RUMAH TIUP

deanisa putri ayuninda

11090 4355

 

Jemari – jemari terlihat lihai menekan clap dan memainkan alat musik. Mengeluarkan nada – nada yang menenangkan perasaan. Nada – nada yang seakan membuat isi rumah sederhana ini tak lagi pernah sunyi. Letaknya memang berada di pusat kota, tetapi rumah ini sederhana dan berada didalam gang sempit. Rumah sederhana tetapi hangat dengan tawa dan nada. Nada indah yang keluar dari semua alat tiup yang ada. Tepatnya semua nada itu berasal dari jalan Kemitiran Kidul Yogyakarta, yaitu Rumah Tiup.

       Risma sosok laki-laki berkacamata ini sebenarnya mendirikan rumah tiup untuk menikmati kehidupnya bersama alat musik tiup. Rumah Tiup pertama kali berada di Jakarta, dan Rumah Tiup tersebut didirikan oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Rumah Tiup yang berada di Cibubur yaitu kepunyaan sang kakak. Pada akhirnya Risma memilih Yogyakarta untuk membuka Rumah Tiup.

       Sejenak ia menghentikan aktivitasnya mereparasi alat musik, kemudian ia duduk sambil bercerita tentang dirinya dan Rumah Tiup. Baginya berada di Rumah Tiup tidak hanya bisa membeli dan menjual alat musik, dapat berlatih dengan gratis, mereparasi dan apapun yang  berhubungan dengan alat musik tiup. Khususnya alat musik saksofon.

Belajar apapun tak pernah terhalang oleh usia, begitu juga dengan belajar alat musik. Dalam rumah Tiup sendiri berbagai usia berkumpul tanpa batas usia. Semua hanya ingin belajar untuk memainkan saksofon. Bahkan ketidak mampuan memainkan alat musik tiup pun tak menghalangi keinginan untuk datang. Risma bersama dengan Rumah Tiup akan mengajarkan dengan sabar tentang memainkan alat musik tiup.

       Biaya belajar memainkan alat musik tiup pun tak dipunggutnya, semua dapat belajar di Rumah tiup dari jam 08.00 sampai jam 17.00. Keinginan kuatnya hanya satu bersama Rumah Tiup, agar memasyarakatkan alat musik tiup terutama saksofon di Yogyakarta. Tak ada yang memandang lagi bahwa saksofon adalah alat musik yang mahal.

Komunitas Rumah Tiup

       Rumah Tiup tak hanya sebagai tempat untuk jual – beli, reparasi dan tempat belajar. Terdapat  pula komunitas Rumah Tiup bagi sekumpulan orang yang berkumpul di Rumah Tiup untuk belajar mengenai alat musik tiup. Laki – laki bernama Yohanes Niko menggagas terbentuknya komunitas ini. Niko yang masih duduk dibangku kuliah menyempatkan dirinya untuk berbagi cerita mengenai komunitas Rumah Tiup.

“Komunitas Rumah Tiup sendiri, seinget saya ada sejak tahun 2012. Memang tidak pernah ada peresmian, tetapi dari tahun 2012 – 2013 teman – teman mulai berkumpul,”  tutur Niko sebagai penggagas Rumah Tiup.

       Komunitas Rumah tiup bermula saat anggotanya memiliki keingginan untuk berkumpul bersama. Tak hanya alat musik Saksofon, ada juga Fluet, Terompot, Clarinet dan lainnya. Pertemuan rutin tak mereka buat, tetapi saat dua puluh anggotanya merasa ada waktu luang mereka akan berkumpul di Rumah Tiup. Bahkan semua yang datang dan belajar bersama bisa dikatakaan anggota komunitas rumah tiup. Syaratnya hanya mau belajar mengenai alat musik dan berbagi penggalaman.

       Niko mengaku memiliki keinginan kuat untuk menyatukan kebersamaan agar dapat berbagi bersama mengenai alat musik tiup. Tidak seperti yang dia lihat hanya datang dan bertemu sang owner. Niko yang menyukai alat musik tiup saksofon, ingin dapat berbagi dengan pencinta alat musik lainnya. Hal yang dilakukan Niko yaitu membuat media whatsapp untuk komunikasi dari anggota – anggota Rumah tiup, dan kemudian terbentuklah komunitas Rumah Tiup.

       Komunitas Rumah Tiup berdiri bukan lagi dengan pondasi kata “komunitas”. Lebih dari yang diharapkan seperti pemikiraan Niko diawal. Rumah Tiup berdiri dengan pondasi kekeluargaan. Kemurah hatian untuk berbagi saat yang satu tidak dapat memainkan alat apapun dan yang lain mau menggajarkannya.

       Aidil berbagi kisah mengenai dirinya yang datang dan tidak dapat bermain alat musik tiup apapun. Mahasiswa asal Palembang ini mengaku semula dari keingginanya untuk belajar mengenai saksofon. Ia mencari informasi melalui internet dan menemukan Rumah Tiup. Saat ini Aidil juga tergabung menjadi anggota komunitas Rumah tiup. Bagi Aidil belajar dapat dari teman komunitas atau pun dari Risma. Komunitas Tiup sudah menjadi bagian keluarga bagi laki – laki yang mencintai alat musik saksofon ini.

       Tidak peduli apakah bisa meniup dahulu atau tidak, berapa usianya ataupun latar belakangnya. Rumah Tiup dan komunitas Rumah Tiup siap menerima dengan tangan terbuka. Seperti layaknya ayah dan ibu dalam sebuah keluarga yang menantikan anaknya datang.

One thought on “RUMAH TIUP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s