Mengamen Sembari Melestarikan Jathilan

Arya Bhakti Yudha Fidel Alqarana / 110904314

 

Yogyakarta, merupakan salah satu kota yang syarat budaya. Beragam masyarakat yang tinggal di kota ini selalu memiliki banyak cara untuk melestarikan budaya yang ada. Kuda lumping atau yang lebih dikenal dengan Jathilan oleh masyarakt Yogyakarta  merupakan salah satu tarian tradisional yang belakangan telah tergusur dengan modernisasi. Jathilan adalah salah satu tarian yang sudah ada sejak jaman nenek moyang.

Tarian ini menggambarkan sebuah pasukan penunggan kuda yang siap bertempur melawan musuh. Ciri khas dari jathilan ini terletak pada properti kuda yang digunakan untuk menari, terbuat dari anyaman bambu kuda itersebut mengibaratkan tunggangan dari pasukan yang siap bertempur.  Namun selain itu topeng dan rias yang digunakan juga merupakan ciri khas lain dari tarian ini.

Yamida, sosok perempuan yang hampir menginjak 40 tahun ini mengaku melakoni pekerjaanya  sebagai pengamen kesenian karena di daerah asalnya tarian jathilan yang menjadi profesinya telah tergusur. Yamida yang dulunya berprofesi sebagai penari jathilan ini akhirnya memutuskan untuk menari sembari mengamen di jalanan.

“Dulu di kampung ada grup tari jathilan gini, Cuma sekarang di kampung saya sudah lama ngga tampil, jadi sudah kaya musnah gitu di kampung saya”, ujar Yamida selagi beristirahat di bawah lampu apill.

Yamida dan teman-temanya sudah hampir 2 tahun mengamen dengan menari jathilan, ia biasa mengamen di Perempatan Monjali di Ring Road Utara. Mengamen sembari melestarikan seni memang bukan hal yang mudah, ditambah mengamen merupakan suatu profesi yang dianggap mengganggu dan dipandang sebelah mata. Namun, apa yang dilakukan Yamida dan teman-temanya ini bukan semata hanya untuk mencari nafkah.

“kalau memang pemuda-pemudi suka sama Jari Jawa, sama Jathilan yang lestarikan aja jangan dimusnahkanlah” ujar yamida siang itu.

Kecintaanya terhadap budaya tanah kelahiranya dan jathilan merupakan salah satu alasan kenapa ia tidak bisa benar-benar membiarkan budaya ini punah. Mengamen dengan menari merupakan salah satu cara yang digunakan Yamida untuk melestarikan budaya ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s