Teman Toeli ‘Madre’

 

 

1434076192206“Tidak selalu ‘mereka’ itu harus dikasihani atau dianggap lemah, justru semangat mereka yang harus ditiru oleh orang normal seperti kita” kata Oti sembari tersenyum.

 

Saat ini penjaja makanan di daerah Yogykarta, bisa dikatakan banyak dan menjamur. Usaha bisnis makanan dikelola oleh beberpa pihak yang melihat peluang di sekitar mereka. Hal ini juga dilihat oleh Bu Amung, seorang wirausaha Angkringan Madre yang memiliki perbedaan dengan usaha-usaha lainnya.

Angkringan Madre merupakan usaha yang dibentuk oleh Bu Amung bekerjasama dengan Pak Broto, pendamping Deaf Art Community dengan ide untuk mewadahi teman-teman tuli. Para pekerjanya adalah orang-orang berkebutuhan khusus, mereka bekerja sebagai manager, juru masak, kasir, dan pramusaji. Madre menawarkan kekhasannya berupa budaya tuli melalui interaksi dengan kru angkringan yang mayoritas adalah tuli dengan bantuan Volunteer. Para remaja tuli yang mengelola angkringan tuli tersebut diantaranya Rizki Darmawi, Riski Purna Adi, Stephanie Kusuma Rahardja, Lia, Ahmad Robby, Arief Wicaksono, dan Indra Kurmala. Bertempat di Kampung Wisata Kuliner, Pringwulung, Depok, Sleman, Yogyakarta. Angkringan “Madre” buka setiap hari pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Sejak tanggal 20 Desember 2014, belum genap satu tahun usaha ini muncul ternyata tidak membuat mereka minder. Justru mereka sangat semangat dalam mengelola usaha ini demi memenuhi kebutuhan ekonomi serta pengalaman. Terbentuknya usaha ini memang berawal dari curhatan salah satu teman tuli bernama Rizki yang mendapatkan diskriminasi di tempat kerjanya dahulu. Ia bekerja di usaha meubel namun bosnya memberhentikannya dengan alasan tidak dapat berkomunikasi dengan lancar. Begitu pun juga dengan teman-teman tuna rungu lainnya yang mendapat perlakuan hampir sama ketika mendapatkan pekerjaan. Padahal mereka membutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara mandiri setelah menyelesaikan pendikan sekolah luar biasa.

Teman-teman toeli memiliki semnagat yang sangat tingi atas rintisan usaha angkringan tersebut. Meskipun pengunjung yang datang bisa terbilang sedikit, tidak menjadi alasan untuk mengurungkan niat pergi kerja. “Mereka aja kayak gitu semangatnya, istilahnya kok gue yang normal malah males, gue yang ogah-ogahan”, tanggapan Oti. Diluar pekerjaan mereka juga menikmati hidup dengan wisata bersama, misalnya bulan April kemarin mereka naik gunung. Beberapa dari teman-teman juga memilik prestasi hingga bisa jalan-jalan ke luar negeri. Sifat mandiri teman-teman terlihat dari perilaku mereka yang dengan keterbatasan tetap bisa mengendarai kendaraan sendiri untuk mobilisasi. Tetapi mereka mempunyai kendala yaitu mayoritas teman-teman memmiliki SIM C, padahal seharusnya untuk seseornag berkebutuhan khusus mendapatkan SIM D. Hal ini dianggap menyulitkan mereka ketika berhubungan dengan kepolisian karena dianggap normal.

1434075999520Seorang aktifis peduli tuna rungu bernama Oti menceritakan tentang bagaimana kehidupan teman teman tuli yang ada disana. Mereka merupakan bagian dari anggot Deaf Art Community Yogyakarta, kemudian beberapa diantaranya masih ada yang melanjutkan pendidikan sekolah luar biasa. Oti sering sekali berbicara menggunakan bahasa isyarat, menurutnya sama saja seperti ketika berbicara dengan orang pada umumnya. Bahasa isyarat dapat dipelajari oleh masyarakat luas sehingga teman-teman bisa mendapatkan kesempatan dan perilaku yang sama di lingkungan sekitarnya, bukan hanya di diamkan saja dengan alasan tidak tahu cara berkomunikasi. Pada akhirnya mereka hanya berkomunikasi dengan orang yang terbatas. Mereka tidak menggunakan alat bantuan pendengaran, dan ternyata hal tersebut membuat mereka lebih percaya.

“Tujuan utamanya tidak hanya memberikan pekerjaan kepada mereka, namun juga memperkenalkan pada masyarakt luas bahwa memang tidak ada perbedaan antara mereka dengan kita” tutup Bu Amung. Para pengelola angkringan Madre ini berkeinginan untuk terus mempertahankan usaha ini hingga membuka cabang, sehingga dapat lebih memfasilitasi teman-teman berkebutuhan khusus. “Intinya mereka itu terbuka, jangan takut untuk tidak mencoba berkomunikasi dengan mereka” tutup Oti.

1434022866213

1434022253259

 

 

 

 

 

 

http://https://soundcloud.com/kasildaoci/teman-tuli-madre

ARE YOU “HEPPY”?

Layaknya sebuah roda yang terus berputar ketika dijalankan, posisinya akan terus berubah. Begitu juga nasib kehidupan, terkadang kita tidak akan pernah bisa selalu berada dalam posisi yang sama. Hari ini mungkin saja kita merasa bahagia, namun esok belum tentu demikian. Inilah yang mungkin sedang dialami oleh Bapak Heppy Hariyadi Wibowo.

IMG_8552

sumber: dok. pribadi

Pria berusia 42 tahun ini adalah seorang juru pelihara bagunan bersejarah Pulau Cemethi yang berada di Kawasan Wisata Tamansari Yogyakarta. Pak Heppy, sebuatan akrabnya bercerita jika dirinya telah bekerja sebagai juru pelihara sejak tahun 2005 dengan gaji sebesar Rp 1.000.000,00 itupun pernah tidak dibayarkan selama hampir enam bulan.

Pak Heppy bekerja sebagai juru pelihara karena mendapat mandat dari ayahnya, yang dulunya adalah seorang juru pelihara di Pulau Cemethi. Meskipun waktu kerja baru di mulai pada pukul 07.30 WIB, namun setiap hari Pak Heppy sudah datang di tempat kerjanya sekitar pukul 06.00 WIB. Bukan bermaksud mau mencari muka atau mendapat pujian, namun Pak Heppy ingin tempat di mana ia bekerja itu sudah bersih sebelum ada pengunjung yang datang ke sana.

 “Toh.. dari pihak kantor juga gak bakal ada yang ngecek kok mbak, saya datangnya jam berapa. Pokoknya yang mereka tahu tempat ini harus bersih, udah itu aja,” ujar Pak Heppy.

Selain itu, Pak Heppy juga sering mendapatkan cemooh ataupun fitnah dari orang lain. Bahkan, Pak Heppy pernah mendapat hinaan dari wisatawan yang diingatkan karena ketahuan mencoret-coret tembok di Pulau Cemethi. Meskipun begitu, Pak Heppy tidak terlalu memperdulikannya. Baginya, jika dirinya memang tidak bersalah, ia tidak perlu takut.

Pak Heppy tinggal bersama dua anaknya, Mufida Nurheppy Putri (5) dan Fadila Nurheppy Putri (3), serta istrinya, Nurpamatu Espriati (27), di Karasan, Balpabang, Bantul. Setiap hari, Pak Heppy harus menempuh jarak sekitar 50 km hanya untuk bekerja. Pak Heppy bercerita untuk dapat mencapai tempat kerjanya, ia biasa menempuhnya dengan menggunakan sepeda. Jika sedang memiliki uang yang lebih ia akan naik bus, namun tak jarang juga ia harus menempuhnya dengan berjalan kaki.

“Sayang uangnya mbak kalau naik bus, mending uangnya disimpan untuk beli kebutuhan anak,” cerita Pak Heppy.

IMG_8516

sumber: dok. pribadi

Dunia Pak Heppy saat ini hanya untuk anak, istri dan juga ibunya yang sedang sakit di panti jompo. Oleh karena itu, bagi Pak Heppy, apapun akan ia lakukan agar bisa mendapakan uang tambahan. Ia sering mencari dan mendapatkan tawaran pekerjaan lain, terkadang menjadi tukang bagunan, menebang pohon, atau pekerjaan apapun akan dijalani Pak Heppy asalkan pekerjaan tersebut halal.

Banyak kejadian dalam hidup Pak Heppy yang mungkin tidak lagi sama dengan kehidupannya yang dulu, yang tergabung dalam kelompok pecinta alam dan tim SAR, yang sering melakukan ekspedisi keliling Indonesia. Namun Pak Heppy percaya, pekerjaan apapun yang ia jalankan sekarang, asalkan dijalankan dengan ikhlas dan penuh rasa syukur pasti tidak akan terasa berat. “Yang penting hidup ini dijalani dengan senang aja,” ucap Pak Heppy berkali-kali.

“Tak selalu orang yang kamu lihat miskin itu miskin dan orang yang kamu lihat kaya itu kaya, karena miskin dan kaya tidak hanya melulu pada materi.” –unknown-

Oleh: Claudea Novitasari (120904601)

Becak Kayuh Sisi Mata Memandang Becak Motor

IMG20150608164917

Becak merupakan salah satu kendaraan tradisional yang berada di Yogyakarta. Kendaraan yang dikayuh seperti sepeda ini, menjadi salah satu Icon Yogyakarta sebagai kota budaya. Becak sudah sepastinya menjadi salah satu peninggalan tradisional yang harus dilestarikan, namun dengan semakin berkembang dan perubahaan mobilitas kendaraan dari tahun ke tahun memunculkan invosi baru pada becak di kota Yogyarta. Perubahaan tersebut berupa adanya keberadaan becak motor di Yogyakarta.

Maraknya becak motor di Yogyakarta menjadi kekhawatiran dan meresahkan bagi pengemudi becak tradisional ini. Salah satu pengemudi becak kayuh yang mangkal di jalan Solo Yogyakarta, Parjono mengenai keberadaan becak motor

“Seharunya tu yang becak motor nggak boleh , masalahnya kebanyakan wisatanya hilang”

Selama 40 tahun Parjono menjalani profesi sebagai pengemudi becak kayuh merasakan terpinggirkan dan tidak setuju dengan adanya becak motor di kota Yogyakarta.

“solanya masayarakat kalau mintanya becak motor”

Selain itu dengan adanya surat edaran Gubernur No 551 2/0316 tahun 2003 tentang larangan becak bermotor, seharunya menjadikan becak bermotor tidak diperbolehkan dalam beroperasi di Yogyakarta. Tapi pada kenyataannya larangan tersebut diabaikan dengan adanya keberadaan becak bermotor di kawasan Malioboro.

Dengan adanya becak bermotor, banyak pengemudi becak kayuh yang terkena dampak negatif. Rumandi selama 40 tahun menjalani pekerjaan sebagai pengemudi becak kayu, memulai pekerjaan dan berangkat dari jam 7 pagi, mencoba mencari keuntungan di Malioboro. Dengan adanya becak motor Rumadi mengaku kesulitan untuk mencari penumpang dan belum mendapatkan penumpang pada hari ini.

“Ini sebetulnya ndak boleh ya kalo becak motor itu malah merasakan merugikan soalnya itu tukang becak yang ontel itu kurang (pendapatannya). Becak motor itu sebenarnya ndak boleh. “

Wisdi sebagai pengemudi becak di Malioboro, telah merasakan perbedaan mengenai becak motor dan becak kayuh.

“Kalo tanjakan enak naik becak motor, kalo cari penumpang ndak enak naik becak motor”

Sebelum mencoba adanya becak motor, Wisdi menggunakan becak kayuh. Namun setelah mengetahui keberadaan becak motor sekitar 3 tahun yang lalu, Wisdi mencoba dan mengubah becaknya menjadi becak motor. Setelah merasakan menggunakan becak motor Wisdi mersa tidak suka dan kembali menjadi pengemudi becak kayuh.

Sebagai kendaraan tradisional, Wisdi mengaku lebih menyukai becak kayuh hal tersebut dikarenakan untuk melestarikan becak kayuh dan menjaga kelestarian becak di Yogyakarta. Harapan Wisdi sebagai pengendara becak kayuh mempunyai pesan bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan bagi para pengemudi becak bermotor

“Kalo lebih enak dikasih UU baru, ditempatkanlah jangan di sembarang tempat, jangan dicampur-campur dengan becak”

Dengan adanya keluhan dari pengemudi becak kayuh, seharunya pemerintah dapat bertindak tegas kepada becak motor. Dengan adanya peraturan larangan becak bermotor, seharusnya dapat disadari bahwa larang tersebut juga mempunyai maksud untuk menjaga keaslian dan melestarikan becak kayuh tradisional, mengingat becak kayuh menjadi bagian dari budaya di Yogyakarta.

Selain merugikan pengemudi becak kayuh, pemerintah perlu mendegarkan suara dan harapan pengemudi becak kayu mengenai maraknya becak bermotor. Selain tenaga yang dikeluarkan dalam mengayuh becak setiap detiknya, perlu disadari juga bahwa merekalah yang hingga sampai saat ini bertahan dan melestarikan budaya di era yang serba modern ini. (6/06/2015)

By: Fira Rantikania/ 120904627

Pak Parkid: “Allah Sudah Mengatur Semuanya”

“…Allah pasti sudah nyiapin jalan buat kita, kita hanya tinggal mensyukuri dan menerima, karena semua itu pasti ada hikmahnya…”

Pak Parno atau yang lebih akrab disapa Pak Parkid adalah seorang penjual boneka tangan keliling. Beliau selalu berkeliling di daerah jalan Solo, bahka terkadang dia juga berkeliling sampai ke daerah Tugu. Walaupun usianya sudah lanjut, sekitar 70 tahun, tapi Pak Parkid tidak pantang menyerah untuk berkeliling menjajakan boneka tangan buatannya.

Pak Parkid Penjual Boneka Tangan Keliling (foto by Dias)

Ide awal Pak Parkid berjualan boneka tangan ternyata tidak sengaja ditemukannya. Saat itu, beliau hanya secara iseng sedang mengambar sebuah pola di atas tanah. Kemudian pola yang beliau gambar di atas tanah tersebut, coba beliau aplikasikan di atas selembar kain. Dari pola di atas kain tersebut kemudian beliau jahit dan terbentuklah sebuah boneka.

Mulanya,  bukan boneka tangan yang beliau buat, tapi sebuah boneka busa. Namun, jika dibawa untuk berjualan keliling boneka busa membutuhkan tempat yang cukup besar dan apabila membawa dalam jumlah banyak tentu akan cukup berat. Akhirnya, Pak Parkit mencoba mengubah boneka tersebut menjadi sesuatu yang baru, dan akhirnya terciptalah boneka tangan tersebut yang kini beliau jajakan secara berkeliling.

Awalnya, Pak Parkit tidak berjualan boneka tangan keliling, melainkan pembuat mainan kidang-kidang di daerah Serang, Banten. Sebagai seorang pembuat kidang-kidang, usahanya terbilang sukses. Nama Parkid sebenarnya tercetus keran profesinya sebagai pembuat kidang-kidang, Parno kidang-kidangan menjadi Parkid. Dulu, bahkan kidang-kidangan milik Pak Parkid juga sampai diekspor ke luar negeri, misalnya Malaysia dan Brunei.

Namun, ada sebuah kejadian yang membuat usahanya sempat jatuh, yaitu saat musibah yang menimpa Kapal Tampomas hingga tenggelam. Padahal di dalam kapal tersebut juga membawa kidang-kidangan Pak Parkid yang hendak diekspor. Namun, karena tenggelam, dagangan Pak Parkid pun juga ikut tenggelam bersama Kapal Tamponas tersebut.

Tujuh tahun yang lalu, Pak Parkid memutuskan untuk pindah ke Jogja dan berjualan boneka tangan secara berkeliling di Jogja. Kepindahannya ke Jogja, membuatnya Pak Parkid harus berpisah dengan anak serta cucunya yang tinggal di Banten. Walaupun begitu, komunikasi Pak Parkid dengan anak serta cucunya masih bisa berjalan dengan baik. Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu handphone miliknya hilang, dan Pak Parkid pun tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya.

Kehidupannya sebagai penjual boneka tangan keliling membuatnya memiliki banyak teman bahkan sudara yang dikenal oleh beliau. Hal ini membuat beliau  merasa sangat bahagia. Walaupun mungkin selama sehari jualannya tidak laku, tetapi ketika beliau bisa mendapatkan teman baru atau saudara baru, beliau sudah merasa sangat senang.

“Saya punya teman dari mana-mana, bisa punya saudara baru, rasanya seneng neng ya semua itu ridho Allah neng,” ujar Pak Parkid

Bagi Pak Parkid, apapun yang terjadi dalam hidupnya, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Pak Parkid tidak pernah merasa bahwa hidup yang beliau jalani sekarang itu tidak adil. Pak Parkid merasa bahagia dengan apa yang dijalani.

“Yang penting semuanya disyukuri neng, apapun itu yang penting kita bersyukur, pasti nanti Allah juga kasih jalan”


Patricia Diah Ayu Saraswati / 120904603

Hidupku Tak Semanis Kue Lupis

Oleh: Ignasius Hartanto

Tak pernah mengenal lelah dan selalu konsisten dengan pekerjaannya. Tubuhnya yang sudah renta di makan usia tidak membuat sosok wanita tua ini berpangku tangan begit saja unutk melakukan aktivitas sehari-harinya. Bakul yang setiap pagi ia gendong dari rumahnya di daerah kledoaan sampai di tempat ia berjualan. Namanya mbah Harto , umur nya sudah menginjak 73 tahun , bukan umur yang muda lagi untuk berjualan di pinggiran jalan babarasi.

mbah Harto sedeng berjualan

mbah Harto sedeng berjualan

Setiap pagi ia selalu berjalan dari rumahnya yang berada di kledoaan . ia memiliki 4 orang anak dan 12 cucu. Mbah harto masih ingat sekali jumlah anak dan cucunya . mungkin bagi sebagai orang umur mba harto adalah masa-masa tua dan biasanya daya ingat pada umur itu sudah kurang baik, namun berbeda dengan mbah Harto yang masih memiliki daya ingat yang sangat baik. Mba Harto berjualan dari jam 6 pagi hingga dagangannya yang ia bawa habis.

sudah sepanjang hidupnya mba harto mengabdikan dirinya untuk berjualan makan tradisonal jawa yaitu lupis. Dulu sebelum ia berjualan di trotar jalan babarsari, ia berjualan di pasar demangan. Ia bercerita bahwa sudah bertahun-tahun hingga ia lupa dari tahun berapa ia sudah berjualan lupis. Dengan berjualan lupis ia bisa menghidupi ke empat anak-anaknya yang sekarang sudah kerja semua di luar kota. Mbah Harto hidup bersama anak ke 4nya, walaupun bisa dikatakan umurnya tidak muda lagi tapi kemamuan untuk tetap kerja dan tidak mau bergantung dengan orang di sekitarnya adalah telada yang harus kita tiru.

Lupis adalah makanan tradisioanl dari pulau jawa, terbuat dari ketan yang dipadatkan, model lupis mbah Harto seperti lontong yang memanjang cara memotongnya pun berbeda tidak menggunakan pisau namun menggunakan benang untuk memotong lupis tersebut. Ini  juga menjadi ciri khas makanan mbah Harto yang tidak kalah enaknya dengan pedagang jajan yang ada di sekitaran mbah Harto berjualan.

tangan yang sudah berkeriput sedang mengambil kue lupis

Kehidupan yang bisa dikatakan jauh dari kata layak sudah ia rasakan dalam perjalanan hidupnya hingga umur 73 tahunpun mbah Harto masih berjualaan. Penghasilan yang tidak banyak dan terkadang hanya bisa buat makan sehari saja sudah sering ia lakukan.

Alasan lain mengapa mbah Harto memilih bekerja sebagai penjual makanan tradisional lupis adalah, karena tidak ada pekerjaan lain yang sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikannya. Sekali lagi mba Harto tetap bersyukur, di kota besar seperti Yogyakarta masih banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, bahkan bergantung hidup dengan orang lain. Sinar matahari yang cukup terik tidak membuat senyum mbah Harto tidak berkurang sembari menjalani pekerjaanya.

Semua pekerjaan pasti ada hambatannya, hal itu juga sering dialami mbah Harto. Menjalani profesi sebagai penjual makanan tradisional lupis membuat mbah Harto terbebas dari berbagai hambatan dan masalah namun tidak membuat semangat mbah Harto menjadi berkurang. Masalah seperti uang yang terkadang tidak cukup untuk modal berjualan besok. Dengan senyum khasnya, mbah Harto tetap terus bersabar dan mencoba mencari bantuan untuk modal berjualan esok hari, ini menjadikan mbah Harto kuat menghadapi segala hambatan yang ia yakini sebagai ujian dalam pekerjaan yang sedang dijalaninya itu.

Jika ada waktu luang saat berjualan mbah Harto menggunakannya dengan sebaik-baiknya untuk membaca Al-Qur’an yang ia bawa setiap harinya di keranjang daganganya. Ia tidak ingin ketinggalan dalam berburu amal untuk bekal di Akhirat kelak. Walau Ia miskin harta di Dunia, Ia tidak ingin miskin di Akhirat kelak. Ia selalu ingin menjalani hari demi hari menjadi semakin lebih baik. Di usianya yang ke 73, mbah Harto semakin sadar bahwa umur semakin habis dimakan waktu. Kapan lagi banyak-banyak melakukan ibadah, kalu bukan sekarang ? karena mati seseorang hanya Tuhan yang tahu dan menentukan.

Sejuta Kisah Sinden Tiga Jaman

1

foto jaman muda Maria Magdalena Rubinem

Disebuah warung sederhana, dipojok terminal Jombor tepatnya arah pintu masuk terminal. Tampak seorang simbah tengah duduk bersantai. Wajahnya terlihat lelah namun masih menunjukkan kobaran semangat yang cukup besar. Siapa sangka sosok yang satu ini merupakan seniman yang menyandang gelar Maestro Sinden, bernama Maria Magdalena Rubinem.

Maria Magdalena Rubinem atau sering disapa Rubinem memang merupakan sosok ternama pada masanya. Mengawali karier di usia 17 tahun atau pada masa kependudukan belanda, Rubinem didukung tetangganya untuk menjadi seorang sinden. “Dikon kalih tanggane. Kulo niku gaweanne tunggu geni kalih ngreneng-ngreneng, tangga kulo niku ngomong, Rub gene suaramu apik, mbok ajar sinden”. Ungkap Rubinem yang artinya belajar sinden disuruh oleh tetangga. Dulu saya bekerjanya menunggui api, biasanya sambil bersendandung, tetangga yang mendengar mengatakan kepana tidak jadi sinden nanti belajar.

Awalnya Rubinem tidak mengetahui bahwa sinden dapat menghasilkan uang. Menembang dianggap sebagai hobi belaka karena bercita-cita ingin menikah dengan seorang bangsawan. “Kulo niku kepengen dipek ndoro, kepengen uripe nglaras. Candra Lukito lak bojone ndoro, lha niku kepengen. Lha bocah umur 17 tahun”. Saya itu awalnya belajar nyinden agar dapat menikah dengan seoarang bangsawan, agar hidupnya makmur. Seperti Candra Lukito yang memiliki suami seorang bangsawan. Saya yang masih berusia 17 tahun kepengin seperti Candra Lukito.

Sebagai langkah awal dalam meniti karier, Rubinem bekerja di RRI (Radio Republik Indonesia) Yogyakarta sebagai pesinden yang pengisi acara seperti kethoprak, keroncong dan lain-lain yang berisi kesenian. Bayaran yang diterima pada masa itu adalah Rp 350,- dari kantor pusat RRI di Jakarta. Pada tahun 1972, Rubinem memutuskan untuk mengundurkan diri karena banyaknya kegiatan sinden yang dilakukan diluar. Dalam sebulan, Rubinem dapat naik panggung sampai 40 kali baik diwaktu siang maupun malam.

2

sejumlah penghargaan yang pernah diraih

Berkat ketenarannya, Rubinem dapat bertemu dengan Presiden Ir. Soekaro. Cerita sendiri dimulai ketika Rubinem di pindah tugaskan dari RRI Yogyakarta ke RRI Jakarta tahun 1915 untuk menetap disana. “Pendak sasi niku, istana mesti enten wayangan. Nah kulo sinden, ngoten” artinya setiap bulan, istana pasti mengadakan pagelaran wayang. Dalam acara tersebut, saya yang menjadi sindennya. Setiap pergelaran tersebut, Rubinem mengungkapkan bahwa Presiden Soekarno akan selalu duduk di belakangnya “neng mburi kulo nek lengah, dadi niki wayang, niki wiyogo kalih sinden njuk niki tamune. Dadi neng mburi kulo” yang artinya bapak presiden duduk dibelakang saya, jadi disini wayang, disini wiyaga dan sinden, lalu disini tamunya. Jadi bapak presiden di belakang saya. Ungkap Rubiyem sambil menunjukkan tatanan panggung di istana.

Saat ini, Rubiyem tidak mengajar sinden, namun oleh guru sinden, cengkok suara miliknya dijadikan acuan bagi pesiden lain yang ingin belajar. Sampai saat ini, suara Rubiyem masih indah dalam menembang walaupun usianya tidak muda lagi. Rubinem masih sangat fasih menyanyikan lagu “dandang gula”.

Pencapaian karier Rubinem begitu luar biasa, namun kehidupannya saat ini telah berubah drastis. Hal tersebut dikarenakan harta bendanya telah habis. Habis disini bukan karena Rubiyem memiliki sifat boros atau suka menghamburkan uangnya, namun lebih pada di tipu. Cerita terjadi pada tahun 2008 dimana hartanya telah dijual tanpa sepengatahuannya untuk dijadikan investasi. Ternyata investasi tersebut hanya tipu muslihat belaka. Saat ini Rubinem hanya tinggal di warung kecil berukuran 21 m2 yang lahannya adalah milik orang sedangkan bangunannya milikinya sendiri dan berjualan gudeg. Namun, pasca terkena fertigo hingga harus di rawat di rumah sakit selama 3 bulan, Rubinem kini tak sanggup lagi memasak. “kulo niku esih seneng dodol, ning gandeng wingi menika ngedrop, mondok. Kena fertigo. Nah, sak meniko ora dodol, ganti dodol bakmi

Berbicara mengenai harapan, Rubiyem di umurnya yang sepuh, juga memiliki sejumlah harapan “paringi umur panjang, tugase nyembanyangke anak putu. Njuk terus, kulo meniko mboten ngerti mangke sopo sing kulo ironi, ngaten. Nek wis ora iso nyambut gawe, wongko wong urip niku mesti mangan” ungkap Rubiyem yang memiliki arti harapannya masih diberi umur panjang, masih bisa mendoakan anak dan cucu. Kemudian, saya sampai saat ini masih belum tau mau ikut siapa. Kalau sudah tidak bisa melakukan aktivitas, tidak ada oaring yang tidak butuh makan. Lainnya, Rubiyem mengungkapkan seperti yang ditanyakan wartawan saat berkunjung “kulo nyuwun omah, mangke kulo nek mati sing layat ora binggung. Hehe

Rubinem sendiri saat ini hanya tidur di atas lincak (kursi bambu) yang atasnya diberi kasur busa tipis dan alas. Sekian liputan kali ini, saya Zenitha melaporkan langsung dari terminal jombor, Yogyakarta.

Oleh: Zenitha Rizandi / 120904693

Keluarga Kecil Yang Terpinggirkan

https://www.youtube.com/embed/ygYWzqCCy04“>

Keluarga Kecil Yang Terpinggirkan

Bapak Ari yang kesehariannya mengupul dan mencari tumpangan dengan becak motornya (bentor) ini penuh dengan rasa kasih sayang terhadap istrinya Ina yang juga bekerja sebagai pengupul, dan kedua anaknya yang masih kecil, yang pertama berumur 4,5 tahun, dan yang kedua berumur 2,5 tahun terlihat berbaring di pinggir jalan hanya dengan tumpukan bekas kardus dan sehelai kain yang menyelimuti mereka. Keluarga kecil ini telah terbiasa beristirahat di pinggiran jalan di sekitar Jl. Kledokan Yogyakarta, dan bahkan pinggiran jalan ini menjadi tempat istirahat mereka dalam 2 bulan terakhir.

Sebagai kepala keluarga bapak Ari selalu beryukur dan menyayangi istri dan kedua anak mereka dengan penuh kesabaran. Bapak Ari yang keseharian nya mengupul dan menjadi tukang bentor ini sering kali terbangun pada saat malam hari ketika mendengar suara kendaraan yang bising, hingga seringkali ia pun tidak terjaga untuk mengawasi istri dan anak-anaknya yang sedang tertidur di pinggir jalan malam itu.

Istrinya ibu Ina juga merasa bersyukur dengan keadaan mereka sekarang ini, dengan kesabaran yang luar biasa Ibu Ina dan Pak Ari tetap bekerja sebagai pengepul dan menarik sebuah bentor yang mereka miliki dengan harapan mengumpulkan modal agar bisa mendapatkan tempat tinggal lebih yang layak.

Dengan raut wajah yang mengantuk dan berbalut jaket malam itu Ibu Ina terbangun saat suara laki-laki mendekat “permisi bu, ini ada barang dikit dari saya ya bu” setelah itu lelaki tersebut menghidupkan kendaraannya dan langsung bergegas pergi. Ibu Ina menyimpan barang pemberian lelaki tersebut di bawah bentor, dan melanjutkan tidurnya disamping kedua anaknya, sementara bapak Ari berbaring diatas bentor.

“Yang penting tiap hari nya kami masih bisa makan mba”. Bentor yang dimiliki keluarga kecil ini belum cukup untuk memenuhi biaya makan mereka sehari-hari, dilihat dari sedikitnya penumpang di Yogyakarta yang ingin naik bentor atau yang bersedia menyewa, karena di Yogya juga sudah banyak orang yang mempunyai kendaraan masing-masing, ujar ibu Ina.

Bukan tidak memiliki kerabat atau pun keluarga di Yogyakarta, tetapi sebagai keluarga mereka hanya tidak ingin menyusahkan keluarga mereka yang lain, yang juga bertempat tinggal di Yogyakarta dan memilki rumah kontrak. “bukan nya ga mau tinggal sama keluarga saya mba, Cuma ga enak aja soalnya keluarga saya ini juga rumahnya kecil, saya juga sudah berkeluarga sendiri, dari pada merepotkan nanti, mungkin untuk sementara kami disini dulu mba” ujar pak Ari serta ibu Ina yang tersenyum dan menganggukkan kepala pada saat itu.

Keluarga kecil ini merasa nyaman dengan keadaan mereka yang terpinggirkan dibandingkan dengan orang lain yang masih bisa menikmati empuknya kasur dengan bantal. Tetapi mereka selalu percaya bahwa tiap orang pasti punya rejeki masing-masing, apa yang mereka dapatkan selalu harus disyukuri bersama.

Sangat mengharukan pada kenyataannya bahwa anak kedua dari sepasang pengepul ini mengalami sakit keras yang mengharuskan mereka untuk menanggung biaya besar hingga harus meninggalkan tempat lama mereka (kost-kostan) dan memilih pinggiran jalan sebagai tempat beristirahat. Sehingga anak pertama mereka juga mengalami keterbatasan biaya untuk sekolah. Pak Ari telah berusaha semampu nya dengan bantuan ibu Ina yang begitu tegar mendampinginya, keluarga kecil ini masih tetap berusaha bersama dibarengi dengan kasih sayang dan kesabaran yang luar biasa, hingga sekarang pun sepasang suami istri ini masih bisa tersenyum.

“mereka masih bisa tersenyum dalam keadaan apapun, kenapa kita masih saja terus mengeluh dengan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata kita? Selalu bersyukur dan tersenyum dalam keadaan apapun”

Fazria Mena Azhari (101004245)