RIWAYAT MANIS GONDANG WINANGOEN

STEPHANI TARA H

100904213

Image

Gula menjadi bahan makanan yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi salah satu pemasok terbesar untuk Indonesia, terbukti terdapat 180 pabrik gula. Kemudian pada jaman penjajahan Belanda banyak sekali pabrik gula yang berhenti beroperasi dan dijadikan gedung pertahanan Belanda. Sampai sekarang pabrik gula yang masih aktif di Jawa Tengah tersisa 11 pabrik, yang delapan di antara dikelola oleh BUMN dan tiga lainnya dikelola swasta.

Salah satunya adalah Pabrik Gula Gondang Winangoen ini. Pabrik gula Gondang Winangoen ini adalah telah diakui sebagai museum gula terbesar di Asia Tenggara. Terletak di Gondang, Klaten, Jawa Tengah dengan luas kompleks pabrik gula ini kurang lebih 100 hektar. Di dalam komplek museum gula ini terdapat perpustakaan gula, pabrik gula, arena bermain green park, museum gula, dan kafe.

Ketika memasuki kompleks museum, Anda akan disambut dengan gapura berwarna kuning dan sebuah pohon beringin besar dan rimbun. Tiket masuk museum untuk wisatawan domestik Rp 5000 dan mancanegara Rp 10.000, jika ingin berkeliling ke pabrik gula akan dikenakan biaya sebesar Rp 5.000 dan bila membawa kamera atau ingin mendokumentasikannya dikenakan biaya lagi sebesar Rp 150.000.

Di pelataran museum terdapat beberapa alat besar penggiling gula tradisional dan kepala kereta yang dulu digunakan untuk mengantar gula. Memasukki museum terdapat sebuah peta yang menginformasikan lokasi-lokasi pabrik gula yang aktif dan dahulu pernah aktif. Terdapat beberapa alat-alat yang dahulu digunakan untuk membuka lahan untuk ditanami tebu.

“Tebu itu masa tanamnya 7-9 bulan berbeda dengan padi yang hanya 3 bulan. Sehingga kebanyakan petani itu malas menanam tebu karena lebih lama. Padahal perawatannya lebih mudah tebu. Tanaman tebu sendiri adalah tanaman yang mudah sekali hidup bahkan dibiarkan saja pun tetap hidup,” jelas Okky, tour guide Museum Gondang Winangoen.

Pada masa panen 100 kilogram tanaman tebu bisa menghasilkan rendemen 15 kilogram gula. Akan tetapi, sekarang terjadi perubahan yang cukup signifikan dari 100 kilogram gula hanya menghasilkan rendemen 7 kilogram gula. Semakin banyaknya hama dan penyakit membuat hasil dari panen tebu sendiri terhambat.

Image

Pabrik gula Gondang Winangoen ini berbeda dengan pabrik gula lainnya karena ia masih menggunakan sistem pemurniaan dengan menggunakan karbonasi rangkap. Seperti contohnya pada pabrik gula Madukismo, Yogyakarta yang  kini sudah menggunakan sistem sulvitasi. Pada sistem karbonasi rangkap zat yang dicampur untuk memurnikan gula adalah zat kapur atau batu gamping, sedangkan pada sulvitasi zat yang dicampurkan adalah sulfur atau yang dikenal sebagai belerang.

Terdapat beberapa stasiun utama pengolahan tebu di Gondang Winangoen ini. Stasiun pertama yaitu stasiun penggilingan tebu digerakan dengan alat yang disebut krapyak menuju mesin penggilingan. Tebu digiling sebanyak lima kali sampai benar-benar halus. Pemisahan antara sari gula dan kulit tebu dilakukan pada stasiun ini juga. Hal yang cukup mengesankan dari pabrik ini adalah limbah dari penggilingan tebu dimanfaatkan untuk menjalankan mesin-mesin di pabrik. Limbah-limbah yang berasal dari kulit tebu yang telah halus masuk ke dalam stasiun ketel yang dibakar bersama kayu untuk diubah menjadi uap yang digunakan untuk menjalankan mesin.

Setelah tebu digiling, sari tebu masuk ke dalam stasiun pemurnian dan kemudian dipisahkan dari air dengan alat evaporator yang berbentuk seperti botol susu tetapi ukurannya besar. Setelah dievaporasi gula masuk ke stasiun pendingin. Disini gula telah mengental dan masih berupa karamel dengan warna kecokelatan. Berikutnya masuk ke dalam stasiun pemutaran, dimana karamel diubah menjadi gula pasir. Sistemnya seperti membuat gulali, karamel diputar sampai menjadi gula pasir  barulah kemudian dikemas ke dalam karung.

Pabrik gula ini sudah beroperasi dari tahun 1829, sehingga mesin-mesin yang digunakan masih terbawa dari jaman revolusi industri. Mesin-mesin diganti ketika ada yang rusak dan kebanyakan tidak berubah sejak awal beroperasinya pabrik ini. “Disini sistemnya merayu. Jadi kita merayu petani tebu untuk mengolah tebunya disini,” jelas Okky. Di pabrik gula ini menggunakan sistem lelang, ketika gula sudah siap akan dikembalikan kepada petani atau dikirim untuk Bulog.

Image

Pekerja sendiri rata-rata adalah laki-laki. Di bagian stasiun ketel, resiko kecelakaannya sangat besar. Sebab terdapat kompor besar untuk mengubah limbah menjadi uap dan Okky menyampaikan bahwa suatu waktu bisa saja meledak apalagi suhu di dalamnya sangat panas.

Menurut Yanto salah satu pekerja di pabrik gula ini menyampaikan, “Selama 13 tahun saya bekerja tidak pernah terjadi apa-apa ya. Banyak suka selama disini karena ketemu dengan banyak sekali teman dari mana-mana.”

Pada musim panen seperti Juni sampai empat bulan kedepan, Gondang Winangoen merekrut pekerja kontrak yang diambil dari sekitar pabrik gula. Pabrik beroperasi selama 24 jam penuh saat musim panen dengan pergantian shift kerja sebanyak tiga kali.

Keadaan di sekeliling pabrik kurang diperhatikan, terlihat banyak sekali gir-gir besi besar yang ditelantarkan di pelatarannya. Hal tersebut berbeda dengan keadaan di depan museum yang sudah dibangun untuk losmen dan kafe taman. Pabrik gula Gondang Winangoen telah berpindah tangan sebanyak tiga kali. Pertama dikelola oleh pemerintahan Belanda, saat Belanda pergi dipindahtangakan kepada Mangkubumi IV Solo. Saat dikelola oleh Mangkubumi pabrik mengalami penurunan dan terus merugi karena produksinya sangat sedikit namun biaya pengoperasiannya sangat besar. Kemudian karena hal tersebut diberikan kepada BUMN dan dikelola sampai sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s