Sekolah Rakyat Untuk Rakyat

Sekolah. Rakyat. Sekolah rakyat. Bukankah sekolah memang untuk rakyat? Bukankah rakyat memang sudah sekolah?

1466006628806

Beberapa anak sedang bermain di lokasi Sekolah Rakyat Jogoyudan. Foto: Artyas

Tawa anak-anak pecah ketika melihat teman-teman lainnya satu per satu datang. Mereka duduk di sebuah ruang terbuka semacam pendapa. Bagi mereka tempat itu bukan hanya sekedar tempat bermain, tapi juga menjadi sekolah kedua.

Beberapa anak terlihat malu-malu melihat kedatangan saya sambil sesekali melirik penasaran. Dita, ketua komite RT 32, menghampiri saya dan bercerita mengenai tenpat yang saya kunjungi ini. Ya, saat ini saya berada di sekolah rakyat Jogoyudan.

Sekolah rakyat di sini bukan sekolah dari pemerintah pada umumnya, tapi memang sekolah yang dari rakyat untuk rakyat. Seluruh pengurus sekolah ini adalah rakyat sendiri, yaitu warga RT 32 Jogoyudan, Yogyakarta. Sedangkan yang berperan sebagai pengajar di sini adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang berasal dari berbagai jurusan.

Sekolah yang sudah berdiri sejak 2010 ini didirikan oleh Wiknyo Cahyono dari organisasi Paku Bangsa. Sekolah rakyat ini didirikan untuk membantu anak-anak di pinggiran sungai Code dalam belajar, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tak hanya pelajaran sekolah saja yang bisa mereka dapatkan, mulai dari prakarya, menyanyi, hingga bermain drama pun bisa mereka pelajari di sini.

Anak-anak biasanya berkumpul jam 4 hingga 6 sore untuk belajar dengan para mahasiswa. Mulai dari mereka yang masih di Paud hingga kelas enam SD berkumpul untuk belajar bersama. Setiap tingkatan kelas hanya dipisahkan oleh meja yang berbeda.

IMG_20160616_071210

Anak-anak sedang belajar dan bermain dengan pengajar. Foto: Yustina.

Tanpa kursi, tanpa papan tulis, tanpa sekat, mereka belajar dalam keterbatasan. Namun, senyum ceria anak-anak tak pernah hilang, terutama ketika pengajar membawakan mereka bingkisan. Saat ini sudah ada lebih dari 50 anak yang belajar di sekolah rakyat ini.

Sekolah ini ada memang murni hasil swadaya masyarakat dan bantuan dari organisasi luar. Tak ada campur tangan pemerintah sedikit pun untuk mereka. Bahkan lahan sekolah ini adalah pinjaman suka rela dari salah satu warga.

“Dana dari swadaya masyarakat, tidak pernah ada lirikan dari pemerintah.” Ujar Kobro Antara, selaku penasihat sekolah rakyat ini.

Dibalik kekurangan yang ada, terdapat salah satu program unik yang dilakukan, yaitu kotak senyum. Kotak senyum merupakan kotak yang dirancang komite sekolah untuk menggancar dana. Namun, dana yang dimaksud adalah dana sumbangan dari anak-anak yang kemudian digunakan untuk membeli minum atau makanan pengajar. Bukan jumlah yang besar memang, setiap anak hanya perlu memasukkan 500 rupiah ke dalam kotak, sebagai tanda terima kasih mereka. Tak hanya kotak senyum, anak-anak juga belajar untuk menabung, menyisihkan sedikit uang mereka untuk diambil kelak kemudian hari.

Terkadang pembelajaran dari sekolah saja memang tak cukup bagi anak. Justru melalui pendidikan non formal, anak dapat belajar lebih banyak tentang sekitarnya. Sekolah rakyat Jogoyudan ini merupakan salah satu bentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan non formal. Sekolah rakyat ini juga mengajarkan betapa berharganya sikap saling membantu meski sama sama dalam kekurangan.

(Artyastiani Partitiningrum/ 130905037)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s