Becak, Sepeda Sederhana Penghasil Uang Pak Sedari

(Yemima br Sembiring Milala)

“urip iku keras mbak, butuh tenaga, butuh kerjo, paijo paijan ora kerjo, ora jajan”

Jika kita berjalan di sepanjang daerah Malioboro Yogyakarta tidak jarang kita bertemu dengan segerombolan becak berbaris di pinggir jalan. Bukan hal yang baru lagi, ketika kita berjalan di jalanan Malioboro kita selalu ditawari untuk naik becak. Becak, kendaraan tradisional Indonesia masih sangat menguntungkan bagi beberapa masyarakat Indonesia yang membutuhkan biaya untuk hidup. Sepeda sederhana ini, sangat bermakna bagi Sadari, laki-laki asal Semanu, Gunungkidul.

Wajahnya selalu tampak tegar kerap kali saya melihatnya mengkayuh becak lusuh setiap harinya. Sekilas melihat wajah Sedari mirip seperti anggota mafia. Didukung dengan kulit hitam dan mata yang tajam, sedikit gugup melihat tampilan Semanu.

Sedari menggayuh sepeda

Sedari menggayuh becak

Laki-laki kelahiran Semanu, Gunungkidul 40 tahun lalu ini memulai pekerjaannya sebagai tukang becak pada tahun 1993. Kenapa memilih pekerjaan sebagai tukang becak? Alasannya sederhana, karena tidak memiliki kemampuan secara materi. Pendidikan terakhir yang ia tempuh adalah Sekolah Dasar (SD). Kemampuan yang ia andalkan dengan pendidikan terakhir Sekolah Dasar ini adalah menghitung dan membaca. Semanu tidak dapat menghafalkan abjad dengan baik, sehingga kemampuan membacanya tidak cukup baik. Keterbatasan secara akademik ini juga lah yang mempengaruhi Semanu susah mendapatkan pekerjaan.

DSC_0579a

Sebelum Sedari memilih menggayuh becak, ia juga pernah menjalani pekerjaan sebagai pekerja di tempat penggilingan daging di Pasar Beringharjo. Akan tetapi, Sedari merasa kurang akan penghasilan yang ia dapatkan dari pekerjaannya tersebut sehingga ia pun memberanikan diri untuk menggayuh becak. Sedari mengaku, faktor lain yang menghantarkan sebagai tukang becak adalah lingkungan.

Sedari sempat menjadi pengangguran ketika memilih berhenti dari pekerjaannya di tempat penggilingan daging, ia melihat banyak sekali penggayuh becak pada saat itu. Di sisi lain, ia juga melihat bahwa kawasan perbelanjaan Malioboro mempunyai potensi yang cukup besar untuk mengais rejeki. Tidak hanya sebagai tukang becak, bapak dari 3 orang anak ini juga mencari rejeki menjadi seorang petani musiman di tempat kelahirannya. jika memasuki musim kemarau, ia harus pulang ke desanya untuk memanen hasil tani miliknya. Pada malam hari, Sedari juga bekerja sebagai pendorong gerobak pedagang kaki lima jam 22:00 WIB sampai subuh jam 04:00 WIB di Malioboro.

“Kalau saya tidak merantau ke kota, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga di desa, anak-anak saya kan harus sekolah,” jawab Sedari ketika ditanya kenapa harus bekerja di kota Yogyakarta. Sedari juga menceritakan profesi sebagai pengayuh becak bukanlah hal yang mudah, bukan hanya sekedar menggayuh, tetapi juga harus memikirkan untuk membayar sewa becak kepada sang juragan becak. Sehari-harinya becak yang digunakan merupakan becak sewaan, “kudu mbayar sewa becake yo, kan larang nek gawe dewe, butuh duit sekitar 1,8 juta nggo nggawene, nek sepi yo pikiran mbak,” kata Sedari sambil tertawa.

Sedari juga sempat mengadu nasib di kota Jakarta, di sana ia bekerja sebagai kuli bangunan. Sebagai kuli bangunan selama 1 tahun lebih ternyata cukup menguji mentalnya. Ia menganggap jika mentalnya sudah kuat, berarti ia sudah siap menjalani hidup sesulit apapun. Semua perjuangan yang ia lakukan semata-mata hanya demi istri dan anak-anak. Di sisi lain, ia senang karena mempunyai banyak teman baru di kota Yogyakarta termasuk di lingkungan kerjanya. Satu kalimat Sedari yang terus saya ingat yaitu “urip iku keras mbak, butuh tenaga, butuh kerjo, paijo paijan ora kerjo, ora jajan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s