Potret Sederhana di Pinggiran Jogja

oleh : Natalia Ratna S. – 120904784

Mbah Sumbuk di depan rumah sederhananya

Mbah Sumbuk di depan rumah sederhananya

Sepasang suami istri yang memasuki usia senja terlihat asik bercengkerama di depan sebuah rumah sederhana. Beberapa saat kemudian, datang beberapa orang berkunjung ke rumah sederhana itu membawa buah tangan ala kadarnya. Sambil menikmati teh buatan Sang Suami, Mbah Sumbuk-panggilan keduanya, menyambut tamunya dengan sumringah. Matanya terlihat berkaca-kaca karna tak biasanya mereka dikunjungi seperti ini. Mbah Sumbuk kakung dan putri, begitu mereka dipanggil, adalah sosok pasangan bersahaja yang dikenal warga desa sebagai buruh tani sewaan untuk menggarap ladang. Mereka hanya tinggal berdua di sepetak tanah yang terletak di lereng Merapi, tepatnya Dusun Tanen, Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Mereka dikaruniai satu orang anak yang kini telah berkeluarga dan menetap di Jakarta. Lebaran adalah saat yang paling dinanti sepasang Simbah ini karna saat itulah anak semata wayangnya pulang ke rumah, meski seringkali Mbah Sumbuk harus menerima kenyataan kalau anaknya tak dapat selalu pulang.

Mbah Sumbuk putri memiliki keterbelakangan mental sejak jatuh di sawah 10 tahun yang lalu. Seringkali, tanpa sebab yang pasti, Mbah Sumbuk putri bisa tiba-tiba tertawa atau menangis dengan sedemikian keras. Bila sakit kepalanya kambuh, Mbah Sumbuk putri hanya dapat terbarig lemah di kasur kapuknya ditemani dengan ayam-ayam peliharaannya. Keadaan yang demikian tentu tak terlalu membantu Mbah Sumbuk kakung dalam menjalani rutinitas hariannya. Betapa tidak, hari-hari yang harus diisi dengan kegiatan yang bisa menyambung hidup sudahlah sulit, namun Mbah Sumbuk kakung tetap harus memberikan perhatian bagi Mbah Sumbuk putri. Kendati demikian, berkat ketelatenan dan kesetiaan Mbah Sumbuk kakung, kondisi Mbah Sumbuk putri kini sudah semakin membaik. Mungkin tak disadarinya, tapi bagaimana Mbah Sumbuk kakung merawat Mbah Sumbuk putri menggambarkan cinta yang sungguh besar.

DSC_1363

Kulo niku susah yen bojo kulo lara. Arep ditinggal ning sawah ora tego, ning nek ora ditinggal piye duite le arep tuku obat. Nggih ngoten niki gubug kulo, arep masak, turu, nyuci yo kabeh ning kene”, kata Mbah Sumbuk sambil menunjukkan isi rumahnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Mas Bagus, tetangga Mbah Sumbuk saat bercerita mengenai kehidupan Mbah Sumbuk, “Mbah Sumbuk itu bersahaja, sederhana. Mungkin menurut orang hidupnya itu kekurangan, tapi bagi Mbah Sumbuk itu kecukupan. Saya sering minta tolong Mbah Sumbuk untuk ngerjain sawah saya dan dia selalu kelihatan bersemangat saat mengerjakan, dan terlihat bersukacita berapapun upah yang saya kasih”.

Keteladanan hidup dapat diambil dari kisah Mbah Sumbuk ini. Meski memiliki banyak keterbatasan, namun tak membuatnya putus harapan dan menyerah begitu saja. Hamparan sawah hijau menjadi ladang rejeki bagi Mbah Sumbuk. Meskipun bukan sawah miliknya, namun Ia tetap senang menggarap sawah orang lain demi menghidupi dirinya dan keluarganya. Mungkin bagi kita upah menggarap sawah tak terlalu berarti, tetapi bagi Mbah Sumbuk dan istrinya menjadi sangat berarti. Dengan upah yang tak seberapa, semua ia lakukan agar tetap dapat bertahan hidup bersama dengan Istrinya. Berbekal semangat dan rasa sayang kepada Sang Istri, Ia terus berjuang di sisa tenaganya yang semakin renta. Pantang baginya untuk hidup dari belas kasihan orang lain. Kita adalah sesama bagi semua orang yang bukan hanya dekat dengan kita, tetapi semua orang yang kita jumpai setiap hari.

Orang kaya dan orang miskin berbagi udara yang sama di bawah langit Jogja. Namun kebahagiaan sejati akan tetap miskin bagi orang kaya yang tak pernah merasa cukup. Tak dapat dipungkiri, kita seringkali mengeluh karna di dalam rumah terasa panas sedangkan kipas angin sedang rusak atau tidak ada AC di rumah. Apapun kondisinya, sudah seharusnya kita bersyukur dan menikmatinya. Masih banyak orang-orang di luar sana yang tinggal di tempat kumuh dan jauh dari kata sehat, Mbah Sumbuk misalnya. Mereka tidak tahu atau bahkan melihat tentang transformasi Jogja. Pembicaraan orang tentang kemacetan lalu lintas, pro kontra hotel dan gedung bertingkat yang sedang ramai dibangun juga tak diketahuinya. Yang mereka tahu, mereka bahagia menjalani hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s