Pagoda Avalokitesvara, Bukti Cinta Untuk Dewi Kwan Im

Dyah Arum Narwastu (100904055)

Mewah dan mempesona, dua kata yang nampaknya layak digunakan untuk menggambarkan bangunan bernama Pagoda Avalokitesvara. Sebuah tempat ibadah sekaligus tempat wisata yang dibangun di lahan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. Tidak sulit menemukan bangunan ini, cukup menuju Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang, maka tingginya bangunan ini akan langsung mencuri fokus siapapun yang melewati daerah tersebut.

DSC_2030Terdapat banyak hal yang ditawarkan di tempat ini, semuanya tentu saja berhubungan dengan wisata rohani. Diantaranya, bangunan Pagoda Avalokitesvara setinggi 45 meter yang didominasi oleh warna merah dan kuning keemasan. Dalam budaya China, warna merah melambangkan keberuntungan, sedangkan warna kuning keemasan dipercaya menghasilkan Yin dan Yang. Kepercayaan ini membuat warna kuning dilambangkan sebagai bentuk netralisasi dan keberuntungan.

Selain pagoda, di kawasan Vihara ini ada pula patung Siddhartha Gautama yang sedang bersemedi di bawah pohon Bodhi. Pohon Bodhi yang ada di Vihara ini merupakan cangkokan dari Pohon Bodhi yang ada di Anuradha Vihara Srilanka. Sedangkan Pohon Bodhi yang ada di Anuradha Vihara Srilanka adalah keturunan dari Pohon Bodhi yang ada di Bodhagaya, India.

Pagoda Avalokitesvara dibangun sebagai bentuk penghargaan terhadap Dewi Kwan Im. Terdapat 24 patung Dewi Kwan Im yang terpasang mengelilingi enam tingkat pagoda. Pengunjung tidak hanya bisa melihat patung Dewi Kwan Im, namun juga bisa berdoa langsung kepadanya.

DSC_2017Aroma dupa terasa sangat menyengat ketika api dari sebuah kotak yang disediakan menyentuh ujung dupa tersebut. Pembakaran dupa memang harus dilakukan sebagai tahapan dalam ritual Ciamsi untuk memohon ijin kepada Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im tidak mengijinkan sembarang orang untuk bertanya kepadanya, maka dari itu ritual ini perlu untuk dilakukan. Pembakaran dupa harus dibarengi dengan persembahyangan menurut agama dari seseorang yang ingin bertanya tersebut. Penyebutan nama, usia, dan pertanyaan yang ingin diajukan dilakukan pula dalam tahap ini, tentunya kesemua itu diucapkan di dalam hati.

Ritual dilanjutkan dengan melempar Poa Pwee, dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran yang memiliki dua sisi berlainan. Jika Poa Pwee jatuh dengan dua sisi yang berlainan, maka orang yang melemparnya diijinkan untuk melanjutkan ritual. Namun apabila sisi yang terbuka sama, itu berarti Dewi Kwan Im tidak mengijinkannya untuk bertanya.

Jawaban dari pertanyaan yang diajukan dapat diperoleh dengan mengocok beberapa bambu yang terdapat pada suatu wadah. Satu batang bambu yang jatuh adalah jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan. Namun, kesalahan masih mungkin terjadi dalam tahap ini. Maka untuk memastikan lagi, kita harus bertanya lagi kepada Dewi Kwan Im dengan melempar Poa Pwee. Bila jawaban yang kita peroleh memang benar merupakan jawaban dari Dewi Kwan Im, maka Poa Pwee akan jatuh dengan menunjukkan dua sisi yang berlawanan.

Sebatang bambu dalam ritual Ciamsi memiliki berbagai makna yang diungkapkan dengan sebuah syair lembut berbahasa Sansekerta. Syair ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan memiliki berbagai arti sesuai dengan pertanyaan apa yang kita ajukan, baik pertanyaan mengenai rezeki, umur, maupun jodoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s