Yang Muda Yang Menderita..

Fityan Yudhan A (03130)

Setiap orang di dunia ini tentunya ingin memiliki pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Apapun latar belakangnya, manusia pasti memiliki cita-cita dan keinginan sedari ia kecil. Beberapa sukses, tapi tak jarang yang akhirnya harus merelakan cita-citanya tak tercapai karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kondisi ekonomi, tuntutan keluarga, atau fisik yang tidak mendukung bisa jadi beberapa alasan kita tidak bisa menggapai cita-cita tersebut.

Cerita Siti Annisa menjadi salah satu contohnya. Siti adalah warga Tepus, Gunungkidul, yang sekarang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di daerah Kasihan Bantul. Siti, yang kini baru berusia 22 tahun, harus rela membuang jauh-jauh impiannya untuk berkuliah. Siti yang tidak menyelesaikan SMA-nya kini adalah ibu dari seorang anak perempuan berumur empat tahun. Ya, Siti menikah di usia yang sangat muda; 18 tahun. Jatuh cinta pada pandangan pertama ia akui terjadi ketika melihat sosok suaminya kini, Iin yang usianya terpaut lima tahun dengannya. Siti yang kala itu masih sangat muda, tentu tidak bisa menolak ajakan Iin untuk menikah walaupun dengan kondisi keuangan yang apa adanya. “Namanya seneng to mas, ya mau gimana lagi..” kata Siti dengan logat jawa kentalnya.

Siti yang sehari-harinya bekerja sebagai PRT

Di awal pernikahannya, Siti masih memiliki harapan untuk dapat melanjutkan SMA dan meneruskan ke bangku kuliah. Tetapi kehamilan di usia muda dengan keuangan yang pas-pasan membuatnya harus menerima bahwa uang sedikit tersebut akan lebih berguna untuk biaya persalinan daripada pendidikan. ” Ya mau gimana mas, uangnya sedikit, mau buat bayar lairan juga waktu itu ngepas, yo masak malah mau sekolah..” tambahnya. Kini anaknya sudah berusia empat tahun. Semakin tinggi biaya yang dibutuhkan untuk hidup Lela, anaknya. Hingga akhirnya Siti menerima ajakan saudaranya untuk bekerja sebagai PRT ditempat ia bekerja sekarang, di daerah Kasihan Bantul. Sedangkan suaminya, bekerja sambilan di sebuah hotel kecil di daerah Klaten dan hanya bisa pulang seminggu sekali.

Siti dan anak semata wayangnya, Lela

Majikannya, Susie, adalah seorang wanita karir yang jarang berada dirumah. Menjadi pekerjaan Siti untuk menjaga rumah dan membersihkan rumah, sekaligus menjaga Artini yang adalah ibunda dari Susie yang kini sudah sangat sepuh. Memiliki pekerjaan yang banyak, harus merawat anaknya yang masih kecil, sekaligus harus merawat majikannya yang sudah sepuh dan tanpa didampingi oleh sang suami, Siti mengaku lelah. “Kesel mas, tapi nggak punya pilihan lagi. Isone(bisanya-red) ya kerja kaya gini. Ya alhamdulillah saja..” akunya. Raut wajahnya tidak bisa berbohong. Siti lelah. Dengan gaji yang mungkin tak seberapa, beban pekerjaan yang berat di usia yang muda, Siti tak punya pilihan lagi. Masa mudanya terpaksa ia lewatkan dengan bekerja semampunya tanpa suami, membesarkan anak semata wayangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s