Ketika di Negeri Belanda Ala Semarang

Asteria Desi Kartika Sari/100904202

Terik matahari  tidak menyurutkan semangat kami untuk menikmati pemandangan eksotis kota kecil ini. Suara kendaraan lalu lalang mengiringi perjalanan kami saat itu. Kami berjalan menyusuri tepian jalan sebuah kota di Semarang, tampak di sekeliling jalan berdiri kokoh gedung-gedung unik nan besar dan megah meski tampak usang dimakan usia. Memang, itu bukanlah gedung biasa-biasa saja tentunya.

IMG_2719

Bangunan di Kawasan Kota Lama

Semarang memang salah satu daerah yang menjadi saksi sejarah dari sekian daerah di Indonesia.  Buktinya, berbagai prasasti-prasasti sejarah peninggalan penjajah masih terlihat kokoh. Mulai dari Kota Lama, sebuah kota kecil di pinggiran kota Semarang ini seolah menyimpan sejuta cerita tentang sejarah penjajahan. Kami tak lelah mengelilingi kota ini dengan rasa penuh kekaguman. Kami melihat berbagai bangunan ala Eropa Belanda mengelilingi jalan-jalan di kota itu.

Kota lama bisa dikatakan menjadi potongan sejarah bagi Indonesia. Kota ini menghadirkan keunikan tersendiri, yakni memberikan sebuah gradasi dari dua generasi jaman yang disatukan hingga menciptakan gradasi yang nan eksotis untuk dinikmati. Meskipun gedung nampak usang mulai dimakan usia, terlihat kuno dan tidak terawat, namun disitulah point of interest dari kota ini.

Pastinya gedung-gedung tersebut adalah gedung yang dibangun sejak jaman Belanda. Hal itu terlihat dengan karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan di benua Eropa, begitu juga dengan ornamen-ornamen bangunan yang identik dengan gaya Eropa dari pintu, jendela, penggunaan warna, bentuk atap,bahkan hingga ruang bawah tanah. Tak jarang tempat ini menjadi incara para fotografer untuk menjadi lokasi pemotretan model maupun foto pernikahan.

Hal serupa juga dikatakan Tika salah satu pengunjung kota lama saat itu. “ Aku baru pertama kali juga datang kesini, di kota lama bagus banget suasananya, seperti berlibur di Eropa,jadi nggak usah jauh-jauh ke Belanda”, katanya sambil tersenyum lebar dan penuh antusias.

Kota lama terletak di daerah Ungaran Semarang, Jawa Tengah. Apabila ditempuh dengan kendaraan dari pusat kota Semarang ditempuh sekitar satu jam perjalanan . Meskipun tergolong jauh namun hal itu terbayar sudah dengan pemandangan elok dari Kota Lama. Tak hanya itu, letak geografis dari Kota Lama juga cukup strategis bagi wisatawan. Bagaimana tidak, makanan-makan enak juga mewarnai kawasan Kota Lama.

Tak kalah dengan bangunan yang lainnya, gedung yang cukup populer di Semarang ini juga menyita perhatian kami. Gereja Blenduk, gereja ini memiliki nama asli Nederlandsch Indische Kerk. Keunikan dari gereja ini adalah atapnya yang berbentuk kubah setengah lingkaran berwarna merah yang diapit menara kembar di depannya. Usia dari gereja ini sudah hampir dua setengah abad. Namun hingga sekarang gereja Blenduk masih digunakan oleh masyarakat Semarang.

Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama

Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama

Perjalanan di kota Semarang seperti tak akan pernah usai.  Setelah menikmati eksotisme Kota Lama, kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri suatu tempat yang menjadi ikon kota Semarang. Sebagai orang asing ditemapt itu, akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi untuk mencari tempat tujuan kami berikutnya. Sedikit bebincang dengan sopir taksi akhirnya kami mendapatkan tawaran ke Lawang Sewu atau pintu seribu dalam arti bahasa Indonesia.

Masih sama dengan suasana Kota Lama, Lawang sewu juga adalah bangunan arsitektur bergaya Belanda. Hiasan jendela semakin menambah kesan mewah dan elegan. Selain arsitekturnya yang indah, gedung lawang sewu juga memiliki nilai sejarah yang masih kental. Sedikit bicara tentang sejarah, pada awalnya pembangunannya gedung yang terletak tepat di depan Jalan Raya Pos Daendels ini digunakan sebagai kantor pusat NIS dan tempat tinggal para pegawai Belanda. Tempat ini juga sebagai saksi bisu dari pertempuran 5 hari di Semarang hingga memakan banyak korban. Sampai akhirnya menjadi kantor pemerintahan pasca Indonesia merdeka, dimana saat itu pengelola gedung Lawang Sewu berada di bawah PT KAI.

Tidak seru kalau tidak mencoba masuk melihat keadaan di dalamnya. Bersama salah saatu tour gate kami diajak berkeliling di kawasan gedung Lawang Sewu. Memang tak dapat disangkal gedung ini masih meninggalkan kesan mistis. Memasuki salah satu gedung Lawang Sewu, kami melewati pintu-pintu kayu di kanan kirinya. Bangunan bekas pegawai NIS ini dilengkapi dengan berbagai ruangan. Namun sayang tidak ada perabotan yang tersisa di ruangan tersebut.

Namun sekarang ini nampaknya masyarakat sedikit kurang peduli dengan cagar budaya peninggalan sejarah tersebut. Contohnya saja di Kota Lama, beberapa bangunan terlihat dibongkar bahkan dialih fungsikan sebagai tempat-tempat industri seperti perkantoran, tempat-tempat makan dan lain-lain. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian pemerintah yang cukup ketat untuk tetap melestarikan cagar budaya.

“ Kalau membandingkan kota lama dan lawang sewu saya lebih suka di Lawang sewu meskipun punya cerita yang lebih serem, Lawang sewu bangunan lebih terawat dan diperhatikan sungguh-sungguh, apalagi di kota lama sekarang banyak gedung-gedung yang mulai di alih fungsikan, tandas Iik salah satu masyarakat asli Semarang.

Bangunan Lawang Sewu

Bangunan Lawang Sewu

Setelah puas menikmati arsitektur-arsitektur gaya Belanda, dan rasa lelah sudah tak tertahan, akhirnya kami memutuskan berakhirnya perjalanan kami. Tak terasa matahari waktu itu juga sudah mulai redup menandakan hari mulai senja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s