POTADS, Berbagi Cerita tentang ‘Anak Ajaib’

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya” (at-tin: 4)

Sepenggal potongan ayat tersebut telah menjelaskan bahwaTuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dari segi bentuk dan rupanya. Setiap manusia yang dilahirkan di bumi adalah makhluk terbaik di antara ratusan juta pesaing lainnya yang akan lahir ke muka bumi.

Setiap anak yang lahir ke dunia dari rahim ibunya berhak untuk menjalankan hidup sebaik-baiknya. Lahir dengan ‘kelebihan’ menjadikan pantas bahwa dirinya untuk bisa hidup bersama dengan yang lainnya.

Downsyndrome merupakan salah satu ‘kelebihan’ atau ‘keajaiban’ Tuhan yang telah dianugerahkan Tuhan untuk manusianya. Kelebihan yang dimiliki adalah kromosom yang ke 21 di tubuh membelah menjadi tiga, menjadikan kromosom yang dimiliki berjumlah 50.

Mirza (19) merupakan salah satu anak yang diberikan ‘keajaiban’ dari Tuhan. Mirza kini bersekolah setaraf SMA di salah satu inklusi di Yogyakarta. Bila dilihat anak yang memiliki ‘kelebihan’ downsyndrome hampir sama, hingga muncullah anggapan bahwa mereka adalah kembar seribu. Secara fisik terlihat dari bentuk mata, hidung, mulut, telinga, jari tangan dan telapak kaki hampir sama. Secara tak kasat mata, mereka memiliki ‘kelebihan’ mental, penglihatan, bernafas, tenggorokan, jantung dan saluran pencernaan. Bahkan sering mendengar bahwa anak yang memiliki downsyndrome dokter mengatakan bahwa hidup mereka tidak akan lama. Dikarenakan anak downsyndrome memiliki masalah di bagian jantung, yang menjadikan hidupnya tidak lama.

Berbeda dengan Mirza, Tuhan memberikan dirinya sebuah ‘keajaiban’ yang dimiliki tidak dibarengi dengan masalah pada jantungnya. Namun pada saat Mirza kecil memiliki permasalahan pada tenggorokannya, yang mengakibatkan dirinya mengalami kesusahan untuk bisa bernafas pada saat tidur. Hingga akhirnya sang ibu, Sri Rejeki Ekasasi mengupayakan untuk Mirza bisa bernafas seperti orang normal.

Sri Rejeki Ekasasi atau yang sering disapa Bu Kiki ini merupakan ketua dari Persatuan Orang Tua Anak Downsyndrome (POTADS) untuk wilayah di Yogyakarta. POTADS sendiri merupakan komunitas perkumpulan orang tua yang memiliki anak dengan ‘kelebihan’ downsyndrome yang didirikan pada tahun 1997 di Jakarta. Kini POTADS sendiri sudah berada di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya adalah Yogyakarta. Kebetulan ketua dari POTADS Yogyakarta adalah Bu Kiki. Bu Kiki sendiri awalnya juga tidak menyangka bisa ditunjuk menjadi ketua.

Ya, sebelum saya dan keluarga kembali ke Indonesia dari Australia saya sempat mencoba mencari tahu apakah ada perkumpulan orang tua yang memiliki kasus yang sama seperti saya. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah diskusi bersama dengan POTADS pada saat itu belum seramai sekarang. Orang tua yang mengikuti diskusi itu memilih saya karena melihat ‘kelebihan’ dan pengalaman Mirza yang menjadikan saya ditunjuk sebagai ketua POTADS di Yogyakarta. Dulu awalnya cuman lima kepala keluarga, hingga akhirnya kini bisa mencapai 40 kepala keluarga ditambah dengan para relawan”, ujar Bu Kiki

POTADS Yogyakarta dibuka pada tahun 2009. Pembukaan POTADS Yogyakarta dulu diselenggarakan di Taman Pintar. Kegiatan POTADS sendiri hampir setiap bulan diselenggarakan dengan menghadirkan terapis, guru, relawan dan orang tua yang akhirnya menjadi ruang berbagi.

Penulis : Aulia Diza Rachmawatie (120904696)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s