Keloen Batik

Keloen Batik

Oleh : Rosalita Dian / 110904422

Batik sebuah kesenian khas Indonesia. Ternyata batik tidak hanya mempunyai potensi di daerah-daerah penghasil batik seperti Pekalongan, Solo dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di sebuah desa kecil, yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari pusat kota Magelang, tepatnya di pedesaan lereng merapi, Wanasri, Tirtosari, Sawangan, Magelang, ternyata terdapat sentra pembuatan batik, sebagian besar dari mereka adalah para petani. Mereka dikenalkan oleh batik mulai tahun 2011 silam. Dibalik sentra pembuatan batik tersebut, ada sosok anak muda, yang merupakan sang owner, dia adalah Andre Yudo Purbo Astyono.

Membatik awalnya adalah sesuatu yang betul-betul asing buat seorang Andre, dia bukan berasal dari keluarga yang akrab dengan kesenian ini. Keterarikannya kepada batik semata bermula dari sebuah keprihatinan terhadap kaum muda yang begitu vokal terhadap kelestarian batik, namun absen tindakan. Berawal dari keprihatinannya itulah, Andre membuka kelas membatik untuk ibu-ibu petani disekitar rumahnya. Bermodalkan pinjaman dari orang tuanya dan dukungan dari orang-orang terdekatnya, Andre membuka kelas pelatihan untuk ibu-ibu sekitar rumahnya , yang sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani. “Para ibu di sini beraktifitas mulai pukul 06.00 sampai sampai pukul 08.00 pagi. Lalu mulai lagi pukul 16.00 sore. Dari pada waktu jeda terbuang sia-sia, mending mereka belajar membatik,” kata pria kelahiran Magelang, 12 Desember 1983 ini.

Selain upaya pelestarian kebudayaan, tujuan dari batik keloen adalah menjadi wadah mereka untuk mencari tambahan penghasilan. Ada cerita, kalau salah satu anggota membatiknya bisa sampai menguliahkan anaknya, dari penghasilan membatik di keloen. Harga tiap kain batik yang dijual sangatlah bervariatif, mulai dari Rp. 300.000,00 yang jenis batik cap, sampai harga Rp. 2.500.000,00 untuk jenis batik tulis, bahkan untuk motif yang membutuhkan waktu yang lama dan rumit dalam proses produksinya harganya bisa mencapai Rp. 15.000.000,00. Selain itu yang menjadi fokus utama Andre adalah mengenalkan batik ramah lingkungan dengan menggunakan pewarnaan alami bukan buatan atau sintesis. Batik Keloen menggunakan pewarna alami mulai dari putri malu sama indigo.

“Sebetulnya hampir semua tumbuhan bisa dijadikan pewarna alami. Namun baru enam jenis tanaman yang saya tahu cara menguncinya agar warna tidak lutur saat dilorot,” ujar ayah satu anak ini.

Meski bukan merupakan pembatik professional namun batik keloen karya ibu-ibu tani tersebut tak kalah menarik dengan batik hasil karya perajin yang sudah professional. Para ibu-ibu tani ini juga mampu menggunakan teknik pewarnaan  alam yang menjadi salah satu factor penentu dari seni batik. Aktifitas membatik yang dilakukan oleh ibu-ibu tani di Sawangan, Magelang merupakan bukti bahwa membatik bisa dilakukan oleh siapa saja asalkan dilandasi dengan ketekunan dan kesabaran.

Semangat andre melestarikan batik ternyata menggaung sampai ke luar negri seperti jerman dan jepang. Menurut andre tidak hanya dengan berorasi dan mendesak pemerintah untuk segera mematenkan kesenian batik. Melestarikan batik harus dituangkan dalam wujud yang nyata, salah satunya dengan melestarikan kebudayaan ini. ”Mereka marah dan protes di jalan-jalan ketikabatik diklaim negara lain. Tapi tidak ada aksi nyata untuk melestarikannya,” ujar Andre ketika diwawancarai. Anak muda tidak perlu malu melakukan tindakan nyata untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian warisan nenek moyang.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s