Teman Toeli ‘Madre’

 

 

1434076192206“Tidak selalu ‘mereka’ itu harus dikasihani atau dianggap lemah, justru semangat mereka yang harus ditiru oleh orang normal seperti kita” kata Oti sembari tersenyum.

 

Saat ini penjaja makanan di daerah Yogykarta, bisa dikatakan banyak dan menjamur. Usaha bisnis makanan dikelola oleh beberpa pihak yang melihat peluang di sekitar mereka. Hal ini juga dilihat oleh Bu Amung, seorang wirausaha Angkringan Madre yang memiliki perbedaan dengan usaha-usaha lainnya.

Angkringan Madre merupakan usaha yang dibentuk oleh Bu Amung bekerjasama dengan Pak Broto, pendamping Deaf Art Community dengan ide untuk mewadahi teman-teman tuli. Para pekerjanya adalah orang-orang berkebutuhan khusus, mereka bekerja sebagai manager, juru masak, kasir, dan pramusaji. Madre menawarkan kekhasannya berupa budaya tuli melalui interaksi dengan kru angkringan yang mayoritas adalah tuli dengan bantuan Volunteer. Para remaja tuli yang mengelola angkringan tuli tersebut diantaranya Rizki Darmawi, Riski Purna Adi, Stephanie Kusuma Rahardja, Lia, Ahmad Robby, Arief Wicaksono, dan Indra Kurmala. Bertempat di Kampung Wisata Kuliner, Pringwulung, Depok, Sleman, Yogyakarta. Angkringan “Madre” buka setiap hari pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Sejak tanggal 20 Desember 2014, belum genap satu tahun usaha ini muncul ternyata tidak membuat mereka minder. Justru mereka sangat semangat dalam mengelola usaha ini demi memenuhi kebutuhan ekonomi serta pengalaman. Terbentuknya usaha ini memang berawal dari curhatan salah satu teman tuli bernama Rizki yang mendapatkan diskriminasi di tempat kerjanya dahulu. Ia bekerja di usaha meubel namun bosnya memberhentikannya dengan alasan tidak dapat berkomunikasi dengan lancar. Begitu pun juga dengan teman-teman tuna rungu lainnya yang mendapat perlakuan hampir sama ketika mendapatkan pekerjaan. Padahal mereka membutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara mandiri setelah menyelesaikan pendikan sekolah luar biasa.

Teman-teman toeli memiliki semnagat yang sangat tingi atas rintisan usaha angkringan tersebut. Meskipun pengunjung yang datang bisa terbilang sedikit, tidak menjadi alasan untuk mengurungkan niat pergi kerja. “Mereka aja kayak gitu semangatnya, istilahnya kok gue yang normal malah males, gue yang ogah-ogahan”, tanggapan Oti. Diluar pekerjaan mereka juga menikmati hidup dengan wisata bersama, misalnya bulan April kemarin mereka naik gunung. Beberapa dari teman-teman juga memilik prestasi hingga bisa jalan-jalan ke luar negeri. Sifat mandiri teman-teman terlihat dari perilaku mereka yang dengan keterbatasan tetap bisa mengendarai kendaraan sendiri untuk mobilisasi. Tetapi mereka mempunyai kendala yaitu mayoritas teman-teman memmiliki SIM C, padahal seharusnya untuk seseornag berkebutuhan khusus mendapatkan SIM D. Hal ini dianggap menyulitkan mereka ketika berhubungan dengan kepolisian karena dianggap normal.

1434075999520Seorang aktifis peduli tuna rungu bernama Oti menceritakan tentang bagaimana kehidupan teman teman tuli yang ada disana. Mereka merupakan bagian dari anggot Deaf Art Community Yogyakarta, kemudian beberapa diantaranya masih ada yang melanjutkan pendidikan sekolah luar biasa. Oti sering sekali berbicara menggunakan bahasa isyarat, menurutnya sama saja seperti ketika berbicara dengan orang pada umumnya. Bahasa isyarat dapat dipelajari oleh masyarakat luas sehingga teman-teman bisa mendapatkan kesempatan dan perilaku yang sama di lingkungan sekitarnya, bukan hanya di diamkan saja dengan alasan tidak tahu cara berkomunikasi. Pada akhirnya mereka hanya berkomunikasi dengan orang yang terbatas. Mereka tidak menggunakan alat bantuan pendengaran, dan ternyata hal tersebut membuat mereka lebih percaya.

“Tujuan utamanya tidak hanya memberikan pekerjaan kepada mereka, namun juga memperkenalkan pada masyarakt luas bahwa memang tidak ada perbedaan antara mereka dengan kita” tutup Bu Amung. Para pengelola angkringan Madre ini berkeinginan untuk terus mempertahankan usaha ini hingga membuka cabang, sehingga dapat lebih memfasilitasi teman-teman berkebutuhan khusus. “Intinya mereka itu terbuka, jangan takut untuk tidak mencoba berkomunikasi dengan mereka” tutup Oti.

1434022866213

1434022253259

 

 

 

 

 

 

http://https://soundcloud.com/kasildaoci/teman-tuli-madre

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s