Prada Coffee

Fenita (110904322)

 

Pintaka Yuwana yang lahir pada tanggal 3 April 1976 memulai usaha kedai kopi sejak tahun 2003. Bapak yang lebih sering dipanggil Mas Koko ini awalnya hanya mengikuti ajakan kakaknya untuk mengelola kedai kopi milik temannya. Namun, sejak itu Mas Koko memiliki rasa kecintaan tersendiri terhadap kopi.

Tahun 2005, Mas Koko mencoba merintis sendiri kedai kopi ciptaannya. Ia mengakui tidak mudah untuk bertahan ketika kedai kopi mulai banyak bermunculan. Jatuh bangunnya usaha sudah pernah dialami Mas Koko berkali-kali. Pertama kali membuka kedai kopi, kedai tersebut tidak dapat bertahan lama, dan Mas Koko pun menutupnya.

Kemudian, Mas Koko mencoba membuka kedai kopi di Jakarta. Kedai ini terpaksa ditutup karena saingan yang ada seperti Black Canyon dan Bengawan Solo Coffee. Pada tahun 2009, Mas Koko kembali membuka kedai kopi di dua tempat, di Gejayan dan di samping Toko Buku Togamas.

Menjual kopi dengan berkeliling menggunakan mobil VW pun pernah dilakoni Mas berperawakan sangar ini. Tapi, lagi-lagi hal tersebut tidak bisa bertahan lama dikarenakan biaya yang dikeluarkan semakin besar. Sampai saat ini, usaha Mas Koko masih terus berjalan dengan pelanggan yang tetap setia pada kopi buatan Mas Koko.

Prada Coffee adalah kedai kopi Mas Koko yang ada persis di samping Toko Buku Togamas Kota Baru sekarang ini. Di kedai kopi ini ada sekitar 40 menu racikan kopi yang dihasilkan sendiri oleh Mas Koko. Ada tiga menu favorit dari Prada Coffee ini, yaitu Black Coffee, Caramel Machiato, dan juga Kafe Yen.

Mas Koko mengaku ia belajar sendiri bagaimana cara membuat kopi atau dinamakan sebagai ‘Barista’. Kata Barista sendiri berasal dari bahasa Italia, yang memiliki arti pelayan bar. Namun, barista lebih identik dengan seseorang yang pekerjaannya adalah membuat dan menyajikan kopi. Pengetahuan Mas Koko mengenai barista ini didapatkan melalui eksperimen yang selalu ia lakukan.

Ketika saya singgah ke Prada Coffee, Mas Koko sedang menjaga toko kecilnya ini seorang diri. Di kedia kopi ini, kita juga bisa belajar langsung untuk menjadi seorang barista. Ketika itu, saya sempat memperhatikan bagaimana Mas Koko menyajikan kopi untuk konsumennya. Tanpa berat hati, Mas Koko memperbolehkan saya untuk masuk langsung ke dapur kecil miliknya.

Biji kopi yang digunakan Mas Koko adalah jenis kopi robusta Jawa. Tidak ada segmentasi khusus yang dilakukan oleh Prada Coffee. Jika siang hari, pengunjung kebanyakan sudah berusia, namun ketika sore menjelang malam mahasiswa mulai berdatangan. Mas Koko juga tidak melakukan promosi secara besar-besaran, Ia hanya mengandalkan sistem “mulut dari mulut” dari orang-orang yang datang ke kedai kopinya.

Mas Koko mengatakan bahwa tantangan terbesar ada di dalam diri kita sendiri. Tergantung seberapa kuat kita untuk memperjuangkan sesuatu. Jika kekuatan itu tidak ada, kita tidak akan pernah berhasil dalam menjalani sesuatu. Tekanan yang datang akan dengan mudah mematahkan semangat kita untuk mempertahankannya.

Mas Koko berharap melalui kopi, orang yang berada disekelilingnya merasakan kebahagaian dan mulai mencintai kopi buatan Indonesia. Menurut Mas Koko, kopi buatan Indonesia taidak kalah dengan kopi yang berasal dari luar. Hanya saja, kualitas kopi yang kita dapat bukan kualitas terbaik. Kualitas kopi yang terbaik lebih sering dijual ke luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s