SAM POO KONG: Eksotisme Negeri China di Semarang

Oleh: Ph. Angga Purenda 100903980

Image

Klenteng Besar Sam Poo Kong

Jumat (24/5) Pagi itu cuaca cukup cerah dengan langit berwarna biru serta matahari yang begitu gagah memancarkan sinarnya di atas Kabupaten Ungaran, Jawa Tengah. Di sisi lain saya sedang menyiapkan berbagai bekal untuk menjadi teman perjalanan ketika akan mengarungi sebuah Kota yang terkenal dengan cuaca panasnya yaitu Semarang. Beruntung saya ditemani seorang pemandu wisata yang sudah mengenal betul tentang tempat wisata di Kota Semarang dan sekitarnya yaitu Adit.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Adit, cukup sulit apabila perjalanan ditempuh dengan menggunakan transportasi umum ketika akan mengunjungi salah satu tempat wisata unggulan di Semarang tersebut. Sehingga perjalanan ditempuh dengan mobil sewaan cukup murah dari Kabupaten Ungaran. Akhirnya pada pukul 08.00 WIB perjalanan dimulai dari Kabupaten Ungaran menuju Kota Semarang.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya saya sampai disebuah tempat yang memiliki bangunan didominasi warna merah menyala yang begitu khas dengan negara China. Tempat tersebut bernama Sam Poo Kong sebuah klenteng yang dibangun oleh masyarakat keturunan China di Kota Semarang dan sekitarnya untuk menghormati jasa-jasa seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu, karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu.

Sam Poo Kong sendiri terletak di Jl. Simongan No. 129, Kelurahan Bongsari, Semarang Selatan, Semarang. Klenteng ini menjadi destinasi wajib para traveler ketika  mengunjungi Kota Semarang karena di dalamnya menawarkan berbagai kemegahan khas negeri China. Tiket masuk ke area Sam Poo Kong ini cukup murah yaitu hanya Rp 3000 saja. Ketika memasuki area Sam Poo Kong bersama Adit yang menjadi pemandu wisata kali ini disambut dengan bangunan arsitektur khas China.

Lampu lampion juga terlihat menggantung di pohon-pohon sekitar area yang menambah suasana serasa di Tiongkok. Adit menjelaskan jika area ini dulunya merupakan napak petilasan dari Laksamana Cheng Ho yang mendarat di Kota Semarang.  “Klenteng Sam Poo Kong ini dipercaya sebagai tempat persinggahan pertama Cheng Hoo ketika berlayar melintasi Laut Jawa” ujarnya.

Di area yang begitu luas ada hal yang menarik perhatian saya adalah sebuah patung perunggu setinggi kurang lebih 10 meter. Patung tersebut adalah Laksamana Cheng Hoo yang begitu gagahnya tepat di salah satu sudut area Sam Poo Kong tersebut. Terlihat juga sebuah pintu yang sangat besar dengan dominasi merah menyalanya persis seperti pintu-pintu di kerajaan China.

Panorama serba merah ini menjadi daya tarik saya ketika mengunjungi Sam Poo Kong ini sehingga tidak ketinggalan pula saya memotret momen menarik tersebut. Ketika saya diajak keliling oleh Adit sebenarnya saya melihat beberapa pekerja sedang menyelesaikan sebuah bangunan dengan melakukan pengecatan. “Memang Sam Poo Kong ini menjadi destinasi unggulan di Jawa Tengah dan masuk dalam program Visit Jawa Tengah 2013,  jadi ada tahap pengembangan wisata terhadap klenteng ini” ujarnya.

Image

Patung Laksamana Cheng Ho

Klenteng Sam Poo Kong sendiri selain sebagai tempat berdoa atau berziarah bagi umat Konghucu, memang diperuntukan untuk sebagai tempat wisata. Sehingga saya tidak heran jika klenteng ini banyak dikunjungi oleh masyarakat. Seperti terlihat pada waktu itu barisan anak-anak TK bersama gurunya asyik menikmati perjalanan di sekitar area Sam Poo Kong. Satu persatu mereka di foto oleh gurunya bersama patung Laksamana Cheng Ho dan di depan Klenteng.

Adit memberikan informasi kepada saya jika ingin mengunjungi bangunan utama dari Sam Poo Kong ini wajib membeli tiket seharga Rp. 20.000. Maka itu atas saran Adit saya membeli tiket masuk tersebut karena penasaran dengan beberapa klenteng disana dan melihatnya dari dekat. Bangunan utama yang dimaksud oleh Adit adalah sebuah klenteng yang cukup besar yang memiliki atap yang bertingkat yang sangat jarang ditemui klenteng dengan arsitektur tersebut.

Cerita mengenai kedatangan Laksamana Cheng Ho dapat ditelusuri dari pahatan-pahatan dinding yang berada di belakang Klenteng Besar tersebut. Dibawah pahatan tersebut terdapat sebuah tulisan yang menjelaskan perjalanan Laksamana Cheng Ho dalam 3 bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia, Inggris dan China. Tak jauh dari pahatan dinding tersebut terlihat beberapa umat sedang berdoa menghadap sebuah gua batu, dimana didepannya terdapat altar kecil. Tempat tersebut diyakini menjadi awal pendaratan dari Laksamana Cheng Ho sendiri. Menariknya terdapat juga umat muslim yang melakukan doa di area klenteng tersebut dengan membawa hio serta dipandu oleh penjaga dari klenteng tersebut.

Berdasarkan informasi dari Adit jika adanya umat islam yang melakukan doa di klenteng tersebut disebabkan dari sosok Laksamana Chen Ho yang diyakini beragama islam. “Jika kita lihat beberapa bentuk bangunan di kompleks Sam Poo Kong ini, unsur perpaduan antara Konghucu dan Islam sangat tampak” ujarnya. Sehingga kehadiran Sam Poo Kong ini dapat menjadi contoh menunjukkan kehidupan berinteraksi antar sesama, dengan mengesampingkan perbedaan yang ada.

Image

Para umat Konghucu sedang berdoa dengan menghadap Goa Sam Poo Kong

Selesai menikmati pahatan-pahatan yang menceritakan perjalanan Laksamana Cheng Ho serta klenteng besar tersebut. Tak ketinggalan pula menikmati sebuah deretan patung yang merupakan dewa-dewi, namun sayang tulisan yang ada dibawahnya dengan menggunakan huruf China sehingga saya tidak mengerti nama dari dewa dan dewi tersebut.

Pemandu Wisata saya kali ini Adit, memberi tahu jika di Sam Poo Kong terdapat jasa pemotretan dengan menggunakan baju tradisional China dengan latar belakang megah klenteng. “Disini juga ada jasa pemotretan menggunakan baju tradisional China harganya Rp.75.000” ujarnya. Namun saya tidak mengambil kesempatan tersebut karena lebih baik untuk istarahat di bawah pohon yang begitu rindang dengan hiasan lampu lampion. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk menanyakan kesan beberapa pengunjung Sam Poo Kong.

Menurut Erna yang merupakan pengunjung asal Ungaran ini menuturkan jika dirinya baru pertama kali mengunjungi Sam Poo Kong ini. “Ini pertama kalinya saya ke Sam Poo Kong, klentengnya sangat menarik dengan warna merahnya” tuturnya. Lebih lanjut Erna mengatakan jika pemerintah seharusnya menggalakan lagi tentang Visit Jawa Tengah tertutama pada destinasi andalannya seperti Sam Poo Kong agar semakin banyak masyarakat yang mengunjungi tempat tersebut.

Berbeda lagi dengan Erna, Endang seorang Ibu ini terlihat sangat menikmati liburannya dengan mengunjungi Sam Poo Kong. “Sam Poo Kong sangat bagus, terlebih lagi banyak tempat yang menarik untuk pemotretan dengan latar belakang klenteng” ujarnya. Kesempatan berkunjung tersebut, digunakan Endang untuk berfoto bersama patung Laksamana Cheng Ho dan dewa-dewi disekitar kompleks tersebut.

Akhirnya setelah cukup puas menikmati Sam Poo Kong yang begitu luas tersebut, saya memutuskan untuk pulang dan berpamitan dengan Adit yang selama ini menjadi pemandu wisata saya di Kota Semarang. Sam Poo Kong telah memberikan saya pembelajaran dan inspirasi yang sangat berharga mengenai kerukunan umat beragama. Melalui kebesaran Laksamana Cheng Ho pula, segala perbedaaan dapat dapat disampingkan dan justru membangun hubungan antar umat dengan begitu harmoni.

Image

Letak dari Sam Poo Kong

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s