Sejuta Kisah Sinden Tiga Jaman

1

foto jaman muda Maria Magdalena Rubinem

Disebuah warung sederhana, dipojok terminal Jombor tepatnya arah pintu masuk terminal. Tampak seorang simbah tengah duduk bersantai. Wajahnya terlihat lelah namun masih menunjukkan kobaran semangat yang cukup besar. Siapa sangka sosok yang satu ini merupakan seniman yang menyandang gelar Maestro Sinden, bernama Maria Magdalena Rubinem.

Maria Magdalena Rubinem atau sering disapa Rubinem memang merupakan sosok ternama pada masanya. Mengawali karier di usia 17 tahun atau pada masa kependudukan belanda, Rubinem didukung tetangganya untuk menjadi seorang sinden. “Dikon kalih tanggane. Kulo niku gaweanne tunggu geni kalih ngreneng-ngreneng, tangga kulo niku ngomong, Rub gene suaramu apik, mbok ajar sinden”. Ungkap Rubinem yang artinya belajar sinden disuruh oleh tetangga. Dulu saya bekerjanya menunggui api, biasanya sambil bersendandung, tetangga yang mendengar mengatakan kepana tidak jadi sinden nanti belajar.

Awalnya Rubinem tidak mengetahui bahwa sinden dapat menghasilkan uang. Menembang dianggap sebagai hobi belaka karena bercita-cita ingin menikah dengan seorang bangsawan. “Kulo niku kepengen dipek ndoro, kepengen uripe nglaras. Candra Lukito lak bojone ndoro, lha niku kepengen. Lha bocah umur 17 tahun”. Saya itu awalnya belajar nyinden agar dapat menikah dengan seoarang bangsawan, agar hidupnya makmur. Seperti Candra Lukito yang memiliki suami seorang bangsawan. Saya yang masih berusia 17 tahun kepengin seperti Candra Lukito.

Sebagai langkah awal dalam meniti karier, Rubinem bekerja di RRI (Radio Republik Indonesia) Yogyakarta sebagai pesinden yang pengisi acara seperti kethoprak, keroncong dan lain-lain yang berisi kesenian. Bayaran yang diterima pada masa itu adalah Rp 350,- dari kantor pusat RRI di Jakarta. Pada tahun 1972, Rubinem memutuskan untuk mengundurkan diri karena banyaknya kegiatan sinden yang dilakukan diluar. Dalam sebulan, Rubinem dapat naik panggung sampai 40 kali baik diwaktu siang maupun malam.

2

sejumlah penghargaan yang pernah diraih

Berkat ketenarannya, Rubinem dapat bertemu dengan Presiden Ir. Soekaro. Cerita sendiri dimulai ketika Rubinem di pindah tugaskan dari RRI Yogyakarta ke RRI Jakarta tahun 1915 untuk menetap disana. “Pendak sasi niku, istana mesti enten wayangan. Nah kulo sinden, ngoten” artinya setiap bulan, istana pasti mengadakan pagelaran wayang. Dalam acara tersebut, saya yang menjadi sindennya. Setiap pergelaran tersebut, Rubinem mengungkapkan bahwa Presiden Soekarno akan selalu duduk di belakangnya “neng mburi kulo nek lengah, dadi niki wayang, niki wiyogo kalih sinden njuk niki tamune. Dadi neng mburi kulo” yang artinya bapak presiden duduk dibelakang saya, jadi disini wayang, disini wiyaga dan sinden, lalu disini tamunya. Jadi bapak presiden di belakang saya. Ungkap Rubiyem sambil menunjukkan tatanan panggung di istana.

Saat ini, Rubiyem tidak mengajar sinden, namun oleh guru sinden, cengkok suara miliknya dijadikan acuan bagi pesiden lain yang ingin belajar. Sampai saat ini, suara Rubiyem masih indah dalam menembang walaupun usianya tidak muda lagi. Rubinem masih sangat fasih menyanyikan lagu “dandang gula”.

Pencapaian karier Rubinem begitu luar biasa, namun kehidupannya saat ini telah berubah drastis. Hal tersebut dikarenakan harta bendanya telah habis. Habis disini bukan karena Rubiyem memiliki sifat boros atau suka menghamburkan uangnya, namun lebih pada di tipu. Cerita terjadi pada tahun 2008 dimana hartanya telah dijual tanpa sepengatahuannya untuk dijadikan investasi. Ternyata investasi tersebut hanya tipu muslihat belaka. Saat ini Rubinem hanya tinggal di warung kecil berukuran 21 m2 yang lahannya adalah milik orang sedangkan bangunannya milikinya sendiri dan berjualan gudeg. Namun, pasca terkena fertigo hingga harus di rawat di rumah sakit selama 3 bulan, Rubinem kini tak sanggup lagi memasak. “kulo niku esih seneng dodol, ning gandeng wingi menika ngedrop, mondok. Kena fertigo. Nah, sak meniko ora dodol, ganti dodol bakmi

Berbicara mengenai harapan, Rubiyem di umurnya yang sepuh, juga memiliki sejumlah harapan “paringi umur panjang, tugase nyembanyangke anak putu. Njuk terus, kulo meniko mboten ngerti mangke sopo sing kulo ironi, ngaten. Nek wis ora iso nyambut gawe, wongko wong urip niku mesti mangan” ungkap Rubiyem yang memiliki arti harapannya masih diberi umur panjang, masih bisa mendoakan anak dan cucu. Kemudian, saya sampai saat ini masih belum tau mau ikut siapa. Kalau sudah tidak bisa melakukan aktivitas, tidak ada oaring yang tidak butuh makan. Lainnya, Rubiyem mengungkapkan seperti yang ditanyakan wartawan saat berkunjung “kulo nyuwun omah, mangke kulo nek mati sing layat ora binggung. Hehe

Rubinem sendiri saat ini hanya tidur di atas lincak (kursi bambu) yang atasnya diberi kasur busa tipis dan alas. Sekian liputan kali ini, saya Zenitha melaporkan langsung dari terminal jombor, Yogyakarta.

Oleh: Zenitha Rizandi / 120904693

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s