Jejak Pelancong Nusantara: Wisata Ziarah Makam Raja-Raja di Pajimatan Girirejo Imogiri

Image

Gambar 1: Gerbang utama menuju area sakral Makam Raja-Raja Mataram

Teks & Foto: Julius Wicaksono

Bertolak ke selatan kota Yogyakarta, maka akan tiba di daerah Bantul. Selain wisata pantai, terdapat banyak tempat wisata cagar budaya yang dapat dikunjungi di kawasan Bantul. Salahsatunya adalah jika menyisiri pinggir kota Bantul, tepatnya di kecamatan Imogiri terdapat Pajimatan Girirejo Imogiri yaitu salahsatu cagar budaya ziarah Makam Raja-Raja Mataram.

Makam Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri yang terletak di Bukit Desa Pajimatan, Imogiri, Daerah ini dulunya dikenal sebagai daerah perbukitan Merak. Bantul merupakan obyek wisata ziarah yang sangat menarik untuk dikunjungi. Permakaman ini dianggap suci dan keramat karena yang sesuai dengan namanya, makam Imogiri merupakan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yakni Raja yang bertahta di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasultanan Surakarta Hadiningrat. Sebelumnya raja-raja Mataram Islam dimakamkan di makam raja-raja di daerah Kotagede. Sejak masa Sultan Agung, Raja dan keturunan Kerajaan Mataram Islam dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta dimakamkan di Pesarean Imogiri. Hanya saja Sri Sultan Hamengkubuwono ke – II merupakan satu-satunya sultan Yogyakarta yang dimakamkan di Makam Raja-Raja Kotagede.

Terletak tepat persis di sebelah bukit kompleks pemakaman Seniman Indonesia, jalan masuk menuju obyek wisata ini tergolong mudah untuk ditempuh. Yang paling unik dari perjalanan menuju area makam Raja-Raja yakni dengan dengan berjalan kaki menaiki tangga yang menuju puncak di Makam Raja-Raja Keraton Yogyakarta ini. Susunan tangga di makam Imogiri ini terlihat beragam, mulai dari yang pendek dan tergolong santai, sampai tangga yang sangat curam dan beberapa pengunjung memilih memegang besi di dinding tangga sebagai alat bantu untuk naik hingga ke puncak. Sambil menaiki tangga, pengunjung dapat menikmati pemadangan alam disekitar yakni hutan yang masih asri dan tidak tersentuh oleh industrialisasi. Pengunjung dapat menikmati pemandangan yang sangat indah dan mempesona, juga dapat sambil menikmati istirahat di warung yang telah tersedia di beberapa tempat tertentu di area tangga. Sebagian besar pengunjung biasanya mengalami kesalahan hitung ketika berinisiatif menghitung anak tangga saat perjalanan menuju pintu gerbang pertama pemakaman Raja-Raja, bahkan sering dipastikan terjadi selisih hitung antar pengunjung satu sama lain. Menurut mitos yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, maka semua keinginannya akan terkabul.

Image

Gambar 2: Tangga menuju Makam Raja-Raja Mataram

Menurut abdi dalem Pajimatan Girirejo Imogiri, Djoko Redjo menjelaskan mengenai jumlah anak tangga menuju area pemakaman raja-raja berikut filosofinya (8/6). anak tangga dari pemukiman menuju daerah dekat masjid berjumlah 32 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun pada tahun 1632. Anak tangga dari daerah dekat masjid menuju pekarangan masjid berjumlah 13 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung diangkat sebagai raja Mataram pada tahun 1613. Anak tangga dari pekarangan masjid menuju tangga terpanjang berjumlah 45 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Anak tangga terpanjang berjumlah 346 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun selama 346 tahun. Anak tangga di sekitar kolam berjumlah 9 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan Walisongo.

Dalam percakapan informal yang disampaikan oleh abdi dalem Pajimatan dalam perjalanan ingin menuruni area makam, ia bercerita bahwa terdapat sebuah anak tangga yang sebenarnya adalah makam seorang penghianat yang bernama Tumenggung Endranata, salah seorang punggawa kerajaan yang membeberkan rencana penyerbuan Sultan Agung kepada pihak Belanda. Tindakan pengkhianatan tersebut berakibat pada lumbung-lumbung padi sebagai persiapan logistik dalam long march menuju Batavia dibakar dan di porak-porandakan oleh tentara Belanda, sehingga bala tentara Sultan Agung dapat dengan mudah ditumbangkan oleh pihak Belanda.

Setelah mendengar bahwa ternyata salah satu pengikutnya berkhianat, Sultan Agung menunjukan kemurkaannya dengan memerintahkan para ajudan untuk memenggal Tumenggung Endranata yang merupakan pengkhianat kerajaan. Tak hanya dipenggal kepalanya, namun juga tubuh dan kakinya pun dipisahkan. Tubuh tanpa kepala itu kemudian dibenamkan di salah satu tangga paling dasar di depan pintu gerbang pertama di depan area makam. Kepala si pengkhianat dikubur di tengah pintu gerbang makam, dan kakinya dikubur di tengah kolam di depan gerbang. Sebenarnya tempat dikuburnya Tumenggung Endranata ini cukup mudah ditemui yakni, di bagian anak tangga yang permukaannya tidak rata atau sengaja teksturnya dibuat sedikit tidak halus, sangat jauh berbeda dengan keadaan anak tangga yang lainnya.

Untuk memasuki area pemakaman Raja-Raja Mataram, terdapat beberapa ketentuan. Selain pintu gerbang terakhir makam hanya dibuka di hari-hari tertentu seperti Hari Senin dan Jumat, dan hari-hari besar tertentu, ada juga tata cara berpakaian tertentu yang harus dilakukan ketika ingin memasuki kompleks makam secara langsung di bagian dalam. Saat mengunjungi makam, pengunjung akan mendapat petunjuk dari juru kunci untuk mengikuti segala instruksi yang dibutuhkan untuk menjalani segala ritual di dalam makam. Banyaknya pengunjung yang memiliki pengetahuan minim terhadap budaya ziarah di sini, mengakibatkan pengelola makam perlu melakukan pengawasan ekstra ketat agar tidak ada pengunjung yang menyalahi aturan hanya karena tidak mengetahui adat yang ada.

Bagi para pengunjung pria yang ingin memasuki kompleks makam di bagian dalam harus mengenakan kain panjang, baju peranakan, dan blangkon. Pengunjung wanita yang ingin memasuki makam di bagian dalam harus mengenakankain panjang, kemben, dan melepas semua perhiasan. Jika tidak menaati aturan tersebut, maka pengunjung hanya diperbolehkan sampai pintu gerbang pertama, sekedar duduk mendengarkan cerita sejarah para juru kunci di pendopo sebelah kiri yakni juru kunci Pasarean Dalem Kasultanan Yogyakarta, dan sebelah kanan untuk juru kunci Pasarean Dalem Kasultanan Surakarta. Selain itu para pengunjung juga dapat melakukan ziarah, sekedar berdoa di tempat yang sudah ditentukan, bahkan bisa bertapa di area gerbang pertama. Hal ini untuk memfasilitasi para pengunjung yang mungkin kecewa ketika hadir di hari kala pintu masuk pasarean tidak dapat dibuka, yakni pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, maka pengunjung dapat berziarah di depan pintu gerbang kedua yang sudah disediakan tempat untuk berdoa.

Gambar 3: Kompleks Pajimatan Girirejo Imogiri, Tampak Langit

Seperti diketahui pada sejarah Kerajaan Mataram bahwa pada masa Amangkurat V (1677) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi dua, yakni Kasultanan Hamengkubuwono (Yogyakarta) dan Kasultanan Pakubuwono (Solo). Abdi Dalem Makam Raja-Raja, Djoko Redjo pun menjelaskan bahwa disamping cerita sejarah mengenai dibelahnya Mataram menjadi dua dan makamnya pun dipisahkan, selain makam Kasultanan Hamengkubuwono dan Kasultanan Pakubuwono juga terdapat makam Sultan Agung, Sri Ratu Batang, Hamengkurat Amral, dan Hamengkurat Mas.

Pada Jumat 8 Juni 2013, pengunjung dapat memasuki area pemakaman karena berada di waktu ziarah yang sangat tepat. Pengunjung dapat berziarah dan bertapa, juga sekedar memohon bantuan kepada para leluhur untuk diberi kelancaran dan kemudahan rezeki. Atmosfir didalam area makam Raja-Raja berubah pesat ketika pengunjung sudah mulai masuk. Karena suasananya yang sangat hening dan gelap, membawa suasanya yang lebih intim pada para leluhur.

Makam Raja-raja Imogiri adalah tempat bagi mereka  yang mencari ketenangan dan ketentraman batin. Selain menjadi objek cagar budaya dan wisata ziarah, makam Raja Imogiri ini juga sering dimanfaatkan untuk para wisatawan yang memiliki hobi fotografi. Nuansa yang terbangun di tempat ini sangat eksotis dan rindangnya pepohonan dan dedaunan yang berguguran secara alami membuat makam Pajimatan Girirejo Imogiri ini sangat cocok untuk dijadikan objek fotografi. Selain itu dengan mengunjungi Makam Raja-raja Imogiri, pengunjung dapat mengetahui kekayaan sejarah budaya dan tradisi Kerajaan Mataram Islam yang mungkin nuansa intimnya tidak bisa didapatkan di buku sejarah. Tentunya untuk para wisatawan domestik maupun mancanegara yang kiranya haus akan pengetahuan budaya dan sejarah kerajaan Mataram Kuno, berkunjung ke Makam Raja-Raja di Imogiri adalah nilai eksotis yang sangat terrekomendasi. (Jul)

Gambar 4: Peta Letak Makam Imogiri / Pajimatan Girirejo Imogiri (Ditandai dengan huruf A) dari kota Yogyakarta

Link Video Terkait:

Melancong Nusantara – Julius Wicaksono

http://www.youtube.com/watch?v=-EaIrxwOEts&feature=youtu.be

Sumber Peta:

https://maps.google.com/maps?q=Makam+Raja-Raja+Surakarta+%26+Yogyakarta,+Bantul,+Daerah+Istimewa+Yogyakarta+55782,+Indonesia&client=firefox-a&hl=id&ie=UTF8&ct=clnk&cd=1&geocode=FU4lh_8dE4GUBg&split=0

Wicaksono Aji Pamungkas

(090903735)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s