Pasung

Oleh : Kenia I. N (13095129)

gambar oleh Kenia I.N

Gambar oleh Kenia I.N

“Seperti kita, mereka yang dipasung juga manusia. Mereka punya hak yang sama untuk bersosialisasi, untuk mendapat perawatan kesehatan,” (Siam Hanifah, Psikolog Puskesmas Godean I)

Laki-laki berinisial R itu sedang tidur di lantai ketika pihak Dinas Kesehatan  berkunjung ke rumahnya. Hanya sehelai kain memisahkan antara lantai dengan badannya. Mendengar ramai suara rombongan datang, ia terbangun. Sebentar kemudian membenarkan posisi duduknya. Kaki kirinya yang dirantai ke gawang jendela, sesekali berdecit ketika ia menggerakkan kakinya.

Usia R sudah berkepala dua, namun perilakunya masih menyerupai anak-anak. R sering menggigit-gigit jari. Pandangannya sebentar menatap langit-langit, sebentar ke lantai, sebentar melihat tamu-tamu yang mengunjunginya. Setelah ditelusur, R tidak hanya menderita gangguan jiwa. R memiliki riwayat rentaldesimental. Disebabkan sewaktu kecil R pernah mengalami panas tinggi dan kejang, hingga matanya terbalik ke belakang (hanya terlihat bagian putihnya saja). Sejak saat itu tingkah laku R berubah.

R adalah sedikit dari banyak pasien yang mengalami pasung. Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat 90 pasien pasung yang sudah dilaporkan. Jumlah ini baru yang tercatat. Kemungkinan masih banyak pasien pasung lain yang belum diketahui.

Bentuk pemasungan beragam. Ada yang dirantai atau diikat seperti yang dialami R, ada pula yang diisolasi di sebuah ruangan.

“Pasung itu pembatasan hak seseorang. Baik itu dengan media, seperti  pasung yang ekstrem dengan balok kayu, rantai, dan ketika ada seorang pasien gangguan jiwa yg perlu pengobatan, namun tidak mendapat pengobatan. Itupun juga bisa dikatakan pemasungan haknya untuk mendapat pelayanan kesehatan,” ucap Siam Hanifah. Hanifah adalah psikolog Puskesmas Godean I. Pada tahun 2011 Kader kesehatan di wilayah tempat tinggal R lah yang melaporkan kondisi R kepada Hanifah .

R sendiri sudah satu tahun ini dipasung. Sebelum menjalani pemasungan kali ini, R sudah pernah dipasung dengan cara dirantai ke lincak (sebuah bangku panjang terbuat dari bambu). Akan tetapi, dirinya bisa kabur dengan cara membawa sekaligus lincak yang mengikatnya. Lincak yang terbuat dari bambu memang cukup ringan dan mudah untuk dibawa-bawa.

Setelah kejadian kabur dengan lincak itu, R sempat dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan obat. Kondisi R saat itu membaik dan tidak lagi dipasung. Akan tetapi setahun yang lalu, R kabur dari rumah lagi. Hal ini membuat ibu R memutuskan untuk memasug R, karena takut anaknya melarikan diri dari rumah. Alasan lain, Ibu R mengalami kesulitan dalam merawat R. Ibu R pernah mengalami kecelakaan hingga menyerang bagian sarafnya. Hal ini menyebabkan ibu R kesulitan untuk berjalan.

R dan ibunya tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Ayah R sendiri sudah tidak tinggal serumah dengannya. Ayah R menikah lagi, dan tinggal dengan keluarga barunya.

Selama terjun di dunia kesehatan, meyakinkan keluarga korban supaya mereka menanggalkan pasung untuk pasien adalah hal tersulit. Keluarga lebih memilih memasung pasien daripada menjalani perawatan di rumah sakit.

“Ada semacam perasaan yowis lah (ya sudah lah) dari pihak keluarga. Selain itu, kesulitan akses untuk berobat ke rumah sakit,” Hanifah menuturkan.

Bahkan suatu kali, dari pengalamannya menangani pasien ganguan jiwa lainnya (berinisial W), keluarga terkesan tidak peduli dengan keadaan anggota keluarga yang gangguan jiwa ini. Puskesmas sudah menghubungi keluarga pasien. Bahkan pihak-pihak lain seperti Dinas Kesehatan, RT, RW, Dukuh ikut turun tangan membantu nasib pasien berinisial W ini. Namun tidak ada kepastian dari keluarga pasien bersangkutan. Padahal, Hanifah dan kawan-kawannya dari puskesmas tidak dapat serta merta membawa seorang pasien untuk dirawat ke rumah sakit. Harus ada persetujuan dengan keluarga pasien.

Di luar sana mungkin masih banyak kasus pasung seperti yang dialami R. Pasung merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak pasien, itu mengapa pasung segera dihapuskan. Pemerintah telah mencanangkan Indonesia Bebas Pasung 2015. Tentu saja dibutuhkan kerjasama yang baik dari berbagai pihak agar tujuan ini terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s