Bumen, Kotagede (Masa Lalu dan Kini)

Image Oleh: Natalia Avikma Manuk (101004010) Secara geografis, Kecamatan Kotegede merupakan kecamatan yang terletak di bagian paling timur Kota Yogyakarta. Arus transportasi dan kepadatan penduduk, merupakan gambaran umum bagi keramaian suatu daerah sehingga sangat dimungkinkan muncul permasalahan-permasalahan, konflik-konflik, dan kepentingan-kepentingan lain yang bersifat individu maupun kelompok. Batas-batas wilayahnya,  sebelah utara, timur dan selatan berbatasan dengan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Kotagede merupakan kawasan fungsi campuran yang mengalami banyak perubahan baik fisik maupun sosial dalam kurun waktu lama. Bertahannya vitalitas ruang-ruang publik pada kawasan mengindikasikan kemampuannya memadukan kebutuhan aktivitas sosial masyarakat dengan konteks kawasan yang berubah. Selain itu Kotagede merupakan kawasan yang memiliki banyak kesamaan karakter dengan kawasan studi: fungsi awal sebagai kawasan permukiman, letak geografis, maupun sosial budaya berupa kehidupan bersama komunitas  yang heterogen. Kecamatan Kotagede adalah wilayah kecamatan di Kota Yogyakarta. Terdapat sentra industri kerajinan perak, terpusat di Kelurahan Purbayan dan Kelurahan Prenggan. Industri kerajinan perak dilakukan dengan mandiri atau berkelompok dan bersifat rumah tangga. Sebagian besar penduduk di dua kelurahan ini memanfaatkan air sumur (air tanah) sebagai sumber air bersih. Lebih dari 10% penduduk di dua kelurahan tersebut bekerja di industri kerajinan perak. Terdapat kelompok-kelompok pengrajin yang melakukan usaha, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengecoran logam, pembentukan logam, pelapisan hingga finishing, semua dilakukan dalam skala rumah tangga. Industri skala rumah tangga ini menimbulkan limbah padat dan limbah cair yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) serta  berpotensi mencemari lingkungan. Mangkubumen (Bumen) merupakan salah satu wilayah di Kotagede. Jika dilihat dari rata-rata tingkat pendidikannya adalah lulusan SMA. Alasan para warga untuk tidak meneruskan pendidikan anaknya hingga ke perguruan tinggi karena faktor ekonomi dan para warga beranggapan daripada meneruskan ke perguruan tinggi akan lebih berguna jika anaknya membantu orangtuanya dalam berwiraswasta. Menurut beberapa narasumber menyatakan bahwa sebagian warga di Kotagede merupakan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Keterlibatan dalam PKI yang membuat para warga ini diperlakukan secara diskrimiatif oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahu 1965, misalnya saja dibatasinya akses untuk mendapatkan pekerjaan sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada para warga yang terindikasi terlibat dalam kegiatan PKI. Keterbatasan akses tersebut yang membuat para warga di Kotagede ini memilih matapencaharian sebagai wiraswasta dan sebagian besar memilih sebagai perajin logam—mulanya sebagai perajin teko. Pemilihan matapencaharian sebagai perajin logam ini karena pada masa pemerintahan Presiden Soekarno menggalakan adanya KPBK (Koperasi Perajin Blek Kotagede) untuk membantu para warga mendapatkan bahan baku murah dalam memproduksi kerajinan logam dan membantu pemasaran. Kemudian seiring waktu, para perajin di Kotagede lebih memfokuskan produksinya dengan bahan baku perak dan emas. Namun setelah peristiwa Bom Bali, produksi kerajinan emas mulai terhenti, karena pemasaran terbesarnya adalah di Bali, dan kini sebagian warga hanya memproduksi kerajinan perak. Kehidupan usaha kerajinan perak pun saling bersaing antara perajin perak berskala rumah tangga dengan pengusaha perak yang kini mulai merangkak membesarkan modalnya. Para perajin kecil pun kini mulai terhimpit dengan aura persaingan yang tidak seimbang ini—dilihat dari kepemilikan modal yang timpang—maka tak sedikit pula perajin kecil pun, yang kini semakin sedikit menerima pesanan, tak kuasa menolak kepentingan pengusaha perak yang sudah mapan untuk menjadikannya pekerja dengan upah yang minim. Hal tersebut ditambah akses pekerjaan yang minim bagi para perajin kecil ini yang rata-rata pendidikannya hanya lulus SMA. Mulanya para perajin rumah tangga ini telah berusaha untuk berkompetisi dengan para pengusaha perak, usaha yang dilakukan dengan mengikuti berbagai pameran industri untuk mendongkrak penjualan. Namun usaha tersebut hanya bertahan beberapa kali saja, kemudian perajin perak berskala industri menengah pun mulai mendominasi dalam pameran-pameran selanjutnya dengan daya tawar membayar uang sewa yang lebih tinggi. Lemahnya daya tawar pun juga terjadi dalam hal mengembangkan suatu inovasi produk yang dikreasikan oleh para perajin kecil. Ada beberapa inovasi produk yang dihasilkan oleh para perajin kecil, misalnya kerajinan perak berbentuk replika Borobudur dan kapal penisi, namun inovasi tersebut kemudian ditanggapi oleh para pengusaha perak dengan membuat produk yang serupa secara masif dengan harga yang lebih murah. Keunggulan para pengusaha perak dalam hal jejaring pemasaran pun semakin mematikan usaha para perajin kecil. Akhir yang serupa pun juga mewarnai Koperasi KP3Y yang dulunya berfungsi untuk menampung produk para perajin kecil yang kemudian akan dibantu dalam hal pemasaran, namun kini koperasi ini didominasi oleh para pengusaha perak dan menyingkirkan kepentingan para perajin kecil. Bahkan fungsi koperasi untuk mengatur standar harga antar pelaku usaha perak ini pun hanya berlaku bagi para pengusaha perak—tanpa mempertimbangkan para perajin kecil. Harga yang dipatok oleh pengusaha perak terbilang lebih murah dibandingkan dengan para perajin kecil karena peralatan yang dimiliki para pengusaha tersebut lebih memudahkan dalam melakukan produksi dalam skala besar secara cepat dengan sistem cetak—sedangkan para perajin kecil hanya melakukan pekerjaannya secara manual, sehingga dari segi harga pun akan lebih mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s