Pemain Suling Buta Malioboro

Oleh: Trias Setiawan Rizky/120904708

Alunan musik yang merdu dari para musisi jalanan seakan sudah menjadi teman perjalanan bagi mereka yang berkunjung ke malioboro. Hampir di tiap sudut jalannya dapat dengan mudah dijumpai para musisi jalanan. Memang sebagai tempat wisata yang ramai pengunjung setiap harinya, malioboro seringkali menjadi surga bagi para musisi jalanan. Namun diantara sekian banyak musisi jalanan yang hidup dari ikon kota Yogyakarta ini tersimpan sebuah ironi bagi seorang pemain seruling tunanetra bernama Suryatmo.

Di tengah hiruk pikuk suasana malioboro pada malam hari, terdengar sayup-sayup suara seruling merdu yang kental dengan alunan musik jawa. Bukan dari radio tape ataupun mp3 player yang diputar, melainkan suara seruling tersebut adalah permainan Suryatmo.

Suryatmo adalah seorang musisi jalanan yang memiliki keterbatasan indera penglihatan. Sejak umur 7 tahun ia mengalami kelainan pada bagian retina matanya sehingga membuatnya mengalami kesusahan ketika melihat.

Menurut kisah yang di tuturkannya, keluarganya sudah pasrah dengan keadaan lelaki setengah baya ini dikarenakan tidak adanya biaya untuk berobat ke dokter. Keadaan penglihatan Suryatmo tergolong ke dalam tunanetra Low Visioan, artinya ia tidak mengalami buta total dan masih mampu melihat secara samar-samar bentuk dan warna.

Lewat.mp4_20150611_220700.345Suryatmo memainkan seruling kesayangannya di tengah keramaian malioboro. (Dokumentasi: Trias S.R.)

Keterbatasan fisik yang dimilikinya tidak membuat Suryatmo patah semangat. Ketika menyadari kekurangannya, ia memutuskan untuk berlatih bermain seruling bersama dengan ayahnya ketika masih berusia belia. Banyak kasus penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan. Mungkin inilah yang dapat kita lihat pada diri Suryatmo.

Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya ia berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman dan pendengarannya. Ia pun mengakui kemampuannya bermain seruling adalah karena ia melatih kepekaannya terhadap suara.

Sehari-hari sejak pukul 17.00-21.00 WIB ia menghabiskan waktunya untuk bermain suling di malioboro. Ada pengalaman menarik menurutnya ketika ia pertamakali bermain seruling di malioboro. Pada suatu ketika, ia di beri uang oleh wisatawan asing dalam bentuk dollar, namun karena penglihatannya yang kurang jelas, ia mengira itu adalah kertas biasa. setelah ditanyakan kepada salah seorang temannya, ternyata itu adalah uang pecahan 1 dollar.

Sebuah seruling bambu tua pemberian ayahnya menjadi teman setia pria paruh baya ini untuk menafkahi keluarganya. Sehari-hari ia mengaku mendapat uang sejumlah Rp 50.000 – Rp 60.000. Terkadang bila ada orang yang membutuhkan jasa pijat, ia menyanggupi dan mendapat penghasilan tambahan Rp 20.000. Jumlah uang yang dirasa cukup bagi hidupnya sehari-hari. Akan tetapi uang tersebut tidak membuat dirinya melupakan seorang istri dan 3 orang anak lelakinya yang menetap di Bantul.

Dalam seminggu uang hasil jerih payahnya mengais rejeki dari pengunjung di malioboro ia kirimkan untuk biaya hidup dan menyekolahkan ketiga orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Perjuangan berat untuk menghidupi keluarga nampaknya tidak menjadi halangan Suryatmo untuk terus bertahan dan menikmati masa-masa tuanya dengan penuh hikmah.

IKy Portnoy_5.mp4_20150611_220757.481Di sepanjangan lorong-lorong di malioboro inilah Suryatmo seringkali menghabiskan waktunya untuk mengamen. (Dokumentasi: Trias S.R.)

Keadaan serupa sebenarnya tidak hanya di alami oleh Suryatmo. Para pengamen maupun musisi jalanan lain juga ada yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya. Bila berjalan di sepanjang lorong sepanjang emperan dagangan di malioboro, pemandangan para tunanetra yang sedang mencari nafkah dengan mengamen atau bermain musik sudah biasa terlihat. Selain menjadi ikon budaya dan peninggalan bersejarah kota Yogyakarta, nampaknya malioboro juga menjadi sebuah tempat mengais rezeki bagi para musisi jalanan difabel.

Adanya guiding block (penunjuk jalan bagi difabel tunanetra) aksesibilitas bagi kaum tunanetra di malioboro adalah sebuah upaya pemerintah untuk membuat Yogyakarta menjadi kota yang ramah difabel. Sebagai seorang yang memiliki keterbatasan dalam penglihatannya, Suryatmo mengaku sangat terbantu dengan adanya guiding blok ini. “iya mas, keramik yang berwarna-warna ini sangat membantu saya untuk berjalan” ujarnya sambil tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s