Pak Parkid: “Allah Sudah Mengatur Semuanya”

“…Allah pasti sudah nyiapin jalan buat kita, kita hanya tinggal mensyukuri dan menerima, karena semua itu pasti ada hikmahnya…”

Pak Parno atau yang lebih akrab disapa Pak Parkid adalah seorang penjual boneka tangan keliling. Beliau selalu berkeliling di daerah jalan Solo, bahka terkadang dia juga berkeliling sampai ke daerah Tugu. Walaupun usianya sudah lanjut, sekitar 70 tahun, tapi Pak Parkid tidak pantang menyerah untuk berkeliling menjajakan boneka tangan buatannya.

Pak Parkid Penjual Boneka Tangan Keliling (foto by Dias)

Ide awal Pak Parkid berjualan boneka tangan ternyata tidak sengaja ditemukannya. Saat itu, beliau hanya secara iseng sedang mengambar sebuah pola di atas tanah. Kemudian pola yang beliau gambar di atas tanah tersebut, coba beliau aplikasikan di atas selembar kain. Dari pola di atas kain tersebut kemudian beliau jahit dan terbentuklah sebuah boneka.

Mulanya,  bukan boneka tangan yang beliau buat, tapi sebuah boneka busa. Namun, jika dibawa untuk berjualan keliling boneka busa membutuhkan tempat yang cukup besar dan apabila membawa dalam jumlah banyak tentu akan cukup berat. Akhirnya, Pak Parkit mencoba mengubah boneka tersebut menjadi sesuatu yang baru, dan akhirnya terciptalah boneka tangan tersebut yang kini beliau jajakan secara berkeliling.

Awalnya, Pak Parkit tidak berjualan boneka tangan keliling, melainkan pembuat mainan kidang-kidang di daerah Serang, Banten. Sebagai seorang pembuat kidang-kidang, usahanya terbilang sukses. Nama Parkid sebenarnya tercetus keran profesinya sebagai pembuat kidang-kidang, Parno kidang-kidangan menjadi Parkid. Dulu, bahkan kidang-kidangan milik Pak Parkid juga sampai diekspor ke luar negeri, misalnya Malaysia dan Brunei.

Namun, ada sebuah kejadian yang membuat usahanya sempat jatuh, yaitu saat musibah yang menimpa Kapal Tampomas hingga tenggelam. Padahal di dalam kapal tersebut juga membawa kidang-kidangan Pak Parkid yang hendak diekspor. Namun, karena tenggelam, dagangan Pak Parkid pun juga ikut tenggelam bersama Kapal Tamponas tersebut.

Tujuh tahun yang lalu, Pak Parkid memutuskan untuk pindah ke Jogja dan berjualan boneka tangan secara berkeliling di Jogja. Kepindahannya ke Jogja, membuatnya Pak Parkid harus berpisah dengan anak serta cucunya yang tinggal di Banten. Walaupun begitu, komunikasi Pak Parkid dengan anak serta cucunya masih bisa berjalan dengan baik. Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu handphone miliknya hilang, dan Pak Parkid pun tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya.

Kehidupannya sebagai penjual boneka tangan keliling membuatnya memiliki banyak teman bahkan sudara yang dikenal oleh beliau. Hal ini membuat beliau  merasa sangat bahagia. Walaupun mungkin selama sehari jualannya tidak laku, tetapi ketika beliau bisa mendapatkan teman baru atau saudara baru, beliau sudah merasa sangat senang.

“Saya punya teman dari mana-mana, bisa punya saudara baru, rasanya seneng neng ya semua itu ridho Allah neng,” ujar Pak Parkid

Bagi Pak Parkid, apapun yang terjadi dalam hidupnya, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Pak Parkid tidak pernah merasa bahwa hidup yang beliau jalani sekarang itu tidak adil. Pak Parkid merasa bahagia dengan apa yang dijalani.

“Yang penting semuanya disyukuri neng, apapun itu yang penting kita bersyukur, pasti nanti Allah juga kasih jalan”


Patricia Diah Ayu Saraswati / 120904603

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s