Cerita Sejarah dari Setapak Ijen,Malang

Maria Septian 10094125

 Oleh : Maria Septian 100904125

Tampak depan Museum BrawijayaSejarah memang tak pernah luntur. Tapi, jika tidak dilestarikan bagaimana ia akan bertahan? Ketika modernisasi menggerus jaman, benda bersejarah semakin sulit di temui. Museum, sebuah tempat dimana kita bisa melihat saksi-saksi bisu masa lalu.
Menapaki jalan raya Ijen, Kota Malang dengan pemandangan yang indah. Sesekali beberapa kendaraan melintasi jalan raya yang tanpa papa iklan satu pun. Bunga tertata rapi di area bundaran jalan Ijen. Kiri dan kanan terasa sejuk dengan pepohonan yang besar nan rindang, sungguh berjalan di jalan ini serasa kita berada di jaman Kolonial. Arsitektur bangunannya masih model lama. Tepat di ujung jalan, terdapat sebuah bangunan yang berwarna hijau.
Saya tertarik dengan sebuah area di sebelah selatan. Di bagian depannya terdapat kendaraan Ampibi, sebuah meriam kuno dan beberapa peralatan perang. Beberapa kendaraan roda dua memasuki area tersebut. Ketika tepat berada di depan, saya terkesima dengannya beberapa senjata kuno jaman penjajahan. Kaki saya terus melangkah untuk melihat dari dekat.

Lukisan pertempuran
Lokasi Halaman Depan Halaman depan Museum Brawijaya diberi nama “Agne Yastra Loca” yang berarti taman senjata api revolusi. Halaman depan tersebut merupakan ruang pameran terbuka yang memamerkan benda-benda bersejarah khususnya senjata-senjata berat dan kendaran lapis baja yang memiliki nilai sejarah.
Di bagian depan museum dipajang koleksi Tank yang digunakan pada pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Kemudian ada senjata penangkis Serangan Udara yang disita oleh BKR pada September 1945 dari tangan Tentara Jepang. Meriam Cannon 3,5 Inch yang diberi nama Si Buang disita oleh TKR di Desa Gethering Gresik dari Tentara Belanda pada 10 Desember 1945. Kemudian Tank AMP-TRACK yang digunakan dalam pertempuran para pejuang TRIP.
Sebelum masuk ke dalam gedung ini, Kita akan disambut dengan sebuah patung setengah dada, sosok seorang Jendral Besar pertama Indonesia yang sekaligus menjadi pahlawan, yaitu Jendral Soedirman. Ini adalah sebuah museum sejarah yang sudah tidak asing lagi bagi warga kota Malang. Museum ini didirikan dengan melatar belakangi perjuangan TKR dan rakyat Jatim dari Agresi Militer Belanda I dan II. Museum Brawijaya dibangun atas prakarsa oleh brigjen TNI (Purn) Soerachman Pengdam VIII/BRW Tahun 1959 – 1962.
Museum Brawijaya diresmikan pada tanggal 04 Mei 1968 oleh Kolonel Pur. Dr. Soewondo. Beliau terkenal dengan nama CITTA UTTHAPANA CAKRA yang berarti Api Penyebar Semangat dengan luas area mencapai 6825 m2, terbagi atas 2 area utama. Yaitu area pamer dan perkantoran. Biaya masuk Museum ini cukup terjangkau. Pengunjung hanya cukup merogoh lima ribu rupiah untuk bisa menengok kembali bukti perjuangan rakyat Jawa Timur.
“Silahkan mbaknya kalo mau foto-foto. Disini bebas mengambil gambar selama tidak merusak pajangan.”ujar Pak Tarmo salah seorang staf Museum Brawijaya.
Di ruang lobby ini pengunjung dapat melihat sekaligus menambah pengetahuannya. Karena pada ruangan ini terdapat tiga koleksi yang dapat dilihat oleh para pengunjung, diantaranya Relief penugasan pasukan Brawijaya, Relief kekuasaan Kerajaan Majapahit dan Lambang- lambang kesatuan / Kodam seluruh Indonesia.

Senjata Perang
Senjata-senjata ini seakan bercerita kembali bagaimana gigihnya para putera bangsa yang berjuang sampai titik darah penghabisan dalam meraih kemerdekaan negeri ini. Satu demi satu pucuk terpampang rapi, mulai dari senjata yang biasa kita sebut bedil hingga meriam yang sangat besar.
Mata saya melirik sebuah senjata yang mirip dengan meriam, terpajang di atas karpet merah yang dibatasi dengan rantai besi. Sebuah senjata yang besar dan dapat dibayangkan bagaimana kejamnya masa perang. Namun, rasa ngeri akan berubah menjadi sebuah rasa kagum dan bangga. Senjata yang besar ini hasil karya tangan-tangan putera-puteri Indonesia.
“Dengan senjata buatan RI (pabrik senjata di Mrican, Kediri) para pejuang kemerdekaan dengan segala keuletan, ketabahan serta semangat juang yang tinggi berhasil mengusir penjajah dari bumi Indonesia” begitulah tulisan yang berada di bawah senjata tersebut.
Sebuah pengetahuan sejarah yang seharusnya dikenalkan lebih luas lagi, tidak hanya tersimpan rapi di Museum ini. dalam pelajaran sejarah sejak SD pun kita tidak pernah tahu bahwa pada masa perjuanagan kemerdekaan RI, kiat sudah memiliki pabrik senjata sendiri. Kemana sebenarnya fakta penting selama ini?
“Lewat museum ini saya banyak belajar tentang perjuangan TKR yang melawan penjajah. Ya, saya harap lebih banyak lagi promosi tentang museum ini karena setahu saya promosinya sangat kurang.”ujar Yosefa salah satu pengunjung yang juga mahasiswi kedokteran UNBRA.
Di pojok dekat pintu masuk terdapat sebuah benda antik. Mengingatkan kita pada film-film Inggris masa lalu. Mobil “DE SOTO USA”, mobil yang digunakan Kolonel Soengkono sebagai kendaraan dinas yang pada waktu itu menjabat sebagai Panglima Divisi Brawijaya (Divisi I JATIM)1948-1950 di JATIM. Barang-barang peninggalan panglima besar jenderal Sudirman.
Seperangkart kursi dan meja menarik perhatian pengunjung, tertata apik, dengan tetap dipagari rantai besi. Kusi dan meja inilah yang dipakai Bung Karno, Bung Hatta, Kol. Soengkono dalam melakukan perundingan terhadap pihak Belanda yang disebut dengan “Perundingan meja bundar”.
Masuk lebih dalam lagi, kita akan disuguhkan cerita melalui lukisan-lukisan yang terpajang di sisi kanan dan kiri dinding. Bagaimana kegiatan para pejuang dan tokoh-tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan.
Kurang lengkap jika tidak memasuki ruang kedua. Koleksi yang terdapat pada ruangan ini mulai dari tahun 1950 – sekarang. Di ruangan ini terdapat benda-benda bersejarah seperti komputer yang digunakan pada masa itu, dsb. Di ruangan ini juga terdapat foto-foto yang menarik untuk dilihat, seperti foto-foto yang menceritakan operasi khusus yang dilakukan dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di Indonesia, dan juga terdapat foto-foto kota Malang tempo dulu.
Menengok ke bagian belakang museum, Kita akan melihat sebuag gerbong maut, salah satu icon museum ini. Sebuah gerbong barang yang digunakan untuk mengangkut 100 Pejuang Indonesia dari Bondowoso ke Surabaya dalam keadaan pintu tertutup rapat dan tanpa ada lubang angin, hingga menewaskan hampir seluruh penumpang dan menyisakan 12 orang selamat.
Berwisata sekaligus berburu cerita sejarah di setapak Ijen, siapa yang menyangka banyak sekali tambahan pengetahuan akan sejarah. Bukti sejarah ini hendaknya tidak tersimpan rapi begitu saja tetapi dapat memberika ruang tambahan ilmu bagi generasi penerus bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s