Jathilan Jalanan Yang Tetap Lestari

SLEMAN – Jathilan adalah tarian tradisional asal Yogyakarta dan juga sebagian besar masyarakat Jawa. Jathilan adalah sebuah tarian drama yang menceritakan tentang pertempuran dua kelompok prajurit berkuda dan bersenjatakan pedang.

Tarian ini biasanya mengangkat cerita-cerita babad tanah Jawa seperti, cerita Panji , Ario Penangsang dan cerita lain era kerajaan Majapahit. Dalam penampilanya sang penari menggunakan sebuah kuda tiruan yang  biasanya terbuat dari anyaman bambu dan disebut Kuda Kepang. Bak seorang kesatria yang gagah berani, para penari beraksi sambil menunggangi kuda tiruan tersebut dengan diiringi gamelan jawa.

Di era modern seperti sekarang ini, Jathilan mulai sulit ditemukan di tengah masyarakat padahal dulu hampir disetiap minggu selalu ada pertunjukan tari Jathilan ini. melihat hal ini banyak seniman tradisional yang mengaku prihatin melihat keadaan seperti ini.

Tidak terkecuali Ibu Wijianti (40) dan Hartanto (45), sepasang suami istri yang jauh-jauh merantau dari Surabaya, Jawa Timur ini merupakan seniman Jathilan yang biasa menggelar pertunjukan Jathilan di perempatan bawah flyover Janti, Sleman. Mereka merasa prihatin melihat anak muda sekarang yang kurang peduli terhadap kesenian tradisional, khususnya Jathilan ini.

“Yaaa mbok anak muda sekarang ini mau melestarikan budaya bangsanya sendiri, jangan nanti kalau direbut bangsa lain baru mau mengenal” tambah Bu Wiji yang ditemui di bawah flyover Janti.

Setiap harinya pasangan suami istri ini berangkat pada pagi hari  dengan menggunakan bis umum dari rumahnya di daerah Giwangan menuju ‘kantor’nya di bawah flyover Janti, Sleman. Dalam sehari mereka berdua mengamen disana dari pagi sekitar pukul 7.00 hingga sore pukul 17.00. Setelah itu mereka kembali kerumahnya untuk berkumpul bersama keluarga.

Pekerjaan mereka ini semata-mata hanya untuk menafkahi kedua anaknya yang masih sekolah di tingkat sekolah dasar. Bagi mereka, kedua anaknya harus mendapatkan pendidikan dan gizi yang baik, agar bisa mengubah nasib keluarganya.

Dalam sehari hasil keringat mereka biasanya mendapatkan uang sebesar 50 ribu hingga 100 ribu, tergantung situasi pada saat itu. Misalnya, pada saat bulan Ramadhan biasanya pemasukan lebih banyak daripada hari biasanya. Namun uang ini tetap di nikmati oleh keluarganya sebagai sebuah berkah yang luar biasa.

Mereka berpesan, harapan mereka adalah budaya Jathilan ini harus tetap hidup sampai kapanpun, jika bukan orang muda, siapa lagi ?

Reporter : Stephanus Aranditio / 120904617

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s