Batik Kayu, Seni yang Hampir Terlupakan

Vincentius Jenviari Duan Putra (110904308)

Sejak dulu kota Yogyakarta menjadi salah satu pilahan masyarakat untuk berwisata. Dulu hingga sekarang, Yogyakarta terkenal dengan Kraton dan Jalan malioboro. Saya sebagai warga Yogyakarta sangat bangga dengan bebagai kebudayaan yang ada seperti maliboro dan kraton yang kental dengan nilai sejarah dan nilai budayanya. Namun tidak hanya itu, di Yogyakarta terdapat tempat wisata lain yang menyajikan kebudayaan khas dari kota ini. Salah satunya adalah tempat pembuatan kerajinan topeng dan batik kayu yang terletak di dusun Bopung, desa Putat, kecamatan Patuk, kabupaten Gunung Kidul.

Udara di desa pegrajin topeng batik ini sangatlah sejuk, karena masih termasuk di daerah pegunungan yaitu Gunung Kidul. Desa ini layak untuk didesinasi sebagai desa yang unik, karena wisatawan dapat melihat secara lagsung proses pembuatan dari bahan baku kayu hingga menjadi topeng. Beberapa tempat pembuatan topeng memberikan pelatihan terhadap wisatawan yang ingin mencoba maupun belajar membatik topeng kayu. Ciri khas tersebut terlihat dengan adanya aktivitas pengrajin yang sedang mengukir, dan tumpukan-tumpukan kayu di depan rumah, sekaligus banyak topeng yang dipajang di dinding-dinding rumah. Mata pencaharian utama penduduk desa ini merupakan pegkrajin topeng kayu dan batik kayu. Topeng yang dibuat para peduduk pengkrajin kayu bukanlah topeng sembarangan. Topeng dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu topeng klasik yang digunakan untuk tarian adat dan topeng yang digunakan untuk hiasan. Perbedaan mendasar dari kedua topeng ini adalah pada topeng klasik, dia memiliki aturan-aturan baku dan di cat. Sedangkan topeng yang dipergunakan untuk hiasan adalah topeng yang tidak memiliki aturan-aturan baku dan di batik dengan bermacam-macam motif dengan bermacam-macam ukuran.

Saat saya melihat para pengrajin membuat topeng saya bertemu dengan pemilik usaha tersebut. Bapak sujiman panggilannya, ia merupakan salah satu penerus pengkrajin kayu batik yang telah diawali keluarganya sejak tahun 1973. Usaha tersubut adalah usaha yang awalnya hanya untuk kebutuhan budaya kesenian di desa tersebut. “Usaha pembuatan topeng sebenarnya turunan dari nenek moyang, awal mula ada salah satu kelompok tari topeng yang memiliki tari yang khas, namun tidak ada penerusnya untuk membuat topengnya. Sehingga saya memiliki pikiran untuk membuatkan topeng klasik. Ujar Sujiman”.

Sujiman membuat topeng sejk saat berumur 4 tahun. Karya manunggal merupakan nama dari sujiman. Pada awalnya usaha ini di kerjakan oleh anggota keluarga saja namun saat ini ia memiliki 76 pengrajin. Bapak Sujiman menceritkan tentang proses pembuatan topeng batik ini yang sagat panjang. Prosesnya panjang karena sudah dispesifikasikan masing-masing, artinya satu topeng di kerjakan 4 sampai 5 orang hingga jadi. Proses pembuatan topeng memiliki beberapa tahap, pertama memilih atau mencari kayu dengan kualitas tinggi. Kemudian dipotong-potong sesuai dengn kebutuhan dan di belah menjadi dua bagian. Setelah di belah mulailah dibuat pola dasar dan pengukiran atau pembetukan topeng. Tahap selanjutnya adalah penghalusan dan pembatikan, di tahap pembatikan inilah merupakan proses yang paling sulit. Sesudah di batik kemudian di bakaran yang memerlukan waktu kurang lebih 2 hari, dan tahap terakhir di rendam dengan air. Bahan baku yang digunakan adalah kayu jenis Pule dan Sengon yang di dapatkan di sekitar desa.

Bapak Sujiman memasarkan karyanya keluar negeri seperti Eropa, Timur Tengah, dan Berazil. Karya manunggal dapat memproduksi kira-kira 4 ribu topeng perbulanya. Namun sekarang tidak hanya topeng saja yang diproduksi oleh Bapak Sujiman, ada kerajinan patung wayang, tempat buah, ddakon, piring, semua handmeat terbuat dari kayu dan dibatik dengan beragam jenis. Harga satu buji patung di hargai dari 5 ribu sampai dengan ratusan ribu rupiah tergantung dengan kesulitannya.

Kita sebagai anak bangsa yang memiliki beragam kebudayaan harus menlanjutkannya, jangan sampai warisan budaya kita semakin luntur dan akhirnya punah. Semakin eksisnya dan bangga dengan kebudayaan luar yang merasuk dalam jiwa-jiwa anak muda Indonesia semakin pula membuat kebudayaan sndiri hilang dan punah. Harga tidak menjadikan masalah untuk belajar mengenal warisan budaya sendiri, namun yang lebih penting adalah niat untuk bertindak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s