Becak Kayuh Sisi Mata Memandang Becak Motor

IMG20150608164917

Becak merupakan salah satu kendaraan tradisional yang berada di Yogyakarta. Kendaraan yang dikayuh seperti sepeda ini, menjadi salah satu Icon Yogyakarta sebagai kota budaya. Becak sudah sepastinya menjadi salah satu peninggalan tradisional yang harus dilestarikan, namun dengan semakin berkembang dan perubahaan mobilitas kendaraan dari tahun ke tahun memunculkan invosi baru pada becak di kota Yogyarta. Perubahaan tersebut berupa adanya keberadaan becak motor di Yogyakarta.

Maraknya becak motor di Yogyakarta menjadi kekhawatiran dan meresahkan bagi pengemudi becak tradisional ini. Salah satu pengemudi becak kayuh yang mangkal di jalan Solo Yogyakarta, Parjono mengenai keberadaan becak motor

“Seharunya tu yang becak motor nggak boleh , masalahnya kebanyakan wisatanya hilang”

Selama 40 tahun Parjono menjalani profesi sebagai pengemudi becak kayuh merasakan terpinggirkan dan tidak setuju dengan adanya becak motor di kota Yogyakarta.

“solanya masayarakat kalau mintanya becak motor”

Selain itu dengan adanya surat edaran Gubernur No 551 2/0316 tahun 2003 tentang larangan becak bermotor, seharunya menjadikan becak bermotor tidak diperbolehkan dalam beroperasi di Yogyakarta. Tapi pada kenyataannya larangan tersebut diabaikan dengan adanya keberadaan becak bermotor di kawasan Malioboro.

Dengan adanya becak bermotor, banyak pengemudi becak kayuh yang terkena dampak negatif. Rumandi selama 40 tahun menjalani pekerjaan sebagai pengemudi becak kayu, memulai pekerjaan dan berangkat dari jam 7 pagi, mencoba mencari keuntungan di Malioboro. Dengan adanya becak motor Rumadi mengaku kesulitan untuk mencari penumpang dan belum mendapatkan penumpang pada hari ini.

“Ini sebetulnya ndak boleh ya kalo becak motor itu malah merasakan merugikan soalnya itu tukang becak yang ontel itu kurang (pendapatannya). Becak motor itu sebenarnya ndak boleh. “

Wisdi sebagai pengemudi becak di Malioboro, telah merasakan perbedaan mengenai becak motor dan becak kayuh.

“Kalo tanjakan enak naik becak motor, kalo cari penumpang ndak enak naik becak motor”

Sebelum mencoba adanya becak motor, Wisdi menggunakan becak kayuh. Namun setelah mengetahui keberadaan becak motor sekitar 3 tahun yang lalu, Wisdi mencoba dan mengubah becaknya menjadi becak motor. Setelah merasakan menggunakan becak motor Wisdi mersa tidak suka dan kembali menjadi pengemudi becak kayuh.

Sebagai kendaraan tradisional, Wisdi mengaku lebih menyukai becak kayuh hal tersebut dikarenakan untuk melestarikan becak kayuh dan menjaga kelestarian becak di Yogyakarta. Harapan Wisdi sebagai pengendara becak kayuh mempunyai pesan bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan bagi para pengemudi becak bermotor

“Kalo lebih enak dikasih UU baru, ditempatkanlah jangan di sembarang tempat, jangan dicampur-campur dengan becak”

Dengan adanya keluhan dari pengemudi becak kayuh, seharunya pemerintah dapat bertindak tegas kepada becak motor. Dengan adanya peraturan larangan becak bermotor, seharusnya dapat disadari bahwa larang tersebut juga mempunyai maksud untuk menjaga keaslian dan melestarikan becak kayuh tradisional, mengingat becak kayuh menjadi bagian dari budaya di Yogyakarta.

Selain merugikan pengemudi becak kayuh, pemerintah perlu mendegarkan suara dan harapan pengemudi becak kayu mengenai maraknya becak bermotor. Selain tenaga yang dikeluarkan dalam mengayuh becak setiap detiknya, perlu disadari juga bahwa merekalah yang hingga sampai saat ini bertahan dan melestarikan budaya di era yang serba modern ini. (6/06/2015)

By: Fira Rantikania/ 120904627

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s