mbah Joyo saat ditemui di bilik bambunya.

Hal ini pun diungkapkan oleh Mas Bimo, salah satu komunitas Pojok Budaya.Pada dasarnya, memproduksi sebuah dolanan bukan menjadi salah satu pilihan bagi generasi sekarang disebabkan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Membuat dolanan memang bukan menjadi sebuah pilihan mata pencaharian di era ini, namun ini dapat diakali dengan membuat re-design dari dolanan itu sendiri.

Uniknya Dolanan

Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung, kitiran, kandangan, klontongan  dan kepat merupakan dolanan khas yang dihasilkan di desa ini. Angkrek adalah sebuah permainan yang dibentuk dari pola kertas, dimana keunikannya kaki dan tangannya dapat digerakkan secara bersamaan.Hebatnya lagi, wayang kulit dan angkrek buatan dari dusun Pandes tidak digambar terlebih dahulu baru digunting.Namun, simbah-simbah memotongnya langsung dengan mudahnya.Pewarnaan dalam permainan ini juga masih menggunakan pewarna tradisional, semacam seperti pewarna pakaian yang kita sebut teres. Kemudian simbah-simbah melukiskannya di atas kertas tersebut.

Image

Gambar 3. Dolanan : Payung, Agkrek dan Wayang

Begitu halnya dengan pola pada permainan kitiran, kepat (payung), kandangan dan klontongan yang dibuat dari bambu.Tangan-tangan simbah ini mampu memilih mana bambu yang cocok dan bagaimana membentuknya menjadi menarik.Oleh karena itu, tidak salah jika tradisi ini sudah turun-temurun.

Produksi dolanan di desa ini tidaklah semat-mata hanya untuk mata pencaharian para simbah-simbah pada jaman dahulu.Walaupun secara fisik hanyalah sebuah permainan, ternyata dibalik dari sebuah dolanan banyak makna yang ingin disampaikan.

“Dalam permainan sebuah ada yang disebut multiple intelligent  atau kecerdasan majemuk, yang terdiri atas kecerdasan irama, kinestetis dan rasa, atau dalam bahasa jawanya wiromo, wiroso dan wirogo”, ungkap Pak Wahyudi.

Penasaran ingin bermain mengingat-ingat saat kita kecil? Serta mau bersama-sama melestarikan dolanan ini sendiri. Yukk langsung saja ke Kampung Dolanan, banyak hal yang menarik disana !

CANDI SAMBISARI – Yang Hilang Telah Ditemukan Kembali

Oleh : Hugo Dalupe / 070903424

Indonesia sangat terkenal dengan banyak peninggalan sejarah dan budaya. Peninggalan tersebut banyak yang terkubur dan seolah hilang dimakan waktu. Padahal sesungguhnya, benda-benda sejarah itu mewakili perkembangan peradaban bangsa. Di Pulau Jawa terutama Jogja dan Jawa Tengah, kita dengan mudah menjumpai candi-candi terkenal seperti Prambanan dan Borobudur. Kedua candi ini menjadi cagar budaya yang sangat terkenal sampai ke manca Negara dan bahkan menjadi ikon cagar budaya Indonesia.

Salah satu candi yang juga memiliki nilai sejarah tinggi adalah Candi Sambisari. Candi ini terletak di desa Sambisari, Purwomartani, Sleman, sekitar 12 km dari pusat kota Yogyakarta . Penamaan Sambisari sendiri sesuai dengan nama areal persawahan yang subur di Yogayakarta dimana candi itu berada.

Movie SAMBISARI 002

Candi Sambisari diketemukan sekitar tahun 1966 oleh seorang petani yang sedang mencangkul di sawahnya. Secara tidak sengaja ia membenturkan cangkulnya pada puncak candi yang terbenam di tanah persawahannya. Petani tersebut bernama  Karyowinangun yang kemudian melaporkan temuannya kepada kepala desa setempat.

Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menindaklanjuti laporan tersebut. Mereka akhirnya melakukan penelitian dan penggalian. Dari hasil penggalian itu, pada tahun 1966 dipastikan ternyata di daerah tersebut terdapat sebuah situs candi dan dinyatakan sebagai daerah cagar budaya. Proses penyusunan dan rekonstruksi kembali reruntuhan candi yang runtuh dimulai.

Movie SAMBISARI 004

Candi Sambisari diperkirakan dibangun pada abad ke-10. Candi Sambisari sudah lama terkubur dan ditelan bumi karena material letusan gunung Merapi di tahun 1006. Sejak ditemukan kembali, perlu waktu sekitar 21 tahun untuk pemugaran dan rekontruksi ulang terhadap bangunan candi. Ditemukan bahwa candi tersebut berada pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah. Maka candi ini sering disebut sebagai candi bawah tanah.

Salah satu keunikan yang ditemukan dari candi ini adalah konstruksi bangunannya yang tidak menggunakan pondasi yang tinggi seperti yang kita temukan di Prambanan atau candi-candi lain. Candi ini dibangun tanpa alas langsung di atas permukaan tanah. Di samping itu, badan dinding candi Sambisari lebih pendek jika dibandingkan dengan candi lainnya.

Untuk mencapai lokasi, candi sambisari terletak sekitar 12 km ke arah timur kota Yogyakarta di sebelah utara dari jalan utama antara Yogyakarta dan Solo. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan bus jurusan Yogya-Solo. Tiba di kilometer 10, terdapat papan penunjuk jalan menuju candi Sambisari. Dari tepi jalan besar, kita dapat melanjutkan perjalanan sekitar 2 km lagi yang dapat ditempuh dengan alat transportasi lokal, seperti dokar atau ojek.

 

Wisata Malam Bersama Keluarga di Taman Pelangi

Berwisata di malam hari bukanlah hal yang sulit di Yogyakarta. Banyak tempat di Yogyakarta yang dapat dikunjungi pada malam hari seperti wisata sepeda di alun-alun selatan dan masih banyak lagi. Walaupun bukan sesuatu yang sangat baru di Jogja, namun ini adalah pertama kali penulis mengunjungi tempat wisata keluarga Taman Pelangi yang terletak di kompleks Monumen Jogja Kembali. Continue reading

Klenteng Sam Poo Kong, Sentuhan Tiongkok di Semarang

Oleh: Elfreda Ruth Simbolon (100904212)

Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Indonesia dengan semboyan bhineka tunggal ikanya menyajikan keragaman di tiap daerah.  Salah satunya di propinsi Jawa Tengah. Keragaman agama dan budaya di Semarang tak diragukan lagi. Mesjid Agung, Gereja Blenduk, Pagoda Avalokitesvara, dan Klenteng Sam Poo Kong menjadi saksi sejarah keragaman religiusitas di Semarang.

Klenteng Agung Sam Poo Kong, nama yang sudah menjadi destinasi liburan di Semarang. T00296[20-20-26]erletak di Jalan Simongan Raya 129, tak sulit untuk menjangkau daerah ini. Taksi sebagai salah satu kendaraan yang mudah ditemui di sana, dapat menjadi salah satu solusi untuk mencapai Klenteng Sam Poo Kong.

Klenteng Sam Poo Kong memiliki lahan parkir yang luas. Disambut dengan gerbang yang bertuliskan Sam Poo Kong dan tulisan Sam Poo Kong yang sepintas seperti tulisan Hollywood menyambut pengunjung. Sayang rasanya jika pengunjung tak mengabadikan gambar di sini.

Dengan membayar tiga ribu rupiah, wisatawan lokal sudah bisa menikmati nuansa diKlenteng Sam Poo Kong. Sayangnya, untuk masuk ke lokasi pemujaan, harus mengeluarkan uang lagi sebesar tiga puluh ribu rupiah. Tapi, bagi pengunjung yang memang melakukan sembahyang, tidak dikenakan biaya.

Area Klenteng Sam Poo Kong dipenuhi oleh ornamen khas Negara Tirai Bambu. Mulai dari patung-patung yang menggambarkan sosok khas tiongkok hingga naga yang bertengger di atap bangunan. Warna merah menyala yang menghiasi warna bangunan menambah semarak suasana klenteng.

Ruang kosong di antara bangunan-bangunan merah hanya diisi oleh beberapa patung. Ruang hijau tersedia di pinggir bangunan dekat tempat pembelian souvenir. Tak adanya ruang hijau di antara ruang kosong ditambah sengatan matahari membuat pengunjung lebih memilih untuk beristirahat di situ.

Adanya klenteng Sam Poo Kong tak lepas dari sosok yang melekat di dalamnya, Laksamana Zheng He. Laksamana Zheng He, sang duta perdamaian memimpin armada muhibah mengunjungi Champa, Sumatera, Palembang, Jawa, Srilanka, dan Kalikut di masa kekaisaran Yong Le, Dinasti Ming.Patung Laksamana Zheng He

Bila tak mengetahui sosok Laksamana Zheng He, Klenteng Sam Poo Kongmenghadirkan sosok Sang Pembawa Perdamaian dalam sebuah patung. Patung yang menggambarkan sosok gagah nan bersahaja ini diresmikan pada tanggal 29 Juli 2011 oleh Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo.

Klenteng Sam Poo Kong menyediakan jasa untuk berfoto dengan menggunakan pakaian tradisional dari Dinasti Cina. Dengan membayar Rp 75 ribu, pengunjung bisa mendapatkan kenang-kenangan sebagai orang Tiongkok sehari. Didominasi oleh warna merah pada pakaian, serasi dengan suasana Sam Poo Kong.

“Sam Poo Kong itu bagus buat tempat liburan, selain untuk tempat beribadah. Berasa di negara Cina”, tutur Desi (20) mahasiswi asal Yogyakarta.

Sudahkah memilih destinasi liburan di Semarang? Di Klenteng Sam Poo Kong, rasakan suasana negeri tirai bambu di Indonesia.

 

Pasar Triwindu: Antik dan Berarti

Barang antik merupakan barang yang cukup sulit untuk kita temui sekarang ini. Keberadaan pasar yang memnjual barang-barang antik juga sangat jarang ditemui di Indonesia. Dari berbagai tempat yang ada di Indonesia hanya terdapat beberapa daerah saja yang terdapat pasar yang menjual barang-barang antik.

Di pulau Jawa sendiri pasar barang antik jarang ditemui, namun pasar barang antic ini terdapat di salah satu daerah di Pulau Jawa yaitu Solo. Pasar barang antic yang dikenal dengan Pasar Triwindu merupakan salah satu pasar yang menjual berbagai barang antik.

Pasar ini memiliki konsep bangunan yang dipenuhi dengan atap kayu. Dengan dominasi warna coklat dan wayang yang menjadi fokus mata ketika pertama kali berkunjung ke pasar ini. Pasar ini melayani pembeli pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Topeng Unik di Pasar Triwindu

Pasar yang terletak di JL. Pangeran Diponegoro Solo Kota ini memiliki berbagai macam barang-barang antic yang ditawarkan untuk para penggemar barang antik. Barang yang dapat kita temui di Pasar Triwindu seperti alat-alat daput yang digunakan pada zaman dahulu misalnya teko serta gelas-gelas yang biasa kita temui di film-film tahun 1980an.

Tidak hanya perlengkapan dapur dan alat memasak saja, Pasar Triwindu juga memiliki ragam barang antic lain seperti lampu serta interior dalam ruangan. Lampu-lampu yang tersedia di Pasar Trwindu kebanyakan lampu model barat yang penuh dengan kaca. Lampu yang biasa diletakkan di ruang tamu dengan menampilkan kemewahannya. Selain lampu terdapat juga wayang, patung, topeng, serta alat eletroknik zaman dahulu seperti radio.

            Barang-Barang di Pasar Triwindu

Barang-barang tersebut dipajang didepan masing-masing toko sesuai dengan selera penjual. Barang yang terdapat dari satu toko ke toko lain cenderung sama, namun yang membedakan adalah jenis barang sesuai dengan selera para penjual itu sendiri. Di setiap sudut pasar yang kita temui hanyalah barang-barang lawas, sesuai dengan ketenaran Pasar Triwindu itu sendiri.

Pasar Triwindu telah menjadi tempat yang sangat berarti bagi Bapak Agus salah satu penjual di pasar ini. Bapak Agus memulai karirnya dengan berjualan di Pasar Triwindu sejak kecil, ia melanjutkan usaha orang tuanya yang berjualan di pasar antik ini.

“Saya berjualan disini sudah lama, dari zaman saya kecil saya sudah disini. Ya saya meneruskan usaha kedua orang tua saya”, tegasnya.

Barang-barang yang terdapat di toko Pak Agus sendiri berupa lampu, patung, meja dan sebagainya. Harga yang ia berikan untuk barang-barang tersebut berkisar dari Rp 50.000,00 hingga ratusan ribu rupiah. Berbekal pengetahuan dari kedua orang tuanya ia tidak kesulitan dalam memperoleh barang-barang tersebut. “Biasanya kalau barang ada yang kita produksi sendiri, ada juga yang kita beli dari rumah ke rumah, ya berkeliling mencari sendiri barang-barangnya”, ujarnya.

Selain wisatawan local terdapat juga wistawan mancanegara yang berkunjung ke pasar ini. Agus mengaku untuk barang yang sering dicari wisatawan tidak menentu akrena sesuai dengan selera pembeli masing-masing. Sebagian besar wisatawan asing membeli souvenir berupa topeng yang mudah untuk dibawa. Namun untuk wisatawan local sendiri kebanyakan membeli lampu serta meja. Lampu yang terdapat di toko Bapak Agus merupakan lampu hasil reproduksi sendiri namun masih juga terdapat lampu-lampu antik. Walaupun produksi sendiri, Bapak Agus telah mendapat kepercayaan dari para pembelinya, sehingga ia sering menerima orderan dengan partai besar.

Salah satu etalase di dalam pasar

Pasar Triwindu menjadi tempat yang sangat berarti bagi Bapak Agus serta penjual lain yang mengais rezeki untuk menghidupi keluarga. Selain itu pasar ini juga menjadi tempat yang langka dimana hanya ada satu jenis barang yang dipasarkan. Dengan lokasi yang mudah dijangkau maka pasar ini dapat mewujudkan hasrat dari para penggemar barang antik untuk memiliki serta menambah koleksi pribadinya.

Maria Goretti Kartika Putri Legi

100904199

Bumen, Kotagede (Masa Lalu dan Kini)

Image Oleh: Natalia Avikma Manuk (101004010) Secara geografis, Kecamatan Kotegede merupakan kecamatan yang terletak di bagian paling timur Kota Yogyakarta. Arus transportasi dan kepadatan penduduk, merupakan gambaran umum bagi keramaian suatu daerah sehingga sangat dimungkinkan muncul permasalahan-permasalahan, konflik-konflik, dan kepentingan-kepentingan lain yang bersifat individu maupun kelompok. Batas-batas wilayahnya,  sebelah utara, timur dan selatan berbatasan dengan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Kotagede merupakan kawasan fungsi campuran yang mengalami banyak perubahan baik fisik maupun sosial dalam kurun waktu lama. Bertahannya vitalitas ruang-ruang publik pada kawasan mengindikasikan kemampuannya memadukan kebutuhan aktivitas sosial masyarakat dengan konteks kawasan yang berubah. Selain itu Kotagede merupakan kawasan yang memiliki banyak kesamaan karakter dengan kawasan studi: fungsi awal sebagai kawasan permukiman, letak geografis, maupun sosial budaya berupa kehidupan bersama komunitas  yang heterogen. Kecamatan Kotagede adalah wilayah kecamatan di Kota Yogyakarta. Terdapat sentra industri kerajinan perak, terpusat di Kelurahan Purbayan dan Kelurahan Prenggan. Industri kerajinan perak dilakukan dengan mandiri atau berkelompok dan bersifat rumah tangga. Sebagian besar penduduk di dua kelurahan ini memanfaatkan air sumur (air tanah) sebagai sumber air bersih. Lebih dari 10% penduduk di dua kelurahan tersebut bekerja di industri kerajinan perak. Terdapat kelompok-kelompok pengrajin yang melakukan usaha, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengecoran logam, pembentukan logam, pelapisan hingga finishing, semua dilakukan dalam skala rumah tangga. Industri skala rumah tangga ini menimbulkan limbah padat dan limbah cair yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) serta  berpotensi mencemari lingkungan. Mangkubumen (Bumen) merupakan salah satu wilayah di Kotagede. Jika dilihat dari rata-rata tingkat pendidikannya adalah lulusan SMA. Alasan para warga untuk tidak meneruskan pendidikan anaknya hingga ke perguruan tinggi karena faktor ekonomi dan para warga beranggapan daripada meneruskan ke perguruan tinggi akan lebih berguna jika anaknya membantu orangtuanya dalam berwiraswasta. Menurut beberapa narasumber menyatakan bahwa sebagian warga di Kotagede merupakan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Keterlibatan dalam PKI yang membuat para warga ini diperlakukan secara diskrimiatif oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahu 1965, misalnya saja dibatasinya akses untuk mendapatkan pekerjaan sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada para warga yang terindikasi terlibat dalam kegiatan PKI. Keterbatasan akses tersebut yang membuat para warga di Kotagede ini memilih matapencaharian sebagai wiraswasta dan sebagian besar memilih sebagai perajin logam—mulanya sebagai perajin teko. Pemilihan matapencaharian sebagai perajin logam ini karena pada masa pemerintahan Presiden Soekarno menggalakan adanya KPBK (Koperasi Perajin Blek Kotagede) untuk membantu para warga mendapatkan bahan baku murah dalam memproduksi kerajinan logam dan membantu pemasaran. Kemudian seiring waktu, para perajin di Kotagede lebih memfokuskan produksinya dengan bahan baku perak dan emas. Namun setelah peristiwa Bom Bali, produksi kerajinan emas mulai terhenti, karena pemasaran terbesarnya adalah di Bali, dan kini sebagian warga hanya memproduksi kerajinan perak. Kehidupan usaha kerajinan perak pun saling bersaing antara perajin perak berskala rumah tangga dengan pengusaha perak yang kini mulai merangkak membesarkan modalnya. Para perajin kecil pun kini mulai terhimpit dengan aura persaingan yang tidak seimbang ini—dilihat dari kepemilikan modal yang timpang—maka tak sedikit pula perajin kecil pun, yang kini semakin sedikit menerima pesanan, tak kuasa menolak kepentingan pengusaha perak yang sudah mapan untuk menjadikannya pekerja dengan upah yang minim. Hal tersebut ditambah akses pekerjaan yang minim bagi para perajin kecil ini yang rata-rata pendidikannya hanya lulus SMA. Mulanya para perajin rumah tangga ini telah berusaha untuk berkompetisi dengan para pengusaha perak, usaha yang dilakukan dengan mengikuti berbagai pameran industri untuk mendongkrak penjualan. Namun usaha tersebut hanya bertahan beberapa kali saja, kemudian perajin perak berskala industri menengah pun mulai mendominasi dalam pameran-pameran selanjutnya dengan daya tawar membayar uang sewa yang lebih tinggi. Lemahnya daya tawar pun juga terjadi dalam hal mengembangkan suatu inovasi produk yang dikreasikan oleh para perajin kecil. Ada beberapa inovasi produk yang dihasilkan oleh para perajin kecil, misalnya kerajinan perak berbentuk replika Borobudur dan kapal penisi, namun inovasi tersebut kemudian ditanggapi oleh para pengusaha perak dengan membuat produk yang serupa secara masif dengan harga yang lebih murah. Keunggulan para pengusaha perak dalam hal jejaring pemasaran pun semakin mematikan usaha para perajin kecil. Akhir yang serupa pun juga mewarnai Koperasi KP3Y yang dulunya berfungsi untuk menampung produk para perajin kecil yang kemudian akan dibantu dalam hal pemasaran, namun kini koperasi ini didominasi oleh para pengusaha perak dan menyingkirkan kepentingan para perajin kecil. Bahkan fungsi koperasi untuk mengatur standar harga antar pelaku usaha perak ini pun hanya berlaku bagi para pengusaha perak—tanpa mempertimbangkan para perajin kecil. Harga yang dipatok oleh pengusaha perak terbilang lebih murah dibandingkan dengan para perajin kecil karena peralatan yang dimiliki para pengusaha tersebut lebih memudahkan dalam melakukan produksi dalam skala besar secara cepat dengan sistem cetak—sedangkan para perajin kecil hanya melakukan pekerjaannya secara manual, sehingga dari segi harga pun akan lebih mahal.

Satu Kota, Dua Makna, Tiga Tempat

Febriyadi Halim (100904206)

Bandung, sebuah kota di Indonesia yang merupakan ibukota dari Jawa Barat, menjadi destinasi pilihan penulis untuk dikunjungi terkait tugas akhir dari mata kuliah jurnalisme online. Kopitiam Oey di Jalan Braga, Straits Kitchen dan Jun Njan Restaurant di Trans Studio Mall merupakan tiga tempat yang berbeda, bertolakbelakang, serta memiliki filosofi yang berbeda pula.

Kopitiam Oey, sebuah tempat makan yang terletak di bilangan Jalan Braga yang terkenal akan desain arsitekturnya yang menyerupai kota tua. Trans Studio Mall, tempat bernaungnya Straits Kitchen dan Jun Njan Restaurant merupakan sebuah simbol kapitalisme dunia barat dengan pusat perbelanjaan modernnya. Tiga tempat, satu kota, namun memiliki dua makna serta filosofi yang berbanding terbalik.

Desain arsitektur zaman dahuluIMG_00000429 dengan nuansa zaman kolonial, menjadi sajian menarik bagi mata setiap pengunjung yang datang ke Kopitiam Oey. Guruh Soekarnoputra baru-baru ini mengemukakan bahwa kredo Bung Karno yang terkenal yaitu “Jas Merah”, dimana seringkali kita terjemahkan menjadi “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” adalah kurang tepat. Guruh meluruskan bahwa terjemahan yang benar adalah “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Bangsa Indonesia pernah dijajah, itu adalah sejarah. Peninggalan sejarah sudah semestinya dilestarikan dan dijaga keberlangsungan hidupnya, supaya generasi penerus dapat mengingat seberapa pahitnya perjuangan hidup bangsa ini, sehingga dapat menjadi pemicu kebangkitan di masa yang akan datang.

Potret kapitalisme barat terpampang jelas dalam sebuah wadah raksasa bernama Trans Studio Mall. Straits Kitchen sebagai salah satu entitas yang terdapat didalamnya, turut menjadi pengejawantahan dari simbol kapitalisme. Bangunan megah serta desain arsitektur barat menjadi hal yang menonjol dari Straits Kitchen. Jun Njan Restaurant sebagai restoran dengan menu chinese food, yang juga berdiri di atas lahan kapitalisme tahu betul bagaimana memadukan kedua hal yang bertolakbelakang tersebut. Nuansa klasik yang menjadi ciri khas bangsa Cina tetap dipertahankan sedemikian rupa. Kopitiam Oey dan Jun Njan Restaurant merupakan dua contoh konkret dimana tradisi serta histori sebuah bangsa, tidak terlupakan begitu saja seiring perkembangan zaman. Sedikit perenungan yang mungkin tidak terkait dengan topik pembahasan, akan penulis sajikan di bawah. Sebuah kredo favorit penulis yang terinspirasi dari pengalaman serta lika-liku hidup penulis selama ini. Terima kasih, sampai jumpa, salam damai bagi kita semua.

-Dunia ini terbentuk bagi dan oleh mereka yang bertopeng rupa-

Menelusuri Kisah Masa Lampau di Museum Radya Pustaka

Anitana Widya Puspa 100904042

Solo, “The Spirit of Java” muncul sebagai ikon kota budaya telah berevolusi menjadi destinasi wisata baru. Menggabungkan antara seni,sejarah, dan  pengetahuan, Solo memiliki Museum Radya Pustaka. Bangunan Radya Pustaka memang terkesan kuno, namun itulah daya tariknya, pasalnya  museum ini merupakan  museum tertua di Indonesia. Pertama kali masuk, Patung RonggoWarsito, sastrawan Kraton termahsyur pada abad 19, menyapa di halaman depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika datang berkunjung, suasana pagi itu masih sepi, mungkin karena museum baru di buka, yakni pukul 08.30. Masuk ke dalam museum, alunan lagu gamelan jawa diperdengarkan kepada pengunjung,sedikit kecewa, karena tak secara live melainkan hanya melalui rekaman. Sesaat berikutnya, rasa kecewa itu berganti menjadi  rasa antusiasme begitu melihat wayang, khususnya jenis wayang beber. Tak pernah sekalipun saya melihat jenis wayang ini sebelumnya. Bentuk dan cara memainkan wayang beber berbeda dengan jenis wayang lain yang biasanya dimainkan dengan digerakkan. Bahan dasarnya yang terbuat dari kertas membuat ukuran wayang ini tergolong lebar. Cara memainkannya ditunjuk seperti bertutur.

 

Di bagian tengah ruangan terdapat patung Kanjeng Adipati Sosroningrat IV, sangpendiri Museum ini. Awalnya museum ini hanya merupakan paheman yang didirikanpada tahun 1890 di kediamannya, Dalem Kepatihan sebagai wadah bagi pujangga atau sastrawan Kraton untuk belajar, sebelum akhirnya tahun menjadi bagian milik kraton dan bernama Radya Pustaka. Radya berarti Kraton, sedangkan Pustaka berarti perpustakaan. Lokasinya kemudian juga dipindah ke Loji Kadipolo.

Radya Pustaka memiliki koleksi bersejarah yang tak terhitung nilai historisnya. Perabot-perabot antik juga tidak luput, seperti meja dan kursi peninggalan masa Daendels atau pun alat penerangan pada zaman dulu jauh sebelum lampu teplok. Pada ruangan yang lebih dalam, terdapat koleksi keris dan senjata pada masa lalu termasuk pedang, tombak hingga meriam Lela. Untuk jenis keris, keris Bali lah yang paling mencolok karena corak dan hiasannya berbentuk mewah, memiliki ukiran-ukiran. Pedang Amangkurat II tidak lupat dari perhatian saya karena ukirannya yang lebih condong kepada ukiran Eropa khusunya Romawi kuno.

Menyusuri sudut demi sudut ruangan, saya ditemani oleh Mas Dodo sebagai tour guide. Ruangan berikutnya adalah ruang perunggu, berbagai macam koleksi berbahan dasar perunggu, utamanya adalah perhiasan bagi para dewa. Sebut saja, kelat lenganseum tertata rapi, tarif  selasa, gelang, padmasana. Terdapat pula Stupika, bahan membuat cetakan arca kecil. Selain itu, ada duplak kuningan tempat menyimpan air, penduduk Jepang sendiri memanfaatkannya untuk membuat sake. Koleksi yang paling menonjol dari ruangan ini adalah serpihan relung rambut Avalokitesvara.

Menyebrang ke ruangan keramik, memang terdapat bermacam perabot indah memanjakan mata terbuat dari porselin. Koleksi cangkir, Mangkuk, Gelas, dan piring –piring ini indah menyilaukan mata.Apabila terdapat tanda crown ,bukan sekedar porselin pula,porselin ini merupakan hadiah pemberian dari kerajaan lain masa itu. Tentu ada yang paling indah yakni vas bunga warna merah pemberian Napoleon Bonaparte kepada Sultan HB keempat.

 

Satu set gamelan lengkap terpajang di ruang etnografika. Gamelan ini masih bisa digunakan dan justru sering digunakan agar tidak mudah rusak. Satu hal yang tak boleh terlewatkan ketika mengunjungi museum ini adalah canthik Kiai Rajamala berukuran besar di sebelah barat gamelan.  Hiasan ( canthik ) kapal yang terbuat dari pohon jati hutan Donoloyo tersebut sudah ada sejak tahun 1811 zaman pemerintahan Paku Buwono IV. Fungsi utamanya adalah sebagai transportasi permaisuri PB IV untuk pulang ke Madura. Sedikit berbau ritual, Kiai Rajamala yang berwajah garang warna merah ini masih rutin diberi sesajen.

 

Satu Ruangan tertutup bernama perpustakaan. Ruangan ini menyimpan manuscriptdari abad 17 hingga 19. Koleksi perpustakaan Radya Pustaka terdiri dari Jawa Carik ( tulis tangan ), Babad Mataram, Kawruh Empu ( buku tentang keris ), hingga buku-buku Belanda seperti De Java – Oorlog Van 1825 – 1830,  Babad Tanah Jawi Pararaton ( Ken Arok ), buku-buku pembuatan keris, peta dan naskah kuno lain yang masih terawat dengan baik.  Pengunjung diperbolehkan membaca nakah-naskah kuno di sini, terkecuali untuk yang telah berum 50 hingga 100 tahun ke atas, rentan rusak. Koleksi manuscript di sini bahkan mencapai puluhan ribu, menurut ibu Yanti, staff perpustakaan.

 

Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi saya untuk bisa menikmati seluruh koleksi museum. Tanpa saya sadari pula bahwa sudah dua jam lamanya namun pengunjung museum hanya segelintir orang. Menanggapi pertanyaan saya, Mas Dodo menerangkan bahwa jumlah pengunjung tidak bisa ditebak, terkadang bisa datang banyak sekali terutama rombongan wisata dari sekolah atau universitas, bahkan turis. Bergantung pada hari juga, Sabtu-Minggu biasanya lumayan ramai. Tetapi ia juga mengakui kalau untuk pengunjung individu terlepas dari rombongan memang sedikit.

Banyaknya koleksi museum memang harus benar-benar dijaga dan dirawat agar tetap bertahan. Radya pustaka setiap tanggal ulang tahun museum melakukan mises ringgit, khususnya untuk mencuci keris dan wayang. Barang-barang dari perunggu memerlukan perhatian khusus untuk merawat bahkan mendatangkan ahli khusus. Cukup membahayakan juga bagi pengunjung untuk memegang setelah koleksi dibersihkan karena pembersihannya melibatkan cairan kimia.

 

Menikmati dan melihat berbagai macam koleksi di museum ini membuat saya terpukau akan kehebatan sejarah. Serasa melakukan perjalan masa lampau dengan mesin waktu. Dengan hanya membayar 5ribu rupiah, kita bisa merasakan setiap kisah masa lampau, dengan keindaahan nilai seni, keunikan,  dan historis, serta tambahan pengetahuan di museum Radya Pustaka. Anda bisa berkunjung ke museum ini setiap hari terkecuali hari senin,  konvensi museum internasional telah menetapkan sebagai hari libur museum.