Poyeng Knit Shop : Idealisme dan Hobi Sejalan Seirama

 

Ammyta Pradita (100904062)

“Poyeng itu pekerjaanku, tempatku belajar , hobiku, dan tempat aku menuangkan idealismeku” , kata Ajeng, sang owner yang ditemui Selasa (10/6).

Mungkin, kamu akan kesulitan menemukan Poyeng. Papan penunjuk  yang kecil dan letaknya yang agak tersudut di tepi ramainya Jalan Palagan. Tapi, percayalah, berada di Poyeng membuatmu merasa pulang ke rumah sendiri. Keceriaan yang dibagikan para asisten turut membawa rona bahagia untuk pengunjungnya.

Poyeng adalah sebuah toko yang menjual aneka benang dan peralatan rajut. Ya, merajut, kerjainan tangan yang biasa dikerjakan dengan dua teknik, knitting dan crochet. Pernah dengar? Knitting adalah teknik merajut menggunakan dua atau lebih jarum (minimal empat jarum untuk membuat topi secara melingkar). Sedangkan crochet adalah teknik merajut yang hanya menggunakan satu jarum, lebih dikenal dengan sebutan hakpen. Tentunya, banyak aksesori lain yang dibutuhka untuk merajut selain benang dan jarum. Sebagian di antaranya adalah kancing, meteran, stitch marker (penanda), cable needle, dll.

Secara umum, alat dan bahan yang digunakan untuk merajut tersedia di toko yang secara fisik baru buka pada medio 2010. Awalnya, Poyeng adalah sebuah toko online yang dikelola sendiri oleh Ajeng. Toko offline Poyeng lebih sering disebut dengan workshop, karena pengunjung dapat langsung berinteraksi, belajar bersama asisten, atau hanya sekadar datang untuk mengerjakan proyeknya. Poyeng online beralih dari cara pembelian via email dan telepon ke pembelian hanya melalui websitepoyenghobby.com pada tahun 2011. Selain menyediakan alat dan bahan merajut, Poyeng juga menerima pesanan rajutan tangan (handmade).

“Untuk bagian pemesanan rajutan tangan secara custom dan satuan, proses pemesanan dilakukan melalui e-mail sampai sekarang” , tambah Ajeng.

Nama Poyeng sebenarnya adalah nama panggilan Ajeng ketika kuliah. Ia ingin mencari brand untuk kreasinya dengan nama sendiri yang tidak terlalu kentara. “Seperti nama pena untuk penulis”, ujarnya. Terbukti, nama Poyeng yang singkat, ternyata mudah diingat orang.

Ajeng sudah menyukai mata pelajaran kerajinan tangan dari kecil. Ketika ia mulai membaca manga (komik Jepang) dan menemukan satu manga yang tokohnya merajut, ia merasa tertarik dan penasaran. Rasa penasaran ini baru terpuaskan ketika ia duduk di bangku kuliah, dari itu ia merasa ingin mempelajari tentang merajut lebih besar, terutama teknik knitting.

“Lebih baik mempelajari satu jenis craft (knitting) dengan sangat mendalam, daripada mencoba semua jenis craft tapi hanya sekedar bisa saja” , tambah perempuan yang sudah menerbitkan tiga buku tentang merajut ini.

Ajeng menuturkan, ada sedikit idealisme dirinya yang dituangkan dalam mengembangkan Poyeng. Ia ingin bekerja untuk diri sendiri, sekaligus membagi ilmunya pada orang lain. Ia ingin menyebarkan pemikiran “buat barangmu sendiri” pada anak muda, sekaligus memperlihatkan, kualitas barang handmade tidak kalah dengan buatan pabrik yang menggunakan mesin.

Belajar merajut dengan teknik knitting di Poyeng ternyata tidak dipungut biaya. Kamu tinggal datang, membeli benang dan jarum, lalu belajar bersama para asisten. Jika kamu sudah menguasai teknik dasar knitting tetapi kebingungan mengerjakan proyekmu, kamu juga bisa datang ke Poyeng untuk bertanya pada asisten yang ada.

Satu pepatah yang menjadi pegangan Ajeng, ilmu akan mati jika tidak diteruskan. Belajar knitting dari awal bisa dibilang hampir gratis, karena hanya membeli benang dan jarum. Setelah itu, bisa dikembangkan secara otodidak melalui internet.

“Aneh rasanya ketika ingin mengajarkan dasar-dasar knitting dengan meminta bayaran. Harapannya, orang yang sudah belajar knitting di Poyeng, bisa menyebarkan ilmunya ke orang lain secara gratis pula” , tutup Ajeng.

Kamu tertarik belajar merajut?

Silahkan datang ke Poyeng Knit Shop

Jl. Palagan 132 Sleman, Yogyakarta

 

ART|JOG|14

boneka goni karya Samsul Arifin

boneka goni karya Samsul Arifin

ARTJOGART|JOG|14; Bursa Seni Rupa Kontemporer Internasional
ART|JOG 2014 merupakan bursa seni rupa kontemporer internasional ke-7 yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta. Acara tahunan ini dilaksanakan pada tanggal 7-22 Juni 2014.
“Indonesia sangat sarat akan beragam bakat dan potensi artistik dengan ide yang bernuasa sosial dan dituangkan dalam beragam medium. ART|Jog mempunyai misi, yaitu memberikan peluang paparan kepada beragam bakat dan potensi; dan untuk menghubungkan mereka dengan mentor serta audiens yang tepat,” kata Direktur ART|JOG Satriagama Rakantaseta.
ART|JOG 2014 kali ini mengusung tema “Legacies of Power” karena bertepatan dengan kondisi Indonesia yang akan melangsungkan pesta demokrasi 9 Juli mendatang.
“Melalui jajaran para seniman dan karyanya, ART|JOG|14 akan mencoba memaknai visi pelaksanaan demokrasi di Indonesia sembari melihat kembali sejarah peralihan kekuasaan di Indonesia,” ujar Satriagama.
Pagelaran seni tahunan ini melibatkan 103 seniman lokal dan internasional dengan 137 karya dalam tiga program : Commission Work, Spesial Presentation,dan Art Fair. Samsul Arifin adalah commission artist tahun ini dengan karya berupa figur bobeka goni. Boneka ini disusun secara hierarkis dalam punden berundak layaknya struktur kekuasaan.
Melalui program Special Presentation, ART|JOG berusaha menampilkan kelompok multimedia dan animator teamLab asal Jepang dan Marina Abramovic, performance artist asal Amerika, akan hadir untuk mempresentasikan karya mereka.
Art Fair adalah program unik ART|JOG yang menampilkan potensi seniman muda dan berbakat yang mendaftar melalui mekanisme open call application yang ditutup bulan Maret 2014. Melalui mekanisme ini, panitia memperoleh 843 aplikasi meliputi 1240 karya. Kurator dan tim seleksi memutuskan untuk memilih 103.

110904446
Christi Mahatma W

RUMAH TIUP

deanisa putri ayuninda

11090 4355

 

Jemari – jemari terlihat lihai menekan clap dan memainkan alat musik. Mengeluarkan nada – nada yang menenangkan perasaan. Nada – nada yang seakan membuat isi rumah sederhana ini tak lagi pernah sunyi. Letaknya memang berada di pusat kota, tetapi rumah ini sederhana dan berada didalam gang sempit. Rumah sederhana tetapi hangat dengan tawa dan nada. Nada indah yang keluar dari semua alat tiup yang ada. Tepatnya semua nada itu berasal dari jalan Kemitiran Kidul Yogyakarta, yaitu Rumah Tiup.

       Risma sosok laki-laki berkacamata ini sebenarnya mendirikan rumah tiup untuk menikmati kehidupnya bersama alat musik tiup. Rumah Tiup pertama kali berada di Jakarta, dan Rumah Tiup tersebut didirikan oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Rumah Tiup yang berada di Cibubur yaitu kepunyaan sang kakak. Pada akhirnya Risma memilih Yogyakarta untuk membuka Rumah Tiup.

       Sejenak ia menghentikan aktivitasnya mereparasi alat musik, kemudian ia duduk sambil bercerita tentang dirinya dan Rumah Tiup. Baginya berada di Rumah Tiup tidak hanya bisa membeli dan menjual alat musik, dapat berlatih dengan gratis, mereparasi dan apapun yang  berhubungan dengan alat musik tiup. Khususnya alat musik saksofon.

Belajar apapun tak pernah terhalang oleh usia, begitu juga dengan belajar alat musik. Dalam rumah Tiup sendiri berbagai usia berkumpul tanpa batas usia. Semua hanya ingin belajar untuk memainkan saksofon. Bahkan ketidak mampuan memainkan alat musik tiup pun tak menghalangi keinginan untuk datang. Risma bersama dengan Rumah Tiup akan mengajarkan dengan sabar tentang memainkan alat musik tiup.

       Biaya belajar memainkan alat musik tiup pun tak dipunggutnya, semua dapat belajar di Rumah tiup dari jam 08.00 sampai jam 17.00. Keinginan kuatnya hanya satu bersama Rumah Tiup, agar memasyarakatkan alat musik tiup terutama saksofon di Yogyakarta. Tak ada yang memandang lagi bahwa saksofon adalah alat musik yang mahal.

Komunitas Rumah Tiup

       Rumah Tiup tak hanya sebagai tempat untuk jual – beli, reparasi dan tempat belajar. Terdapat  pula komunitas Rumah Tiup bagi sekumpulan orang yang berkumpul di Rumah Tiup untuk belajar mengenai alat musik tiup. Laki – laki bernama Yohanes Niko menggagas terbentuknya komunitas ini. Niko yang masih duduk dibangku kuliah menyempatkan dirinya untuk berbagi cerita mengenai komunitas Rumah Tiup.

“Komunitas Rumah Tiup sendiri, seinget saya ada sejak tahun 2012. Memang tidak pernah ada peresmian, tetapi dari tahun 2012 – 2013 teman – teman mulai berkumpul,”  tutur Niko sebagai penggagas Rumah Tiup.

       Komunitas Rumah tiup bermula saat anggotanya memiliki keingginan untuk berkumpul bersama. Tak hanya alat musik Saksofon, ada juga Fluet, Terompot, Clarinet dan lainnya. Pertemuan rutin tak mereka buat, tetapi saat dua puluh anggotanya merasa ada waktu luang mereka akan berkumpul di Rumah Tiup. Bahkan semua yang datang dan belajar bersama bisa dikatakaan anggota komunitas rumah tiup. Syaratnya hanya mau belajar mengenai alat musik dan berbagi penggalaman.

       Niko mengaku memiliki keinginan kuat untuk menyatukan kebersamaan agar dapat berbagi bersama mengenai alat musik tiup. Tidak seperti yang dia lihat hanya datang dan bertemu sang owner. Niko yang menyukai alat musik tiup saksofon, ingin dapat berbagi dengan pencinta alat musik lainnya. Hal yang dilakukan Niko yaitu membuat media whatsapp untuk komunikasi dari anggota – anggota Rumah tiup, dan kemudian terbentuklah komunitas Rumah Tiup.

       Komunitas Rumah Tiup berdiri bukan lagi dengan pondasi kata “komunitas”. Lebih dari yang diharapkan seperti pemikiraan Niko diawal. Rumah Tiup berdiri dengan pondasi kekeluargaan. Kemurah hatian untuk berbagi saat yang satu tidak dapat memainkan alat apapun dan yang lain mau menggajarkannya.

       Aidil berbagi kisah mengenai dirinya yang datang dan tidak dapat bermain alat musik tiup apapun. Mahasiswa asal Palembang ini mengaku semula dari keingginanya untuk belajar mengenai saksofon. Ia mencari informasi melalui internet dan menemukan Rumah Tiup. Saat ini Aidil juga tergabung menjadi anggota komunitas Rumah tiup. Bagi Aidil belajar dapat dari teman komunitas atau pun dari Risma. Komunitas Tiup sudah menjadi bagian keluarga bagi laki – laki yang mencintai alat musik saksofon ini.

       Tidak peduli apakah bisa meniup dahulu atau tidak, berapa usianya ataupun latar belakangnya. Rumah Tiup dan komunitas Rumah Tiup siap menerima dengan tangan terbuka. Seperti layaknya ayah dan ibu dalam sebuah keluarga yang menantikan anaknya datang.

Kuliner Bakso Gebrag

Jika menikmati bakso adalah hal yang biasa bagi anda, maka cobalah untuk datang ke Kedai Bakso Gebrag Abah Lilik. Warung makan ini menyediakan berbagai macam jenis bakso, mulai dari bakso daging, dan bakso iga yang dapat anda pesan dalam 3 macam paket. Ada paket urat, paket komplit, hingga paket special. Khusus pada paket komplit dan paket special, terdapat bakso tomat dan bakso tabok. Bakso tomat, adalah bakso yang diisikan ke dalam buah tomat lalu direbus hingga matang.
Sementara bagi anda penikmat kuliner pedas, bakso tabok sangat cocok bagi anda. Bakso ini adalah perpaduan antara bakso yang dibalut dengan tahu, lalu diisi dengan cabe rawit di dalamnya, sehingga nama Tabok adalah singkatan dari tahu dan Lombok. Ditanya mengenai keunikan, Abah Lilik menjelaskan dua keunikan pada baksonya. Selain menu bakso, anda juga bisa memesan minuman seperti es choco cincau dan es kacang hijau sebagi pendamping teman makan bakso. Nah menarik bukan?

Dennis Aegiputranto/110904305

Batik Kayu, Seni yang Hampir Terlupakan

Vincentius Jenviari Duan Putra (110904308)

Sejak dulu kota Yogyakarta menjadi salah satu pilahan masyarakat untuk berwisata. Dulu hingga sekarang, Yogyakarta terkenal dengan Kraton dan Jalan malioboro. Saya sebagai warga Yogyakarta sangat bangga dengan bebagai kebudayaan yang ada seperti maliboro dan kraton yang kental dengan nilai sejarah dan nilai budayanya. Namun tidak hanya itu, di Yogyakarta terdapat tempat wisata lain yang menyajikan kebudayaan khas dari kota ini. Salah satunya adalah tempat pembuatan kerajinan topeng dan batik kayu yang terletak di dusun Bopung, desa Putat, kecamatan Patuk, kabupaten Gunung Kidul.

Udara di desa pegrajin topeng batik ini sangatlah sejuk, karena masih termasuk di daerah pegunungan yaitu Gunung Kidul. Desa ini layak untuk didesinasi sebagai desa yang unik, karena wisatawan dapat melihat secara lagsung proses pembuatan dari bahan baku kayu hingga menjadi topeng. Beberapa tempat pembuatan topeng memberikan pelatihan terhadap wisatawan yang ingin mencoba maupun belajar membatik topeng kayu. Ciri khas tersebut terlihat dengan adanya aktivitas pengrajin yang sedang mengukir, dan tumpukan-tumpukan kayu di depan rumah, sekaligus banyak topeng yang dipajang di dinding-dinding rumah. Mata pencaharian utama penduduk desa ini merupakan pegkrajin topeng kayu dan batik kayu. Topeng yang dibuat para peduduk pengkrajin kayu bukanlah topeng sembarangan. Topeng dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu topeng klasik yang digunakan untuk tarian adat dan topeng yang digunakan untuk hiasan. Perbedaan mendasar dari kedua topeng ini adalah pada topeng klasik, dia memiliki aturan-aturan baku dan di cat. Sedangkan topeng yang dipergunakan untuk hiasan adalah topeng yang tidak memiliki aturan-aturan baku dan di batik dengan bermacam-macam motif dengan bermacam-macam ukuran.

Saat saya melihat para pengrajin membuat topeng saya bertemu dengan pemilik usaha tersebut. Bapak sujiman panggilannya, ia merupakan salah satu penerus pengkrajin kayu batik yang telah diawali keluarganya sejak tahun 1973. Usaha tersubut adalah usaha yang awalnya hanya untuk kebutuhan budaya kesenian di desa tersebut. “Usaha pembuatan topeng sebenarnya turunan dari nenek moyang, awal mula ada salah satu kelompok tari topeng yang memiliki tari yang khas, namun tidak ada penerusnya untuk membuat topengnya. Sehingga saya memiliki pikiran untuk membuatkan topeng klasik. Ujar Sujiman”.

Sujiman membuat topeng sejk saat berumur 4 tahun. Karya manunggal merupakan nama dari sujiman. Pada awalnya usaha ini di kerjakan oleh anggota keluarga saja namun saat ini ia memiliki 76 pengrajin. Bapak Sujiman menceritkan tentang proses pembuatan topeng batik ini yang sagat panjang. Prosesnya panjang karena sudah dispesifikasikan masing-masing, artinya satu topeng di kerjakan 4 sampai 5 orang hingga jadi. Proses pembuatan topeng memiliki beberapa tahap, pertama memilih atau mencari kayu dengan kualitas tinggi. Kemudian dipotong-potong sesuai dengn kebutuhan dan di belah menjadi dua bagian. Setelah di belah mulailah dibuat pola dasar dan pengukiran atau pembetukan topeng. Tahap selanjutnya adalah penghalusan dan pembatikan, di tahap pembatikan inilah merupakan proses yang paling sulit. Sesudah di batik kemudian di bakaran yang memerlukan waktu kurang lebih 2 hari, dan tahap terakhir di rendam dengan air. Bahan baku yang digunakan adalah kayu jenis Pule dan Sengon yang di dapatkan di sekitar desa.

Bapak Sujiman memasarkan karyanya keluar negeri seperti Eropa, Timur Tengah, dan Berazil. Karya manunggal dapat memproduksi kira-kira 4 ribu topeng perbulanya. Namun sekarang tidak hanya topeng saja yang diproduksi oleh Bapak Sujiman, ada kerajinan patung wayang, tempat buah, ddakon, piring, semua handmeat terbuat dari kayu dan dibatik dengan beragam jenis. Harga satu buji patung di hargai dari 5 ribu sampai dengan ratusan ribu rupiah tergantung dengan kesulitannya.

Kita sebagai anak bangsa yang memiliki beragam kebudayaan harus menlanjutkannya, jangan sampai warisan budaya kita semakin luntur dan akhirnya punah. Semakin eksisnya dan bangga dengan kebudayaan luar yang merasuk dalam jiwa-jiwa anak muda Indonesia semakin pula membuat kebudayaan sndiri hilang dan punah. Harga tidak menjadikan masalah untuk belajar mengenal warisan budaya sendiri, namun yang lebih penting adalah niat untuk bertindak.

Mengamen Sembari Melestarikan Jathilan

Arya Bhakti Yudha Fidel Alqarana / 110904314

 

Yogyakarta, merupakan salah satu kota yang syarat budaya. Beragam masyarakat yang tinggal di kota ini selalu memiliki banyak cara untuk melestarikan budaya yang ada. Kuda lumping atau yang lebih dikenal dengan Jathilan oleh masyarakt Yogyakarta  merupakan salah satu tarian tradisional yang belakangan telah tergusur dengan modernisasi. Jathilan adalah salah satu tarian yang sudah ada sejak jaman nenek moyang.

Tarian ini menggambarkan sebuah pasukan penunggan kuda yang siap bertempur melawan musuh. Ciri khas dari jathilan ini terletak pada properti kuda yang digunakan untuk menari, terbuat dari anyaman bambu kuda itersebut mengibaratkan tunggangan dari pasukan yang siap bertempur.  Namun selain itu topeng dan rias yang digunakan juga merupakan ciri khas lain dari tarian ini.

Yamida, sosok perempuan yang hampir menginjak 40 tahun ini mengaku melakoni pekerjaanya  sebagai pengamen kesenian karena di daerah asalnya tarian jathilan yang menjadi profesinya telah tergusur. Yamida yang dulunya berprofesi sebagai penari jathilan ini akhirnya memutuskan untuk menari sembari mengamen di jalanan.

“Dulu di kampung ada grup tari jathilan gini, Cuma sekarang di kampung saya sudah lama ngga tampil, jadi sudah kaya musnah gitu di kampung saya”, ujar Yamida selagi beristirahat di bawah lampu apill.

Yamida dan teman-temanya sudah hampir 2 tahun mengamen dengan menari jathilan, ia biasa mengamen di Perempatan Monjali di Ring Road Utara. Mengamen sembari melestarikan seni memang bukan hal yang mudah, ditambah mengamen merupakan suatu profesi yang dianggap mengganggu dan dipandang sebelah mata. Namun, apa yang dilakukan Yamida dan teman-temanya ini bukan semata hanya untuk mencari nafkah.

“kalau memang pemuda-pemudi suka sama Jari Jawa, sama Jathilan yang lestarikan aja jangan dimusnahkanlah” ujar yamida siang itu.

Kecintaanya terhadap budaya tanah kelahiranya dan jathilan merupakan salah satu alasan kenapa ia tidak bisa benar-benar membiarkan budaya ini punah. Mengamen dengan menari merupakan salah satu cara yang digunakan Yamida untuk melestarikan budaya ini.

Air Terjun Lagi dan Lagi di Lepo Dlingo

Fityan Yudhan Aninditya (03130)

Menemukan tempat-tempat wisata baru yang belum banyak didatangi orang selalu menjadi satu agenda wajib saya. Beberapa waktu lalu sempat ke Pantai Seruni di daerah Gunung Kidul, kini saya berkesempatan untuk datang ke sebuah air terjun mungil tapi indah yang bernama Lepo Dlingo atau Air terjun Lepo di daerah Dlingo, Imogiri, Bantul. Sebenarnya Lepo Dlingo tidak baru-baru sekali, tetapi memang belum banyak orang yang datang kesini. Informasi yang saya dapatkan pun minim, hanya ada 2-3 blog yang pernah mengulas tempat ini. Berarti sekarang bertambah satu lagi dengan tulisan saya, nih!

Menuju Lepo Dlingo

Lepo Dlingo terletak di desa Pokoh 1, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya tidak terlalu jauh dengan Kebun Buah Mangunan. Dari arah Yogyakarta, kita bisa lewat Jalan Imogiri Timur, ke arah Makam Raja-Raja Imogiri dan Mangunan. Ikuti saja terus papan arah menuju ke Kebun Buah Mangunan. Sesampainya ke pertigaan yang belok kanan ke Mangunan, ambil jalan lurus menuju ke arah Dlingo. Nah, dari sini kita masih akan melanjutkan perjalanan ke kecamatan Dlingo.

Patokan yang mudah adalah carilah kantor kecamatan Dlingo. Dari pertigaan tadi, jalan terus hingga akhirnya sampai ke kantor Kecamatan Dlingo. Jangan takut tanya penduduk sekitar ya kalau mau make sure jalannya benar atau tidak. Sesampainya di kantor kecamatan, arah selanjutnya adalah menuju ke SMAN 1 Dlingo. Akan keliatan kok papan arahnya. Bedanya, begitu melewati SMAN 1 Dlingo kita masih lurus terus menuju desa Pokoh 1. Sampai ketemu perempatan cukup besar dengan lapangan besar, ambillah jalan kiri. Kita akan masuk ke pemukiman penduduk desa Pokoh 1. Jalan lurus terus sampai ketemu makam di sebelah kanan, ambil jalan yang ada jembatan kecil ke kiri. Jalan lurus sampai ketemu perempatan kecil, belok kanan. Mulai di daerah sini akan banyak papan arah Lepo Dlingo, jadi tidak usah khawatir.

Nah, sesampainya di lokasi kita bisa menitipkan kendaraan kita di rumah penduduk yang menyediakan jasa parkir. Saat itu saya parkir tepat di seberang jalan setapak untuk masuk ke Lepo Dlingo. Tarifnya Rp. 2000 untuk motor dan kalau tidak salah Rp. 10.000 untuk mobil. Kita akan disambut dengan jalan batu setapak yang tidak besar. Mungkin hanya sekitar 2 meter lebarnya. Ikuti saja jalan ini, dan tidak lama kita akn mulai medengar suara gemericik air!

Jalan masuk menuju air terjun

Air Terjun, Air Terjun dan Air Terjun lagi!

Begitu menemukan sungai, saya bingung karena tidak melihat penampakan air terjun, hanya sebuah sungai dengan air yang dangkal. Tapi tidak lama saya berjalan menelusuri sungai tersebut ke arah bawah, barulah saya disambut dengan sebuah air terjun mini dengan kolam yang dangkal. Sayang saat itu air tidak banyak, mungkin karena masih musim kemarau. Air terjun pertama ini kolamnya dangkal, dan terlihat berpasir. Mungkin kalau air lebih banyak akan terlihat lebih indah. Oh ya, karena dangkal, jadi aman bagi yang nggak bisa berenang tapi pingin main air!

Air terjun pertama

Jalan lagi menelusuri sungai, saya disambut dengan air terjun kedua. Yang kedua ini lebih unik, karena bentuknya aneh. Air terjunnya berbentuk kotak-kotak seakan dipahat oleh tangan manusia. Pada saat saya datang, saya hanyalah satu-satunya orang yang ada disitu, tidak ada penduduk sekitar yang bisa saya tanyai kepada bentuknya bisa seperti itu. Debit air juga tidak terlalu banyak, tetapi cukup bisa dibuat bermain air. Jangan lupa untuk berhati-hati dalam melangkah, karena tanahnya ditumbuhi banyak lumut yang membuat jalannya licin. Saya saja sempat terpeleset dua kali.

Air terjun kedua dengan bentuknya yang unik

Air terjun kedua dengan bentuknya yang unik

Tidak jauh dari air terjun kedua ini, ada air terjun ketiga; yang ternyata cantik sekali! Sebenarnya nggak bisa dibilang air terjun juga sih karena kecil sekali, jauh lebih kecil daripada dua air terjun sebelumnya, tetapi air yang jatuh ke sungai terkumpul dalam satu kolam yang berwarna biru; menggoda untuk segera diceburi. Entah bagaimana airnya bisa biru sekali. Kolamnya terlihat cukup dalam, jadi bisa digunakan untuk berenang. Sayang sekali saya tidak bisa berenang, jadi ya cuma bermain air birunya dari pinggiran saja. Walau kolamnya tidak terlalu besar, tetapi cukup lah digunakan untuk berenang dan bermain air bersama teman-teman. Disini saya menghabiskan waktu cukup lama, untuk duduk di pinggir kolam sekedar menikmati pemandangan dan gemericik air. Indah!

Menggoda untuk diceburi!

Menggoda untuk diceburi!

Sepertinya, Lepo Dlingo akan lebih indah ketika musim hujan, ketika aliran air sedang banyak. Saat musim kemarau seperti ini jadi tampak cukup kering. Dan juga, daerah ini seperti belum dikembangkan oleh pemerintah kabupaten Bantul. Padahal, tempat ini punya potensi yang bagus jika dikembangkan dengan baik. Mungkin harus didatangi oleh banyak orang dulu agar pemerintah notice akan tempat ini?

Satu yang pasti, musim hujan atau musim kemarau, Lepo Dlingo tetap asik untuk dikunjungi. Tapi harus diingat juga untuk bawa bekal sendiri karena belum ada orang yang jualan. Dan bawa baju ganti, siapa tahu tergoda untuk nyebur ke kolam biru.  (@iyannarendra)